
Tubuh pangeran kegelapan itu menggigil. Dalam situasi itu, jiwa Nala mendesak untuk menguasai tubuhnya kembali. Begitu ia berhasil, dengan cepat jiwa pangeran kegelapan itu merebutnya kembali. Taring Batari Mahadewi membuat jiwanya sangat lemah. Jika ia tak segera melemparkan gadis yang sekarat itu, mungkin jiwanya telah terserap habis. Ia tak menyangka, gadis itu bisa melakukannya.
Sang pangeran kegelapan duduk bersila dan menyerap energi di sekitarnya. Yang ia lakukan itu bisa memulihkan kekuatan tubuhnya, namun bukan jiwanya. Dalam situasi itu, jiwa pangeran kegelapan bertemu dengan jiwa Nala.
“Kembalikan tubuhku!”
“Ini juga tubuhku! Aku sudah berbaik hati meminjamkannya padamu, Nala! Kau pikir, dari mana kau mendapatkan semua kemampuanmu itu?!”
“Jika ini adalah tubuhmu, maka aku tak akan pernah ada. Kau hanyalah jiwa gelap yang menumpang di tubuh ini!”
“Kau salah! Aku adalah sisi gelapmu. Saat kau lemah, akulah penguasa tubuh ini!”
“Kini kau lemah bukan?! Aku akan merebut tubuh ini!”
“Sebaiknya kita bekerja sama! Nikmati saja seperti yang kulakukan sebelum ini!” Andhakara membuka matanya. Jika dulu ia selalu berusaha merebut tubuh itu ketika Nala tertidur, kini dalam kondisi jiwanya yang telah melemah, Nala bisa sewaktu-waktu mencoba merebutnya kembali.
Tubuh itu telah terisi dua jiwa yang saling bertarung. Kadang kala Nala berhasil kembali mengambil alih kesadarannya, namun tak lama kemudian Andhakara merebutnya kembali. Jiwa gelap itu masih lebih dominan daripada jiwa Nala. Meski demikian, Andhakara tak bisa berbuat semau-maunya lagi seperti sebelumnya.
Bail datang menyusul bersama sang ratu. Mereka diam-diam membuntuti kemana gadis itu membawa tubuh sang pangeran kegelapan. Begitu gadis itu lenyap, barulah mereka menampakkan diri.
“Pangeran berhasil membunuh gadis itu?” tanya sang ratu. Wujudnya sudah kembali seperti semula, sang ratu Ogha.
__ADS_1
“Sepertinya. Seharusnya dia mati. Tapi dia membuatku jadi lebih lemah dari sebelumnya,” kata Andhakara.
“Yang penting pangeran selamat. Aku sangat merindukanmu.” Ratu itu memeluk tubuh gagah pangeran kegelapan itu dan menciumnya beberapa kali. Sang pangeran tak membalas ciuman itu. Ia hanya diam saja. Ya, sebab Nala memberontak dan membuat gairah pangeran kegelapan itu padam. Sang pangeran tak menceritakan hal itu kepada sang ratu atau siapapun.
“Pangeran sebaiknya memulihkan diri dulu, apa yang pngeran butuhkan, aku dan Bail akan mencarinya,” kata sang ratu. Ia takut jika sang pangeran tak lagi berkenan padanya.
“Kita akan segera membangunkan pasukan iblis kita dan mendirikan istana baru, ratuku.” Kata pangeran kegelapan.
“Apakah pangeran tidak ingin istirahat dulu?” tanya sang ratu.
“Tidak perlu. Kita tak punya banyak waktu. Sejak pintu dunia tengah yang menghubungkan dunia tengah telah ditutup oleh para dewa, tak akan ada lagi iblis baru di dunia tengah. Kita terjebak di sini tanpa bisa kembali lagi ke dunia bawah. Seandainya ada cara untuk menuju ke sana, kita tak hanya memiliki banyak pasukan, tetapi aku juga bisa memperbaharui jiwaku ini,” kata pangeran Andhakara.
“Sial! Dalam pertarungan ini, kita banyak sekali kehilangan pasukan. Aku tak tahu seberapa banyak iblis yang tersisa dan yang bisa kita bangkitkan kembali,” kata pangeran Andhakara.
“Pangeran, aku bisa melahirkan anak-anakmu, iblis-iblis penerus terkuat yang pernah ada,” kata ratu Ogha.
“Tak semudah itu, ratuku. Kau akan mengandung selama seratus tahun dan selama kau mengandung, kau harus bertapa. Sedangkan kita tak tahu apa yang akan terjadi besok,” ucap pangeran Andhakara.
“Apa?! Seratus tahun?” sang ratu benar-benar kaget. Ia tak tahu sama sekali soal ini.
“Kita masih memiliki bangsa siluman yang akan memberikan dukungan. Selebihnya, kita akan mengubah manusia menjadi pasukan kegelapan. Meskipun mereka lemah, namun perlahan-lahan kita bisa membuat mereka menjadi iblis. Waktu yang kita butuhkan tak akan selama jika kau harus mengandung. Saat ini, aku membutuhkanmu. Jika kau harus bertapa selama seratus tahun…” Andhakara tak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
“Aku…aku tak mau jika harus berpisah lagi denganmu selama seratus tahun. Aku sangat merindukanmu, pangeran, aku kesepian… seribu tahun bukan waktu sebentar bagiku,” sang ratu tak kuasa menahan luapan isi hatinya.
“Aku tahu, ratuku. Maka itu aku mencoba memikirkan cara lain. Sudahlah, hari ini kita tak akan melakukan apa-apa. Sementara, kita tinggal di pulau ini. Aku akan mendirikan istana kecil. Menyingkirlah dulu.” Pangeran bangkit berdiri. Ratu Ogha dan Bail menjauh. Sang pangeran menyihir reruntuhan bebatuan gunung itu menjadi bangunan besar dan tinggi. Satu per satu bebatuan itu bergerak sendiri, seolah bernyawa, dan membentuk satu bangunan besar mulai dari pondasi hingga atap menara tertinggi. Tak sebesar kerajaan Tirayamani, tetapi cukup untuk disebut sebagai istana.
“Ratuku, pergilah bersama Bail, cari manusia yang tinggal di pulau ini, ubah mereka menjadi pasukan kegelapan. Istana ini terlalu sepi untuk kita bertiga. Aku akan beristirahat dan menunggu kalian di sini,” kata pangeran Andhakara.
Pulau itu adalah pulau kecil tanpa kerajaan. Tak banyak manusia yang tinggal di sana. Mereka berkumpul dan mendirikan sebuah kota yang terletak di sebuah bukit yang menghadap ke laut. Goncangan besar setelah Batari Mahadewi mendorong pangeran kegelapan hingga membentur salah satu gunung tertinggi di pulau itu menyebabkan rumah-rumah di satu-satunya kota pemukiman di pulau itu rusak parah.
Banyak korban tentu saja. Dari para manusia yang tersisa itu, sang ratu menebarkan hawa jahat dari tubuhnya. Asap hitam keluar dari tubuhnya dan bergerak menyelimuti kota itu, lalu menyusup dalam jiwa dan kesadaran orang-orang yang ada di sana. Jadilah mereka pasukan kegelapan sebagaimana para pendekar hitam Tirayamani yang telah punah itu.
*****
Sementara itu, di tengah laut yang jauh, Batari Mahadewi tengah sekarat. Tubuhnya terselubungi cahaya emas yang membuatnya tampak seperti kepompong yang terapung di tengah laut. Tak berapa lama kemudian, seekor penyu raksasa menampakkan diri. Tubuhnya besar layaknya sebuah pulau. Seluruh kulitnya memancarkan cahaya keemasan.
Penyu itu mendekat ke arah Batari Mahadewi yang sudah tak memancarkan kekuatan apa-apa lagi. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menelan tubuh Batari Mahadewi yang serupa kepompong emas di tengah laut itu.
Mulut penyu itu merupakan pintu masuk menuju ke altar samudra, tempat persembunyian para dewa yang lari dari Kalapati. Di dalam perut penyu itu terdapat sebuah dunia yang sangat luas, dunia tanpa batas, dunia yang tak sama dengan dunia manusia. Ada seratus dewa lebih yang menyambut tubuh Batari Mahadewi.
Dengan segera, para dewa itu membawa Batari Mahadewi ke sebuah batu suci. Para dewa duduk bersila mengelilinginya, formasi madala dewa dengan Batari Mahadewi sebagai pusatnya.
Kekuatan para dewa sekali lagi mengalir ke tubuh gadis yang masih tak sadarkan diri itu. Perlahan, semua luka di tubuhnya menutup. Namun matanya masih terpejam. Dalam ketaksadarannya, ia merasa sedikit bahagia, ia berada di dunia mimpi bersama Nala. Keduanya menatap langit, ada lubang besar di sana. “Nala, apakah kau siap pergi bersamaku menuju ke dunia tujuh rembulan?”
__ADS_1