Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 253 Menempa Logam


__ADS_3

Keesokan harinya, kakek Tagama mengajak Batari Mahadewi menuju bengkel pembuatan senjata milik perguruan Tongkat Langit. Di luar tampak lima orang lelaki muda dan dua orang perempuan muda sedang berlatih dengan kakek Sata.


“Kakek Tagama, berapa jumlah murid di perguruan ini saat ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Tujuh orang pendekar muda itu, dan kami berdua. Guru Udhata sudah tidak mengajar lagi, jadi kamilah yang bertugas untuk mengajar di perguruan ini,” jawab kakek Tagama.


“Tadinya saya berfikir, perguruan ini banyak muridnya,” kata Batari Mahadewi.


“Sejak dulu, guru Udhata tak pernah mengangkat banyak murid. Siapapun yang bisa sampai di perguruan ini, maka ia bisa diangkat sebagai murid. Murid-murid guru Udhata seangkatanku atau sebelum angkatanku, telah tersebar di Siwarkatantra dan mendirikan perguruan sendiri-sendiri,” kata kakek Tagama.


“Berarti, perguruan yang didirikan oleh murid-murid guru Udhata juga memiliki kesamaan jurus?” tanya Batari Mahadewi.


“Tidak. Semua murid guru Udhata sebelumnya adalah pendekar. Sebagian besar sudah memiliki gelar. Di sini, guru Udhata tak mengajarkan jurus ciptaannya. Satu-satunya murid yang pernah belajar jurus ciptaan guru Udhata adalah pendekar Tongkat Dewa yang kini menjadi pendiri perguruan Tongkat Dewa. Selebihnya, guru Udhata mengajarkan para muridnya untuk menciptakan jurus mereka sendiri,” jawab kakek Tagama.


Batari Mahadewi merasa guru Udhata sangat mirip dengan Ki Gading Putih yang tak pernah sekalipun mengajarkan jurus tertentu kepada murid-muridnya. Bedanya, guru Udhata jauh lebih tua dari Ki Gading Putih dan ia lebih menekuni jalan lain, yakni penciptaan, baik penciptaan jurus, pengetahuan, dan senjata.


Sementara Ki Gading Putih telah melanglang buana sebagai pendekar, lalu menyepi di hutan Cemara Seribu. Ia memilih murid tanpa memilih. Dengan kata lain, hanya karena jodoh. Itupun setelah Ki Gading Putih menyepi dalam waktu yang sangat lama, barulah ia mulai terbuka dan mau menerima murid.


“Jadi, kakek Sata akan membantu mereka untuk mengembangkan diri mereka masing-masing?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya, seperti itulah. Aku dan Sata memilih untuk tinggal di sini, membantu guru Udhata untuk mengurus perguruan ini. Kami semua di sini hidup dengan seadanya. Berbeda dengan perguruan-perguruan besar yang memiliki banyak murid, semua murid di sini datang dengan sukarela, belajar tanpa dipungut imbalan apapun,” kata kakek Tagama.


Batari Mahadewi memahami hal baru dari sosok Tagama dan Sata. Kedua orang itu jauh berbeda dari pendekar Tongkat Dewa, salah satu murid guru Udhata yang ia kenal. Tagama dan Sata jauh lebih sederhana, tak tergiur dengan duniawi, dan merupakan dua murid yang sepertinya akan benar-benar mengikuti jejak sang guru. Bisa dibilang, Tagama dan Sata apabila digabungkan akan menjadi Udhata.

__ADS_1


“Baiklah, Tari. Sekarang kita mulai dari awal. Apa yang kau pahami tentang senjata?” tanya kakek Tagama.


“Alat bantu untuk mempertahankan diri sekaligus untuk menyerang,” jawab Batari Mahadewi.


“Benar, tapi mengapa senjata dibutuhkan?” tanya Tagama.


“Sebagai alat bantu,” jawab Batari Mahadewi.


“Itu juga benar. Petani membutuhkan cangkul untuk membajak sawah karena tubuh mereka tak mampu melakukannya. Senjata sama fungsinya dengan peralatan lain. Nelayan membutuhkan kail dan jaring untuk menangkap ikan, tukang masak membutuhkan pisau untuk memotong daging dan sayuran.


Artinya, senjata hanyalah alat yang dibutuhkan untuk menutupi kelemahan kita dalam suatu hal. Setiap hal yang dilakukan manusia butuh alat yang berbeda. Nelayan tak akan mencari ikan dengan pedang.


Maka, tiap senjata nantinya akan memiliki kegunaannya masing-masing.


Dalam dunia persilatan, ada berbagai jenis senjata. Bahkan, bagi pendekar tertentu, kerikil, dedaunan, atau bahkan udara bisa saja dijadikan senjata. Fungsi utamanya memang untuk bertahan atau melumpuhkan lawan. Itu adalah makna dasar dari senjata.


Sampai di sini apakah kau paham bedanya senjata dengan senjata pusaka?” tanya kakek Tagama.


“Paham, kakek,” jawab Batari Mahadewi.


“Yang akan kita buat nantinya adalah senjata pusaka. Artinya, kita harus memasukkan berbagai jenis sumber kekuatan dan kesaktian dalam senjata yang akan kita buat. Sumber itu bisa berasal dari diri kita sendiri yang membuatnya, atau berasal dari benda lain, yakni bahan-bahan yang kita gunakan sebagai senjata pusaka itu. Sejauh mana yang kau tahu soal bahan senjata pusaka?” tanya kakek Tagama.


“Segala sesuatu yang memancarkan kekuatan?” jawab Batari Mahadewi tak terlalu yakin.

__ADS_1


“Kurang lebih begitu. Semua hal yang ada di dunia ini memiliki kekuatan. Bahkan setitik debu sekalipun. Tetapi, semakin baik bahan yang kita gunakan, semakin bernilai senjata pusaka yang bisa kita ciptakan. Kita bisa membuat senjata dari bahan dasar besi, emas, perak, bebatuan, mustika, tulang, kayu, atau bahkan roh halus.


Melihat kemampuanmu bisa memurnikan kekuatan dari mustika iblis dan siluman yang kau dapatkan itu, seharusnya kau tak butuh waktu lama untuk bisa membuat senjata pusaka. Aku akan menunjukkan padamu cara paling sederhana dalam membuat senjata, lalu akan kita jadikan senjata pusaka,” kata kakek Tagama.


Kakek tua itu kemudian menyalakan tungku dan menyiapkan berbagai peralatan tempa. Ia mengambil bongkahan logam mentah yang tersedia di bengkel itu. Batari Mahadewi hanya memperhatikan saja segala hal yang dilakukan oleh kakek itu tanpa menyela untuk bertanya.


“Lihatlah ini. Ada beberapa bahan besi yang berbeda jenisnya. Ini adalah besi yang jatuh dari langit. Sulit untuk mendapatkannya dan menjadi salah satu bahan terbaik untuk membuat senjata pusaka. Sementara yang ini (titanium) juga langka, ringan tapi sangat keras. Lalu ini (tungsten), sangat berat sekaligus keras dan juga sulit didapatkan. dan yang ini adalah besi biasa yang mudah kita temui.


Sebaiknya kita mencampur bahan-bahan ini agar senjata pusaka kita memiliki lebih dari satu jenis kekuatan besi. Bila kau ingin yang ringan dan keras, maka butuh banyak bahan yang ini (titanium), tapi untuk mendapatkannya sangat sulit. Bila kau ingin yang tajam serta punya daya hancur besar, maka perbanyaklah bahan ini (tungsten).


Besi yang jatuh dari langit ini bermacam-macam jenisnya. Hanya ini yang kami miliki, dan ada satu yang terbaik yang kini telah menjadi senjata pusaka Tongkat Langit,” Kakek Tagama menunjukkan berbagai jenis logam yang ia tak tahu namanya, namun ia tahu perbedaannya serta kualitasnya.


Batari Mahadewi hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan itu. Selebihnya, ia mengamati baik-baik tiap-tiap jenis logam yang diperkenalkan oleh sang kakek itu. Batari Mahadewi tertarik dengan logam-logam yang jatuh dari langit, benda itu entah dari mana asalnya, sehingga setiap logam yang jatuh ke bumi, belum tentu sama jenisnya, meski cara jatuhnya sama, yakni terbakar lalu meledak ketika mendarat di permukaan tanah.


Beruntunglah, Batari Mahadewi bisa mengetahui jauh lebih baik dari sang kakek itu, mana saja logam yang benar-benar keras, padat, serta memiliki kekuatan besar. Namun ia tak mengatakan tentang kemampuannya itu, lebih tepatnya, ia enggan untuk menjelaskan bagaimana ia mendapatkan kemampuan itu.


Selanjutnya, kakek itu menyatukan beberapa jenis logam dengan posisi tertentu, mengikatnya dengan besi tipis.


Kemudian, kakek itu membakar logam-logam yang ia susun itu ke dalam bara api di dalam tungku. Logam itu perlahan berubah warna menjadi merah membara. Dengan penjepit logam panas di tangan kiri dan palu di tangan kanan, kakek tua itu menempa logam itu dengan cekatan, membersihkan kerak-keraknya hingga tersisa logam murni yang berukuran jauh lebih kecil dari sebelumnya.


“Nah, ini adalah tahap pertama yang telah kita lakukan dengan cara paling sederhana. Ada cara lain, yakni menempa dan memurnikan logam ini dengan tenaga dalam kita. Nanti aku akan peragakan cara ini dan aku yakin kau bisa dengan mudah melakukannya. Akan tetapi, aku ingin kau mencoba cara yang paling sederhana ini dulu seperti yang aku lakukan tadi,” kata kakek Tagama.


Batari Mahadewi paham, cara yang paling sederhana merupakan cara tersulit dan banyak makan waktu. Sang kakek menyuruhnya demikian agar ia memahami bagaimana manusia pertama kali belajar menempa besi.

__ADS_1


Tanpa ragu, Batari mahadewi memilih berbagai bahan yang ia suka, lalu melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Tagama. Pengalaman menempa ternyata bukan semata-mata pekerjaan fisik, namun bisa setara dengan meditasi, memusatkan pikiran untuk satu hal.


Dari sanalah Batari mahadewi mengalami suatu pengalaman yang berbeda, ia seolah-olah sedang bercakap-cakap dengan logam-logam yang ia tempa dalam tiap-tiap ayunan palu yang berdenting nyaring dan tetes-tetes keringat yang keluar dari tubuhnya.


__ADS_2