Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 339 Tubuh Baru Gadis Pusaka Dewa


__ADS_3

Kristal emas di dalam goa itu pecah sebagian, namun kristal itu masih memancarkan energi dan bercahaya, meski tak sekuat sebelumnya. Sementara itu, begitu Batari Mahadewi telah keluar, dunia dewa di altar Samudra perlahan kembali seperti sedia kala.


Pohon-pohon dewa mulai menumbuhkan tunas barunya, rerumputan, tanaman hias, semua bergerak perlahan-lahan seolah mendapatkan nyawa baru.


Para dewa masih belum berhenti melongo menyaksikan penampilan baru gadis pusaka dewa itu. Lebih gahar dari perkiraan mereka.


Pancaran kekuatan Batari Mahadewi lebih besar berkali-kali lipat dari sebelumnya. Perisai perang yang menempel di tubuhnya itu merupakan bagian dari tubuhnya sendiri, bentuk perkembangan dari tubuh emas yang dulu ia khawatirkan itu.


Sehingga, perisai perang berkilauan emas itu tak hanya berfungsi sebagai pelindung, namun juga senjata. Hanya saja, Batari Mahadewi benar-benar gelisah dengan penampilan barunya itu.


“Maharuna, akhirnya kau berhasil melakukan pencapaian barumu, baru kali ini aku bertemu langsung denganmu,” kata raja dewa.


“Maaf, kakek ini dewa apa?” tanya Batari Mahadewi polos tanpa merasa berdosa dan tanpa harus bersikap hormat seperti sikap berlebihan dewa-dewa yang lain yang kini semua hanya diam saja di tempatnya masing-masing. Sosok raja dewa memang berjanggut dan berambut panjang. Ia paling berwibawa di antara dewa-dewa yang lain, tetapi Batari Mahadewi tetap tak tahu siapa tokoh itu.


“Hahaha, aku raja dewa.”


“Bukankah seharusnya, raja dewa sekarang ada di…” Batari Mahadewi tak melanjutkan ucapannya.


“Aku telah bebas berkeliaran sejak kau ada di dalam bejana dewa penempa senjata itu,” kata raja dewa.


“Oh, iya aku ingat. Beberapa hari yang lalu aku merusakkan bejana itu. Aku sungguh tak sengaja. Aku bisa membuatkannya kembali jika mau,” kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, bukan beberapa hari yang lalu. Tetapi lima bulan yang lalu,” kata raja dewa.

__ADS_1


Batari mahadewi tampak berfikir keras. Ia tak menyangka ia sudah lima bulan berada dalam kukungan kristal emas itu. Dan kini, penampilannya sungguh meresahkan dirinya.


“Dewa raja…e…apakah bentuk tubuhku akan selamanya seperti ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Itu adalah perisai alami. Bagian dari tubuhmu sendiri. Kau hanya perlu latihan sebentar untuk menyimpan perisai itu dalam tubuhmu dan juga mengeluarkannya kembali,” kata raja dewa.


“Jadi bentuk tubuhku yang sebelumnya tidak berubah?” Ada sedikit harapan dalam benak Batari Mahadewi. Diam-diam ia panik jika tak bisa kembali seperti semula. Tubuh cantiknya itu.


“Entahlah. Kita hanya bisa tahu setelah kau berhasil mengendalikan perisai itu. Caranya sebenarnya sama dengan menggerakkan anggota tubuhmu yang lain, sebab perisai itu adalah anggota tubuhmu. Gunakan pikiranmu untuk menggerakkan perisai ini masuk ke dalam tubuhmu. Tapi sebelumnya, hentikanlah pancaran kekuatanmu,” kata raja dewa memberi petunjuk.


Batari Mahadewi mencobanya melakukan seperti yang dikatakan oleh raja dewa. Perisai perang yang heboh itu perlahan masuk ke dalam tubuhnya. Ia tampak seperti iblis yang berubah bentuk. Yang menarik, ketika seluruh baju perang itu menyusup ke dalam tubuhnya, beberapa anggota tubuhnya yang semula terlihat seperti logam kini tak tampak lagi. Tangannya, kakinya, seluruh tubuhnya adalah tubuh manusia.


Beruntunglah, ia tak kehilangan kecantikannya. Jika sebelumnya ia terlihat sedikit menyeramkan, dengan hiasan taring di mulutnya, kini taring itu juga hilang. Beberapa kali Batari Mahadewi meraba bagian-bagian tubuhnya yang membuatnya tampak seperti monster cantik. Semua lenyap. Ia bertubuh sepenuhnya manusia.


Kemudian, ia mencoba mengeluarkan lagi perisai perangnya. Rasanya sedikit menggelikan. Ia juga bereksperimen, hanya mengeluarkan perisai di bagian tangan, lalu hanya di bagian dada dan perut, ia juga mencoba mengeluarkan taringnya lagi, dan semuanya berjalan dengan mulus. Tak ada yang hilang dari bentuk-bentuk yang sebelumnya ia miliki. Bedanya, ia bisa berubah bentuk kapanpun dia mau. Ia bisa terlihat cantik, dan dengan begitu ia bisa menggoda Nala. Hmm, tiba-tiba ia teringat kekasihnya itu. Jika lima bulan telah berlalu, apa yang terjadi sekarang? perasaannya mulai tak enak.


“Sebentar…istana khayangan? Bukankah di sana ada raja raksasa?” Batari Mahadewi masih mencoba menerjemahkan situasi yang telah ia lewatkan itu.


“Kalapati saat ini sedang turun ke dunia tengah. Ia akan menyerang bangsa iblis sendirian, sebab bangsa manusia dan bangsa raksasa kini terancam musnah dengan keberadaan bangsa iblis itu,” kata raja dewa.


Jantung gadis itu berdegup keras. Ia tahu, Nala dalam bahaya. Hanya ia saja di lingkungan dewa yang saat ini peduli dengan lelaki itu.


“Raja dewa, maaf, tetapi sepertinya aku tak bisa ke istanamu sekarang. Aku harus segera menghentikan peperangan itu!” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Tetapi kekuatanmu belum cukup untuk bisa membunuh Kalapati. Jangan bertindak bodoh!” kata raja dewa.


“Bagaimana raja dewa bisa tahu jika kekuatanku tak cukup? Maaf, aku harus pergi dulu.” Batari Mahadewi menghilang dari altar Samudra. Kekuatannya sudah cukup untuk menjelajah dunia dalam satu kedipan mata. Ia bisa pergi ke berbagai tempat manapun yang ia inginkan, bahkan ke dunia siluman sekalipun.


Yang dikhawatirkan oleh dewa perang dan dewa penempa senjata benar-benar terjadi. Mereka berdua yakin, gadis pusaka dewa itu ingin menyelamatkan kekasihnya dari incaran Kalapati. Kini para dewa itu bingung harus berbuat apa.


“Bagaimana ini, paduka?”


“Kita lihat saja hasilnya. Kalian tetap di sini, aku akan mengikutinya. Apapun yang terjadi, kalian jangan pernah keluar dari ruangan ini jika aku tak memerintahkannya!” raja dewa kemudian lenyap sebelum dewa-dewa lainnya menanyakan hal lain.


*****


Sementara itu, beberapa waktu sebelum Batari Mahadewi keluar dari kristal emas, Pangeran Andhakara akhirnya menjumpai benteng yang keterlaluan besarnya. Rasa penasarannya terjawab sudah. Semua manusia dan raksasa itu berada di balik tembok besar yang membentang di hadapannya itu.


“Pantas saja mereka tak terlihat. Rupa-rupanya raja raksasa di pulau ini sudah menyiapkan banyak hal untuk menyambut kedatangan kita,” kata Andhakara.


“Hahaha, tetap saja mereka bodoh! Mereka kira, dengan benteng semacam ini, mereka bisa menahan kita?” kata Rodya. Jangankan melompatinya, menghancurkan tembok itu bisa dilakukan dengan mudah dalam satu tiupan nafas.


“Menarik sekali. Justru inilah hiburan yang menyenangkan. Jangan rusak tembok ini. Ayo kita ke atas, biar Ogha yang memberikan kejutan yang akan merepotkan mereka semua,” kata pangeran Andhakara.


Pangeran kegelapan itu melompat ke atas tembok besar yang sepi itu. Para ksatria yang berjaga berjauhan satu dengan lainnya. Saking jauhnya, mereka tak bisa melihat Andhakara dan para iblis yang mengikutinnya.


Di balik tembok itu, Andhakara melihat pemandangan yang menyenangkan. Di sana adalah hamparan hutan yang luas. Semakin ke tengah, hutan itu berganti menjadi bangunan-bangunan para raksasa. Istana Kalahijau tak terlihat dari tembok itu. Terlalu jauh jaraknya.

__ADS_1


“Ayo kita ke hutan! Siapa tahu ada raksasa atau manusia yang akan menjadi hamba baru kita!” ajak Andhakara. Mereka melesat masuk ke dalam hutan hingga akhirnya menemukan sekelompok manusia yang terlihat menyedihkan. Betapa tidak, mereka benar-benar menderita di dalam benteng para raksasa itu. Jika tak mau melihat para raksasa, maka mereka harus tinggal di hutan.


Ratu Ogha mengerahkan asap hitam dari tubuhnya, menyisipkan jiwa iblis ke dalam kesadaran sekelompok manusia itu. Tak lama kemudian, sekelompok manusia itu seperti mendapatkan kehidupan baru. Kehidupan sebagai iblis. Mereka melesat, mencari korban lain sebagaimana yang terjadi di pulau-pulau lainnya. Sebentar lagi, wilayah yang dikepung dengan tembok raksasa itu akan sibuk dengan wabah jiwa iblis yang menyerang mereka.


__ADS_2