
Begitu raja dewa masuk ke dalam ruangannya, yang pertama ia lakukan adalah menciptakan bola dewa. Bola itu akan selesai dengan sendirinya selama tujuh hari sejak sang raja dewa menciptakan bentuknya. Hanya butuh waktu sebentar saja. Selebihnya, ia menggunakan pintu rahasia yang ada dalam ruangan itu untuk pergi menuju ke altar Samudra.
Sang Kalapati tetap menunggu di luar ruangan itu. Seandainyapun di khayangan ada nyamuk, maka ia tak akan membiarkan nyamuk itu masuk ke dalam ruangan itu. Ia terlalu bersemangat. Sayangnya ia bodoh.
Raja dewa muncul di altar samudra secara tiba-tiba. Pancaran energinya membuat para dewa dari segala penjuru dunia dewa segera datang menuju ke pusat altar suci. Semua dewa datang, termasuk dewa perang dan dewa penempa senjata, untuk memberikan hormat.
Selama raja dewa tak ada, maka di altar Samudra itu yang menjadi pemimpin adalah sang dewa laut. Maka dewa lautlah yang pertama memberikan ucapan sambutan.
“Selamat datang, paduka. Bagaimana caranya paduka bisa datang kemari?”
“Hari ini aku berhasil mengelabuhi raja raksasa itu. Aku kemari untuk dua hal saja. pertama aku ingin melihat perkembangan Sang Hyang Maharuna Dewi Shakti. Dan yang kedua, aku ingin mengajak kalian semua masuk ke dalam semesta waktu. Kita belum sempat melakukannya sejak selesai menciptakan Sang Hyang Maharuna,” kata raja dewa.
Semesta waktu adalah ruang di mana satu hari di dunia satu rembulan setara dengan seratus tahun di sana. Para dewa butuh waktu seratus tahun untuk memulihkan kembali seluruh kekuatan mereka dengan cara bertapa bersama-sama dan menjalin ikatan rantai dewa. Hal itu sulit dilakukan. Jika satu dewa gagal, maka semua dewa juga akan gagal. Artinya mereka harus mengulang lagi. Seratus tahun bukanlah waktu yang sebentar.
“Jadi, untuk yang pertama, dimana Sang Hyang Maharuna?” tanya raja dewa.
“Dia sedang ditempa kembali dalam bejana dewa setelah latihan. Tanpa itu, ia butuh waktu lebih lama lagi untuk berhasil membuka kunci kekuatannya,” jawab dewa perang.
“Berapa hari lagi dia akan selesai dalam penempaan itu?” tanya raja dewa.
“Lima belas hari lagi, paduka,” Jawab dewa penempa senjata.
“Baiklah, semoga saja lima belas hari lagi aku ada kesempatan untuk datang lagi ke sini. Sebelum kita masuk dalam semesta waktu, apakah ada yang ingin kalian sampaikan?”
“Setelah kita selesai di sana, jika kita berhasil, lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya, paduka?”
__ADS_1
“Saat ini bangsa iblis sedang menyusun kekuatan. Kelak, mereka akan menyerang bangsa raksasa terlebih dahulu atau sebaliknya. Yang pasti, aku akan membuat Kalapati menyerang bangsa iblis. Saat hal itu terjadi, kita bawa Maharuna ke khayangan untuk menyempurnakan semua kekuatannya. Setelahnya, kita akan berperang kembali melawan iblis dan raksasa. Jadi, sekalipun kita nanti pulih, kita akan tetap menyembunyikan diri dulu,” kata raja dewa.
“Baik, paduka. Kami siap melaksanakan semua perintah.”
Melalui altar Samudra, raja dewa menciptakan pintu menuju ruang semesta waktu. Satu per satu para dewa melesat ke dalamnya, dan yang terakhir adalah raja dewa. Setelah mereka semua masuk, pintu itu menghilang.
Tinggallah Batari Mahadewi seorang diri dalam bejana yang dibakar itu. Sudah tujuh hari ia ada di dalam sana. Hal yang tak diketahui oleh dewa perang ataupun dewa penempa senjata, Batari Mahadewi tak akan bisa ditempa lagi, sebab dalam tubuhnya telah tertanam kekuatan yang ia dapatkan dalam dunia tiga rembulan.
Setelah kepompong emas yang menyelubungi tubuhnya telah lenyap, gadis pusaka dewa itu terbangun. Ia sangat terkejut karena sedang berada dalam ruang gelap yang panas. Ia menganggap itu adalah latihan selanjutnya yang harus ia jalani. Tak ada petunjuk apapun, jadi dalam pikirannya, latihan itu selesai jika ia berhasil keluar dalam ruang gelap itu yang tak lain adalah bejana dewa.
Dengan menggunakan mata saktinya, gadis pusaka dewa itu bisa melihat jelas di dalam ruangan gelap dan sempit itu. Suhu di dalamnya sangat panas, meski tak sepanas lahar bumi. Hanya saja, mata sakti gadis itu tak mampu menembus dinding bejana dewa itu. Ia tak tahu ada apa di balik dinding itu.
Batari Mahadewi menyerap seluruh energi panas yang menerpa tubuhnya lalu ditambahkan dengan kekuatannya sendiri, ia menghentakkan energi api yang sangat kuat sehingga membuat bejana itu meledak. Tak hanya itu, bengkel dewa penempa senjata juga ikut hancur berantakan.
Apa yang terjadi? Ternyata aku hanya di sini? Kemana dewa perang? Batari Mahadewi baru saja menyadari bahwa sebelumnya ia berada dalam sesuatu di bengkel dewa perang. Ia merasa bersalah karena telah menghancurkan bengkel itu.
Ia terbang jauh hingga tiba di hutan dewa yang semua tanamannya berwarna emas. Perutnya terasa sangat lapar sejak beberapa hari tak pernah makan apapun. Dewa perang sungguh pelit. Untungnya, ia melihat beberapa jenis buah dewa di hutan itu. Ia hinggap dari satu pohon ke pohon lain, dan memakan buah-buahan aneh yang bisa ia temukan. Ada yang enak dan ada yang sangat pahit.
Tetapi semua buah-buahan ajaib itu benar-benar membuat tubuhnya penuh kekuatan. Mumpung sepi, Batari Mahadewi ingin menjelajahi hutan itu. Ia sama sekali tak menemukan hewan apapun. Hanya pepohonan.
Setelah puas, ia merebahkan diri di rumput. Merasakan sensasi energi yang tak habis-habisnya dari dunia dewa itu. Pikirannya kembali melayang pada beberapa waktu yang lalu ketika ia dan Nala menyerang pulau Tirayamani. Hanya ada satu hal saja yang merisaukan pikirannya, mungkinkah Nala akan kembali? Tetapi ia yakin bahwa ketika ia sedang bertarung dengan Andhakara, ia sempat merasakan kehadiran aura Nala yang ia kenal dengan baik. Masih ada harapan.
Batari Mahadewi kembali merasakan aliran energi yang menerpa tubuhnya itu. Lalu ia mulai mempertanyakan, dari mana sumber energi yang menyokong dunia dewa dalam altar samudra itu?
Gadis pusaka dewa itu mencoba menajamkan semua inderanya dan merasakan dengan sungguh-sungguh, membaca aliran kekuatan yang tak pernah putus itu. Akhirnya, ia menangkap pancaran kekuatan dari pusat energi di dunia tersembunyi itu.
__ADS_1
Batari Mahadewi menuju ke sana. Ia mengarah ke sebuah goa yang ada di tengah hutan rimba yang penuh dengan tanaman dewa itu. Goa itu memancarkan cahaya keemasan dari dalam. Perlahan, gadis itu masuk goa setelah sebelumnya mengucapkan permisi beberapa kali dan tak mendapatkan jawaban.
Di dalam goa itu, Batari Mahadewi melihat sebuah kristal emas raksasa, mirip dengan kristal emas yang ada di pulau emas dunia tiga rembulan.
Jangan-jangan, inilah satu-satunya pusat kekuatan penyokong dunia ini? Batari Mahadewi mendekati benda yang penuh energi itu. Namun setelah beberapa langkah dari benda itu, tubuhnya seketika langsung terhisap masuk ke dalamnya.
Di dalam kristal raksasa itu, sang gadis pusaka dewa tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah menerima luapan energi besar yang masuk ke dalam tubuhnya.
Satu hari berlalu, para dewa telah kembali dari seratus tahun di semesta waktu. Rencana sang raja dewa berjalan lancar. Semua dewa telah berhasil memulihkan mustika dewa sumberkekuatan mereka masing-masing seutuhnya setelah sebelumnya hanya tinggal setengah saja untuk menciptakan pusaka dewa Sang Hyang Maharuna Dewi Shakti.
Namun begitu mereka kembali di altar Samudra, mereka sangat kaget melihat dunia yang mereka ciptakan susah payah terlihat kacau. Semua pohon dewa layu dan cahaya di sana meredup. Semua bertanya-tanya, apakah gerangan yang terjadi. Awalnya raja dewa mengira hal itu terjadi karena ulah Kalapati. Namun ia segera teringat, jika dunia dewa dalam altar samudra itu meredup, artinya ada yang tidak beres dengan pusat energi yang tersembunyi di dunia itu.
“Apa yang terjadi?” gumam para dewa.
“Ayo kita periksa bersama-sama sumber kekuatan dari kristal emas!” Raja dewa segera melesat ke arah goa tempat diletakkannya kristal sumber energi itu dengan diikuti para dewa lainnya di belakangnya.
Sesampainya di sana, semua dewa tercengang melihat Sang Hyang Maharuna telah ada di dalam kristal itu.
“Bagaimana ini bisa terjadi! Dewa perang, bukankah kau bilang sang Maharuna ada di dalam bejana dewa?”
“Betul paduka, hanya saja hamba tak menyangka bahwa gadis itu telah berada di sini. Mungkin ia keluar sendiri dari dalam bejana ketika kita semua berada dalam semesta waktu,” dewa perang sangat malu dengan kejadian itu.
Yang dikhawatirkan, jika Batari Mahadewi menyerap kekuatan dari sumber kekuatan itu, maka altar samudra akan lenyap dan dunia atas, dunia tengah, serta dunia bawah akan terancam keseimbangannya. Oleh karenanya, para dewa tak pernah membawa Batari Mahadewi untuk menyerap kekuatan di sana.
“Apakah kita tak bisa mengeluarkannya, paduka?” tanya dewa laut.
__ADS_1
“Tidak akan pernah bisa. Kita tunggu saja. semoga tak terjadi hal yang buruk. Kita tak akan tahu, berapa lama gadis itu akan ada di sana. Selama ia belum keluar, kalian semua harus berjaga di sini. Jangan sampai cahaya emas dari kristal itu meredup. Gunakan kekuatan kalian jika perlu. Aku akan kembali ke istana khayangan. Kalapati lebih berbahaya jika sampai ia tahu aku tak ada di sana.”
“Baik paduka!” semua dewa memberi hormat ketika raja dewa itu kembali ke pusat altar samudra untuk kembali ke istana khayangan.