Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 286 Hiburan Untuk Para Tetua


__ADS_3

Arena latiha padepokan Cemara Seribu sungguh berantakan setelah dipergunakan untuk latihan para tetua pendekar di Swargadwipa. Pada hari sebelumnya, arena itu juga dipergunakan untuk latihan para pendekar tetua lainnya yang memenuhi undangan via roh Ki Gading Putih. Tak disangka, para pendekar yang selama ini menghilang dari dunia persilatan mau menampakkan diri gara-gara diiming-imingi mainan baru.


Batari Mahadewi dan Nala yang tiba-tiba menampakkan diri seusai latihan itu tentu saja membuat semua orang yang ada di sana sedikit terkejut. Mereka sama sekali tak menyadari kehadiran kedua pendekar mahasakti itu.


“Nah, ini dia sang empu sudah datang diam-diam,” sambut Ki Gading Putih. Ya sedikit-sedikit masih ada lah jiwa pamer yang tersisa dalam dirinya. Sudah pasti ia bangga memiliki murid mahasakti, meski ia tak pernah mengajarkan jurus apapun.


“Sepasang pendakar paling sakti yang pernah kutemui. Kalian cocok sekali,” goda Ki Elang Langit. Wajah Nala dan Batari Mahadewi langsung merah merona seketika. Keduanya tahu bahwa diam-diam banyak orang yang membicarakan mereka berdua.


“Sudah sudah, nanti mereka malu dan tak mau dekat-dekat lagi, ayo kita makan bersama,” kata Ki Cakra Jagad. Adik seperguruan pendeta Liong, sang juru masak kuil Matahari, juga ikut ke padepokan. Ia tak terlihat di arena sebab sejak tadi ia sibuk di dapur, menyiapkan berbagai hidangan lezat khas kuil Matahari.


Sebuah kebetulan yang menyenangkan, perut dan lidah gadis jelmaan pusaka dewa itu sedang ingin dimanjakan. Selama dalam perjalanan mengantar senjata, Nala sama sekali tak mau diajak jajan ke kedai makan. Untunglah ada sedikit suguhan dari tiap perguruan yang mereka kunjungi, sehingga suasana hati gadis cantik itu tetap terjaga.


Makanan melimpah tersaji di pendopo padepokan Cemara Seribu. Tak ada meja makan besar seperti yang dimiliki perguruan besar semacam Lentera Langit atau rumah Ki Elang Langit. Jadi, hidangan-hidangan itu berjejer rapi di lantai dan mereka akan makan dengan cara lesehan.


Entah kebetulan atau tidak, adik seperguruan tetua Liong itu memasak banyak sekali makanan mulai dari beberapa jenis sayuran yang dimasak dengan cara berbeda, jamur, ikan-ikan besar, serta daging seekor Kijang besar yang dipanggang hingga matang sempurna. Nasi yang dimasak juga cukup banyak, bahkan akan membuat kenyang sepuluh orang dewasa.


Sempurna sekali. Mereka semua tampak kelaparan, kecuali Nala dan Vidyana. Dua orang itu memang sejak kecil tak terbiasa makan. Nala hanya akan makan sedikit banyak jika Batari Mahadewi memaksanya. Para tetua itu ternyata tak bisa menahan diri bercanda dengan kata-kata yang kasar. Terutama sang pendekar Raja Naga Selatan. Sembari makan mereka berkelakar saling mengejek, menertawakan kebodohan di masa lalu. Mereka tak peduli jika ada junior di sana. Padahal, biasanya mereka bersikap sesopan mungkin dengan penuh kewibawaan, terutama jika bertemu dengan para murid atau juniornya. Hanya pendeta Liong dan adiknya yang masih tampak seperti biasanya.


“Tari, apakah kau berencana untuk membuat senjata lagi?” tanya Ki Suro.


“Sepertinya tidak, kakek. Masih ada beberapa yang belum kami antarkan ke wilayah timur,” jawab Batari Mahadewi. Ki Suro terlihat sedikit kecewa. Ia berharap bisa melihat cara membuat senjata pusaka yang menakjubkan itu.

__ADS_1


“Tetapi, jika kakek ingin melihat bagaimana senjata itu dibuat, Nala pasti akan dengan senang hati memperlihatkan caranya,” Batari Mahadewi melanjutkan. Ia tak tega melihat wajah kecewa kakek yang pernah menyelamatkan nyawanya itu ketika ia sedang bertarung dengan pendekar Bayangan Siluman di balai kota Kaki Langit waktu itu.


“Benarkah?” tanya ki Suro dengan ekspresi wajah yang berubah bersemangat.


“Dengan senang hati, kakek,” jawab Nala.


“Kalau begitu, aku tak jadi pulang hari ini, aku ingin melihatnya,” kata pendekar Raja Naga Selatan. Jarang-jarang pendekar itu tertarik dengan pencapaian para junior. Gengsinya terlalu tebal sebagai salah satu pendekar legendaris yang ditakuti di seluruh Mahabhumi.


“Aku juga!”


“Aku juga!”


Akhirnya tak ada satupun tetua pendekar yang pulang di hari itu. Mereka penasaran dengan cara pembuatan senjata pusaka itu.


Proses pembuatannya jauh lebih menggetarkan dari senjata pusaka itu sendiri. Betapa tidak, tongkat sakti yang seharusnya selesai dikerjakan dalam dua atau tiga bulan bisa selesai dalam waktu setengah hari di tangan Nala. Hal yang tak mungkin dilakukan oleh manusia normal, sesakti apapun mereka. Jika bukan para pendekar sakti, mereka semua tak akan bertahan menyaksikan Nala membuat senjata. Kekuatan apinya untuk meleburkan logam saja bahkan membuat air terjun hati suci terasa hangat.


Batari Mahadewi hanya jadi penonton. Tak ada kulit naga yang tersisa yang bisa dijadikan bahan peragaan untuk membuat baju perang. Diam-diam, ia merasa senang dan bangga melihat kekasihnya itu disanjung-sanjung oleh para pendekar legendaris di Swargadwipa.


“Gading! Sungguh aku tak habis pikir, padepokan reyotmu ini kenapa selalu menjadi rumah bagi pendekar-pendekar berbakat seperti ini!” kata Ki Cakra Jagad. Ialah satu-satunya pendekar yang memiliki perguruan terbesar di Swargadwipa.


“Nasib, Cakra, Nasib, hahaha!” Ki Gading Putih terkekeh-kekeh mendengar celoteh sahabatnya itu.

__ADS_1


“Dan aku yakin, kau tak mengajarkan apapun. Tapi kau sungguh-sungguh dihormati sebagai guru! Mengesalkan sekali!” Kata Ki Elang Langit.


“Mungkin karena itulah,” pendeta Liong tak meneruskan kalimatnya. Namun kata-katanya bisa dipahami Maksudnya.


Para pendekar tua itu terkekeh-kekeh. Mereka lega, jika suatu hari mereka mati, maka masih ada penerus hebat yang bisa diandalkan untuk menjaga keseimbangan.


Para tamu Ki Gading Putih merasa senang dan puas atas kunjungan yang mereka lakukan di padepokan. Mereka tak hanya mendapatkan pusaka terbaik, namun juga belajar dari dua sosok muda yang luar biasa itu. Mereka pamit dengan membawa suasana hati yang bagus selama beberapa minggu ke depan.


Setelah pendekar-pendekar tua itu pergi, suasana padepokan kembali seperti semula. Tenang dan damai.


“Kak Buyung, kita akan berlatih bersama-sama setelah aku dan Nala selesai mengantarkan pusaka-pusaka ini ke wilayah timur,” kata Batari Mahadewi.


Buyung mengangguk, “Tak apa-apa, adik. Aku masih akan lama di sini. Jadi adik Tari dan Nala tak usah tergesa-gesa.”


“Sampaikan salamku kepada pendekar-pendekar yang kalian temui nanti,” kata Ki Gading Putih.


“Pasti guru. Kalau begitu, kami langsung berangkat saja hari ini juga,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu memasangkan ikatan senjata dan baju pusaka di punggung Nala. lelaki itu tampak bersemangat sekali. Ia membawa beban jauh lebih banyak dari yang di bawa oleh Batari Mahadewi. Vidyana tersenyum menggoda keduanya yang tampak saling penuh perhatian satu sama lain. Keduanya tersadar, mungkin orang-orang sudah mulai mengendus aroma hubungan yang mereka jalin diam-diam itu.


Batari Mahadewi dan Nala melesat kea rah timur, mengantarkan harapan untuk bertahan jika suatu saat, entah cepat atau lambat, para musuh akan datang dalam jumlah yang sangat besar dari sebelum-sebelumnya. Bagaimanapun juga, Mahabhumi menjadi satu-satunya wilayah yang sulit ditaklukkan oleh kekuasaan sang ratu kegelapan itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2