
Kalapati masih penasaran dengan sosok gadis yang baru saja menyerangnya itu. Ia tahu, gadis itu memiliki pancaran energi dewa. Tapi ia tak habis pikir, apakah ada dewa yang bisa memukulnya hingga ia merasa kesakitan seperti itu? Ia ingat, dulu ketika pertama kali ia naik ke kayangan, betapa mudah menumbangkan para dewa yang ada di sana.
Bahkan, raja dewa yang merupakan dewa terkuat, tak memiliki pukulan seperti itu. Raja dewa, pada waktu itu, bisa bertahan paling lama dalam pertarungan bukan karena dia kuat, namun karena cerdik. Tetapi, Kalapati memang tak tahu, bahwa dewa yang ia hadapi pada saat itu adalah dewa-dewa yang telah kehilangan setengah kekuatannya.
Saat Kalapati sedang marah besar itu, para iblis diam-diam melarikan diri, mereka berpencar ke segala arah sehingga andaikan Kalapati mengejar salah satu dari mereka, maka yang lain bisa selamat. Tetapi Kalapati tak ingin mengejar mereka semua. Ia tahu, setelah ia menampakkan diri di dunia tengah, maka para iblis itu tak akan berani lagi berulah setelah kejadian di hari itu. Setidaknya dalam waktu dekat.
Kalahijau yang masih hidup itu tergopoh-gopoh menyambut sang maharaja.
“Paduka Kalapati, untunglah paduka datang. Hampir saja para iblis itu menghabisi kami semua,” kata Kalahijau.
“Aku tak bisa lama di sini. Ada hal yang harus aku tanyakan pada raja dewa. Dalam waktu dekat, mungkin aku akan kembali ke sini!” kata Kalapati.
“Baik, paduka.”
Kalapati melesat cepat ke angkasa. Ia ingin segera cepat bertemu dengan raja dewa, selain untuk menanyakan siapa gerangan sosok yang baru saja menyerangnya itu, ia juga ingin tahu dimana gadis itu sekarang berada dan kenapa ia menyelamatkan pangeran iblis itu! Sungguh hal itu adalah sesuatu yang tak dapat dipahami oleh Kalapati, sebab yang ia tahu, dewa seharusnya mendukungnya ketika ia hendak memusnahkan penguasa iblis itu.
Sesampainya di khayangan, Kalapati menjumpai belahan diri raja dewa yang sedang duduk santai di tepi kolam.
“Kau mendapatkan kejutan, Kalapati?” sambut raja dewa.
“Kau melihatnya kan? Siapa sosok gadis dengan kekuatan dewa yang menyerangku itu?” tanya Kalapati langsung pada pokok permasalahan.
“Dia adalah dewa kuno yang baru saja keluar dari sumber kekuatan yang menyokong dunia kita ini. Nah, sebenarnya, aku ingin bilang padamu bahwa aku harus segera pergi ke dunia lain untuk mencari bahan untuk memperbaiki sumber energi yang telah rusak itu,” kata raja dewa.
“Aku tak mengerti apa yang kau katakan! Sumber kekuatan? Rusak? Dewa kuno?” tanya Kalapati.
__ADS_1
“Jadi, di dunia kita ini hanya ada satu sumber kekuatan yang menyokong seluruh kekuatan alam. Sepertinya, ada dewa kuno yang telah lama berada di dalamnya, dewa yang memiliki kekuatan terbesar di antara dewa-dewa yang saat ini ada. Nah, ketika dewa itu keluar dari sana, maka sumber kekuatan itu menjadi rusak. Aku butuh pergi ke dunia lainnya untuk mencari penggantinya. Intinya begitu,” raja dewa berbohong.
“Kapan kau akan pergi?" tanya Kalapati.
"Secepatnya, setelah memberitahukan hal ini kepadamu!” jawab raja dewa.
“Yang aku tak mengerti, kenapa dewa kuno itu menyelamatkan penguasa iblis!?” tanya Kalapati.
“Nanti setelah aku pulang dari dunia lain, aku akan mencari keberadaan dewa kuno itu!” kata raja dewa.
“Jadi kau tak tahu di mana mereka berada?” tanya Kalapati.
“Saat ini aku tak tahu. Tetapi, mungkin kau akan bertemu dengannya lagi. Ingat, jika kau bertarung dengannya, lakukan di dunia bawah sana! Baiklah, sekarang aku pergi dulu!” raja dewa segera menghilang sebelum Kalapati benar-benar mencerna semua kata-katanya. Jika raksasa itu pintar, pastilah ia tahu bahwa raja dewa sedang berbohong.
Sementara itu, Batari Mahadewi membawa tubuh Andhakara yang belum sadarkan diri itu di gunung es selatan. Sebuah tempat yang tak akan terjangkau oleh bola kristal di istana langit.
Raja dewa akhirnya menampakkan diri dan berjalan perlahan ke arah Batari Mahadewi sembari mengamati tubuh pangeran kegelapan yang masih tergeletak di atas permukaan es itu.
“Jadi lelaki ini yang membuatmu jatuh cinta? Hampir saja semua usaha para dewa selama ini sia-sia,” kata raja dewa.
“Apakah mungkin aku masih kalah melawan Kalapati dengan capaianku yang sekarang?” tanya Batari Mahadewi.
“Aku tak tahu pasti, tetapi sebaiknya kau bertarung dengannya jika semua kunci kekuatanmu telah terbuka. Dengan begitu kau pasti bisa membunuh Kalapati. Nah, sekarang apa yang akan kau lakukan dengan Andhakara itu?”
“Bisakah kau membantuku mengembalikan jiwa Nala, pemilik tubuh ini yang sesungguhnya?” tanya Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Yang bisa kita lakukan adalah melemahkan jiwa Andhakara, dan menguncinya di tempat semula. Kita tak bisa benar-benar melenyapkannya. Tapi aku bisa membuatnya sangat lemah dan tak akan mungkin bisa bangkit lagi, kecuali tubuh ini mati.”
“Jika Nala mati, berarti jiwa kegelapan itu masih bisa bangkit kembali?”
“Ya, begitulah. Akupun tak bisa benar-benar memusnahkannya. Dulu kami menguncinya dalam sebuah mustika yang kami simpan di istana. Sialnya, mustika itu hilang. Dan entah bagaimana caranya, mustika itu melebur dalam tubuh manusia ini.”
“Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Batari Mahadewi.
“Bantu aku, serap jiwa iblisnnya. Setelah ia melemah, aku akan masuk ke dalam tubuh ini. Gunakan taringmu, sebab kukumu tak bisa menyerap jiwa kegelapan yang sekuat ini,” perintah raja dewa.
Batari Mahadewi mengeluarkan taringnya, lalu menggigit lengan Andhakara yang masih terkulai pingsan itu. Pangeran Andhakara sempat siuman dan memberontak, namun ia terlalu lemah di hadapan Batari Mahadewi dan raja dewa yang membantu menahan tubuh itu.
“Cukup, jangan kau serap lagi. Sekarang aku akan masuk ke dalam tubuh ini. Berjagalah, jangan sampai ada gangguan sebelum aku selesai!” Roh raja dewa keluar dan masuk ke dalam tubuh yang tak sadarkan diri itu. Sementara itu, Batari Mahadewi hanya bisa duduk diam menunggu dan berharap usaha raja dewa itu membuahkan hasil.
Di dalam tubuh Nala, raja dewa menjumpai jiwa Nala sedang berusaha menekan keberadaan jiwa Andhakara. Raja dewa segera membantu Nala menyegel jiwa pangeran kegelapan itu ke dalam sebuah mustika kecil yang bersemayam di sana.
“Terimakasih banyak atas bantuannya, kakek dewa,” ujar Nala.
“Sudah aman sekarang. Jiwa kegelapan ini tak akan pernah bisa keluar lagi.”
“Tidak bisakah kakek mengeluarkan mustika ini dari tubuhku?” tanya Nala
“Ini adalah pusat kekuatanmu. Jika diambil, maka kau mati. Lagipula, tempat paling aman untuk menyembunyikan mustika ini adalah di dalam tubuhmu. Nah, tidakkah kau ingin menemui kekasihmu itu? Tapi aku akan keluar dulu!”
Begitu roh raja dewa telah keluar dari dalam tubuh Nala, perlahan kekasih Batari Mahadewi itu membuka matanya, lalu duduk sembari mencoba mengumpulkan kesadarannya, merasakan kembali sensasi sakit yang dialami tubuhnya itu dari pertarungan Andhakara melawan Kalapati.
__ADS_1
“Hei, lelakiku! Kau masih ingat padaku kan?” Batari Mahadewi menyunggingkan senyum terindahnya. Tanpa taring!