Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 230 Siluman Lipan


__ADS_3

Di Mandaraloka, Batari Mahadewi pun mengalami hal yang sedikit sama dengan yang dialami oleh Nala dan kakaknya. Ketika ia sedang duduk diam dan membuka semua inderanya, sesosok siluman purba menampakkan diri.


Siluman itu muncul dari dalam tanah dan entah sudah berapa ratus tahun ia tak menampakkan diri. Siluman itu berwujud lipan raksasa. Namun dalam waktu singkat, tubuhnya menjelma menjadi sosok perempuan yang mengerikan, dengan wajah yang penuh bintil-bintil hitam. Mulutnya menyeringai lebar dengan deretan gigi yang merupakan gigi taring semua.


Batari Mahadewi memasang sikap waspada. Siluman itu memiliki aura hitam yang sangat kuat. Jika siluman itu menyerang, maka tak cukup dengan sekali pukulan untuk melumpuhkannya. Hanya saja, jika Batari Mahadewi mengerahkan kekuatannya untuk bertarung dengan siluman itu, maka keberadaannya bisa dengan mudah diketahui dan penyamarannya bisa gagal total.


Maka, cara terbaik yang terlintas di kepala Batari Mahadewi adalah memancingnya pergi ke luar pulau. Jika siluman itu mengejar, maka gadis jelmaan pusaka dewa itu bisa membantainya di tengah laut. Namun Batari Mahadewi masih mencoba untuk berkomunikasi, dan mencari peluang untuk memanfaatkan makhluk itu.


“Apakah kau bisa berbicara?” tanya Batari Mahadewi.


“Sebaik yang bisa kamu bicarakan, nona cantik. Apa yang kau lakukan di sini? Kau mengusik istirahatku,” kata siluman itu.


“Maafkan aku. Sebetulnya aku hanya ingin beristirahat saja di sini, tapi aku tak menyangka tempat ini adalah wilayahmu. Jika boleh, aku akan pergi sekarang,” balas Batari Mahadewi.


“Seharusnya kau sudah menduga bahwa aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja,” kata siluman berwajah hancur itu.


“Ya, aku hanya berusaha untuk tak terlibat masalah denganmu. Tapi, jika aku tak pergi, apa yang akan kau lakukan?” tanya Batari Mahadewi.


“Kau memiliki pancaran kekuatan yang menarik. Meski kau menyembunyikannya, aku masih bisa merasakannya. Pancaran kekuatanmu adalah pancaran kekuatan yang aku kenal dengan baik. Siapa kau sebenarnya, nona cantik? Aku ingin memiliki tubuh cantikmu, jika boleh, hahahaha!” siluman itu menyeringai dan membuat wajahnya tampak sangat mengerikan. Seekor sapi hamil pasti langsung keguguran jika melihat tampangnya saat itu.


“Aku hanya pendekar biasa yang kebetulan singgah di sini. Tak ada yang istimewa dariku,” jawab Batari Mahadewi.


“Kau pintar berbohong. Sudah jelas kau memiliki aura yang sangat bagus. Darimana kau mendapatkannya?” tanya siluman itu.

__ADS_1


“Oh, jika aura ini yang kau maksud, mungkin benar. Beberapa hari yang lalu aku telah menelan sebuah musika dewa yang kudapatkan di sebuah kuil kuno. Mungkin inilah yang membuat auraku berbeda. Jadi bagaimana? Bolehkah aku pergi? Aku sungguh tak ingin bertarung denganmu,” kata Batari Mahadewi.


“Aku mau tubuhmu. Jika aku masuk ke dalam jiwamu, maka kau akan bertambah kuat. Percayalah, kau dan aku akan bergabung menjadi satu,” siluman itu menawarkan diri.


“Kurasa itu bukan ide yang bagus. Aku masih ingin seperti ini saja. Kenapa kau tak mencoba menawarkan hal ini ke orang lain. Di pelabuhan sana banyak pendekar yang sudah pasti akan sangat tertarik dengan tawaranmu,” kata Batari Mahadewi.


“Maksudmu pendekar-pendekar hitam itu? hahaha, aku sungguh sangat tidak tertarik. Kau pikir aku siluman murahan? Jika aku menginginkan mereka, sudah sejak dulu aku meminta tubuh mereka,” kata siluman jelek itu.


“Jadi kau sudah tahu siapa mereka? Apakah kau juga tahu siapa pemimpin mereka?” pancing Batari Mahadewi.


“Kau juga mengetahui ratu mereka rupanya, hahaha, jadi benar dugaanku, kau bukan pendekar biasa. Asal kau tahu, tidak semua siluman mau tunduk dengan ratu itu. Jika kau bermusuhan dengan ratu itu, maka kita sejalan. Kurasa sebaiknya kau mau berbagi tubuh denganku. Dengan begitu, kita jauh lebih kuat dan mungkin bisa bertarung dengan ratu itu. Aku ingin membalaskan dendamku.” Siluman jelek itu tampak seperti mengenang masa lalunya.


“Kau punya dendam dengan ratu itu, kenapa?” tanya Batari Mahadewi penasaran.


“Ratu itu yang membuatku jadi jelek seperti ini. Aku harus membalasnya. Ayolah, kita berbagi tubuh!” kata siluman itu.


“Maka aku akan memaksamu,” kata siluman itu.


“Aku akan melarikan diri,” kata Batari Mahadewi.


“Tak semudah itu,” siluman itu membelah dirinya menjadi banyak, lalu mengepung Batari Mahadewi.


“Tapi mungkin juga tak sesulit itu,” Batari Mahadewi masih bersikap tenang namun waspada. Ia belum menunjukkan kekuatannya. Satu-satunya jalan untuk pergi dan membuat siluman aneh itu mengikutinya adalah dengan melesat ke angkasa setinggi mungkin, lalu bergerak ke tengah laut.

__ADS_1


“Kau masih bisa bercanda denganku! Menarik, ayo tunjukkan kemampuanmu!” tantang siluman itu.


“Ini kemampuanku.” Batari Mahadewi melesat ke angkasa dengan cepat. Seperti dugaannya, siluman itu mengikutinya. Seperti yang telah ia rencanakan, ia melesat meninggalkan pulau dan menuju ke tengah laut. Siluman mengerikan itu dengan gigih mengikutinya, meski kecepatannya jauh tertinggal di belakang.


“Kau hebat juga, nona cantik. Aku tak menyangka kau memiliki kekuatan dan kemampuan seperti ini. Meskipun aku kalah cepat denganmu, tapi dengan ini, apakah kau masih bisa melarikan diri?” siluman itu sekali lagi membelah tubuhnya menjadi lebih banyak lagi. Batari Mahadewi dikepung dengan ratusan wujud siluman jelek dari segala penjuru mata angin.


“Aku tak akan melarikan diri lagi. Jika aku memang mau lari, kau tak akan bisa menemukanku. Aku hanya memancingmu bertarung di sini. Setelah aku pikir-pikir, mungkin mustika di dalam tubuhmu bisa berguna buatku,” kata Batari Mahadewi. Kata-katanya membuat siluman itu terbelalak. Ia kesal karena baru sadar bahwa ia terpancing oleh gadis jelmaan pusaka dewa itu.


Siluman yang telah membelah diri menjadi ratusan itu menyerang Batari Mahadewi secara bersama-sama. Jumlah ratusan itu bukanlah ilusi. Mereka semua nyata, namun masing-masing bagian dari siluman itu menjadi jauh lebih lemah.


Ketika siluman itu mendekat, Batari Mahadewi menghentakkan pancaran energinya. Kekuatan gadis jelmaan pusaka dewa itu menciptakan gelombang energi yang menyapu para siluman hingga mereka semua terpental jauh.


Siluman itu ternyata belum kapok, ia tak lagi berwujud ratusan yang hanya berguna menghadapi curut-curut angkuh. Jika ia tahu lebih awal bahwa Batari Mahadewi memiliki kekuatan besar, ia tak akan pernah membelah dirinya menjadi banyak.


“Kau boleh juga, nona manis,” kata siluman itu.


“Kau seharusnya takut, nenek siluman,” kata Batari Mahadewi.


“Kurang ajar, kau memanggilku nenek! Lihat saja nanti setelah aku mendapatkan tubuhmu,” kata siluman itu.


“Kau tak akan pernah bisa merebut tubuhku, nenek siluman. Kekuatan yang kupancarkan ini baru seujung kuku dari seluruh kekuatanku. Jika kau tak mengesalkan, aku tak mau menyombongkan diri seperti ini!” kata Batari Mahadewi.


“Buktikan kata-katamu!” Siluman jelek itu merubah dirinya ke wujud aslinya, yakni seekor lipan raksasa yang melayang di angkasa layaknya naga. Pancaran energinya menjadi berpuluh kali lipat dari sebelumnya. Tak jadi soal bagi Batari Mahadewi. Kekuatan siluman itu masih di bawah Varak, manusia perak yang ia kalahkan di pulau Api di dunia tiga rembulan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2