
Lima hari berlalu, pendekar Harimau Merah sudah membulatkan tekadnya untuk menyerang kerajaan Swargadwipa. Segala anggotanya yang telah tersebar di segala penjuru telah ia panggil untuk berkumpul di sebuah hutan, jauh di sebelah timur Kerajaan Swargadwipa.
Kekuatan yang ia miliki sekitar 3000 pendekar aliran hitam berilmu rendah yang merupakan gabungan dari semua kelompok aliran hitam di wilayah Swargadwipa dan Swargabhumi. Selain itu, pendekar Harimau Merah memiliki 100 pendekar sakti yang merupakan para pemimpin kelompok-kelompok aliran hitam dari 3000 pasukan itu, dan 200 pendekar sakti dari pulau Neraka yang dipimpin langsung oleh pendekar Sayap Kematian.
Kekuatan besar itu akan menyerang dari dua penjuru mata angina, yakni dari sebelah timur dan sebelah selatan. Harimau Merah dan gabungan pendekar hitam dari Swargadwipa dan Swargabhumi akan menyerang dari sisi timur, sementara pendekar Sayap Kematian beserta 200 pendekar pulau Neraka akan menyerang dari sisi selatan.
Tujuan dari penyerangan itu adalah menguasai sepenuhnnya istana Swargadwipa dan merebut kekuasaan. Sebelumnya, Harimau Merah dan Sayap Kematian memperkirakan bahwa setidaknya di istana telah dijaga puluhan pendekar sakti yang merupakan pengawal khusus keluarga kerajaan. Dan diluar benteng istana, di perumahan prajurit, setidaknya ada limaratus pendekar sakti serta puluhan ribu prajurit yang terbagi dalam empat penjuru mengelilingi benteng istana.
“Kita akan serang kerajaan malam ini. Begitu matahari tenggelam, kita akan mulai bergerak. Sebelum tengah malam, kita akan sampai di benteng terluar kota Swargadwipa, kita bisa terus bergerak cepat diam-diam hingga ke tembok ke enam. Di sana kita pasti disambut oleh para prajurit Swargadwipa. Kita harus bergerak cepat untuk memasuki benteng istana, dan di sanalah kita akan kerahkan semuanya. Jangan habiskan tenaga di perumahan prajurit. Sebisa mungkin kita harus cepat melewati benteng istana. Kata Harimau Merah.
“Ya, aku mengerti.” Kata pendekar Sayap Kematian.
####
Matahari telah tenggelam. Kesunyian mulai merambat ke seluruh pelosok hutan. Semua binatang telah bersembunyi dalam sarang mereka, kecuali para binatang malam yang mulai keluar dari persembunyiannya, bergerak diam-diam mencari mangsa, sebagaimana yang dilakukan oleh gabungan para pendekar aliran hitam yang mulai bergerak dengan cepat, melompat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Tubuh-tubuh ribuan pendekar hitam yang terus melesat beriringan itu tampak seperti pasukan hantu kegelapan yang menakutkan. Setidaknya, kemampuan seorang pendekar terendah di kelompok itu setara dengan dua puluh prajurit biasa. Terlebih, para pendekar aliran hitam itu sudah terlatih dengan baik untuk bertempur dalam kegelapan dengan menggunakan racun sebagai senjata utama.
Hampir tengah malam, gerombolan pendekar hitam itu telah sampai di sisi timur dan selatan tembok kota Swargadwipa. Perjalanan masih sedikit jauh untuk bisa sampai ke benteng istana. Para pendekar itu dengan mudahnya melompati tembok tinggi yang membentengi kota Swargadwipa tanpa terlihat oleh para penjaga atau prajurit patrol yang berkeliling kota.
Dari sisi timur, Harimau Merah dan para pendekar utama pemimpin kelompok aliran hitam itu melaju di deretan paling depan, melompat dari satu atap ke atap lainnya tanpa menimbulkan suara, di susul oleh tiga ribu pendekar hitam lainnya yang menyebar membentuk sepuluh barisan.
Sementara itu, pendekar Sayap Kematian juga telah melewati tembok kota di sebelah selatan dengan sangat mudah, sunyi, diam-diam, dan tak terlihat mata biasa. Namun pancaran energi mereka yang terus bergerak akan tetap tertangkap oleh para prajurit mata-mata yang tersebar di segala penjuru kota Swargadwipa. Ketika semua pasukan harimau hitam telah melewati tembok kota, tiba-tiba sebuah bola api berwarna merah membumbung tinggi kelangit, di susul dengan bola-bola api lainnya, yang kemudian meledak di angkasa dan menimbulkan cahaya terang.
Bola-bola api itu membuat komplotan Harimau Merah sedikit panik. Kedatangan mereka telah tercium bahkan sebelum mereka sampai ke tembok ke empat. Gerombolan itu tak peduli. Mereka terus mengikuti pemimpin mereka, melaju menembus malam dengan kecepatan lebih tinggi lagi.
Gadis kecil itu segera mengabarkan yang ia saksikan kepada Mahapatih Siung Macan Kumbang. Lalu lelaki tua yang masih tampak tangguh itu memeritahkan prajuritnya untuk menyalakan bola api berwarna hijau dan biru, sebagai tanda bagi para prajurit dan pendekar di keempat penjuru untuk menciptakan formasi pertahanan tertentu. Mahapatih Siung Macan Kumbang masih tetap bisa bersikap tenang dalam situasi yang bagi Batari Mahadewi adalah genting. Batari Mahadewi tak memahami bahwa strategi perang jauh lebih efisien daripada kekuatan.
Mahapatih Siung Macan Kumbang telah membagi semua pendekar sakti yang ia undang untuk menyebar ke segala penjuru perumahan prajurit yang mengelilingi benteng istana. Mengingat serangan akan datang dari dua penjuru, yakni timur dan selatan, maka Mahapatih Siung Macan Kumbang memerintahkan para pendekar berilmu tinggi untuk menghadang di dua penjuru tersebut.
Sementara di bagian utara dan barat, Mahapatih Siung Macan Kumbang mempercayakannya kepada para senopati bawahannya bersama-sama dengan puluhan ribu rajurit yang tersebar di sana, sebagaimana mereka semua tinggal di perumahan prajurit yang tampak seperti desa yang sangat luas itu.
__ADS_1
####
Sementara itu, di tepi hutan sebelah barat kota Swargadwipa, Vidyana dan Nala menyaksikan bola api yang meledak dan memancarkan cahaya menyilaukan di langit.
“Tampaknya di sana sedang ada pesta perang, adik. Ayo kita ke sana. Siapa tahu ada lawan kuat yang bisa kita hadapi.” Kata Vidyana. Nala hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Keduanya langsung melesat dengan kecepatan tinggi menuju kota Swargadwipa.
Angin malam
Kesunyian
duka dan pekik kematian
akan terdengar sebelum fajar
O, dewa di langit
__ADS_1
Di manakah kau sembunyikan wajahmu?