
Nala masih bersikap tenang meskipun Vidyana mulai panik sebab siluman naga hitam penunggu danau itu mulai memamerkan kekuatannya.
“Apakah kita harus bertarung? Jika kau punya masalah dengan pangeran kegelapan di masa lalu, tentunya hal itu bukan urusanku. Sudah kukatakan kepadamu, aku bukanlah pangeran kegelapan!” kata Nala.
“Meski kau telah mengatakannya berulang kali, tapi mataku tak bisa tertipu. Di dalam tubuhmu terdapat jiwa pangeran kegelapan!” kata siluman naga hitam itu. Sorot matanya penuh dendam.
Di masa lalu, pangeran kegelapan itu telah membunuh kekasih siluman naga hitam karena tak mau mengabdi dan mengikuti perintahnya. Mula-mula, siluman naga hitam itu adalah manusia biasa, seorang pendekar aliran putih dengan gelar pendekar Pembunuh Naga.
Pengeran kegelapan menghancurkan tubuh pendekar Bunga Bulan dan membuangnya di danau itu. Pendekar Pembunuh Naga itu sangat marah. Ia menyerang sang pangeran kegelapan, namun apa daya, ia hanya bagaikan seekor tupai di hadapan pemimpin pasukan iblis itu.
Dalam sekali serangan, tubuh pendekar Pembunuh Naga itu hancur, namun roh dan jiwanya yang berlumuran dendam itu masih tertinggal di danau. Jiwa itu bertahan pada sebutir mustika naga yang ia tanamkan pada tubuhnya ketika ia masih hidup sebagai pemburu siluman naga.
Maka ia bangkit kembali sebagai siluman yang penuh dendam. Energi hitam menyelimuti tubuh dan jiwanya. Selama ribuan tahun itu ia telah menjadi siluman yang kuat dan tak pernah menampakkan diri hingga pada hari yang kebetulan itu ia bertemu dengan pangeran kegelapan dalam wujud yang lain, yakni Nala.
“Kau memaksaku, jadi aku tak punya pilihan,” kata Nala.
“Ya, hanya kau tujuanku tetap bertahan sampai hari ini sejak waktu itu. Jika hari ini kau tak membunuhku hingga hancur jiwaku, maka sampai kapanpun, dendamku akan terus meghidupkan aku,” kata siluman naga hitam yang telah berubah bentuk menjadi seorang lelaki tua itu.
“Baik. Kita mulai saja!” Nala siaga. Siluman naga hitam itu juga melakukan hal sama, ia memancarkan eneginya lebih kuat lagi, lalu melesat secepat kilat menyerang Nala dengan jurus-jurus yang memukau.
Kekuatan siluman naga hitam itu tak sebanding dengan kekuatan Nala meskipun ia telah menguatkan diri selama lebih dari seribu tahun. Namun, Nala yang kuat itu pada dasarnya tak memiliki keahlian seni bela diri, sementara lawannya itu adalah mantan pendekar yang memiliki jurus-jurus indah sekaligus pengalaman bertarung yang tak sedikit.
Nala yang kuat itu tak bisa dengan mudah melumpuhkan sang siluman naga hitam dalam sosok seorang kakek tua yang bergerak dengan lincah menyerbu Nala dengan serangan-serangan mematikan.
Jika saja Nala tak memiliki kekuatan dari dunia tiga rembulan yang melindungi tubuhnya dengan baik, pastinya ia telah mati sejak awal siluman naga hitam itu menyerang. Sejauh ini, Nala belum menunjukkan kekuatannya yang sesungguhnya. Dengan cara lama yang ia miliki, ia ingin menguji dirinya. Dan benar, meski ia kuat, kemampuan dan pengalaman bertarungnya sangat jelek.
“Tak kusangka, kau masih bisa bertahan meski kau belum memiliki kesadaran pangeran kegelapan. Pertahanan tubuhmu sangat bagus,” puji siluman naga hitam itu yang telah mengerahkan kemampuan dan kekuatannya habis-habisan.
“Sudahlah, paman. Dalam pertarungan ini, aku belum menggunakan seluruh kekuatanku. Aku sama sekali tak menganggap paman sebagai musuh, dan aku sungguh minta maaf jika di masa lalu aku telah membuatmu menyimpan dendam, dan aku tak tahu apa yang kulakukan di masa lalu,” kata Nala.
__ADS_1
“Keluarkan saja kemampuanmu, ayo bunuh aku, pendekar muda!” siluman naga hitam itu kembali menyerang. Ia tak mau menggunakan tubuh naga sebagaimana siluman lipan melawan Batari Mahadewi dengan tubuh lipan. Berubah menjadi monster memang kuat, namun lambat dalam banyak hal. Dan tentu saja, mantan pendekar sakti itu tahu benar soal hal itu sehingga ia tetap menggunakan wujud sosok kakek tua.
Berkali-kali Nala gagal menjerat tubuh kakek tua itu dengan tanah, dan ketika Nala berubh wujud menjadi tanah, kakek siluman naga hitam itu juga bisa dengan mudah mengatasinya. Maka cukuplah Nala bermain-main. Ia lenyap menjadi partikel energi. Bersamaan dengan itu, sang kakek tua itu mengerang kesakitan, seolah seluruh tubuhnya digerogoti sesuatu yang tak kasat mata.
Perlahan-lahan, tubuh tua itu menyusut hingga tinggal tulang dibalut kulit. Tak selesai sampai di sana, tulang berbalut kulit itu perlahan terurai menjadi debu halus yang terbang bersama udara. Yang tersisa adalah sebutir mustika siluman yang bersarang di dalam kepala kakek tua itu.
Nala merasa sayang jika harus menyia-nyiakan mustika itu. Maka dengan kemampuan sihir yang ia miliki, Nala mengubah mustika siluman dengan ukuran hampir sebesar kepala manusia itu menjadi sebutir kerikil, lalu ia menyimpannya.
Vidyana hanya terbelalak menyaksikan pertarungan adiknya yang luar biasa itu, dan ia juga belum bisa percaya bahwa Nala bisa merubah mustika siluman itu menjadi sebutir kerikil. Dalam benaknya, ia membenarkan ucapan sang kakek tua itu, bahwa Nala adalah pangeran kegelapan. Tapi sang kakak itu tak mau bertanya langsung, ia lebih memilih mendengarkan adiknya yang bercerita dahulu.
“Aku baru lihat kemampuanmu kali ini,” kata Vidyana.
“Siluman ini lebih hebat dari dua siluman yang kulawan sebelumnya, sebelum aku bertemu kakak,” kata Nala.
“Banyak siluman yang menyerangmu, pasti ada alasannya kan?!” ujar Vidyana.
“Kakak sudah mendengar sendiri tadi alasannya,” kata Nala.
“Ya. Aku tak tahu bagaimana caranya menyingkirkan jiwa kegelapan yang terkurung dalam tubuhku,” kata Nala.
“Jika jiwa itu bebas, tapi kau bisa mengendalikannya dengan kesadaranmu saat ini, kau akan semakin kuat pastinya,” kata Vidyana.
“Bukan hal mudah. Alasanku tak pernah lagi tidur adalah karena jiwa kegelapan itu sangat kuat ingin menguasai tubuhku,” kata Nala.
“Sudahlah, pasti ada jalan. Mustika itu mau kau apakan?” tanya Vidyana.
“Mungkin suatu saat akan berguna. Jadi disimpan saja. Kakak tak perlu menggunakan mustika seperti ini. Tak akan bagus. Aku akan membantu kakak meningkatkan kemampuan dengan cara lain,” kata Nala.
“Aku tak terlalu berhasrat lagi untuk menjadi kuat. Dulu tujuanku menjadi kuat adalah untuk melindungimu. Kini kau bisa berdiri sendiri. Aku cukup seperti ini saja,” kata Vidyana.
__ADS_1
“Tidak, jika ada kesempatan baik, kakak harus meningkatkan kemampuan, aku berjanji akan membantumu,” kata Nala.
Kedua kakak beradik itu melanjutkan perjalanan. Nala tak menyangka bahwa sekembalinya ke dunia satu rembulan, jalan hidup yang ia tempuh menjadi tak pernah lagi mudah. Kekuatan yang ia miliki justru membuat aura jiwa kegelapan dalam dirinya semakin nampak dan sulit baginya untuk menyembunyikannya.
Setelah tiba di Swargadwipa, bukan berarti kedua kakak beradik itu tak berjumpa dengan masalah. Bagaimanapun juga mereka berdua adalah pendekar dengan energi hitam. Sejak peristiwa penyerangan kerajaan oleh sekelompok pendekar hitam, dan sejak Mahapatih Siung Macan Kumban memerintahkan untuk membasmi para pendekar hitam di Swargadwipa, para pendekar aliran hitam tak lagi bisa menunjukkan diri secara terang-terangan.
Namun meski bisa menyamar dan mengelabuhi sebagian besar orang, bagi pendekar tingkat tinggi bukanlah hal sulit untuk mengetahui dasar energi yang dimiliki oleh seseorang.
Beberapa kali Nala dan Vidyana dihadang oleh sekelompok pendekar aliran putih. Penjelasan Nala tak akan berlaku, sehingga sebagai gantinya, Nala harus bertarung dan membuat mereka pingsan tanpa luka. Dengan demikian, perlahan-lahan ia menunjukkan bahwa tidak semua pendekar aliran hitam berniat untuk bermusuhan dengan pendekar aliran putih.
Mereka berdua baru benar-benar merasa lega setelah sampai di kota Dhyana. Setidaknya di sana tak pernah ada pertikaian secara terang-terangan antara pendekar hitam dan putih. Semua setara ketika berada di kota suci itu.
Nala membenarkan kata-kata Batari Mahadewi bahwa di kota itu memang sepi dan sebagian besar orang yang tinggal di sana adalah kaum pertapa. Suasana dan energi yang terbangun di sana terasa damai, dan oleh karenanya, siapapun yang datang ke sana akan lebih tertarik melakukan meditasi daripada berkelahi.
Tak sulit menemukan kuil suci tempat kediaman guru Agrapana. Seperti biasanya, sang kakek tua itu menyambut semua tamu barunya dengan cara yang sama. Kakek tua nan kurus itu berjalan pelan seolah tak memiliki daya ketika menyambut dua tamu barunya yang sedang berdiri di depan gerbang masuk kuil suci.
“Selamat datang. Aku sudah menunggu kalian berdua. Ada pesan penting yang harus kusampaikan. Tapi, kalian tak bisa masuk ke dalam altar suci sebelum membersihkan diri. Silahkan bermeditasi di pelataran ini barang sejenak. Jika sudah selesai, aku menunggu kalian berdua di dalam altar suci,” kata Agrapana.
Nala teringat cerita Batari Mahadewi soal altar suci itu. dan peraturan yang ditetapkan oleh Agrapana ternyata berlaku juga untuknya dan kakaknya. Mereka berdua harus hening sejenak diantara ratusan pertapa yang terlihat seperti patung batu yang kusam dan berdebu.
Apa yang terjadi dalam meditasi Nala dan Vidyana? Sama dengan yang di alami Batari Mahadewi dan Jalu saat mereka pertama kali datang di kuil itu, kakek Agrapana menghadirkan dirinya dengan cara lain. Di dalam meditasi Nala, kakek itu berubah wujud menjadi Batari Mahadewi. Sementara dalam meditasi yang dilakukan Vidyana, pertapa tua itu berubah wujud menjadi ibunya. Itu adalah pelajaran pertama; mengalahkan ketidakyakinan.
Sejak saat itu, Nala dan Vidyana benar-benar mengakui bahwa sang kakek yang merupakan salah satu orang tertua di Swargadwipa itu layak menjadi guru siapapun. Vidyana yang memiliki pikiran kakupun pada akhirnya takhluk dan tunduk pada tiap-tiap pelajaran yang kakek itu berikan kepadanya.
“Tari telah pergi ke wilayah lain sejak beberapa pekan yang lalu. Ia ingin kamu berada di sini, dan menjadi pelindung jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan di Mahabhumi,” kata guru Agrapana kepada Nala.
“Jadi aku harus di sini? Padahal aku ingin menyusulnya,” kata Nala.
“Ia akan baik-baik saja, percayalah. Menurutku, kau memang harus di sini. Selama situasi masih aman, kau bisa belajar banyak denganku. Mungkin dalam waktu dekat, saudara-saudari seperguruan Tari juga akan datang ke sini. Kau juga akan berkenalan dengan para sesepuh pendekar di Mahabhumi. Sesekali mereka berkunjung ke sini. Tapi yang jauh lebih penting lagi, kau harus berlatih keras untuk menekan jiwa kegelapan dalam tubuhmu. Aku akan membantumu, tapi keberhasilan itu hanya ada di tanganmu,” kata Agrapana.
__ADS_1
Nala menuruti nasehat Agrapana. Lagipula, ia juga tak tahu di mana Batari Mahadewi berada. Setidaknya, di tempat itu, ada hal yang ia lakukan dan ada hal yang harus ia taklukkan.