Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 153 Kemenangan Adalah Kekalahan


__ADS_3

Mahapatih Siung Macan Kumbang memerintahkan pasukannya untuk segera membakar parit sebagai benteng terakhir. Di udara, ratusan ribu anak panah dari kedua kubu masih terus beterbangan mencari mangsa. Prajurit Swargadwipa masih diuntungkan karena meski benteng telah hancur sebagian, namun masih banyak tempat berlindung dari hujan anak panah dari pihak musuh.


Sebaliknya, pasukan Swargabhumi hanya menggunakan tameng untuk berlindung dari hujan panah pasukan Swargadwipa. Pelan tapi pasti, barisan pasukan musuh semakin mendekat. Beberapa pendekar dari pihak musuh memasang batang pohon sebagai jembatan para prajurit untuk menembus parit api. Hanya para pendekar sakti saja yang memiliki perisai energi untuk berlindung dari hujan panah atau api.


Begitu pasukan musuh mulai menyeberangi parit api, perang senjata jarak jauh berganti dengan perang fisik. Para pendekar Swargadwipa mulai membantai prajurit musuh sebelum mereka bertemu dengan lawan sepadan, yakni para pendekar Swargabhumi. Sementara, para prajurit dari kedua belah pihak dengan gigih mengayunkan pedang, tombak, dan segala senjata yang mereka bawa untuk menghabisi lawan-lawannya. Jumlah yang tak seimbang itu membuat setiap prajurit Swargadwipa harus bisa membunuh tiga prajurit musuh.


Para pendekar dan senopati Swargadwipa bertempur seperti kesetanan. Keberadaan para orang sakti itu sangat dibutuhkan oleh Swargadwipa agar bisa menghabisi sebanyak mungkin pasukan musuh.


Sementara itu, Mahapatih Siung Macan Kumbang masih di menara, memberikan aba-aba kepada senopati-senopati beserta para prajurit lain yang masih bersiap untuk serangan gelombang berikutnya. Dan dari atas menara itulah, sang patih menggerakkan kelompok-kelompok kecil pasukan dengan bahasa isyarat yang hanya diketahui oleh prajurit Swargadwipa.


Puluhan ribu nyawa telah melayang dalam sekejab. Bumi Mutiara Biru dibanjii dengan darah dan tubuh-tubuh bergelimangan tak bernyawa. Suara jerit dan pekik kematian riuh menggema di segala penjuru. Ketika pasukan gelombang pertama Swargadwipa telah habis dan juga telah menghabisi separuh dari jumlah pasukan lawan, Mahapatih Siung Macan Kumbang beserta seluruh pasukan gelombang ke dua yang tersisa terjun ke arena, membabat sebanyak mungkin nyawa lawan sebelum nyawa mereka sendiri akan melayang bersama debu dan asap hitam yang mengepul di udara.


Mahapatih Siung Macan Kumbang melesat cepat dengan kedua gada energi di tangan kanan dan kirinya. Satu ayunan gada merenggut puluhan nyawa prajurit musuhnya. Ia terus menerus menari dengan jurus-jurusnya di atas tumpukan mayat. Seluruh tubuhnya berlumuran darah dan keringat. Matanya yang tajam dan teriakannya yang lantang membuat semua prajurit musuh memilih untuk menyingkir menghindarinya.


Tarian dan teriakan sang patih Siung Macan Kumbang menjadi semangat bagi para prajuritnya sendiri yang sangat bangga beperang di bawah pimpinan seorang mahapatih yang pemberani.


Perang terus berlangsung hingga matahari terbenam. Tak satupun nyawa musuh yang tersisa di bawah naungan senja pada hari itu. Namun, tak sedikit pula pasukan Swargadwipa yang telah kehilangan nyawa.


Sekali lagi, Swargadwipa menang sementara. Mahapatih Siung Macan Kumbang hanya memiliki lima ratus prajurit yang tersisa, beberapa senopati dan pendekar yang ada di pihaknya. Tak ada yang bisa bernafas lega meski perang pada hari itu telah selesai. Bisa saja pasukan Swargabhumi yang tersisa akan menyerang pada malam hari.


Oleh karena itulah, dengan sedikit prajurit yang tersisa, Mahapatih Siung Macan Kumbang memerintahkan semua yang ada di Mutiara Biru untuk mengungsi ke kota Dhyana. Kemenangan itu tak berarti kemenangan. Dengan dua ratus ribu pasukan yang gugur, Swargabhumi telah berhasil menguasai Mutiara Biru. Sehingga, pada hari itu, tak ada pihak yang merasa menang.


Swargadwipa telah kehilangan kota Mutiara Biru, sementara Swargabhumi telah kehilangan hampir separuh dari seluruh jumlah prajurit yang mereka bawa. Kedua belah pihak itu sama-sama merasa getir.

__ADS_1


Setelah perang pada hari itu dan sebelum malam tiba, Mahapatih Siung Macan Kumbang langsung memerintahkan untuk mundur tanpa mengulur waktu untuk beristirahat. Seluruh manusia di Mutiara Biru pada waktu itu juga meninggalkan kota perbatasan penuh kenangan. Semua warga sipil telah diungsikan jauh-jauh hari sebelumnya. Tak ada lagi manusia di Kota Mutiara Biru kecuali Ki Cakra Jagad dan beberapa muridnya yang masih tinggal di perguruan Lentera Langit.


Pendekar senior pendiri perguruan Lentera Langit itu harus berada di pihak netral, sebagaimana telah disepakati oleh semua pendekar senior lainnya di seluruh pulau Mahabhumi bahwa mereka tak boleh ikut dalam pertempuran, kecuali mempertahankan perguruan dari serangan apabila hal itu terjadi.


Ki Cakra Jagad tak memiliki alasan untuk ikut mengungsi. Lagipula, Swargabhumi tak mau mengambil resiko kehilangan banyak nyawa jika berani menginjakkan kaki di perguruan Lentera Langit yang terletak di bagian paling tepi dari kota Mutiara Biru.


Selagi Mahapatih Siung Macan Kumbang beserta para pasukan dan pengikutnya meninggalkan Mutiara Biru, seluruh pasukan Swargabhumi juga bergerak menuju kota sunyi itu. Mereka akan mendirikan perbatasan baru, dimana kota Mutiara Biru telah menjadi bagian dari Swargabhumi begitu kota itu telah jatuh.


Di kota itu, patih Hamapadayana akan menyusun ulang rencananya, serta memulihkan seluruh kondisi kekuatannya. Bantuan prajurit tambahan yang akan bergerak menuju kerajaan Swargabhumi tak akan bisa datang dalam hitungan hari. Mereka mungkin akan datang sekian minggu kedepan. Sehingga, yang bisa dilakukan oleh Hamapadayana hanyalah memulihkan kondisi, memperbaiki kota itu untuk tempat tinggal para prajurit, dan yang tak kalah penting adalah membereskan ratusan ribu mayat yang tergeletak di tanah.


Hal yang melelahkan dan mengerikan itu harus cepat mereka lakukan, karena jika tidak maka tumpukan mayat itu akan menjadi masalah. Bukan hanya bau bangkai yang mengganggu saja, namun tumpukan mayat yang membusuk itu bisa menjadi sumber penyakit menular yang bisa menghabiskan semua prajurit yang tinggal di kota itu.


Setelah lima hari perjalanan dari Mutiara Biru, akhirnya rombongan Mahapatih Siung Macan Kumbang tiba di kota Dhyana. Rombongan itu di sambut dengan haru dan syukur karena sang patih masih selamat.


“Untunglah paman selamat.” Sambut Jalu.


“Ya, aku tak bisa membiarkan pasukan yang tersisa mati sia-sia. Berikutnya, kota ini akan menjadi sasaran. Tapi bisa jadi pasukan musuh tak akan melewati kota ini, namun memilih untuk melewati jalur pendek dengan menerobos hutan. Jika mereka melewati kota ini, maka nasib kota ini akan sama dengan Mutiara Biru, namun musuh sudah pasti akan kehilangan banyak prajurit. Tetapi jika musuh melewati hutan, maka mereka sudah pasti bisa mengambil resiko bahwa kita akan menyerang dari belakang ketika mereka tiba di Swargadwipa.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Kira-kira kapan mereka akan mulai bergerak lagi, paman?” tanya Jalu.


“Sebulan paling cepat. Kita masih punya waktu untuk menyusun ulang strategi kita. Siapa tahu kerajaan lain yang ada di pihak kita akan mengirimkan tambahan bala bantuan. Yang pasti, jika musuh hanya mengandalkan sisa prajurit yang mereka miliki, atau hanya menambahkan lima ratus ribu prajurit tambahan, maka mereka tak akan bisa menang.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Apakah paman tidak punya keinginan untuk mengacaukan persiapan musuh di Mutiara Biru? Aku dan Niken siap melakukannya dan kami pasti akan pulang dengan selamat.” Kata Jalu yang sangat yakin dengan kemampuan barunya itu, maka ia dan Niken bisa menciptakan kekacauan di Mutiara Biru, atau sekedar meninggalkan pengalaman buruk bagi para musuhnya.

__ADS_1


####


Malam ini aku hanya bisa menulis satu chapter saja teman-teman. Tampaknya aku kurang gizi karena tak berani belanja atau jajan di luar. Setidaknya, aku masih baik-baik saja di tengah wabah yang makin lama makin mencemaskan ini. Semoga kawan-kawan semua terhindar dari wabah, musibah, dan segala rintangan, hari ini dan seterusnya. Amin.


Sesekali melalui catatan kecil ini, aku ingin menjawab beberapa komentar teman-teman yang ada di berbagai chapter. Teman-teman bisa mengajukan pertanyaan dan jika kurasa butuh jawaban panjang, maka aku akan menjawabnya dengan cara seperti ini.


Nah, untuk hal pertama yang ingin kurespon terlebih dahulu adalah soal panjang pendeknya cerita ini, barangkali dari beberapa pembaca ada yang tak menikmati jika suatu novel itu terlalu panjang.


Di bagian synopsis cerita, dan di awal cerita, teman-teman pasti tahu bahwa cerita ini nantinya akan mempertemukan Batari Mahadewi dan Raja Raksasa Kalapati, kan? Betul sekali. Cerita akan selesai di titik itu.


Namun sebelum sampai ke sana, Batari Mahadewi harus berhasil membuka seluruh energi yang terkunci dalam tubuhnya dan oleh karenanya, ia dan temannya si Nala itu aku buang ke dunia tiga rembulan. Di sana tempat yang paling oke untuk meningkatkan kemampuan mereka.


Di samping itu, di dunia satu rembulan akan ada dua kejadian besar sebelum Kalapati turun dari khayangan. Kejadian pertama masih sedang berlangsung, yakni perang antar kerajaan di Mahabhumi. Kejadian kedua adalah kedatangan kerajaan hitam, yakni kerajaan Tira Yamani yang dipimpin oleh ratu Ogha. Ini telah kusinggung di chapter2 sebelumnya lho ya, jadi aku nggak mengada-ada dan bermaksud memanjang-manjangkan cerita. Sebagai bocoran, Si ratu Ogha yang cakep dan sekseh itu ada hubungannya dengan masa lalu Nala.


Jadi alurnya sudah jelas ya teman-teman. Semoga saja tidak sampai chapter 300 cerita ini sudah tamat. Tapi apabila ceritanya molor, tentu molorya karena keseluruhan cerita tenyata butuh chapter tambahan. Aku belum tahu soal ini. Yang pasti, aku akan mengusahakan bahwa di setiap chapter selanjutnya, ceritanya semakin menarik dengan hal-hal baru (bukan pengulangan, atau penyelewengan alur yang entahlah).


Nah, yang aku rahasiakan adalah nasib para tokoh utama dalam cerita ini teman-teman. Jadi jangan bosan mengikuti cerita ini sampai akhir ya, biar tahu nasib dari Tari, Nala, Jalu, dan Niken.


Setelah novel ini tamat, apakah ada kelanjutannya? Aku belum tahu. Yang pasti aku sedang mencoba menyusun novel baru sebelum PBM tamat, sebuah cerita yang mengisahkan kehidupan seorang pemuda yang akhirnya menjadi pendekar legenda aliran hitam di dunia persilatan. Latar cerita kayaknya sih yang ga jauh-jauh amat, yakni di era kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Mungkin lho ya, wkwkwkwk….kalau PBM kan di era sebelum ada kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara, era fiktif yang kubuat sesuka hati, hehehe…


Wokay teman-teman, sekian dulu ya. Aku akan dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman jikalau ada (Terkait dengan proses penulisan PBM tentunya) dan silahkan sampaikan di kolom komentar.


Gitu ya teman-teman, terimakasih banyak atas segala dukungan yang telah teman-teman berikan…aku tak bisa membalas kebaikan teman-teman semua selain berusaha menulis buat teman-teman, dan berdoa; semoga di hari-hari yang gawat ini, kita semua selalu sehat dan selamat, selalu berkelimpahan rejeki dan kedamaian di hati. Amin.

__ADS_1


__ADS_2