Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 49 Percakapan Niken dan Pendekar Syair Kematian


__ADS_3

Selang beberapa saat kemudian, Niken telah benar-benar pulih dari kesadarannya. Ia teringat bahwa ia baru saja dibawa pendekar sakti itu dengan kecepatan tinggi, yang membuatnya tak mampu melihat segala sesuatu dalam perjalanan itu.


“Apa yang tuan pendekar inginkan dariku?” Kata Niken cemas. Ia jelas bukan tandingan pendekar itu. Bahkan ia tak bisa bergerak sedikitpun saat pendekar Syair Kematian membawanya pergi.


“Apakah kau cucu dari Pendekar Rajawali? Tanya pendekar Syair Kematian.


“Bagaimana tuan pendekar bisa tahu?” tanya Niken heran.


“Kau mirip nenekmu ketika ia seusia denganmu.” Kata pendekar Syair Kematian. Niken hanya diam saja, menunggu kata-kata selanjutnya yang akan diucapkan oleh pendekar Syair Kematian.


“Hanya nenekmu, dulu, satu-satunya orang yang dekat denganku sebelum kakekmu menikahinya. Tak ada yang tahu bukan, siapa yang membunuh kakekmu? Mungkin gurumu juga tak bercerita padamu karena tak seorangpun tahu. Akulah pembunuhnya.” Kata pendekar Syair Kematian.


“Kau tak bertanya kenapa?” tanya pendekar Syair Kematian.


“Jika tuan pendekar berkenan, saya ingin mendengarkan alasannya.” Jawab Niken masih merasa was-was dan bingung.


“Kakekmu menghapus ilmu beladiriku dan seluruh kemampuan silatku. Kau bisa membayangkan bukan, betapa menyakitkan hal itu. Seharusnya ia membunuhku saja waktu itu. Lalu aku bangkit dari kegagalan. Sejak itu aku tak bisa memiliki jurus apapun selain tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh. Butuh waktu 180 tahun bagiku untuk bisa membalaskan sakit hatiku. Kubunuh kakekmu dengan syairku.” Kata pendekar Syair Kematian.


“Setelah itu, aku hanya bisa merasakan kekosongan, kehampaan, dan mengisinya dengan lebih banyak kematian lagi. Belum ada yang berhasil membunuhku. Aku tak pernah menantang perguruan manapun. Tapi aku akan membunuh pendekar yang kutemui.” Lanjut pendekar Syair Kematian.


“Aku hanya ingin mati. Itu saja.” Kata pendekar Syair Kematian.


Niken tak bisa menanggapi cerita pendekar Syair Kematian. Tak banyak yang ia ketahui dari masa lalu kakek dan neneknya. Yang bisa ia ingat adalah ayahnya memang telah berusia 150 tahun ketika menikahi ibunya yang berumur 30 tahun. Meski demikian, wajah ayahnya tak pernah menua, sama halnya seperti gurunya yang masih tampak berumur 70 tahun meski usianya telah mencapai 300 tahun.

__ADS_1


“Akan ku ajarkan padamu ilmuku. Dengan ini kau bisa membunuhku. Aku ingin kau yang melakukannya. Kau tak punya pilihan lain. Tak ada seorangpun yang menguasai ilmuku.” Kata pendekar Syair Kematian.


Niken kaget dengan ucapan pendekar itu. Ia tak yakin bisa menguasai ilmu syairnya yang mengerikan itu.


“Tak perlu bingung. Aku hanya akan mengajarkan dasarnya saja. Selebihnya aku akan menunggumu menguasai ilmu itu berdasarkan pemahaman dan pengembanganmu sendiri. Tak akan sama dengan yang aku kuasai, tapi akan sama-sama mematikan. Kau baru bisa benar-benar menguasainya dengan sempurna jika tenaga dalammu setingkat denganku.” Kata pendekar Syair Kematian.


“Butuh berapa lama agar saya bisa menguasainya, tuan pendekar?” tanya Niken.


“Kau akan di sini beberapa hari sampai kau memahami dasar-dasarnya sebagai pijakanmu. Setelah itu aku akan meninggalkanmu. Kelak kita akan bertemu lagi. Jika kau tak membunuhku, maka aku yang akan membunuhmu.” Kata pendekar Syair Kematian.


“Menurut tuan, apakah aku bisa mencapai energi seperti yang tuan pendekar miliki? Tanya Niken.


“Ya, kau memiliki tubuh es. Tak butuh waktu lama untuk menyetarakan energimu sampai tahap seperti yang kumiliki. Hanya beberapa tahun saja. Dasar-dasar ilmu yang aku berikan memungkinkanmu untuk meningkatkan kualitas energi dengan lebih cepat.


Sementara itu, Jalu sangat gelisah dan cemas dengan keselamatan Niken. Ia tak bisa memejamkan mata hingga menjelang subuh. Batari Mahadewi menemaninya terjaga. Ia tahu kakaknya sedang panik tanpa bisa berbuat apa-apa.


Mayat-mayat pendekar kelompok Kelabang Iblis menjadi tambahan pekerjaan. Pagi itu beberapa warga desa membantu mengurus mayat-mayat itu. Mereka semua dikuburkan begitu saja dalam satu lubang yang sangat besar. Beberapa mata-mata kelompok hitam melaporkan peristiwa itu kepada pimpinannya.


“Selanjutnya, apa yang akan kita lakukan?” tanya pendekar Mawar Hitam.


“Kita lanjutkan saja rencana kita. Tak ada gunanya berlama-lama di sini, apalagi mengurusi perguruan Bunga Cempaka. Kita akan dapat masalah jika pendekar pendekar Syair Kematian itu menemukan keberadaan kita di sini. Bukan tidak mungkin ia akan mencari kita setelah membantai Kelabang Iblis dan seluruh kelompoknya.” Jawab Harimau Merah.


“Kita akan bertemu dengan beberapa gabungan kelompok lainnya di kota Giring Angin. Kabarnya, pendekar Raja Sihir telah ada di sana. Sepertinya hanya ia yang bisa kita andalkan untuk melawan pendekar pendekar Syair Kematian.” Lanjut Harimau Merah.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, kita berangkat saja ke kota secepatnya.” Kata pendekar Mawar Hitam. Rombongan kelompok aliran hitam itu meninggalkan markas persembunyiannya. Mereka berpencar untuk mencari jalan sendiri-sendiri, sekaligus menjaga agar pergerakan mereka tak diketahui banyak pihak, lalu bertemu di kota Giring Angin.


Sementara itu, Jalu dan Batari Mahadewi masih ragu, apakah mereka akan melanjutkan perjalanan atau menunggu Niken. Kalau menunggu, mereka tak tahu kapan Niken akan kembali atau apakah Niken akan kembali. Sebaliknya, jika mereka melanjutkan perjalanan, apabila Niken masih dalam keadaan baik-baik saja, maka tak sulit bagi mereka semua untuk bertemu. Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi memiliki cara untuk bertemu kembali seandainya mereka terpisah dalam beberapa waktu.


“Kita lanjutkan perjalanan ini saja kak Jalu. Aku rasa kak Niken dalam keadaan baik saat ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, kurasa juga begitu. Tak ada yang bisa kita lakukan. Mungkin saja kita bisa mencarinya saat ini, namun adik benar, hal itu justru akan mengundang bahaya.” Kata Jalu.


“Ya, dan sepertinya, tak aka nada lagi serangan dari kelompok hitam setelah kelompok Kelabang Iblis terbantai habis tadi malam. Sudah pasti komplotan itu melarikan diri saat ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Kita berpamitan dengan perguruan Bunga Cempaka, lalu kita akan melanjutkan perjalanan ke barat. Kalau tidak salah, dari tuturan salah satu warga, setelah desa ini kita akan sampai di kota Giring Angin. Aku tak begitu banyak tahu tentang kota itu.” Kata Jalu.


Mereka berdua menemui beberapa pendekar Bunga Cempaka untuk berpamitan.


“Kami mohon diri, ki sanak. Situasi sudah aman. Tak akan ada serangan lagi dari kelompok hitam setelah kemunculan pendekar Syair Kematian di daerah ini.” Kata Jalu.


“Terimakasih banyak atas bantuannya tuan muda. Kami tak akan melupakan jasa tuan dan nona muda. Kelak kami akan membalas kebaikan ini.” Kata salah satu pendekar dari Bunga Cempaka.


Jalu dan batari Mahadewi akhirnya melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan biasa. Keadaan desa sudah mulai pulih. Beberapa kedai makan sudah mulai dibuka. Mereka berdua sedang tak ingin buru-buru lagi saat itu, sambil menunggu, siapa tahu Niken akan menyusul mereka berdua.


#######


Dua Episode dulu ya kawan-kawan. Sampai jumpa besok malam. Termakasih banyak atas kunjungan dan segala bentuk apresiasinya.

__ADS_1


__ADS_2