
Naga merah raksasa itu terus mengamuk, ia mengibaskan ekornya ke segala penjuru dan menghancurkan apapun yang dikenainya. Dengan kembalinya naga merah ke wujud aslinya, kecepatan naga itu turun drastis. Jika dibandingkan dengan bentuk sebelumnya, yakni seorang kakek tua, kini naga itu menjadi monster yang kuat sekaligus lambat.
Para pendekar dari kedua aliran, yaitu aliran hitam dan putih, bersama-sama melontarkan serangan saat mereka memiliki kesempatan. Ratusan jurus mematikan dan ribuan pusaka beracun telah menghujani tubuh naga merah itu. Namun monster penunggu danau itu seolah tak merasakan rasa sakit. Serangan-serangan yang menerpa tubuhnya ibarat gerimis yang jatuh di atas dedaunan.
Beberapa kali Batari Mahadewi melontarkan pukulan tenaga dalam ke tubuh naga merah itu. Namun hasilnya sama saja. Naga merah itu justru menjadi semakin marah, menghentak-hentakkan ekornya dan membuat bumi bergetar. Sesekali naga merah itu menyemburkan asap merah beracun yang membuat para pendekar di danau itu lari tunggang langgang, lalu kembali lagi menyerang setelah Batari Mahadewi mengenyahkan asap merah itu dengan sapuan angin ke angkasa.
Naga itu pasti punya kelemahan! Batari Mahadewi berfikir keras. Ia teringat pengalamannya sewaktu berada dalam perut siluman ular beberapa tahun yang lalu. Mungkinkah jika aku masuk ke dalam perutnya, maka aku bisa menghancurkan naga itu? batin Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam perut naga itu. Ia tak punya pilihan lain selain mencoba idenya untuk melumpuhkan naga merah itu dengan masuk ke dalam perutnya. Batari Mahadewi berkelebat ke sana kemari, memancing agar naga itu menyemburkan asap beracun dari mulutnya yang sebesar rumah.
Jika aku gagal, maka petualanganku akan selesai dalam perut naga itu. Namun jika aku berhasil, maka semua orang di sini akan selamat dari serangan naga itu. Batin Batari Mahadewi. Usahanya memancing sang naga untuk membuka mulutnya membuahkan hasil. Ketika Batari Mahadewi melayang di depan wajah sang naga itu, tiba-tiba sang naga merah itu menyemburkan asap merah beracun dan berbau busuk.
Batari Mahadewi melesat dengan kecepatan kilat untuk masuk ke dalam mulut sang naga. Ia menahan racun berbahaya dari mulut sang naga itu dengan menggunakan kedua lengan logamnya yang berwarna keemasan.
Dari kejauhan, Jalu dan Niken yang tampak tak berdaya sangat kaget melihat adiknya masuk ke dalam mulut sang naga itu. Begitu pula dengan para pendekar yang sempat melihat peristiwa itu.
“Apa yang dia lakukan!” pekik Niken. Ia hendak menyusul adiknya yang menantang maut, namun Jalu menahannya.
__ADS_1
“Tunggu, adik. Percuma saja kita ke sana. Percayakan semuanya pada adik Tari. Aku yakin dia mengambil langkah yang telah ia pikirkan baik-baik.” Kata Jalu.
Batari Mahadewi telah berada di dalam perut naga merah yang berbau busuk itu. perut sang naga raksasa itu seperti dimensi lain yang luas dan serba merah. Kedua lengannya memancarkan cahaya keemasan yang terus menerus menyerap racun dari dalam tubuh sang naga. Yang ada dalam benak Batari Mahadewi, ia harus segera menemukan letak permata siluman yang menjadi sumber energi monster mengerikan itu.
Sang naga merah mengeliat dan mulai merasa tak nyaman ketika Batari Mahadewi masuk ke dalam perutnya. Naga itu sudah tak lagi menyerang siapapun, hanya menyeringai dan sesekali mengeluarkan suara yang menggelegar karena rasa sakit di dalam perutnya. Para pendekar yang masih memiliki tenaga tak mau menyianyiakan kesempatan itu, mereka sekali lagi menyerang tubuh sang naga dengan segala cara yang mereka bisa.
Serangan-serangan itu masih belum bisa melukai tubuh sang naga, namun monster itu tidak bisa berbuat apa-apa selain diam dan sesekali bergetar seolah merasakan rasa sakit di dalam tubuhnya. Warna merah pada sisiknya perlahan memudar.
Batari Mahadewi telah menemukan mustika siluman sebesar dua ekor gajah di dalam tubuh naga merah itu. Ia menghancurkannya hingga menjadi debu, agar kepingan-kepingannya tak jatuh di tangan yang salah dan menjadi petaka baru dalam dunia persilatan.
Dengan hancurnya mustika siluman yang bersarang di tubuh naga merah itu, maka seluruh energi dari siluman penunggu danau Rembulan Merah itu ikut sirna. Tubuh sang naga itu telah kehilangan cahaya dan perlahan berubah menjadi pucat. Batari Mahadewi menghentakkan energinya dari dalam perut naga itu dan seketika tubuh naga yang telah pucat itu meledak. Serpihan daging berhamburan dan bau anyir memenuhi udara.
Pradipa dengan ikhlas menyumbangkan mustika alam yang ia kumpulkan untuk menyelamatkan nyawa beberapa pendekar yang dalam kondisi kritis. Malam mengerikan itu akhirnya telah usai. Peristiwa malam itu setidaknya membawa hal baik, yakni ikatan persaudaraan yang lebih erat antar pendekar aliran putih yang ada di sana, dan satu hal lagi yang tak kalah penting, Harimau Merah akan mengubah seluruh rencananya.
Setelah peristiwa itu, nama Batari Mahadewi selalu di sebut-sebut dan menjadi bahan cerita yang dikabarkan dari mulut ke mulut. Hal itu tak terlalu menguntungkan bagi Batari Mahadewi, sebab setelah itu akan ada banyak pendekar berilmu tinggi yang ingin mencoba kesaktiannya. Cepat atau lambat.
“Sebentar lagi matahari akan terbit. Mungkin kita lanjutkan saja perjalanan kita, lalu kita mencari desa lain untuk mengistirahatkan pikiran kita.” Kata Jalu.
__ADS_1
“Ya, sebaiknya begitu. Tapi sebelum kita melanjutkan perjalanan, aku akan menemui pendekar Bintang Timur untuk berpamitan. Dia telah menyelamatkan nyawaku dan banyak memberikan bantuan selama ini.” Kata Niken.
“Mana pendekar itu?” tanya Jalu.
“Itu, yang sedang dikerumuni para gadis di sana.” Tunjuk Niken. Kemudian Niken beranjak untuk menemui Pradipa.
Jalu memperhatikan pendekar muda berparas tampan yang ditunjuk oleh Niken. Hatinya sedikit tersentil, ada rasa cemburu mungil yang mendesak perasaannya. Terlebih, ketika ia memperhatikan Niken yang sedang menemui pendekar itu dan melihat tatapan mata yang diberikan oleh pendekar tampan itu kepada Niken. Batari Mahadewi hanya tersenyum melihat kakak seperguruannya mulai sedikit gelisah.
“Kak Pradipa, mungkin sampai di sini perjalanan kita. Aku harus melanjutkan perjalananku bersama dengan kakak dan adik seperguruanku.” Kata Niken.
“Aku ingin bergabung sebenarnya. Tapi sepertinya aku malah akan jadi pengganggu.” Pradipa menghela nafas, “aku akan merindukanmu, Niken.” Pradipa menatap mata Niken dan berharap suatu hari nanti ia akan beruntung mendapatkan hati gadis yang hendak meninggalkannya itu. Niken menundukkan kepalanya.
“Sampai jumpa, kak Pradipa. Aku tak akan melupakan semua bantuanmu.” Kata Niken mengakhiri pertemuan itu. Niken melangkahkan kakinya dengan mantap menuju Jalu dan Batari Mahadewi yang sedang menunggunya. Ia yakin dengan perasaannya, meski ia tak terlalu yakin dengan kehidupannya di masa depan kelak. Namun setidaknya, keyakinan itu adalah harapan. Dan harapan adalah alasan untuk bertahan dalam getir kehidupan.
#####
Sampai di sini dulu teman-teman. Sudah beberapa chapter aku tak menyapa teman-teman semua. Belakangan ini aku sering kehabisan energi sehingga mungkin tak bisa memberikan performa terbaik untuk teman-teman pembaca semuanya. Maafkan…
__ADS_1
Tak lupa aku ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada teman-teman yang masih bertahan dan mengikuti cerita ini, serta memberikan dukungan dalam bentuk apapun. Terimakasih banyak teman-teman, entah bagaimana aku bisa membalasnya. Semoga teman-teman selalu dikaruniai keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, rezeki, cinta dan damai. Sampai jumpa besok lagi.