
Seperti halnya pendekar Sungai Jingga yang kini tak bisa bergerak karena terkurung dalam balutan tanah yang dikendalikan oleh Nala melalui energinya, pendekar Sungai Hitam juga mengalami nasib yang tak kalah buruk. Setiap kali ia menghancurkan monster yang dihadirkan oleh Vidyana, maka monster yang tersusun dari bebatuan, kayu, ranting, dedaunan, dan segala benda yang ada di sekitar situ dengan cepat bergerak dan menjelma menjadi bentuk baru.
Bentuk-bentuk aneh itu terkadang menyerupai raksasa, kadang menyerupai binatang, dan kadang berbentuk abstrak yang terus bergerak menyerang pendekar Sungai Hitam dengan kecepatan tinggi. Satu-satunya cara untuk melumpuhkan monster-monster ini adalah dengan menemukan gadis itu secepatnya. Pikir pendekar Sungai Hitam. Sayang sekali ia tak menemukannya. Vidyana seperti hilang di telan bumi, namun pancaran energinya ada dimana-mana.
Salah satu monster yang berbentuk mulut ular raksasa dengan cepat menelan pendekar Sungai Hitam dari belakang sewaktu pendekar bernasib naas itu sedang sibuk menghadapi serangan-serangan monster lain di depannya. Monster dengan bentuk mulut ular itu kemudian ******* tubuh pendekar Sungai Hitam dengan keji. Terdengar gemeletak tulang patah dan jeritan yang terputus tiba-tiba. Pendekar Sungai Hitam mati dengan cara yang menyedihkan.
Sementara itu, Nala masih asik menyiksa pendekar Sungai Jingga yang sudah dalam kondisi antara sadar dan tidak. “Hentikan itu, adik. Jangan suka mempermainkan lawan.” Kata Vidyana. Nala menurut. Dengan segera ia menciptakan sebuah lubang yang sangat dalam. Lubang itu menelan tubuh penekar Sungai Jingga. Setelah itu, lubang tanah itu menutup dengan sendirinya, seolah tunduk dengan perintah Nala.
Dalam hutan Beringin Merah saat itu, dua orang pendekar aliran hitam dari Swargadwipa telah mati di tangan pendekar aliran hitam dari pulau Neraka. Vidyana dan Nala kembali melanjutkan niat mereka mengumpulkan berbagai jenis mustika alam yang bersembunyi di balik rimbunnya hutan Beringin Merah itu.
####
__ADS_1
Sementara itu, di wisma tamu keprajuritan kerajaan Swargadwipa, sang Mahapatih Siung Macan Kumbang mengutarakan permintaannya kepada Anjani, Buyung, dan Cendana.
“Sejujurnya, ada hal yang sangat saya khawatirkan mengenai kedatangan para pendekar hitam dari daerah lain yang semakin banyak jumlahnya dalam beberapa hari belakangan ini. Tak banyak pendekar berilmu tinggi yang menjaga istana ini dan mengumpulkan pendekar aliran putih dengan kemampuan tinggi di wilayah Swargadwipa bukanlah hal yang mudah.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
Mahapatih itu terdiam sejenak. Ketiga murid Ki Gading Putih belum ada yang besuara. Kemudian sang Mahapatih melanjutkan bicaranya, “Jika kerajaan ini diserang oleh prajurit biasa, berapapun jumlahnya, maka aku yakin pasukan kerajaan masih bisa menanganinya. Namun lain halnya jika yang menyerang adalah para pendekar sakti. Butuh banyak pendekar untuk menanggulangi ancaman itu. Saat ini, saya telah mengirim utusan untuk mengundang para pendekar aliran putih dari berbagai wilayah di Swargadwipa. Hanya saja, saat ini tiap perguruan juga merasa terancam dengan serangan para pendekar aliran hitam. Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Gusti Patih benar sekali. Dari penjelasan Gusti Patih, saya bisa membayangkan situasinya sekarang ini. Komplotan pendekar aliran hitam saat ini ibarat melakukan satu pekerjaan dengan dua hasil. Hasil yang pertama sudah di ketahui. Kerajaan akan sukar mendapatkan bantuan dari para pendekar aliran putih sebab mereka juga sedang merasa terancam. Dalam situasi seperti itu, maka para pendekar aliran hitam bisa dengan leluasa menyerang kerajaan jika hal itu merupakan tujuan utama mereka.” Kata Buyung.
“Kami tak keberatan, Gusti. Dengan senang hati kami akan membantu Gusti Patih di sini.” Kata Buyung.
“Andaikan paman Gading Putih masih mau mengurusi dunia persilatan, maka saya akan meminta bantuan beliau. Namun saat ini, sepertinya para pendekar seangkatan paman Gading telah menghilang dari dunia persilatan dan tak akan lagi ikut campur dalam urusan semacam ini.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang. “Hanya para pendekar muda seperti kalian yang kemungkinan besar akan bersedia membantu di sini.”
__ADS_1
“Gusti Patih benar, guru sudah tak mau lagi ikut terlibat dalam dunia persilatan. Oleh karenanya, kami lah para muridnya yang beliau utus untuk berpartisipasi dalam dunia persilatan. Menurut dugaan kami, semestinya nanti akan ada beberapa perwakilan dari berbagai perguruan aliran putih di wilayah Swargadwipa dan bisa jadi kebanyakan dari perwakilan itu adalah para pendekar muda seperti kami.” Kata Buyung.
“Kalau boleh tahu, berapa banyakkan pedekar berilmu tinggi yang ada di istana, Gusti?” tanya Cendana.
“Ada seratus pasukan khusus yang hanya melindungi raja. Mereka tak akan terlibat pertempuran di luar tembok ketujuh. Sementara di pemukiman prajurit ini, ada sekitar 300 pendekar sakti yang memimpin serta melatih semua prajurit Swargadwipa. Hanya saja, kemampuan mereka semua masih jauh di bawah kalian. Jika ada 50 pendekar sakti saja dari pulau Neraka menyerang, maka sudah bisa dipastikan bahwa prajurit kami akan porak poranda. Jika saja ada tiga pendekar legendaris dari aliran hitam ikut terlibat, maka kami akan dalam kesulitan besar. Maka dari itu, saya harus bekerja keras untuk mencari bantuan dari pendekar sakti aliran putih. Terlebih, rencana ini tak boleh terdengar oleh kelompok aliran hitam. Saya tidak ingin mereka tahu bahwa kerajaan telah mempersiapkan diri untuk menanggulangi kemungkinan ancaman apapun.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Gusti Patih benar sekali. Saya tidak mengira, kalau Gusti Patih memiliki wawasan seluas ini.” Puji Buyung. Ia memang tertarik dengan siasat perang dan seluk beluknya dan yang dikatakan oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang sejalan dengan yang ia sedang pikirkan.
####
Halo teman-teman. Update kali ini hanya 2 chapter saja ya. Semoga yang kutulis ini tak terlalu buruk. Ada kalanya ide ini menguap entah kemana dan sulit dikumpulkan lagi untuk kutulis. Oh iya, sebelum baca chapter berikutnya, seperti biasa, mohon bantuan likenya ya, hehehe, terimakasih teman-teman. Selamat membaca chapter selanjutnya.
__ADS_1