
Di Swargadwipa, sebulan telah berlalu sejak Harimau merah mulai bergerak kembali menyusun kekuatannya. Kini ia memilih untuk tidak membuat kelompok besar seperti sebelumnya, melainkan mengumpulkan sedikit pendekar yang berkemampuan tinggi. Ia tak mau lagi bekerja sama dengan pendekar pulau Neraka yang beberapa masih berada di Swargadwipa karena sifat mereka yang susah dikendalikan.
Harimau merah lebih senang menyewa pendekar-pendekar hitam yang setia dan patuh pada perintahnya. Untuk menyamarkan jati dirinya, Harimau Merah mengganti namanya sebagai pendekar Wajah Setan. Nama yang tepat untuk wajahnya yang rusak akibat luka bakar. Setidaknya, tanpa harus melakukan apa-apa, pendekar itu pasti akan selalu berhasil menakut-nakuti warga sipil.
Sri Maharaja Segara Biru telah mengirimkan surat kepada Sri Maharaja Srengenge Ireng bahwa pihak keluarganya akan mengadakan kunjungan. Kabar itu serasa buah simalakama bagi pihak kerajaan Swargadwipa. Tak ada alasan untuk menolak, namun keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menerima kunjungan mengingat situasi Swargadwipa sedang dalam masa pemulihan.
Buyung, Mahapatih Siung Macan Kumbang, dan Maharaja Srengenge Ireng sedang melakukan rapat tertutup dalam ruangan sang raja.
“Bagaimana ini, paman Patih? Surat dari Swargabhumi sangat tiba-tiba.” Kata sang Raja.
“Sulit untuk menolak, paduka. Jika kita menolaknya, sama halnya kita mencoreng wajah kita sendiri di hadapan kerajaan lain. Namun di saat yang sama, surat tersebut memang benar-benar datang di saat yang tidak tepat.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Paman patih benar. Surat tersebut, beserta kunjungan yang akan dilaksanakan, terkesan sengaja diadakan di saat-saat seperti ini. Seharusnya pihak kerajaan Swargabhumi tahu bahwa kerajaan Swargadwipa baru dua bulan memulihkan diri dari serangan para pendekar hitam. Apabila mereka ingin menyampaikan ucapan belasugkawa, maka tak perlu melakukan kunjungan seperti ini, bukan?” kata Buyung.
“Nak Buyung benar. Terlebih, negri Swargabhumi bukanlah sekutu Swargadwipa meskipun sejauh ini belum pernah ada perseteruan sehingga kunjungan ini terasa tidak wajar. Ditambah lagi, beberapa tahun belakangan ini ada sedikit hal yang memantik ketegangan. Diam-diam, banyak warga Swargabhumi yang pindah ke wilayah perbatasan Swargadwipa, yakni di kota Mutiara Biru.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Paman dan adik Buyung benar sekali. Aku tahu, kunjungan ini bisa jadi adalah serangan halus. Segara Biru mungkin masih menyimpan dendam padaku sehingga bukan tak mungkin jika ia ingin memanfaatkan kesempatan ini. Jika kita menolak, semestinya berita penolakan ini akan menyebar ke kerajaan lain dan itu akan membuat nama kita menjadi buruk. Namun, jika kita menerima, artinya kita harus benar-benar bisa mengawal rombongan itu dan memastikan keselamatan mereka.” Kata sang Raja.
“Sepertinya hamba menemukan benang merah dari serangan para pendekar aliran hitam dengan berita kunjungan dari Swargabhumi kali ini. Siapa pula yang mau mengalirkan dana untuk persiapan penyerangan itu jika ia tak ingin menjatuhkan Swargadwipa? Dana yang tak sedikit itu hanya mungkin dialirkan dari dana kerajaan.” Kata Buyung.
Raja berdiri dan mengambil gulungan kain yang didalamnya merupakan peta kerajaan di pulau Mahabhumi.
“Lihatlah ini. Kerajaan Swargabhumi bersekutu dengan empat kerajaan di sebelah baratnya, yakni kerajaan Swargaranu, Swargawana, Catrawana, dan Catrabhumi. Sementara kita hanya punya tiga sekutu di kerajaan wilayah timur, yakni kerajaan Swargaloka, Madyabhumi, dan Mahatmabhumi.” Kata sang raja sambil mengerutkan keningnya. Pikirannya sedang menerawang jauh, mengingat segala sesuatu yang ia ketahui dari semua kerajaan-kerajaan itu.
__ADS_1
“Apakah paman memiliki kabar terbaru dari prajurit mata-mata tentang keadaan-keadaan di kerajaan-kerajaan barat?” tanya sang raja kepada Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Menurut para prajurit mata-mata yang bertahun-tahun telah saya tempatkan di semua kerajaan di Mahabhumi, saat ini kondisi alam di wilayah barat memang sedang buruk. Banyak daerah yang gagal panen dan artinya, mereka semua sedang dalam situasi genting. Sebaliknya, keadaan di wilayah timur masih bisa dikatakan aman. Perdagangan antar pulau di wilayah timur juga lebih maju jika dibandingkan wilayah barat.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Hamba rasa, situasi Swargadwipa saat ini merupakan situasi yang sangat mungkin untuk dimanfaatkan kerajaan-kerajaan barat untuk menguasai wilayah timur. Seandainya terjadi perang antara Swargadwipa dengan Swargabhumi, pastinya situasi itulah yang paling diinginkan kerajaan-kerajaan barat.” Kata Buyung.
“Pemikiranmu tepat sekali, adik Buyung. Hal ini tak boleh terjadi. Jika perang terjadi, pihak yang paling dirugikan sudah pasti adalah kerajaan Swargadwipa, yang merupakan perbatasan terakhir yang memisahkan bagian barat dan timur.” Kata sang raja.
“Paman, lakukan yang terbaik untuk memastikan keselamatan rombongan keluarga kerajaan Swargabhumi.” Titah sang raja kepada Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Siap, paduka.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
######
“Minggu depan, rombongan keluarga kerajaan Swargabhumi yang akan melakukan kunjungan ke Swargadwipa akan tiba di kota Mutiara Biru. Tugas kita adalah membunuh putera ke enam raja Segara Biru. Tugas ini bukanlah tugas yang mudah karena putera raja itu akan mendapatkan pengawalan ketat dari kerajaan Swargabhumi dan Swargadwipa.” Kata Wajah Setan.
Lima pendekar yang disewa oleh Wajah Setan itu sama sekali tak tahu tentang tujuan utama dari tugas pembunuhan yang akan mereka jalankan. Bagi mereka, tak penting untuk mengetahui apa maksud dari pembunuhan itu, yang terpenting adalah imbalan besar yang akan mereka terima jika mereka berhasil melakukannya.
“Oleh karena itu, aku ingin mendengar dahulu pendapat rekan-rekan semua tentang cara apa yang akan kita gunakan untuk membunuh pangeran itu?” tanya Wajah Setan.
“Jika kita tak mungkin melakukan serangan secara langsung, maka yang bisa kita tempuh adalah dengan menyusup diam-diam.” Kata pendekar Racun Surga.
“Maksudmu dengan melakukan penyamaran dan membaur bersama rombongan itu?” tanya pendekar Benang Kematian.
__ADS_1
“Tak mungkin kita bisa menyamar dan membaur dalam rombongan jika mereka dikawal oleh pendekar-pendekar sakti.” Kata pendekar Laba-Laba.
“Maksudku adalah dengan meracuni makanan mereka.” Kata pendekar Racun Surga, “Aku hanya perlu memasukkan setetes racun ke dalam makanannya.”
“Aku tahu itu akan berhasil, tapi aku juga tahu kita aka gagas sebelum melakukannya.” Kata pendekar Seribu Nyawa.
“Dengarkan dulu penjelasan pendekar Racun Surga. Dia belum selesai bicara.” Kata pendekar Racun Neraka, adik seperguruan pendekar Racun Surga.
“Kalian berdua adalah pendekar racun. Tentu gagasan kalian adalah meracuni mereka semua. Tapi, bagaimana kita bisa mendekat dan mencampurkan racun kalian ke dalam makanan pangeran ke enam?” tanya pendekar Seribu Nyawa.
“Pendekar laba-laba bisa melakukannya. Kau bisa menyuruh salah satu piaraan kecilmu itu untuk menjatuhkan racunku ke dalam makanan atau minuman pangeran ke enam.” Kata Racun Surga, “Racun yang aku gunakan adalah racun terbaik milikku. Tak akan menyakitkan dan tak akan meninggalkan bekas apapun. Ia hanya akan mati beberapa saat setelah menelan racun itu.”
“Tidak, bukan itu yang aku inginkan!” kata Wajah Setan, “Aku mau pembunuhan ini terlihat jelas sebagai pembunuhan yang dilakukan oleh pihak Swargadwipa.” Aku lebih memilih kita menggunakan cara yang sedikit terang-terangan, yakni menyusup diam-diam lalu menyerang. Apakah kalian berani melakukannya?” lanjut Wajah Setan.
Tak sepatah katapun keluar dari mulut para pendekar yang ia undang. Semua masih tampak berfikir dan saling menunggu siapa yang pertama kali akan merespon ucapan Wajah Setan.
“Jika kalian tak sanggup, aku tak akan memaksa. Perjanjian kita selesai sampai di sini.” Kata Wajah Setan.
“Tunggu, saudaraku, kita semua sedang berfikir.” Kata Racun Surga.
“Bukan itu yang kutanyakan, apakah kalian berani mengambil resiko kehilangan nyawa dalam menjalankan tugas ini? Jika tidak ada, silahkan meninggalkan tempat ini.” Gertak Wajah Setan.
Tak ada satupun yang beranjak. Bukan berarti mereka sepenuhnya berani, hanya saja mereka malu disebut sebagai pengecut.
__ADS_1