
Jalu lebih memilih untuk menunggu pendekar Mata Angin menyerang terlebih dahulu. Pusaran energi yang ia pancarkan membuat pendekar Mata Angin ragu untuk menyerang. Keduanya saling menunggu selama beberapa saat. Lalu, pendekar Mata Angin melakukan serangan dari jarak jauh untuk menakar kekuatan dan kecepatan lawannya.
Dengan menggunakan tenaga dalam tinggi, pendekar Mata Angin menciptakan empat pusaran angin yang ramping dan tinggi dengan kecepatan putaran yang bisa mengangkat seekor induk gajah. Empat pusaran angin itu perlahan mendekat ke arah Jalu. Hal ini membuat ruang geraknya semakin sulit karena ia harus bertahan agar tak terseret oleh pusaran angin itu.
Andaikan halaman rumah Ki Elang Langit itu tak terbuat dari batu seluruhnya, maka pertarungan semacam ini akan menciptakan badai debu yang mengganggu pernafasan dan penglihatan. Jalu masih bertahan pada posisinya yang diam tak bergerak. Empat pusaran angin itu semakin mendekat. Jalu hanya bisa mengerahkan energinya untuk menghalau empat pilar tinggi dari angin itu sambil berfikir bagaimana caranya menghindari serangan itu sambil melakukan serangan balik.
‘Ah, bukankah api yang akan aku keluarkan akan membaur bersama pusaran angin itu! Mungkin cara ini bisa mengganggu konsentrasi pendekar Mata Angin.’ Batin Jalu. Dengan segera ia menciptakan pijaran api dari tangannya, lalu mengarahkan lontaran api yang memanjang seperti cambuk yang menyerang pendekar Mata Angin.
Seperti yang ia duga, kekuatan pusaran angin dari empat arah itu membelokkan api yang ia ciptakan. Api itu membaur bersama dengan pusaran api sehingga keempat pusaran angin itu berubah menjadi pusaran api. Jalu tak berniat mengurangi intensitas energi yang ia keluarkan, sebaliknya, ia menambah kekuatannya untuk menciptakan lebih banyak api. Strateginya berhasil, panas api yang ia ciptakan mulai mengganggu serangan pendekar Mata Angin yang sedari tadi tetap pada posisi kuda-kudanya untuk mengendalikan empat pusaran angin.
Pendekar Mata Angin tiba-tiba menghentikan pusaran angin yang ia ciptakan dan seketika langsung menyerang Jalu dengan kecepatan tinggi. Namun ia menundanya karena begitu pusaran angin yang ia ciptakan menghilang, Api yang diciptakan Jalu justru mengarah kepadanya. Sedari tadi, Jalu sengaja tak mengubah arah lontaran apinya untuk berjaga-jaga apabila angin itu tiba-tiba menghilang.
Sebagai gantinya, pendekar Mata Angin harus menghindari lontaran api itu yang mengarah padanya itu. Bagi pendekar Mata Angin, kecepatan serangan api dari Jalu bukanlah hal yang mengkhawatirkan karena ia bisa menghindarinya dengan mudah. Baginya, lontaran api itu terasa lamban. Pendekar Mata Angin terpaksa tak mau menggunakan jurus mengendalikan angin karena berhadapan dengan api akan sangat merugikannya. Sebagai gantinya, ia menyerang Jalu dengan serangkaian pukulan dan tendangan berkecepatan tinggi.
Jalu kesulitan menghadapi serangan bertubi-tubi dengan kecepatan tinggi itu hingga akhirnya ia benar-benar tak bisa mengelak dari kejutan pendekar Mata Angin. Sewaktu pendekar Mata Angin menyerang dan Jalu bertahan, dari jarak dekat pendekar Mata Angin menciptakan pusaran angin tepat dari bawah kaki Jalu sehingga ia terseret hingga ke atas. Siksaan tak hanya berhenti di sana, pendekar itu menyusul Jalu dari bawah dan mendaratkan sebuah pukulan telak di punggung Jalu, lalu menangkap kakinya dan membanting Jalu ke bawah.
Jalu meluncur dari atas dan tubuhnya mengarah ke arena pertandingan. Ia masih memiliki sisa kesadaraan saat itu dan semampu yang ia bisa, ia menciptakan lingkaran api menyelubungi tubuhnya untuk meredam benturan.
__ADS_1
Suara berdebum ketika bola api besar berisi Jalu itu mendarat di lantai arena hingga menciptakan lubang hangus berasap. Dengan cepat, Jalu memulihkan kondisinya, lalu ia membalas serangan pendekar Mata Angin dengan menciptakan dan mengarahkan api yang berbentuk ratusan anak panas ke angkasa. Pendekar Mata Angin mengibaskan serangan itu dengan sapuan angin miliknya.
Tak ada lagi penonton yang dekat dengan arena itu. Dari kejauhan, mereka seperti melihat kembang api yang meledak di angkasa disertai dengan kepulan asap hitam. Udara semakin terasa panas. Energi Jalu kini terkuras habis. Ia tak mungkin melakukan serangan dengan mengandalkan tenaga dalamnya untuk menciptakan api. Ia bersiap menanti pendekar Mata Angin turun dari atas.
Pendekar Mata Angin itu turun perlahan. Tubuhnya tampak basah oleh keringat karena menahan hawa panas dari serangan api Jalu.
“Pertandingan Selesai.” Kata Ki Elang Langit mengakhiri pertandingan itu. Ia tahu Jalu telah kehabisan tenaga. Pendekar Mata Angin jelas lebih memiliki banyak pengalaman bertanding. Jika tidak, ia akan habis oleh energi api yang dilontarkan oleh Jalu.
Semua penonton bertepuk tangan dan berdecak kagum atas pertandingan persahabatan yang mengerikan itu. Barangkali Jalu adalah satu-satunya pendekar muda yang bisa bertahan lama menghadapi pendekar Mata Angin yang termasuk dalam 10 besar pendekar tingkat atas di desa Atas Awan.
“Kau sungguh hebat pendekar muda. Mungkin sepuluh tahun lagi, aku tak bisa menandingimu.” Kata pendekar Mata Angin itu memberikan semangat kepada Jalu.
Ki Elang Langit memberikan pengumuman lagi.”Saudara-saudariku semua yang ada di sini, pertandingan akan kita lanjutkan lagi setelah makan siang. Arena ini perlu diperbaiki sebelum dipergunakan lagi.”
Arena tersebut memang telah memiliki beberapa lubang hitam setelah pertarungan Jalu melawan pendekar Mata Angin. Semua penonton beranjak. Mereka semua perlu beristirahat karena bagaimanapun juga, menyaksikan pertandingan semacam itu juga menguras energi. Setidaknya mereka harus berlindung dari energi lepas yang menuju ke arah mereka.
Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi berjalan masuk ke ruang tamu Ki Elang Langit. Beberapa pendekar tampak dengan tangkas segera memperbaiki lantai batu yang berlubang itu dengan potongan batu yang baru. Mereka tak memerlukan alat khusus, hanya tenaga dalam untuk mengiris bebatuan itu menjadi potongan-potongan yang rapi.
__ADS_1
“Bagaimana kondisimu nak Jalu.” Kata Ki Elang Langit yang datang menghampiri mereka bertiga.
“Saya tidak mendapatkan cidera paman. Saya cukup beruntung dalam pertandingan ini.” Jawab Jalu.
“Kemampuanmu sangat luar biasa. Mungkin tak butuh waktu hingga bertahun-tahun agar ilmu milikmu ini sempurna.” Kata Ki Elang Langit.
“Saya banyak belajar dari pertandingan hari ini paman. Terimakasih banyak atas kesempatan yang diberikan pada saya.” Kata Jalu.
“Makanlah buah-buahan ini. Sangat bagus untuk memulihkan energi setelah bertarung.” Kata Ki Elang Langit sambil mempersilahkan tamu-tamunya menyantap hidangan di meja tamu itu. Beberapa saat kemudian, Ki Elang Langit pergi keluar untuk mengkoordinir orang-oranya yang sedari tadi sibuk menyiapkan arena pertandingan.
“Adik Niken tampaknya harus bersiap-siap menghadapi kejutan nanti. Bisa saja lawanmu sekuat pendekar Mata Angin.” Kata Jalu. “Dan aku sungguh tak sabar dengan besok untuk melihat adik Batari bertanding dengan paman Elang Langit.”
Batari hanya tersenyum. Ia menjadi lebih pendiam lagi sejak kemarin sore setelah ia mengalami banyak perubahan pada kemampuannya serta perubahan pada beberapa bagian tubuhnya. Ia menyembunyikan kesedihan dan kesunyiannya dalam diam dan sepi.
Ki Elang Langit memanggil kembali semua warga desa Atas Awan untuk kembali berkumpul menyaksikan pertandingan berikutnya. Seluruh warga tampak kembali bersemangat. Mereka juga sangat penasaran untuk menantikan pertandingan antara Niken dengan salah satu pendekar desa Atas Awan setelah mereka menyaksikan pertandingan menarik antara Jalu dan pendekar Mata Angin.
“Baiklah saudara-saudariku, kita akan memulai kembali pertandingan berikutnya. Dua peserta selanjutnya adalah pendekar muda Pancala dari perguruan Langit Timur dan Ajiraga dari perguruan Langit Utara. Silahkan mempersiapkan diri di arena pertandingan.” Kata Ki Elang Langit.
__ADS_1