Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 143 Teror Manusia Perak #4


__ADS_3

Pancaran energi Nala terasa tipis, namun lelaki itu tak menampakkan diri. Batari Mahadewi khawatir Nala tak bisa kembali ke wujudnya semula. Namun gadis itu masih belum reda rasa khawatirnya karena manusia perak juga masih terpancar energinya. Tidak sekuat sebelumnya, namun manusia perak itu juga tak nampak.


Batari Mahadewi melesat ke angkasa. Dengan matanya yang berwarna perak itu, ia mampu melihat dalam kegelapan malam sebaik di siang hari. Ia melihat gumpalan-gumpalan perak bergerak perlahan dan menyatu. Sebelum makhluk itu kembali utuh, Batari Mahadewi menghujani gumpalan-gumpalan perak itu dengan  energi dari telapak tangannya yang melesat dalam bentuk kilat yang menyambar-nyambar.


Pukulan kilat itu adalah bentuk lain dari jurus tapak petir yang dilakukan dari jarak jauh. Zura, beberapa prajurit bawahannya serta tetua Sion tak mau melewatkan hal itu, mereka membantu Batari Mahadewi melenyapkan gumpalan-gumpalan perak yang bergerak perlahan untuk menjadi satu dengan lainnya. Hal itu bukan pekerjaan mudah karena gumpalan-gumpalan perak itu tersebar dan jumlahnya puluhan. Butuh energi besar untuk membuat gumpalan perak itu hangus dan menjadi abu.


Setelah pancaran energi manusia perak itu benar-benar hilang, barulah Batari Mahadewi mencari-cari Nala. Ia menajamkan penglihatannya dan melihat jutaan butir pasir bergerak perlahan dan berkumpul menjadi satu bagian utuh, dan kemudian tampaklah Nala yang telah kembali ke wujud aslinya.


Batari Mahadewi langsung melesat ke arah Nala, memandangnya sejenak lalu memeluk tubuh lelaki itu.


“Jangan berbuat seperti itu lagi.” Bisik Batari Mahadewi pelan.


“Kenapa…” kata Nala lirih, tenaganya habis dan tubuhnya menderita rasa sakit yang teramat sangat.


“Aku tak mau kehilanganmu. Aku tak mau sendirian di dunia tiga rembulan…” Jawab Batari Mahadewi.


“Maksudku…kenapa kamu memelukku seerat ini…tubuhku sakit…” kata Nala. Ucapan itu terdengar menjengkelkan bagi Batari Mahadewi. Lalu gadis itu melepaskan pelukannya. Nala tampak terengah-engah.


“Dasar bodoh! Cepat duduk, aku akan memulihkan energimu.” Kata Batari Mahadewi sedikit jengkel. Nala tersenyum geli, namun ia tak membantah perintah gadis cantik yang tampak cemberut di depannya itu.


Batari Mahadewi duduk bersila di belakang Nala, ia menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Nala, menyalurkan energi untuk memulihkan keadaan lelaki yang baru saja ia cemaskan itu.


“Terimakasih, Tari. Maaf aku tak setangguh itu untuk mengalahkan manusia perak.” Kata Nala pelan.


“Kau berusaha sangat baik, Nala. Jika tidak, makhluk itu mungkin masih belum terkalahkan. Hanya saja, jangan bertindak bodoh seperti itu lagi.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Kenapa?” goda Nala sambil tersenyum usil teringat hal yang sebelumnya dilakukan oleh Batari Mahadewi.


“Karena aku akan menyiksamu seperti ini!” Batari Mahadewi mencengkeramkan kedua tangannya ke pinggang Nala dengan sangat kuat sehingga memuat lelaki itu menjerit kesakitan. Hal itu membuat orang-orang pula api yang sedari tadi memperhatikan tingkah mereka berdua geleng-geleng kepala sambil tertawa ringan.


####


Keesokan harinya, Batari Mahadewi dan Nala mohon pamit kepada tetua Sion untuk melanjutkan perjalanan menuju kuil Api Suci.


“Terimakasih banyak atas bantuan kalian berdua. Aku sungguh tak menyangka, semalam kalian menjadi malaikat penyelamat kami.” Kata tetua Sion dengan Zura di sebelahnya.


“Kemampuan kalian sangat unik. Belum pernah aku melihat jurus-jurus semacam itu di pulau Api. Kami semua hanya memiliki jurus-jurus api.” Kata Zura.


“Kami juga berterimakasih atas penerimaan dan izin untuk kami menginap di sini. Sejujurnya, kami banyak belajar dari warga pulau Api.” Kata Nala.


“Benar sekali. Kami banyak belajar dari perjalanan kami ke berbagai wilayah. Jadi, jurus-jurus dan kemampuan kami tak hanya berasal dari dunia satu rembulan, melainkan juga berkembang pesat di dunia tiga rembulan.” Kata Batari Mahadewi.


Perkataan tetua Sion membuat kedua pendekar muda dari dunia satu rembulan sedikit salah tingkah. Setelah sekali lagi mengucapkan terimakasih, keduanya berangkat melanjutkan perjalanan. Mereka menyadari satu hal, semakin jauh mereka melangkah, maka semakin sulit tantangan yang harus mereka hadapi.


Perjalanan menuju pusat kota masih sangat jauh. Penyerangan itu ternyata tak hanya terjadi di desa tetua Sion. Batari Mahadewi dan Nala melewati sebuah desa lagi yang telah luluh lantak. Pertanda bahwa manusia perak berjumlah banyak, dan menyerang desa-desa yang mereka lewati.


“Apakah menurutmu, para pasukan manusia perak ini sedang menuju ke pusat kota?” tanya Nala.


“Seharusnya demikian. Jika nanti kita menemukan desa dengan nasib yang sama dengan di sini, artinye mereka menghancurkan setiap pemukiman yang mereka lewati.” Kata batari Mahadewi.


“Semoga saja desa tetua Sion tak kedatangan pasukan manusia perak lagi. Aku tak yakin bahwa desa itu tak akan di serang lagi.” Kata Nala.

__ADS_1


“Aku juga merasa khawatir, tapi kita tak punya pilihan lain selain harus segera pergi menuju ke kuil suci. Aku yakin, kita bisa banyak membantu setelah kita menyerap sumber energi utama yang ada di pulau ini, seperti yang dikatakan oleh guru Rapapu.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau benar, Tari. Semoga usaha kita tak mendapatkan banyak halangan.” Kata Nala.


“Seharusnya begitu, karena kita membawa niat baik, mungkin para penjaga kuil Api suci mengizinkan kita untuk menyerap sumber energi utama di sana. Lagipula, sumber energi itu tak akan habis meski kita menggunakannya ratusan kali.” Kata Batari Mahadewi.


“Tiba-tiba aku teringat satu hal, Tari.” Kata Nala.


“Hal apa itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Jika benar apa yang dikatakan oleh dewa yang berwujud sosok kecil yang kita jumpai pertama kali ketika kita datang di dunia ini, bahwa 10 tahun di sini setara dengan 1 tahun di dunia asal kita, menurutmu apa yang kini sedang terjadi di dunia asal kita?” tanya Nala.


“Terakhir kali kita di sana, kita sedang bertarung dan pertempuran di Swargadwipa belum selesai. Mungkin saat ini, kerajaan Swargadwipa sedang berbenah dan memperbaharui sumber daya pertahanan kerajaan mereka. Semestinya, korban yang mati di malam hari itu sangat banyak.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, seharusnya setelah kekalahan kera berbadan besar itu, pasukan dari pulau Neraka akan mundur dari pertarungan.” Kata Nala.


“Apakah semua pendekar pulau Neraka rata-rata memiliki ilmu siluman?” tanya Batari Mahadewi.


“Iya. Mungkin aku juga memilikinya, meski aku belum tahu.” Kata Nala.


“Ya, kau memilikinya. Tapi berbeda bentuknya. Kekuatanmu adalah kekuatan murni karena perubahan wujudmu adalah perubahan menjadi wujud bumi, bukan siluman-siluman seperti yang pernah kuhadapi.” Kata Batari Mahadewi, “Sadarkah kau, Nala, kau menyimpan energi yang sangat besar. Mungkin setara denganku. Hanya saja, dasar energimu adalah energi hitam. Kekuatanmu tak akan menimbulkan masalah jika kau bersikap seperti ini seterusnya.” Kata Batari Mahadewi. Gadis itu yakin, Nala kelak akan menjadi dewa kematian yang berpihak pada kebenaran.


Nala tak membalas kata-kata Batari Mahadewi. Ia berharap ia bisa menjadi seperti yang dikatakan gadis itu. Namun ia tak yakin. Ia tak pernah menceritakan lagi bahwa beberapa hari ini, dorongan jahat di dalam dirinya sering menghantuinya kembali.


“Mari kita lanjutkan perjalanan, Tari.” Kata Nala. Ia melesat cepat dan diikuti oleh Batari Mahadewi.

__ADS_1


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Meski harus berkejaran dengan waktu, namun mereka berdua mengurungkan niat untuk terbang dan mempersingkat waktu perjalanan. Bagaimanapun juga, jika mereka terbang, maka keberadaan mereka akan mudah dikatahui manusia perak yang ternyata juga mengincar Batari Mahadewi gara-gara sepasang pedang yang tertanam di tubuhnya.


__ADS_2