
Kakek Sada dan para muridnya tak menyangka bahwa ternyata nona cantik itu memiliki energi yang sangat mengerikan. Sementara kakek Tagama tak terlalu heran, sebab sehari sebelumnya ia telah mengetahui kekuatan gadis itu dari pedang ciptaannya. Hanya saja, Tagama tak menceritakan hal itu kepada Sada.
Cairan beberapa logam yang berbeda-beda itu tak langsung dicampurkan begitu saja. Satu per satu Batari Mahadewi menyusun jenis logam mana yang akan menjadi bagian tengah, dan mana yang akan menjadi lapisan luarnya.
Dari gudang senjata, ia tahu bagaimana caranya untuk menyusun logam-logam yang berbeda itu. Tiap logam yang meleleh, ia bekukan dalam bentuk batangan besi, lalu ia timpa lagi dengan logam lainnya, dan seterusnya, hingga terbentuklah satu batang logam campuran merah membara yang siap dibentuk menjadi senjata pusaka.
Membuat batangan logam campuran itu hal yang tak terlalu sulit. Tahap berikutnya yang sedikit rumit adalah menciptakan bentuk senjata itu. Batari Mahadewi ingin membuat sebuah pedang lagi yang berbeda bentuknya dan lebih besar ukurannya dari pedang berlian hitam ciptaannya itu.
Batari Mahadewi kemudian menempa batangan logam dengan tangan apinya. Tiap-tiap pukulan membuat batangan logam berpijar itu menjadi semakin pipih. Setelah semua bentuk dasarnya selesai, gadis jelmaan pusaka dewa itu tak lagi menggunakan tangan apinya. Ia mendinginkan logam itu dengan kekuatan es yang ia miliki. Setelah itu, barulah Batari Mahadewi beristirahat setelah terlalu lama menggunakan tenaganya.
Kakek Sada dan kakek Tagama bergantian memeriksa pedang setengah jadi yang dibuat dengan cara tak wajar itu. Hasilnya jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan tempaan palu untuk mencampurkan logam panas sebab Batari Mahadewi membuat logam itu berlapis-lapis dengan cara melelehkannya.
Batari Mahadewi menyelesaikan pedang setengan jadi itu dalam waktu kurang dari setengah hari. Sementara, kakek Tagama pernah membuat senjata dengan bahan yang sama hingga berbulan-bulan lamanya mengingat bahan yang digunakan sangat keras dan bukan merupakan logam biasa. Kekuatan gadis jelmaan pusaka dewa itu sangat berpengaruh dalam hal ini.
“Selanjutnya, apa yang akan kau lakukan, nona Tari?” tanya kakek Tagama. Kakek Sada dan murid-muridnya kembali berlatih. Mereka jadi sangat bersemangat setelah melihat aksi membuat senjata yang dilakukan oleh Batari Mahadewi.
“Menajamkan kedua sisinya, lalu memberikan sedikit hiasan, kakek. Setelah itu saya tidak tahu bagaimana caranya menyatukan mustika iblis ke dalam pedang ini,” jawab Batari Mahadewi.
“Baiklah nona. Soal menyatukan mustika itu, nanti aku akan menunjukkan caranya. Nona selesaikan saja wujud sempurna dari pedang ini,” kata kakek Tagama.
Batari Mahadewi sekali lagi mengubah tangannya menjadi tangan api. Berbeda dengan sebelumnya, ia mengurangi hawa panas agar tak mengubah bentuk dasar dari pedang itu. Kemudian, gadis jelmaan pusaka dewa itu mengunakan jemari tangannya untuk memijit logam itu dan membuat dimensi tebal-tipis, lalu ia menggunakan kuku-kukunya yang tajam untuk membuat ukiran sederhana pada permukaan pedang itu.
__ADS_1
Terakhir, dengan kuku tangannya itu, Batari Mahadewi mengikis tepi mata pedang hingga logam itu menjadi sangat tipis dan tajam. Pedang itu telah selesai dibuat. Tinggal satu tahap saja, yakni memasukkan kekuatan dan kesaktian ke dalam pedang itu.
“Bagus nona. Sekarang, buatlah beberapa lubang untuk meletakkan mustika yang nona pilih,” kata kakek Tagama.
“Baik kakek,”Kata Batari Mahadewi. Dalam waktu singkat, gadis itu berhasil membuat tiga cekungan untuk menempatkan satu mustika iblis dan dua mustika siluman yang ia miliki.
Kakek itu memberikan petunjuk cara menanamkannya, dan menguncinya ke dalam tubuh pedang itu. Setelah itu, Batari Mahadewi selama tiga hari penuh tanpa berhenti meleburkan energi tiga mustika itu menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dari pedang itu. Ternyata memberi isian pedang jauh lebih sulit dan membutuhkan banyak tenaga jika dibandingkan dengan membuat bentuk dasarnya.
Tiga hari kemudian, setelah Batari Mahadewi selesai, terciptalah sebuah pedang dengan tiga jiwa di dalamnya. Tiga mustika yang ada dalam pedang itu adalah mustika dari Buma, siluman rubah, dan siluman lipan sehingga pedang itu tak hanya keras dan kuat, namun juga memiliki kemampuan menyerap energi lawan.
Pedang berkekuatan siluman itu memungkinkan untuk disimpan di dalam tubuh pemiliknya, sejauh tubuh tersebut mampu menampung energi yang besar sebagaimana pedang Bintang Timur yang dimiliki Pradipa. Lelaki tampan itu menyembunyikan pedang pusakanya di dalam tubuhnya dan bisa mengeluarkannya kapanpun ia butuh.
“Karya yang luar biasa, nona. Sungguh beruntung aku bisa melihatnya, dan melihat nona membuatnya. Sayang sekali guru Udhata tak ada di sini saat ini,” kata kakek Tagama.
“Beliau sedang menuju ke sini, kakek,” kata Batari Mahadewi. Kakek itu tertegun, lalu menunggu untuk membuktikan kata-kata gadis itu.
Selang beberapa saat kemudian, guru Udhata muncul di ambang pintu. Ia adalah lelaki tua yang bertubuh tinggi dan besar. Tubuhnya kira-kira hampir dua kali ukuran tubuh manusia pada umumnya. Guru besar itu mengenakan pakaian yang serba putih dan compang-camping. Seluruh rambutnya telah memutih, namun wajah tuanya masih memancarkan daya hidup yang tinggi.
“Guru datang juga akhirnya,” kata kakek Tagama memberi salam.
“Hahaha, aku tak ingin melewatkan hal ini, Tagama. Aku menangkap pancaran energi luar biasa dari atas selama beberapa hari ini. Ternyata nona manis ini pemiliknya,” kata guru Udhata tak kalah ramah dengan kakek Sada dan kakek Tagama.
__ADS_1
“Senang bisa bertemu kakek guru Udhata. Nama saya Tari, dari pulau Mahabhumi. Beberapa hari ini, kakek Tagama mengajari saya membuat senjata,” kata Batari Mahadewi memperkenalkan diri.
“Maafkan aku, nona. Baru hari ini aku menampakkan diri. Tapi soal membuat senjata, Tagama memiliki pengetahuan yang luas,” kata guru udhata.
“Kakek Udhata benar sekali, saya belajar banyak hal dari kakek Tagama,” kata Batari mahadewi.
“Hahaha, nona ini merendah. Beberapa hari ini justru aku belajar banyak hal dari nona Tari,” ujar kakek Tagama.
Guru Udhata melihat senjata Batari Mahadewi dari jarak yang lebih dekat. Kakek berbadan tinggi besar itu kemudian mengangkat dan memeriksa pedang buatan gadis jelmaan pusaka dewa itu.
“Pedang ini bagus, nona. Boleh aku mengujinya?” tanya guru Udhata.
“Dengan senang hati, kakek guru,” jawab Batari Mahadewi.
Guru Udhata mengambil palu besar di bengkel itu. Meski bukan pusaka, namun palu itu terbuat dari bahan berkualitas tinggi.
Guru Udhata membawa pedang buatan Batari Mahadewi keluar bengkel dan meletakkanya di atas sebuah batu besar. Kakek pendiri perguruan Tongkat Langit itu mengalirkan energinya ke dalam palu besar yang ia bawa, seketika palu itu memancarkan cahaya kemerahan yang berasal dari tenaga dalamnya. Kemudian, kakek tua itu mengayunkan palu besar yang ia pegang di tangan kanannya ke pedang pusaka yang baru saja diciptakan Batari Mahadewi.
Begitu palu itu bertumbukan dengan pedang Batari Mahadewi, ledakan besar tercipta. Palu yang dipegang guru Udhata hancur berantakan, sementara pedang itu masih utuh serta memancarkan cahaya kehijauan yang perlahan-lahan meredup.
“Hahaha, nona Tari, besok kau harus menemaniku mencari bahan bagus untuk membuat palu baru!” kata guru Udhata.
__ADS_1