Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 84 Pendekar Siluman Buaya


__ADS_3

Murid pilihan Ki Cakra Jagad yang ditugaskan untuk pengintaian pada malam itu berjumlah 7 orang saja. Semua merupakan pendekar sakti yang telah melanglang buana di dunia persilatan selama kurang lebih 50 tahun. Semua adalah pendekar laki-laki dengan kemampuan dan jenis kesaktian yang berbeda-beda.


Tujuh orang itu membawahi beberapa pendekar yang lebih muda yang menjadi guru di padepokan Lentera Langit. Untuk mengurusi murid sebanyak 2500 tentu bukan hal yang mudah dan dibutuhkan guru yang banyak pula. Tidak semua murid tersebut akan lahir sebagai pendekar sejati.


Hanya yang berbakat saja yang akan terus belajar dan mendapatkan kehormatan untuk belajar langsung dengan Ki Cakra Jagad. Sisanya, hanya akan menjadi pendekar biasa, atau seseorang yang mengenal ilmu bela diri dengan baik dan pengetahuan itu bisa dijadikan modal untuk melamar pekerjaan sebagai prajurit.


Batari Mahadewi, Jalu dan Niken mengenali sosok ke 7 murid ki Cakra Jagad yang telah berada di pelataran perguruan Tongkat Sakti. Mereka datang lebih cepat sebelum Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya tiba di sana. Ke tujuh murid Ki Cakra Jagad itu bersama dengan guru besar perguruan Tongkat Sakti, yakni Ki Bangun Jiwa, telah berhadapan dengan Pendekar Siluman Buaya.


Sementara, para murid perguruan Tongkat Sakti dan anak buah pedekar Siluman Buaya telah saling menikam di sekitar pelataran tersebut. Jumlah yang tak seimbang itu membuat para pendekar perguruan Tongkat Sakti tampak kewalahan dan hanya bisa bertahan saja sebelum nyawa mereka melayang.


Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya langsung bergabung dengan Ki Bangun Jiwa dan tujuh murid Ki Cakra Jagad. Pendekar Siluman Buaya tampak bimbang. Meski ia sangat sakti, namun ia sadar bahwa ia tak punya peluang menang menghadapi para pendekar sakti sebanyak itu. Ia tak mengira akan ada bantuan dari perguruan Lentera Langit.


“Kalian ini pendekar aliran putih yang telah memiliki reputasi. Apakah kalian akan mengeroyokku malam ini? Tentu saj kalian bisa menang. Tapi itu akan menjadi aib.” Kata pendekar Siluman Buaya mencoba untuk bernegosiasi. Ia yakin masih bisa menang andaikan ia bertarung satu lawan satu.


“Cukup aku saja yang menghadapimu. Kau tak lebih pengecut. Melakukan serangan mendadak dengan pasukan sebanyak itu.” Kata Ki Bangun Jiwa menantang pendekar Siluman Buaya untuk bertanding satu lawan satu.

__ADS_1


“Baiklah paman guru, kalau begitu kami dari perguruan Lentera Langit akan membantu mengenyahkan para pendekar aliran hitam lainnya. Ketujuh pendekar dari perguruan Lentera Langit itu langsung bergerak tanpa menunggu tanggapan dari Ki Bangun Jiwa.


“Kak Jalu dan kak Niken, bantulah rekan-rekan kita di sana. Aku akan berjaga-jaga mengawasi pertarungan antara pendekar Siluman Buaya dan paman Ki Bangun Jiwa.” Kata Batari Mahadewi. Ketiganya kemudian beranjak menjauh. Batari Mahadewi memilih untuk berada tak jauh dari pertarungan Ki Bangun Jiwa melawan pendekar Siluman Buaya. Sementara kedua kakak seperguruannya telah bergabung dengan para murid dari perguruan Tongkat Sakti.


Ki Bangun Jiwa mengeluarkan pancaran energinya, mengalirkannya ke tangan kanannya dan sekejap kemudian muncul sebuah tongkat cahaya berwarna biru di tangan kanannya. “Kini kita bertarung seperti harapanmu. Bersiaplah, pendekar Siluman Buaya.” Kata Ki Bangun Jiwa.


Pendekar Siluman Buaya juga mengerahkan energinya yang tak kalah besar dan menakutkan. Tubuhnya diselimuti oleh asap hitam beracun. Bau anyir semerbak di udara. Ki Bangun Jiwa langsung menyerang pendekar Siluman Buaya dengan kecepatan tinggi. Ia memainkan tongkat energinya dengan sangat indah. Rangkaian pukulan tongkat datang bertubi-tubi menghujam tubuh Siluman Buaya yang bertahan dengan kulit kerasnya itu. Sesekali ia hanya menghindar dan tertawa menyeringai penuh ancaman.


Pukulan-pukulan Ki Bangun Jiwa seolah tak ada artinya. Tubuh Siluman Buaya itu mampu menahan semua pukulan tongkat Ki Bangun Jiwa. Kini wajah Ki Bangun Jiwa tampak kebingungan menghadapi situasinya. Ia tak menyangka bahwa Pendekar Siluman Buaya akan memiliki kesaktian seperti itu.


Sementara itu, Jalu dan Niken telah melumpuhkan puluhan pendekar aliran hitam. Tanpa sungkan, Jalu mencoba untuk mengerahkan energi apinya dari seluruh tubuhnya. Pertarungan itu merupakan yang pertama kalinya setelah ia mengenakan pakaian baru dari sisik siluman naga api. Tubuhnya yang menyala itu seketika menjadi terror bagi semua orang, khususnya para lawan-lawannya. Para murid Ki Cakra Jagad takjub melihat perubahan tubuh Jalu.


Hanya dengan sekali serangan, Jalu telah membabat habis belasan pendekar aliran hitam yang ada di hadapannya.


“Kekuatan kakak meningkat jauh lebih cepat dengan pakaian itu.” Kata Niken yang berada tak jauh darinya. “Sepertinya aku juga harus memamerkan jurus baruku kepada kakak. Tapi setelah ini, kak Jalu harus melindungiku memulihkan tenaga.” Lanjut Niken.

__ADS_1


“Jurus apa itu?” kata Jalu. Niken belum menceritakan gambaran seutuhnya tentang jurus baru yang ia pelajari dari pendekar Syair Kematian.


“Lihat ini, kak Jalu.” Niken kemudian memancarkan energinya, lalu ia menciptakan gelombang bunyi misterius bersamaan dengan nyanyian yang ia senandungkan. Puluhan pendekar hitam yang menjadi incarannya tiba-tiba kehilangan kesadarannya, mereka memejamkan mata, tersenyum dan mulai menari seolah mereka sedang merasakan puncak kenikmatan hidup. Tak lama setelah itu, mereka melepaskan nyawa dalam damai, dalam tidur abadi.


Jalu sangat terpukau dengan kemampuan Niken. Tapi dengan segera ia buru-buru menahan tubuh Niken yang hampir saja ambruk. Niken belum memiliki kapasitas energi yang besar untuk menggunakan jurus itu sepenuhnya untuk melumpuhkan puluhan pendekar.


Dengan tangkas, Jalu menyalurkan energinya ke tubuh Niken dan selang beberapa saat, kondisi Niken telah jauh lebih baik.


“Adik tidak apa-apa?” tanya Jalu sedikit cemas.


“Aku baik-baik saja, kak Jalu. Jangan terlalu jauh dariku. Kita lanjutkan pertempuran ini.” Kata Niken.


“Batari Mahadewi cukup senang melihat perkembangan kedua kakak seperguruannya itu. Sedari tadi ia hanya memantau pertarungan semua pendekar yang ada di sana. Ia menunggu saat yang paling tepat untuk menghadapi pendekar Siluman Buaya tanpa harus membuat Ki Bangun Jiwa merasa tersinggung.


Ki Bangun Jiwa sudah sangat kewalahan menghadapi serangan-serangan mematikan dari pendekar Siluman Buaya. Tiap-tiap serangan itu mengandung racun yang berbahaya. Tubuh Ki Bangun Jiwa gemetar hebat karena harus menahan racun dengan tenaga dalamnya. Pandangannya mulai mengabur. Dalam kesempatan itu, pendekar Siluman Buaya bersiap mengerahkan salah satu jurus yang paling ia sukai untuk mencabut nyawa lawan tandingnya.

__ADS_1


Hari ini sampai di sini dulu ya teman-teman. Aku akan menyiapkan chapter selanjutnya. Sampai bertemu besok di episode yang baru. Terimakasih atas segala dukungannya dan waktunya untuk membaca kisah ini.


__ADS_2