Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 24 Arena Pertarungan


__ADS_3

Jalu dan Niken pergi mengunjungi arena pertandingan yang dibuka setiap hari. Jalu ingin mengamati dan mempelajari terlebih dahulu situasi di arena tersebut sebelum ia memutuskan untuk menjadi petarung untuk mendapatkan beberapa keping emas sebagai bekal perjalanan tugasnya.


Arena itu selalu dipenuhi oleh banyak penonton. Tentunya tujuan mereka datang bukanlah sekedar untuk melihat tontonan, melainkan untuk judi taruhan.


Siapapun boleh menjadi petarung di arena tersebut. Pengelola akan memberikan imbalan tertentu, yakni sekeping emas bagi yang kalah dan tiga keping emas bagi yang menang. Apabila pemenang masih bisa memenangkan lagi pertandingan berikutnya, maka imbalannya dua kali lipat dari imbalan pertama, begitu dan seterusnya.


Jika ada petarung yang meninggal dalam arena, maka pengelola arena bersedia mengurus jenazahnya dengan layak dan semestinya.


Kebanyakan dari orang-orang yang datang itu adalah botoh judi yang membawa petarungnya sendiri. Dalam hal itu, petarung yang dibawa oleh para botoh akan mendapatkan imbalan ganda, upah dari botoh dan imbalan dari pengelola arena. Petarung hanya akan diizinkan bertanding lima kali berturut-turut apabila ia tidak terkalahkan selama itu. Ia baru boleh bertanding lagi esok hari.


Bisnis tersebut menyedot banyak keuntungan dari pihak pengelola. Selain dari uang tiket, pengelola sendiri menciptakan jaringan botoh dan petarungnya sendiri untuk taruhan dengan pengunjung lainnya. Pengelola dalam hal ini juga berperan menjadi bandar yang menampung uang taruhan dari kedua belah pihak meskipun jumlah taruhan itu tidak seimbang.


Dalam hal itu, Bandar bisa bermain-main untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Hanya Bandar yang tahu berapa selisih jumlah taruhan yang diterima. Dan oleh karena itu, petarung yang harus menang adalah petarung dengan jumlah sedikit taruhan yang menjagokannya menang.


Jalu sudah mengetahui hal ini sejak kecil karena hal itu bukanlah hal asing di kalangan keprajuritan kerajaan. Tak sedikit diantara petarung itu adalah prajurit kerajaan yang sedang tidak bertugas. Mereka melakukannya untuk mencari tambahan uang.


“Apakah kakak akan jadi bertarung? Kata Niken.


“Rasanya lucu. Lihat petarung-petarung yang sedang menunggu di luar gedung itu. Tubuh mereka besar, tapi sebetunya mereka hanyalah tukang pukul biasa, bukan seorang pendekar.” Kata Jalu. Aku akan menemukan dulu seorang botoh agar bisa dapat imbalan ganda. Dan…bagaimana jika adik menunggu di tempat lain selagi aku bertarung di dalam?” Kata Jalu.


“Memangnya kenapa?” Kata Niken.


“Mungkin adik akan menjadi satu-satunya perempuan di sana…soal itu aku tak yakin, tapi yang pasti adik akan mendengar kata-kata tak menyenangkan dari mulut pengunjung di sana.” Kata Jalu.


“Maka akan aku hajar mereka.” Kata Niken.


“Itu yang aku khawatirkan. Dan kalau adik melakukannya, arena ini akan menjadi gundukan es, lalu usaha kita mendapatkan uang akan sia-sia.” Kata Jalu sambil tersenyum.


“Hmm…sepertinya kakak benar. Kalau begitu aku akan menunggu gedung kesenian. Di sebelah sana, tak jauh dari sini.” Kata Niken.


“Baiklah, tunggu aku di sana. Aku tak akan lama di sini.” Kata Jalu.


Niken bergegas meninggalkan arena pertandingan itu menuju gedung kesenian. Entah kenapa ia selalu suka melihat aktivitas para seniman di sana untuk menciptakan karya seni.


Jalu menemui seseorang yang tampak seperti botoh lalu berbicara sebentar dengannya. Tebakannya benar, orang itu adalah botoh tulen di arena tersebut. Ia menggantungkan hidupnya dari berjudi.


“Apakah kau benar-benar bisa bertarung?” Tanya botoh itu.


“Saya bisa menumbangkan petarung andalan tuan dalam sekali pukul.” Kata Jalu


“Bisakah kau memecahkan balok kayu itu dalam sekali pukul?” Botoh itu ingin menguji kebenaran ucapan Jalu.


“Akan kulakukan, tunggu sebentar.” Kata Jalu. Ia kemudian berdiri di samping balok kayu yang cukup tebal yang digunakan sebagai tempat duduk para petarung yang sedang menunggu giliran. Ia berpura-pura melakukan suatu gerakan seperti yang dilakukan oleh tukang atraksi yang unjuk kebolehan, lalu ia memukul balok kayu itu. Balok kayu itu retak dan tak sampai patah menjadi dua. Hal itu sudah cukup membuktikan kalau Jalu bisa berkelahi.


“Maaf tuan, hanya retak sedikit. Apakah aku masih bisa menjadi petarung tuan?” tanya Jalu.


“Ya, kau bisa bertarung. Melihat tubuhmu tidak sebesar orang-orang itu, aku yakin tak banyak yang menjagokanmu menang. Aku akan bertaruh sangat besar dan kau harus menang. Kau bisa melakukannya?” tanya botoh itu.

__ADS_1


“Aku akan berusaha sebaik mungkin tuan.” Kata Jalu


“Aku akan memberikan seperempat dari hasil kemenanganku nantinya, tapi kau harus mau ikut aturan mainku. Di pertandingan pertama, kau harus menang mutlak. Aku akan bertaruh banyak untuk itu. Lalu dipertandingan kedua, aku harap kau memperlihatkan kemampuan yang lebih. Aku tak akan bertaruh untuk ini. Sebaiknya kau bertarung sebaik mungkin tanpa mendapatkan pukulan. Dan di pertandingan ketiga, kau harus kalah. Aku akan bertaruh sangat besar untuk kekalahanmu. Jadi kau hanya akan bertanding tiga kali. Apakah kau setuju?”


“Saya setuju tuan.” Jawab Jalu.


“Bagus. Ada pertanyaan?” Kata botoh.


“Tidak tuan…..e…bolehkah saya memakai topeng saat bertarung tuan?” Kata Jalu.


“Ya, tidak masalah. Baiklah, searang tunggu giliranmu di sini, aku akan mendaftarkanmu.” Kata botoh itu sambil bergegas masuk ke dalam dan menemui petugas pendaftaran.


Tak lama kemudian botoh itu keluar dar gedung dan memanggil Jalu. “Hei kau, ayo ke sini. Sebentar lagi giliranmu.” Lalu Jalu masuk kedalam mengikuti botoh itu.


“Nah, setelah pertandingan yang saat ini, kau akan masuk menjadi penantang. Orang itu sudah dua kali bertanding dan staminanya masih bagus. Bentuk tubuhnya hampir sama sepertimu. Dia tangguh dan sudah beberapa kali bertanding di sini dan selalu menang.”


Jalu memperhatikan petarung yang dimaksudkan oleh botoh itu. Benar ucapannya, lelaki itu bertarung dengan baik dan mampu merbohkan lawannya dalam waktu singkat. Lelaki itu bukan petarung biasa.


“Nah sekarang giliranmu. Ingat kataku, kau harus menang.” Kata botoh itu. Ia yakin Jalu akan menang sebab ia melihat sendiri kemampuannya meretakkan balok kayu yang cukup tebal. Ia sendiri tak yakin kalau jagoan andalannya bisa melakukan hal itu. Sehingga, botoh itu tang tanggung-tanggung dalam taruhannya, 500 keping emas ia pertaruhkan untuk kemenangan Jalu.


Jalu segera memasang topeng yang menutup separuh wajahnya sehingga lawannya masih bisa melihat mulut Jalu, kemudian jalu memandang mata bengis lawannya yang kini ada di hadapannya.


“Kau pendatang baru?” tanya lawan Jalu.


“Iya, ada masalah?” Balas Jalu.


“Kau tampak bodoh dengan topeng jelek itu. Apakah kau tak punya topeng lain? Atau wajahmu lebih buruk lagi dari


“Bersiaplah untuk cacat. Aku tak segan-segan dengan pendatang baru.” Kata lawan Jalu.


Selesai mengatakan hal itu, lelaki itu langsung menyerang Jalu dengan serangkain jurus. Jalu hanya mengimbangi serangan itu dengan tangkisan dan ia cenderung menghindar. Lelaki itu terlihat kesal karena serangannya selalu gagal.


Berikutnya lelaki itu menyerang lagi dengan lebih bertubi-tubi dengan pola serangan atas dan bawah dan sekali lagi, pukulan dan tendangannya lebih sering mengenai udara ketimbang tangkisan Jalu.


Jalu melihat lawannya sudah mulai tidak teratur nafasnya karena serangan itu. Jalu masih belum menyerang, ia menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkan lawannya dengan cara yang menghibur. Bagaimanapun, penonton menikmati pertandingan apabila kedua petarung melancarkan serangan-serangan terbaiknya.


Kesempatan itu datang. Lelaki itu menyerang lagi membabi buta karena sangat frustasi dengan kegagalan serangan pertama dan keduanya.


Jalu menangkap momen menguntungkan saat lelaki itu melancarkan pukulan jarak dekat. Jalu memberikan satu sentuhan kecil yang tak terlihat tepat di pelipis lawannya sambil seolah menghindari pukulan lawannya. Akibatnya, lelaki itu seperti kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur.


Penonton bersorak mencemooh. Lelaki lawan Jalu itu tak sadar bahwa ia terjatuh karena sentuhan  kecil dari ujung jari Jalu. Maka ia semakin marah, dan menyerang Jalu tanpa taktik. Ini kesempatan Jalu untuk melancarkan serangan.


Mula-mula Jalu menangkis, lalu ia melakukan serangkaian serangan balik, meninju beberapa bagian tubuh depan lawannya, lalu menendangnya hingga lawannya jatuh.


Jalu memberikan pukulan-pukulan ringan agar lawannya bisa bangun dan menyerangnya lagi. Lawan itu sadar kalai dirinya akan kalah. Tapi ia masih ingin berusaha dan berharap akan beruntung. Sayang sekali nasib lelaki itu sial.


Ia berlari dan melakukan lompatan lalu menendang Jalu. Dengan sigap jalu menangkap lelaki itu, lalu menariknya hingga lelaki itu terbanting. Kali ini lelaki itu tak bisa bangun karena kehabisan energi.

__ADS_1


Beberapa penonton yang menjagokan Jalu bersorak kegirangan karena menang taruhan. Lawan Jalu selanjutnya adalah lelaki berbadan tinggi besar dengan muka penuh goresan luka. Ia adalah mantan bandit yang dulu pernah ditakuti.


Kali ini botoh jalu tidak bertaruh. Ia masih berspekulasi dengan kemampuan Jalu. Sebagian besar penonton menjagokan lelaki bertubuh besar itu.


Jalu menatap mata lawannya sambil tersenyum. Lelaki itu membalas senyuman Jalu dengan seringai yang tak bersahabat. Pertandingan dimulai. Jalu masih berdiri dengan tenang di tempatnya. Lelaki besar itu bersiap untuk melumat tubuh jalu dengan sekali pukulan.


Sayang sekali, ketika lelaki itu menghantamkan kepalan tangannya ke arah kepala Jalu, dengan tangkas Jalu menunduk lalu menghantam perut orang itu dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkan balok kayu hingga seluruh tubuh orang itu sempat terangkat sedikit sebelum jatuh ke lantai.


Lelaki itu memekik kesakitan, lalu roboh tak sadarkan diri. Pertandingan berlangsung sangat singkat. Penonton masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Botoh Jalu tersenyum. Ia yakin kalau hari ini ia akan menang banyak dan ia sangat senang dengan cara Jalu yang cukup pintar untuk memahami maksudnya.


Penantang selanjutnya adalah seorang petarung yang tak begitu besar ukuran tubuhnya. Bahkan terlihat lebih kurus dari Jalu. Petarung itu sudah gemetar melihat aksi Jalu yang merobohkan petarung besar dengan sekali pukulan. Tapi ia tak punya pilihan. Ia terlanjur didaftarkan oleh botohnya.


Kali ini Jalu harus mengalah. ‘Tidak buruk mengalah kepada lelaki itu karena tampaknya ia orang baik-baik dan tidak angkuh seperti kedua lawan sebelumnya’. Batin Jalu. Kemudian Jalu memasang kuda-kuda bersiap menyerang. Ia mengatur sedemikian rupa sehingga lawannya bisa membaca serangannya dan menghindarinya.


Kemudian Jalu melakukan tendangan yang keras dan sengaja melakukannya dengan teknik yang salah sehinga lelaki itu bisa menghindarinya, sementara ia akan terpeleset jatuh. Rencananya berhasil. Jalu bangkit dan berpura-pura terhuyung-huyung dan berjalan dengan terpincang-pincang agar orang-orang mengira kakinya terkilir.


Banyak pengunjung yang bertaruh untuk kemenangan Jalu karena melihat aksinya merobohkan lawannya yang besar dengan sekali pukul. Melihat jagoannya berjalan terpincang-pincang, jantung mereka terasa copot karena sadar sebentar lagi akan kehilangan banyak uang.


Lawan Jalu tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menyerang jalu yang tampak belum siap dan belum pulih dari jatuhnya. Sekali lagi rencana Jalu berhasil. Ia berusaha menangkis serangan seadanya dan membiarkan banyak pukulan lawan mengenainya. Lawan Jalu mengakhiri pertandingan dengan melakukan tendangan tepat di dada Jalu sehingga Jalu terdorong ke belakang lalu terjatuh. Kali ini Jalu tak berniat bangkit. Ia pura-pura pingsan. Penonton kecewa, botoh Jalu tertawa.


Di luar arena, Botoh Jalu tersenyum puas dan berkata.”Kita memenangkan 2000 keping emas dan seperti janjiku, kau akan mendapatkan seperempatnya. Ini 500 keping emas untukmu. Botoh itu menyerahkan kantong berisi kepingan emas kepada Jalu. Uang itu sepuluh kali lipat lebih banyak dari pemberian gurunya dan dengan uang sebanyak itu, Jalu, Niken dan Batari Mahadewi tak perlu lagi bingung memikirkan biaya perjalanan.


“Bila kau ingin bertarung di sini lagi, kau cari saja aku. Aku bukan botoh yang pelit. Aku berterimakasih padamu dan baru kali ini aku menang dengan jumlah yang sangat banyak.” Kata botoh itu tersenyum senang.


“Saya juga berterimakasih tuan. Sampai jumpa di lain kesempatan.” Kata Jalu sambil berlalu menyusul Niken di gedung kesenian.


“Kakak sudah selesai?” kata Niken


“Ya, seperti kataku, aku tak akan lama.” Kata Jalu.


“Apakah kakak mendapatkan uang yang cukup untuk membayar penginapan selama kita di sini? Kalau tidak, aku punya ide lain.” Kata Niken yang tak ingin Jalu bertarung lagi di arena bodoh itu untuk mencari sekeping emas.


“Aku tak tahu ini cukup atau tidak, tapi aku hanya mendapatkan ini.” Kata Jalu. Niken terbelalak melihat kantong yang penuh terisi kepingan uang emas.


“Kakak tidak mungkin merampok kan?” Tanya Niken sungguh-sungguh.


“Hahaha….buat apa aku melakukannya. Botoh yang kutemui menang sangat banyak dan ia menjanjikan seperempat dari yang ia peroleh. Inilah hasilnya. Sepertinya aku tak perlu lagi datang ke arena itu. Aku tahu adik sangat khawatir dengan keselamatanku.” Kata Jalu menggoda Niken.


“Apa yang kau katakan!” Kata Niken sewot. Jalu tertawa terbahak-bahak.


“Kalau adik tak khawatir padaku, lalu kenapa adik bilang kalau punya ide lain selain bertarung. Apa idemu itu?” Kata Jalu masih senang menggoda Niken dan membuat Niken tampak kesal. Bagi jalu, Niken terlihat sangat cantik ketika sudah mulai memasang wajah sewot karena Jalu menggodanya.


“Tadinya aku ingin mengajak kakak melakukan atraksi silat seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu.” Kata Niken sambil menunjuk sekelompok orang sedang melakukan atraksi unjuk kebolehan beladiri dan berharap penonton yang mengerumuni mereka puas lalu membagikan beberapa keping uang perak.


“Itu ide bagus juga. Mungkin kita bisa melakukannya setelah uang yang kita miliki saat ini menipis lagi.”


Dari kejauhan, tampak lima orang prajurit mengendarai kuda menuju ke arah Jalu dan Niken. “Permisi tuan dan nona, apakah benar tuan adalah Raden Jalu dan nona ini adalah nona Niken?” Tanya prajurit itu denga hormat.

__ADS_1


“Benar, ada yang bisa kami bantu?” Kata Jalu.


“Adipati menyuruh kami untuk menjemput raden dan nona ke Balai Kota. Adik seperguruan raden, nona Batari Mahadewi sudah menunggu di sana. Mari raden, silahkan naik ke kuda ini.” Prajurit itu menyerahkan dua kuda untuk dinaiki Jalu dan Niken. Lantas mereka bergegas menuju Balai Kota.


__ADS_2