
Empat bulan berlalu. Perubahan apa yang terjadi dalam kurun waktu itu? di dunia tengah, Andhakara telah menguasai lebih dari seperempat dunia. Setelah menghabisi Kalahitam, ia juga telah mengalahkan Kalajingga.
Dua kerajaan raksasa yang tersisa hanyalah kerajaan Kalahijau di Arcandayana dan Kalamerah di Mahabhumi. Kini, Andhakara telah bersiap untuk menyerang istana Kalahijau sebelum nantinya ia akan menuju ke Mahabhumi.
Setiap pulau yang dilewati Andhakara telah dihuni oleh para manusia iblis. Tidak semua dari mereka dibawa oleh sang pangeran kegelapan itu untuk menjadi pasukan. Hanya sekitar lima juta manusia iblis dan tiga ratus ribu raksasa iblis saja yang ia bawa sebagai pasukan.
Meski berjiwa iblis, para pasukan Andhakara belum mampu untuk terbang menempuh jarak jauh melewati lautan, bergerak dari satu pulau ke pulau lainnya untuk menularkan wabah jiwa iblis. Mereka menciptakan ratusan ribu kapal besar untuk menempuh perjalanan. Sekalinya mereka bergerak, lautan seolah penuh dengan kapal-kapal bangsa iblis.
“Hari ini kita akan bergerak menuju ke pulau Arcandayana. Kurasa serangan kali ini akan sangat mudah kita lakukan. Kita bahkan tak perlu turun tangan langsung, serahkan saja semua pada pasukan kita,” kata Andhakara.
“Tetapi bukankah kita juga perlu mengawasi jalannya peperangan itu, paduka?” tanya ratu Ogha.
“Ya, tentu saja. Jika tidak, siapa yang akan mengendalikan mereka?” kata Andhakara.
“Tetapi perjalanan kali ini butuh waktu agak lama. Tak mungkin pasukan kita akan sampai di sana dalam waktu dekat,” kata Rodya.
“Bail akan memimpin perjalanan itu, kita semua akan pergi lebih dahulu. Sebelum pasukan kita datang, kita akan menciptakan kekacauan di sana. Pulau itu sangat besar dan jumlah manusia yang menghuninya sangat banyak,” kata Andhakara.
*****
Sementara itu, di pulau Arcandayana, Kalahijau sudah mendengar kabar mengenai kebangkitan bangsa iblis. Ia juga telah mendengar kehancuran kerajaan yang dipimpin oleh Kalahitam dan Kalahijau. Ia tahu, entah cepat atau lambat, bangsa iblis itu akan menyerang kekuasaannya.
Maka, Kalahijau sudah membuat persiapan jauh-jauh hari. Ia membangun benteng yang sangat tinggi dan besar mengelilingi seluruh wilayahnya. Bukan hanya benteng kota kerajaan, namun benteng yang terbujur luas hampir di setengah wilayah pulau Arcandayana.
Kalahijau memaksa semua rakyatnya, dan juga semua manusia untuk membuat benteng maha besar itu. Manusia yang ada di pulau itu hanya bisa patuh menjadi budak-budak para raksasa.
Setelah benteng itu selesai di bangun, ia memaksa seluruh bangsa manusia untuk tinggal di wilayah dalam benteng. Sebagian dijadikan makanan, dan sebagian lainnya diperbudak. Kalahijau membuat aturan keras, barang siapapun yang telah terjangkiti jiwa iblis, maka ia harus dibunuh secepatnya. Raja itu tahu, bahwa sebagian besar rakyatnya akan sangat rentan untuk dikuasai jiwa iblis.
__ADS_1
Meski berhasil membuat benteng maha besar, namun Kalahijau tetap saja melupakan satu hal. Jumlah pasukannya tak sebanyak itu untuk ditempatkan berjejer di atas benteng. Sehingga, masih banyak celah untuk menyusup ke dalam wilayah benteng itu, asalkan para penyusup bisa melompatinya.
Andhakara dan seluruh keluarganya tiba di Arcandayana. Mereka tercengang mendapati pulau itu sungguh sepi. Jumlah manusia yang melimpah seperti yang dikatakan sang pangeran tidak terbukti.
Ketika mereka melintasi pedesaan, perkotaan, atau bahkan wilayah kerajaan bangsa manusia, mereka tak menjumpai manusia.
“Parah sekali! Kenapa tak ada satupun manusia?” Andhakara kesal.
“Apakah bangsa raksasa telah memangsa mereka semua?”
“Itu tidak mungkin. Andaikan mereka makan manusia setiap hari, perlu waktu dua tahun untuk menghabiskan semua manusia yang ada di sini. Aku yakin ada yang tak beres di sini!” kata Andhakara.
“Pangeran benar, sewaktu kami melihat wilayah ini, banyak manusia yang tinggal di sini,” kata Samara. Ia, adiknya, dan anak-anaknya pernah lebih dahulu menginjakkan kaki di pulau itu untuk memastikan bahwa di sana menjadi tempat bermukimnya bangsa raksasa.
“Mungkinkah ini adalah persiapan dari bangsa raksasa. Sudah pasti mereka telah mendengar tentang keberadaan kita, atau bahkan rencana-rencana kita untuk menguasai seluruh wilayah di dunia ini!” kata Rodya.
“Terus menuju ke utara, pangeran.”
****
Kalapati tak bisa bersabar. Setiap kali ia bertanya kepada raja dewa, kapan ia akan menumpas para iblis, sang raja hanya bilang, “Bersabarlah sebentar lagi, Kalapati!”
“Apa kau tak melihat seberapa cepat bangsa iblis itu menguasai hampir separuh dari dunia tengah? Apa yang perlu di tunggu?! Jika aku bisa menumbangkan pemimpin mereka, pastinya mereka akan punah kan?” Kalapati sungguh kesal.
Sebenarnya, apa yang dikatakan Kalapati benar adanya. Raja dewa hanya ingin menunda hal itu, menunggu sang gadis pusaka dewa keluar dari dalam kristal emas. Tetapi sang raja memang benar-benar tak bisa memastikan kapan gadis itu akan keluar dari sana.
“Jadi kau benar-benar ingin turun ke dunia tengah? Lalu siapa yang akan menjaga istana khayangan? Lagupula, aku tak bisa membantumu dengan keadaanku yang seperti ini!” kata raja dewa.
__ADS_1
“Kau saja yang di sini. Aku bisa mengatasi mereka semua sendirian! Jika tidak, bukan hanya bangsa raksasa saja yang punah, tetapi juga bangsa manusia,” kata Kalapati.
“Baiklah jika kau yakin. Aku aku sama sekali tak bisa membantumu,” kata raja dewa.
“Aku tak butuh bantuanmu!” kata Kalapati. Ia lalu melesat melewati pintu penghubung dunia khayangan dengan dunia tengah. Tinggallah sang raja dewa sendiri di khayangan, sementara sebagian lain dari dirinya berada di altar Samudra. Di sana, setiap kali cahaya yang terpancar dari kristal emas meredup, para dewa buru-buru mengerahkan kekuatannya untuk menyalakan cahaya kristal itu kembali. Mereka bergantian melakukannya.
“Sampai kapan gadis itu keluar dari sana, paduka? Jika seperti ini terus, hamba benar-benar khawatir kristal itu akan hancur,” kata dewa laut.
“Aku tak tahu, tapi kurasa tak akan lama lagi. Jika sampai kristal itu rusak, kita harus mencari penggantinya. Aku sudah memikirkan caranya,” kata raja dewa.
“Bagaimana caranya, paduka?” tanya dewa laut.
“Sebagian besar dari kalian harus menjadi pengganti sumber kekuatan itu untuk sementara waktu, lalu aku akan pergi ke dunia tujuh rembulan, meminta kristal baru kepada raja dewa yang ada di sana.” Raja dewa tak terlalu yakin dengan hal itu, tapi tak ada salahnya untuk mencoba jika hal terburuk itu benar-benar terjadi.
Cahaya kristal emas itu kembali meredup. Tak hanya itu saja, altar Samudra tiba-tiba bergetar. Semakin lama getarannya semakin besar.
“Ada apa ini?”
“Entahlah!”
“Jangan-jangan Kalapati mulai bertempur dengan bangsa iblis!” ujar raja dewa
“Sejak kapan raksasa itu turun ke dunia tengah, paduka?”
“Hari ini!”
Setelah goncangan keras itu berhenti, para dewa dikejutkan dengan sosok yang keluar dari dalam goa. Sosok itu berambut panjang dengan perisai emas yang menyelimuti seluruh tubuh dan wajahnya.
__ADS_1