Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 138 Pulau Api


__ADS_3

Ketika menuju pulau Api, Batari Mahadewi dan Nala sebenarnya melewati beberapa pulau kecil yang tampak menarik jika dilihat dari atas ketika keduanya terbang. Andaikan mereka tak membawa kitab dari kuil Api Suci, tentu mereka akan singgah di beberapa pulau kecil tak berpenghuni yang membuat keduanya itu penasaran.


Setelah setengah hari menempuh perjalanan, akhirnya pulau Api mulai terlihat. Pulau itu jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan. Dari jauh, tampak ratusan gunung api yang menjulang ke langit, mengepulkan asap hitam yang tipis. Sekilas, pulau itu terlihat mengerikan. Namun di sisi lain, setiap pegunungan berapi itu selalu dikelilingi dengan hutan yang hijau.


Batari Mahadewi dan Nala turun di pantai yang terlihat sepi dan tak berpenghuni. Beberapa puluh langkah dari bibir pantai itu adalah hutan dengan berbagai jenis tumbuhan yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya, namun pepohonan di dalam hutan itu tak seaneh semua tanaman di pulau iblis.


Batari Mahadewi dan Nala berjalan pelan menyusuri hutan itu sembari melihat-lihat apa saja yang bisa dimakan. Keduanya telah belajar banyak mengenai berbagai jenis tanaman dan buah-buahan yang bisa di makan di seluruh wilayah dunia tiga rembulan melalui buku-buku koleksi guru Rapapu. Sehingga, meski semua tanaman yang mereka jumpai adalah tanaman yang belum pernah mereka lihat, namun mereka telah mengenali beberapa dari lukisan tangan di buku-buku guru Rapapu.


“Lihat ke arah sana, Tari. Seingatku, buah berwarna biru itu bisa dimakan dan menurut catatan di buku, rasanya enak.” Kata Nala.


“Ya, tapi aku lupa nama buah itu.” kata Batari Mahadewi.


“Aku akan mengambilnya beberapa.” Kata Nala. Ia melompat ke dahan pohon tinggi itu yang banyak terdapat buah-buahan berwarna biru seukuran buah melon. Nala memetik beberapa dan menjatuhkannya ke bawah. Batari Mahadewi menangkapnya sebelum buah-buahan itu jatuh ke tanah. Buah berwarna biru itu memiliki kulit yang keras seperti batok kelapa. Setelah Batari Mahadewi membelah buah itu dengan ujung kukunya yang lebih tajam dari segala pusaka di dunia satu rembulan itu, ia mendapatkan daging buah yang berwarna putih, lunak, dan beraroma wangi.


“Harum sekali buah ini. Aromanya setajam buah durian, namun baunya jelas beda dengan buah durian. Kau ingin mencobanya dahulu, Nala?” tanya Batari Mahadewi.


“Kenapa tidak kau duluan saja?!”kata Nala.


“Aku membelahnya untukmu. Jika buah ini beracun, aku akan menyembuhkanmu.” Kata Batari Mahadewi.


“Sial. Aku yang kau jadikan percobaan! Lagipula, aku juga bisa menyembuhkanmu jika kau keracunan. Sini, aku akan makan duluan.” Kata Nala. Ia melahap daging buah itu dan seketika wajahnya berubah senang. Ia tak pernah memakan buah yang seenak itu sebelumnya. Buah berwarna biru itu bahkan lebih enak dari buah para yang memancarkan cahaya merah ketika mereka pertama kali menginjakkan kaki di Madapala.


“Tari, buah ini tidak enak. Buatku saja ya, tolong buka kulitnya. Biar aku saja yang makan.” Kata Nala. Namun ucapannya itu membuat Batari Mahadewi mengambil semua buah itu dan tak berniat memberikannya kepada Nala.


“Hahaha, kau seperti anak kecil. Makanlah, Tari. Buah ini tak beracun. Dan sungguh nikmat.” Kata Nala.


“Aku memang anak kecil. Setidaknya jika kau melihatnya dari umurku.” Kata Batari Mahadewi sambil melahap buah berwarna biru itu.

__ADS_1


“Tubuh kita berdua lebih tua dari umur kita yang sebenarnya. Pasti di dunia satu rembulan, orang-orang akan mengira kita ini berumur 16 tahun.” Kata Nala.


“Ditambah lagi dengan pengetahuan dan cara kita berbahasa yang seperti ini, semua orang pasti tak akan percaya jika kita berdua masih 10 tahun.” Kata Batari Mahadewi.


“Aku saja tak percaya. Apa lagi orang lain. Aku yakin, kita sedang terjebak dalam tubuh ini. Sementara, pikiran kita jauh lebih dewasa dari para remaja pada umumnya.” Kata Nala.


“Memangnya pikiran dewasa apa yang kau pikirkan?” tanya Batari Mahadewi iseng.


“Seperti misalnya memikirkan jawaban apa yang paling tidak murahan untuk menjawab pertanyaanmu barusan itu.” jawab Nala. Jawaban yang membuat Batari Mahadewi berhenti melanjutkan pertanyaannya itu, yang bisa jadi akan menjurus ke suatu tempat yang bernama ‘perasaan’.


Setelah puas memakan beberapa buah menakjubkan itu, keduanya kembali melanjutkan perjalanan dengan melompat ringan dari satu pohon ke pohon lainnya. Mereka tak ingin terburu-buru menjelajahi tempat baru itu. Sesekali mereka berhenti untuk melihat berbagai binatang aneh nan cantik yang menghuni hutan itu.


“Bagaimana jika kita tak menemukan pemukiman jika kita melakukan perjalanan terlalu santai begini?” tanya Batari Mahadewi.


“Hahaha, kita sudah terbiasa bermalam di hutan, bukan?! Jadi tenang saja. Lihat di depan sana, ada bebatuan besar yang memancarkan energi. Mari kita ke sana. Siapa tahu aku beruntung mendapatkan beberapa kristal energi lagi.” Kata Nala.


“Baru saja terjadi perkelahian. Sepertinya daerah ini tak sedamai yang kita bayangkan sewaktu kita menikmati buah biru dan melihat kehidupan indah di dalam hutan.” Kata Nala.


“Ya, kita harus waspada. Aku yakin, manusia-manusia penghuni pulau ini rata-rata memiliki kemampuan tinggi. Setidaknya dari yang kita liat sebelumya, manusia api itu memancarkan api berwarna biru. Sementara, kita berdua masih pada tahap api biasa meski kita berhasil mempelajari kitab rahasia dari kuil suci. Kita hanya bisa mencapai tahap puncak setelah kita berhasil menyerap energi murni dari sumber energi utama di pulau ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Aku tak yakin jika semua petarung di pulau ini memiliki pencapaian yang setara dengan manusia api yang sebelumnya kita temui itu. Yang kudengar dari manusia perak itu, ia adalah salah satu penjaga kuil suci. Sehingga jelas saja kemampuannya sangat tinggi. Energinya jauh melampaui energi kita.” Kata Nala.


“Kau benar. Jika manusia perak itu tak bertarung terlebih dahulu dengan manusia api, tentu kita tak bisa mengalahkannya dengan mudah.” Kata Batari Mahadewi.


“Ada baiknya kita menyembunyikan kekuatan api kita, sehingga kita tak akan dicurigai. Bagaimanapun juga, kita membawa kitab rahasia, yang pastinya tak boleh sembarangan jatuh ke tangan yang salah.” Kata Nala.


“Kitab yang sedang kita bawa ini merupakan salah satu bagian dari ketujuh bagian lainnya. Kitab ini merupakan kitab yang paling dasar. Dan justru karena itulah, kitab ini menjadi kitab yang paling penting. Jika manusia perak itu sempat mempelajarinya, betapa mengerikan kekuatannya itu.” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Ya, bahkan kau lihat sendiri, ketika aku menggunakan jurus api itu sepenuhnya, kekuatanku jauh meningkat pesat dan perubahan tubuhku akan menjadi senjata yang berbahaya.” Kata Nala. Ia kemudian berdiri di atas sebuah batu besar yang tak jauh dari mayat itu. Nala menemukan satu sumber energi yang hendak ia ambil. Tak lama kemudian, ia berhasil mengangkat sebuah kristal bening seukuran buah kelapa.


“Besar sekali. Kau mau membawa benda sebesar itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Aku akan memecahkannya agar bisa muat dalam kantong jubahmu.” Kata Nala.


“Kurasa kita perlu membuat tas untuk membawa seluruh perbekalan kita. Lama-lama, kantongku jadi penuh dengan kristal-kristalmu. Aku yang jadi korbannya setelah kau kehilangan jubahmu itu.” protes Batari Mahadewi.


“Kau benar kita butuh tas punggung yang bisa kita bawa kemana-mana dengan mudah. Umumnya setiap pengelana memiliki tas punggung yang terbuat dari rotan untuk membawa semua perbekalan. Apakah menurutmu kita bisa mendapatkan tas semacam itu di sini? Sejak tiba di Madapala pun, aku belum pernah menjumpainya. Para pengembara hanya membawa buntalan dari kain.” Kata Nala.


“Kita akan membuatnya dari kayu dan tanaman rambat. Banyak bahan tersedia di sini, bukan?!” kata Batari Mahadewi.


“Kau bisa membuatnya?” tanya Nala.


“Tentu saja. Bantu aku mencari ranting kayu yang lurus dan berukuran mirip.” kata Batari Mahadewi.


“Dengan senang hati.” Jawab Nala. Dengan cepat ia mengumpulkan kayu-kayu kering, memotong kayu itu dengan tenaga dalamnya sehingga menghasilkan potongan-potongan kayu dengan ukuran yang kurang lebih sama persis. Sementara, Batari Mahadewi mencari tanaman sulur yang bisa ia jadikan tali. Setelah itu, keduanya sibuk membuat dua buah tas punggung dari kayu untuk membawa perbekalan mereka.


“Kenapa tidak dari dulu saja kita membuat tas seperti ini?!” kata Nala.


“Karena kita tak membawa banyak benda waktu itu. Sekarang ini, mungkin kita banyak tertarik untuk membawa sesuatu. Jadi kita membutuhkan dua tas kayu ini.” Kata Batari Mahadewi.


Keduanya melanjutkan perjalanan setelah selesai membuat tas dan membawa beberapa perbekalan seperti buah-buahan hutan serta beberapa kristal yang dikumpulkan Nala, yang mereka sembunyikan dalam buntalan daun. Selebihnya, mereka memadatkan tas itu dengan rerumputan agar isinya tak berhamburan sewaktu mereka melompat dari satu pohon ke pohon lain, atau sesekali terbang.


Tak jauh dari lereng gunung api yang sedari tadi membentang di depan mereka, akhirnya kedua pendekar muda itu menemukan sebuah desa. Semua warga desa itu memiliki rambut berwarna merah dan bertelinga runcing. Ketika Batari Mahadewi dan Nala memasuki desa tersebut, semua mata menatap keduanya dengan tatapan yang kurang bersahabat.


Tentu saja situasi semacam itu membuat Batari Mahadewi dan Nala merasa tak nyaman. Keduanya tetap melangkah dan berharap akan menemukan wajah-wajah yang sekiranya lebih bersahabat. Sayang sekali, harapan mereka meleset. Selang beberapa saat kemudian, sekelompok orang dari tiga penjuru tiba-tiba mengepung keduanya.

__ADS_1


__ADS_2