
Batari Mahadewi ingin mengagetkan Nala dengan kemampuan barunya itu. dari ruangan guru Rapapu, ia melacak dan menemukan pancaran energi Nala yang berada jauh di sebelah selatan gedung sekolah. Nala sedang berada di hutan dan mengintai beberapa pemburu Caka yang sedang beraksi di sana.
Nala memperhatikan hewan besar yang menakjubkan itu. seandainya ia tahu bentuk hewan itu sebelum memesan daging caka bakar, maka ia tak akan jadi memakan binatang itu. Bentuknya mirip dengan lintah yang berukuran raksasa. Tubuhnya berwarna hitam dan berlendir, sekaligus mampu mengeluarkan aliran listrik.
Hewan itu tak berbahaya, hanya binatang besar dan berlendir yang memakan tumbuh-tubuhan. Karena tubuhnya mampu menghasilkan listrik, maka tak akan mudah untuk menyentuhnya. Listrik bertegangan tinggi yang dihasilkannya mampu menghanguskan siapapun yang menyentuhnya. Kecuali orang-orang berpengalaman seperti para pemburu caka saat itu.
Setidaknya ada tujuh orang yang berada di sana dan semua adalah para pendekar kota Parapiriri. Mereka berusaha keras melumpuhkan hewan besar yang lambat itu dengan berbagai macam cara dari jarak jauh. Ketujuh pendekar pemburu caka itu sedang mengerahkan energi mereka untuk menciptakan jaring energi, menjerat binatang besar itu, lalu melumpuhkannya dengan perlahan, tanpa melukainya sehingga daging binatang itu tidak akan rusak.
Nala sedang asik menyaksikan perburuan itu dan ia tak sadar kalau Batari Mahadewi telah ada di belakangnya. Namun sesaat kemudian, Nala melompat karena ia bisa merasakan pancaran energi seseorang yang dibelakangnya.
“Kenapa kau mengagetkanku! Heh, sejak kapan kau datang? Bagaimana kau tahu aku ada di sini?” Nala mencerca Batari Mahadewi dengan rentetan pertanyaan.
“Baru saja aku datang. Mudah saja mencarimu. Dan mudah sekali aku datang kemari setelah membaca ilmu baru di perpustakaan guru Rapapu.” Kata Batari mahadewi.
“Ilmu baru?” tanya Nala. Batari Mahadewi menjawabnya dengan menunjukkan kemampuannya itu. dalam sekejab, ia telah berada di belakang Nala, lalu dalam kurang dari satu kedipan mata, ia telah kembali ke posisinya semula. Hal itu jelas membuat Nala penasaran.
“Apakah aku bisa mempelajarinya?” tanya Nala.
“Dengan satu syarat.” Kata Batari Mahadewi.
“Apa syaratnya?” tanya Nala.
“Kau harus mau belajar membaca. Aku yang akan mengajarimu.” Kata Batari Mahadewi.
“Kenapa aku harus belajar membaca?!” Nala jengkel dengan permintaan Batari Mahadewi.
“Banyak gunanya, Nala. Setidaknya untuk mengetahui pengetahuan yang tak bisa kita dengar, lihat, dan rasakan saat ini.
“Baiklah…baiklah…baiklah…nona muda. Kapan kau akan mengajariku?” tanya Nala.
“Sekarang. Di ruang guru Rapapu.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Ayo kita jalan ke sana.” Kata Nala.
“Tidak, aku ingin mencoba ilmu baru ini untuk membawamu ke sana.” Kata Batari Mahadewi.
“Kau yakin? Kau sudah latihan dengan benar?” tanya Nala.
“Aku tak yakin. Dan akan yakin setelah mencobanya. Siapa lagi kalau bukan denganmu? Makanya aku mencarimu sampai ke sini.” Kata Batari Mahadewi.
“Sial. Kau memanfaatkanku!” kata Nala. Batari Mahadewi memegang pundak Nala yang baru saja selesai bicara. Keduanya langsung lenyap seketika dan muncul kembali di ruangan guru Rapapu. Kakek tua itu terkekeh-kekeh saat kedua pendekar muda itu muncul di ruangannya. Sementara, Nala hanya terkaget-kaget dengan hal yang baru saja ia alami itu.
“Hahaha, sudah kuduga kau akan melakukannya gadis kecil.” Kata guru Rapapu, “baiklah, terserah apa yang ingin kalian lakukan di sini. Aku mau pergi dulu.”
“Baik, guru. Terimakasih.” Kata Batari Mahadewi.
“Nah, sekarang apa yang ingin kau ajarkan?” tanya Nala. batari Mahadewi mengambil sebuah buku besar yang ditulis dengan menggunakan aksara-aksara negri Madapala.
“Kau akan belajar membaca tulisan negri ini. Setelah kau bisa menguasainya, kau akan bisa lebih mudah belajar aksara dari dunia kita.” Kata Batari Mahadewi. Selanjutnya, selama dua hari berturut-turut gadis jelmaan pusaka dewa itu dengan sabar mengajari Nala membaca.
Nala bukanlah lelaki bodoh. Kemampuan menghafalnya yang sangat bagus itu membuatnya cepat bisa membaca dan menulis. Namun tentu saja, Nala tak akan bisa membaca aksara rahasia sebagaimana Batari Mahadewi bisa dengan mudah melakukannya. Setidaknya untuk saat ini.
“Tunggu guru Rapapu datang. Sulit bagiku untuk menjelaskannya padamu. Tapi mungkin penjelasan dari guru Rapapu bisa membantumu. Nanti jika dia datang, aku akan memintanya untuk mengajarimu. Sekarang kau baca-baca buku saja sana.” Kata Batari Mahadewi.
“Tapi sedikit banyak kan kau bisa! Nanti kalau aku masih belum bisa, kita tanya guru Rapapu.” Kata Nala.
“Baiklah, dengarkan baik-baik penjelasanku.” Batari Mahadewi kemudian mencoba menjelaskan serinci mungkin tahap-tahap yang harus dipahami. Lalu, sesekali gadis muda jelita itu memperagakannya agar Nala bisa memahaminya lebih baik. Namun ketika Nala mencobanya, ia belum berhasil. Berkali-kali ia mencoba, tetap hasilnya sama. Batari Mahadewi kehilangan cara untuk menjelaskannya. Tak lama kemudian, guru Rapapu datang.
“Guru, kami kesulitan…” Kata Batari Mahadewi.
“Hmm…Nala, asal kau tahu, aku butuh waktu lama agar bisa menguasai ilmu itu. Mungkin kau akan senasib denganku. Tapi percayalah, kau akan bisa melakukannya. Di kota ini, atau mungkin di negri ini, hanya aku yang bisa melakukannya. Dan gadis kecil ini.” Kata guru rapapu.
Nala sedikit kecewa. Tapi ia masih sangat penasaran, sebab gadis cantik di depannya itu bisa dengan mudah mempelajarinya. Karena rasa lapar dan penat, kedua pendekar itu pamit untuk pergi jalan-jalan mencari makan di luar.
__ADS_1
“Aku tak mau lagi pergi ke kedai penjual caka.” Kata Nala.
“Ah, daging yang enak itu. Kenapa kau tak mau?” tanya Batari Mahadewi.
“Kau tak lihat tadi yang dilakukan beberapa orang yang sedang kuintai?” tanya Nala heran.
“Ya, mereka sedang menangkap monster.” Kata Batari Mahadewi.
“Itulah binatang caka.” Kata Nala datar.
“Apa!” Batari Mahadewi kaget. Perutnya terasa mual.
“Makanya! Kita cari makan yang lain. Cari saja sayur. Aku heran, kenapa orang-orang sini tidak jijik makan binatang itu.” kata Nala.
“Jika kau tak cari tahu tentang binatang itu, aku mungkin akan memaksamu ke kedai itu lagi.” Kata Batari Mahadewi. Nala terkekeh, lalu ia mengingat lagi soal ilmu baru yang telah dikuasai oleh Batari Mahadewi.
“Aku masih penasaran, kenapa kamu selalu beberapa langkah lebih maju dariku dalam banyak hal?!” kata Nala.
“Setidaknya, langkah kakiku selalu disebelahmu saat ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Terimakasih, Tari. Aku tak menyangka akan bertemu denganmu. Tapi percayalah, pertarungan kita belum selesai.” Kata Nala.
“Ya, kita berdua akan bertarung. Kita akan bersama melawan makhluk yang sangat kuat. Aku sungguh mengharapkan bantuanmu kelak.” Kata Batari Mahadewi.
“Bukan itu maksudku!” Kata Nala.
“Sudahlah, tak usah malu kalau saat ini kau merasa nyaman menjadi seseorang yang lain dari yang dulu. Percayalah, ada banyak jalan untuk mati secara terhormat. Kelak, jika kau percaya kata-kataku, kita harus melawan bangsa raksasa. Aku tak tahu, apakah aku akan berakhir di sana.” Kata Batari Mahadewi.
“Sekuat itukah bangsa raksasa?” tanya Nala.
“Setidaknya, aku melihat gambaran kehancuran di dunia kita. Hancur, Nala!” kata Batari Mahadewi. Tak ada nada bergurau dalam kata-katanya.
__ADS_1
“Baiklah. Jika takdirku adalah menemani pertarunganmu, maka apa boleh buat! Ayo, Tari. Aku lapar. Kau sudah terlanjur membuatku suka makan di kedai!” kata Nala berusaha mencairkan suasana.
“Ayo!” kata Batari Mahadewi bersemangat kembali.