
Pertarungan di dunia tengah juga terasa hingga ke dunia khayangan. Waktu itu Kalapati yang tengah bersantai seperti biasanya merasa terganggu.
Yang paling panik adalah raja dewa. Sebab, jika sampai Kalapati mengetahui keberadaan Batari Mahadewi, atau bahkan mengetahui identitasnya, maka rencana dan semua pengorbanan bangsa dewa akan gagal. Pusaka dewa itu belum matang.
Kalapati kembali berteriak mengganggu raja dewa yang ia penjarakan dalam cincinnya.
“Raja dewa! Kau dengar aku!”
“Pelankan suaramu! Aku tidak tuli dan aku juga sedang menyimak apa yang terjadi di dunia bawah sana!” raja dewa kesal.
“Apakah selama ini kau menyembunyikan sesuatu?” tanya Kalapati.
“Kau yang menyembunyikanku di sini!”
“Aku bertanya sungguh-sungguh! Kenapa masih ada aura dewa di bawah sana?!”
“Di bawah sana banyak sekali senjata dewa. Jika seseorang menggunakannya, maka kau bisa merasakan aura dewa, terlebih jika yang menggunakan adalah manusia yang kekuatannya mendekati kekuatan dewa!” raja dewa mencari alasan yang masuk akal.
“Rupanya bangsa iblis telah bangkit kembali!” kata Kalapati.
“Kenapa? Kau takut dengan iblis?”
“Tak ada yang membuatku takut! Aku Kalapati, sang penguasa tak terkalahkan!” raja raksasa itu mulai kambuh sombongnya dan dia sangat senang memamerkannya berkali-kali kepada raja dewa.
“Jika tak takut, ya sudah, biarkan saja. Kenapa kau risau?!” balas raja dewa.
“Aku tak risau! Hanya saja hawa pertempuran di bawah terasa hingga di sini. Seharusnya itu pertempuran besar!” kata Kalapati.
“Wajar saja, bangsa manusia tak mau ditindas oleh bangsa iblis! Tak perlu cemas. Aku dewa terkuat dan sekarang kau mengurungku di sini. Tak ada dewa yang berarti di bawah sana!” kata raja dewa.
“Bangsa iblis sudah pasti menang. Jika kekuatan mereka dibiarkan berkembang, kelak mereka juga akan merugikan bangsaku!” kata Kalapati.
__ADS_1
“Kalau begitu, turunkan saja bangsamu ke dunia tengah selagi bangsa iblis belum banyak menghimpun kekuatan. Di istana ini, biar aku dan kau saja yang tinggal. Bangsamu itu sudah merusak apa yang selama ini kubuat dengan susah payah!” kata raja dewa.
“Nah, ini yang aku ingin dengar darimu. Kau benar, ada baiknya aku segera menurunkan sebagian bangsaku ke dunia tengah. Mereka harus menekan kekuatan bangsa iblis dan mengembalikan mereka ke dunia bawah!” kata Kalapati.
****
Pertarungan di dunia tengah benar-benar menciptakan kekacauan. Telah sekian kali bumi bergemuruh, ombak laut meninggi, dan hujan deras di sertai petir dan angin tak kunjung berhenti.
Kekacauan itu juga terasa hingga ke Mahabhumi. Wilayah pesisir selatan pulau itu telah beberapa kali diterjang ombak besar. Badai juga membuat suasana semakin buruk. Dalam waktu sekejap, dataran rendah di pulau itu terendam banjir bandang. Seluruh peradaban pantai telah luluh lantak.
Hanya beberapa orang saja di Mahabhumi mengetahui apa yang sedang terjadi. Mereka adalah Buyung, Vidyana, dan Ki Gading Putih yang mengetahui keberangkatan Batari Mahadewi dan Nala ke pulau Tirayamani. Mereka tak mengira, pertarungan antara makhluk iblis dan sepasang pendekar sakti itu akan berdampak buruk pada perubahan cuaca. Namun, mereka tentu saja tak tahu, bahwa pangeran kegelapan telah bangkit.
“Cuaca yang tiba-tiba ini bukan hal biasa. Semoga Tari dan Nala baik-baik saja di sana,” kata Ki Gading Putih.
“Sedari tadi perasaanku sangat tidak enak, kakek. Aku sangat mengkhawatirkan mereka berdua,” kata Vidyana. Bagaimanapun juga, ia dan adiknya lahir dari ibu yang sama, lahir tanpa ayah yang membuahi ibunya, lahir dari mustika iblis yang tertanam di tubuh sang ibu. Ia bisa merasakan hal buruk yang sedang terjadi pada adiknya selama mereka berdua berada di dunia yang sama.
Vidyana hanya mendapatkan sedikit dari kekuatan mustika iblis di tubuh ibunya. Sedangkan, semua kekuatan yang tersisa itu lahir bersama Nala hingga ibunya meninggal dunia. Jiwa pangeran kegelapan bersarang di tubuh Nala, sementara sebagian kecil kekuatan pangeran itu ada di tubuh Vidyana.
“Di antara banyak pulau di dunia ini, kenapa harus Mahabhumi, guru?” tanya Buyung.
“Menurut guru Agrapana, sejak dulu di sini selalu menjadi pusat yang diperebutkan banyak bangsa,” jawab Ki Gading Putih.
“Jika cuaca terus menerus seperti ini, desa-desa di bawah Cemara Seribu pasti banjir besar,” kata Buyung.
“Kemungkinan, warga desa di bawah sana akan mengungsi ke desa ini. Ini adalah satu-satunya wilayah bukit yang ada di beberapa desa di bawah sana. Hanya ada kita bertiga yang menjaga desa ini. Bisa jadi, akan banyak perampok yang ikut mengungsi ke wilayah ini. Dalam kondisi sulit seperti ini bukan tak mungkin jika akan terjadi kerusuhan. Mungkin tak hanya di sini, tetapi di wilayah lain yang dilanda bencana alam,” kata Ki Gading Putih.
****
Batari Mahadewi berfikir keras untuk mencari cara mengalahkan pangeran kegelapan itu begitu pula sebaliknya. Pangeran Kegelapan cukup heran, kenapa gadis itu masih bisa bertahan. Bahkan pusaka besar yang ada di tangannya itupun tak bisa memotong tangan Batari Mahadewi yang selalu menjadi senjata sekaligus alat pertahanan diri.
Semua jurus yang dikerahkan pangeran kegelapan itu selalu bisa ditangkal dan dikembalikan, demikian pula sebaliknya.
__ADS_1
Makhluk iblis yang tersisa hanyalah Kabas dan Wangka yang bertarung mati-matian melawan tujuh siluman putih yang masih hidup. Dengan begitu, cadangan kekuatan bagi sang pangeran kegelapan bisa dikatakan telah habis. Jika ia menyerap kekuatan dua iblis itu, bukan tak mungkin bahwa ia juga akan semakin kesulitan melawan Batari Mahadewi beserta tujuh siluman putih yang tersisa itu.
Sebelumnya, sepuluh siluman putih itu berpatroli ke seluruh penjuru dunia untuk berburu iblis yang telah bangkit. Dan di arena pertempuran itu, mereka merasa senang, karena semua yang mereka cari telah berkumpul di sana.
“Sebenarnya kau telah terdesak, Andhakara. Aku hanya ingin kau mengembalikan Nala. Pergilah mencari tubuh yang lain, maka aku akan memberimu kesempatan untuk memulihkan diri dan kita bisa bertemu lagi lain kali!” kata Batari Mahadewi.
“Oh ya? Hahaha, kenapa kau bisa seyakin itu? bahkan kau telah kehilangan banyak tenaga!” kata pangeran kegelapan.
“Aku masih mampu bertarung dan belum menggunakan semua kemampuanku untuk mengalahkanmu!” kata Batari Mahadewi. Salah satu keuntungan pangeran kegelapan adalah, ia berada di tubuh Nala, lelaki yang telah merebut hati gadis itu.
“Kalau begitu, lakukan saja. Bunuh aku! Hancurkan tubuh ini!” pangeran kegelapan kembali melesat ke arah gadis jelmaan pusaka dewa itu sembari menghujamkan kekuatan api yang keluar dari pedang besar ciptaan Nala.
Sebelum api berwarna hitam itu menyentuh kulit Batari Mahadewi, gadis itu lenyap dan berada di belakang pangeran kegelapan. Kuku jemari tangannya merobek punggung lebar sang pangeran kegelapan.
Andhakara meraung sekalipun luka itu bisa menutup dengan cepat dan ia telah ratusan kali mengalami hal serupa sejak bertarung melawan Batari Mahadewi. “Gadis keparat!” Sekali lagi pangeran kegelapan yang mulai kelelahan itu menyerang membabi buta. Tubuhnya berputar dengan pedang di tangannya seperti gangsing yang mengejar gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Putaran tubuh itu tak memberikan celah bagi Batari Mahadewi untuk menyerang balik dari sisi depan atau belakang, kanan atau kiri. Namun gadis jelmaan pusaka dewa itu mendapatkan ide untuk menghentikan serangan pangeran kegelapan dari poros perputarannya, yaitu dari atas.
Dalam satu kedipan mata saja, Batari Mahadewi telah menyentuhkan telapak tangannya ke ubun-ubun pangeran kegelapan, lalu menghujamkan kekuatan yang teramat besar. Tak selesai sampai di sana, gadis itu mengerahkan seluruh kekuatannya dan menghujamkan tapak petir di tubuh pangeran kegelapan yang sedang meluncur jatuh ke arah permukaan laut itu.
“Selamat tinggal, Nala…” terdengar bunyi yang menggelegar, air laut tersibak dan dasar laut itu terbakar dengan pukulan petir berkekuatan penuh yang dilepaskan Batari Mahadewi, sepenuh air matanya yang menetes deras dan perasaannya yang telah robek.
****
Bersambung ya teman-teman. I’m so tired to draw this imagination into words this night... Sejauh ini, aku kembali ingin mengucapkan beribu terimakasih bagi teman-teman yang masih berkenan membaca PBM, mendukung serta memberikan saran dan kritik.
Author ingin sedikit merepotkan teman-teman sebenarnya, jika teman-teman berkenan, saya ingin minta bantuan untuk memberikan rating (bagi yang belum) karya ini. Sebab sejak beberapa hari yang lalu, PBM kena serangan hujan bintang satu sehingga ratingnya turun drastis dari 4,8 menjadi 4,5. Beberapa teman sudah berusaha membantu hingga naik menjadi 4,6. Apalah dayaku…
Tetapi ini bukan paksaan lho ya, hehehe, hanya jika teman-teman berkenan saja dan merasa bahwa karya ini layak untuk diberi bintang lima.
Baik teman-teman, ketemu lagi besok malam. Semoga teman-teman selalu berada dalam lindungan, karunia, dan kasih sayang dari Tuhan YME. Amin.
__ADS_1