Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 189 Rombongan Pasukan Musuh Telah Tiba


__ADS_3

Beberapa pendekar sakti yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi telah sampai di kota Mutiara Biru. Mereka adalah utusan Mahapatih Siung Macan Kumbang yang ditugaskan untuk memberi kabar kepada Jalu mengenai pergerakan seluruh pasukan Swargabhumi menuju kota itu.


Jalu, Niken, Pradipa dan semua senopati yang ada di kota Mutiara Biru segera menggelar rapat darurat.


“Kita hanya memiliki waktu kurang dari sepuluh hari sebelum bala pasukan Swargabhumi tiba di kota ini. Perkembangan tak terduga ini sungguh mengejutkan. Mengenai kejadian ini, adakah yang ingin menyatakan pendapat?” tanya Jalu kepada seluruh orang di dalam salah satu ruang di balai kota yang biasanya dipergunakan untuk mengadakan rapat.


“Kita memiliki banyak pilihan. Jika kita ingin menghindari peperangan, tentu kita bisa meninggalkan kota ini secepatnya dan membiarkannya dalam keadaan kosong. Tapi jika perhitunganku tidak keliru, seharusnya pasukan gusti patih Macan Kumbang bisa menyusul pasukan Swargabhumi.” Kata Pradipa.


“Bisakah kau memperinci perhitunganmu?” tanya Jalu.


“Pasukan Swargabhumi kehabisan bahan makanan. Mereka juga sangat lelah dan tertekan dengan segala hal yang mereka alami. Sudah pasti gusti patih Macan Kumbang bisa menyusul rombongan Swargabhumi itu.” kata Pradipa.


“Adakah pendapat lainnya?” tanya Jalu.


“Kita tetap bertahan, raden. Jangan biarkan kota ini kosong. Kita masih bisa menghalau dengan berbagai cara untuk menahan agar pasukan Swargabhumi kesulitan memasuki kota ini. Pertimbangannya adalah pasukan gusti patih Macan Kumbang tiba tepat waktu.” Kata senopati Jatala, salah satu senopati senior Swargadwipa yang ikut dalam rombongan pasukan Jalu.

__ADS_1


“Bagaimana caranya agar kita bisa menahan mereka?” tanya Jalu masih menjajaki pendapat para bawahannya sebelum ia memutuskan tindakan yang akan ditempuh.


“Kita akan membuat parit yang lebar dan dalam di bagian timur luar benteng kota. Kita tanam bambu atau kayu runcing di dalamnya, lalu kita tutup permukaannya. Kemudian kita siagakan kereta pelontar batu dan pasukan pemanah di luar benteng. Begitu pasukan Swargabhumi sudah terlihat dan berada dalam jangkauan panah kita, maka kita akan langsung serang mereka semua.” Kata Jatala yang sudah sering mengenal berbagai jenis pertahanan selama ia mengabdi di Swargadwipa.


“Kita juga bisa menumpuk ranting dan semak-semak kering yang telah kita olesi minyak di hutan sebelah timur yang akan dilewati oleh rombongan pasukan Swargabhumi. Begitu mereka telah memasuki hutan, kita bakar ranting-ranting itu. Kita akan kehilangan sebagian dari hutan kita, tapi hasilnya akan sangat sepadan dengan kerugian yang akan ditanggung pihak musuh.” Sambung Taring Bumi, salah satu senopati bawahan Jalu.


“Tapi mereka bisa meloloskan diri dari api itu dan bergerak mundur.” Sahut Brajamukti.


“Justru itu salah satu keuntungannya. Mereka akan menunggu api padam atau setidaknya mereka akan mencoba memadamkan api dan itu butuh waktu lama. Terlebih saat ini sedang musim kemarau, jadi hutan akan mudah terbakar.” Kata Taring Bumi.


“Sudah pasti. Hutan itu tidak terlalu luas dan api tak akan kemana-mana selain menghabiskan hutan itu saja. Kita bisa menanam kembali pepohonan yang telah habis itu kelak. Setelah hutan habis, mereka baru bisa melanjutkan perjalanan. Begitu mereka sudah dalam jangkauan panah dan kereta pelontar yang kita miliki, kita bisa menyerangnya.” Kata Taring Bumi begitu bersemangat.


“Benar sekali, ketika mereka sudah membalas menyerang dengan panah dan batu lontar, kita mundur. Kita bawa kereta kita sebanyak yang kita bisa untuk masuk ke dalam benteng. Lalu biarkan mereka maju dan terperosok di dalam parit. Setelah itu, kita hujani kembali mereka dengan panah jika mereka bisa lolos dari parit itu.” kata Jatala.


“Mestinya, pasukan Swargabhumi akan menaruh kereta pelontar berjejer-jejer di bagian depan barisan dan menembakkan batu untuk menjebol benteng kita. Alangkah baiknya jika parit itu berada kira lebih jauh lagi dari jangkauan kereta pelontar milik musuh. Jika kita beruntung, kereta-ketera itu akan terperosok ke dalam parit, namun jika tidak, maka kereta-kereta itu hanya mengonggok tak berguna karena kereta itu sudah pasti tak akan bisa menyeberangi parit dan lontaran dari kereta itu di seberang parit tak akan sampai di benteng kita.” Kata Pradipa.

__ADS_1


“Kita juga harus menyisakan kereta pelontar kita di bagian dalam benteng, hanya berjaga-jaga jika kita tak bisa mengangkut kereta kita yang ada di luar. Jadi, kereta pelontar kita yang ada di luar hanya pancingan saja. Kalaupun kita meninggalkannya untuk menyelamatkan diri, kita masih punya yang lebih banyak di dalam benteng. Yang pasti, musuh tak akan bisa menjebol benteng kita. Mereka akan memanjat dinding atau mendobrak pintu gerbang sebagai satu-satunya cara memasuki kota ini. Kita pusatkan serangan di titik itu.” kata Jalu.


Setelah rapat selesai, jalu memerintahkan sebagian besar pendekar yang ia miliki untuk berjaga di sebelah timur hutan dan memastikan tak ada pasukan Swargabhumi yang datang untuk mengintai, apalagi tahu soal pembuatan parit itu. Selebihnya, ribuan pasukan dikerahkan untuk mengumpulkan ranting dan semak-semak kering, menumpuknya sedemikian rupa di hutan untuk membakar hutan tersebut.


Jalu mengerahkan seluruh pasukannya untuk membuat parit yang lebar dan dalam di sepanjang bagian timur benteng Mutiara Biru yang akan dijadikan jalur kembalinya pasukan Swargabhumi ke Mutiara Biru.


Pada hari ke lima setelah pembuatan parit itu dilakukan, bantuan pasukan dari beberapa kota di sekitar Mutiara biru telah sampai. Jumlah mereka lumayan banyak sehingga seluruh prajurit yang dimiliki Jalu adalah enam puluh ribu prajurit. Jalu mengerahkan mereka semua untuk membuat parit secepat mungkin sebelum pasukan musuh datang.


Pada hari ke tujuh, seluruh parit telah selesai dan permukaannya ditutup sedemikian rupa sehingga parit itu tak terlihat. Kayu-kayu yang dilapisi dengan dedaunan dan tanah itu akan ambrol jika setidaknya sepuluh prajurit berdiri di titik yang sama. Sudah pasti tutup parit itu akan roboh jika pasukan Swargabhumi berbondong-bondong melewatinya.


Seluruh pekerjaan di luar benteng telah selesai. Selanjutnya, Jalu mengerahkan pasukannya untuk menata pertahanan di bagian dalam benteng. Pada hari ke Sembilan, seluruh persiapan telah selesai. Selebihnya, Jalu hanya bisa berdoa agar rombongan Mahapatih Siung Macan Kumbang bisa segera menyusul pasukan Swargabhumi.


Sementara itu, pasukan Swargabhumi benar-benar mengalami masa-masa tersulit. Mereka harus bergerak secepat mungkin bersamaan dengan rasa lapar dan rasa lelah yang menggerogoti tubuh mereka. Pasukan Swargabhumi semakin dekat dan hanya berjarak satu hari saja untuk bisa mengejar mereka semua.


Hal yang paling melelahkan yang dialami oleh pasukan Swargabhumi adalah banyaknya peralatan yang mereka bawa. Mula-mula peralatan perang itu adalah harapan untuk kemenangan. Namun saat itu, semua peralatan perang itu malah menjadi beban. Diam-diam, pasukan Swargabhumi menyesal karena harus kembali ke Mutiara Biru dalam kondisi seperti itu. Mereka belum tahu bahwa kota itu telah jatuh ke tangan Jalu dan pasukannya. Rombongan pasukan Swargabhumi itu bermimpi bahwa sesampainya di Mutiara Biru, mereka bisa mengumpulkan kembali kekuatan dan menggempur pasukan Swargadwipa yang bergerak mendekat.

__ADS_1


__ADS_2