
Sementara itu, Niken dan beberapa prajurit Balai Kota menunggu serangan susulan dari arah barat. Sedari tadi ia gelisah karena menangkap pancaran energi yang kuat dari pertarungan antara Batari Mahadewi dengan Pendekar Bayangan Siluman. Meski ia sangat ingin datang membantu, tapi ia tak boleh
sekalipun meninggalkan wilayah yang harus ia jaga.
Kelompok Kelelawar Hitam sedang menunggu tanda penyerangan dari Bayangan
Siluman. Sayang sekali tanda itu tak juga muncul. Ia gelisah karena harus menunggu lama. ‘Apakah dia terlalu senang bertarung sehingga lupa memberi tanda? Atau dia dalam masalah? Ah, sepertinya tak mungkin. Andaikan dia seorang diri menyerang Balai Kotapun tak akan jadi masalah berarti baginya. Sebaiknya aku serang saja sekarang.’ Batin Pendekar Kelelawar Hitam mulai tak sabar.
“Ayo kita serang!” teriak Kelelawar Hitam.
Pasukan Kelompok Kelelawar Hitam mulai menyerang. Mereka melompati tembok Balai Kota bagian barat dengan lincah dan tanpa masalah. Namun mereka tidak menduga bahwa di balik tembok itu, Niken telah menunggu untuk membuat mereka semua menjadi bongkahan daging beku.
Begitu para anggota kelompok Kelelawar Hitam mulai berdatangan, Niken tak mau menunggu lama. Ia kerahkan kemampuannya untuk menghalau sebanyak mungkin
musuh di depannya dan menjaga agar pasukan yang ia pimpin tak banyak yang
kehilangan nyawa.
“Kalian menjauh dariku dan mulai berpencar. Halau mereka semampu yang kalian bisa.” Kata Niken memperingatkan agar pasukannya sendiri tak akan terkena imbas dari kekuatan yang akan ia kerahkan untuk melumpuhkan musuh-musuhnya.
Begitu pasukan yang ia pimpin telah membuat jarak, Niken mulai membuat
kristal-kristal es bening dan tajam di sekeliling tubuhnya, lalu ia
menghujamkannya ke arah lawannya. Para pasukan Kelompok Kelelawar Hitam tak
menyangka bahwa mereka akan mendapat hujan es yang tak bisa mereka hindari.
Mereka juga harus membuat perisai energi apabila tak ingin tertusuk oleh kristal-kristal e situ.
Dari serangan mendadak itu, setidaknya separuh pasukan Kelelawar Hitam
__ADS_1
yang tak siap dengan serangan es itu tumbang begitu kaki mereka menyentuh
tanah. Sisanya hanya bisa diam berlindung di balik perisai energi yang mereka ciptakan.
Prajurit Balai Kota yang sejak tadi bersiap tak mengira bahwa gadis cantik yang memimpin mereka itu adalah monster yang bisa melumpuhkan puluhan pendekar hitam dengan sangat mudah. Mereka kagum sekaligus ngeri membayangkan kalau serpihan es seukuran batu-batu kecil itu menembus kepala mereka.
Kelelawar Hitam tak tinggal diam melihat anak buahnya dihabisi dengan mudahnya oleh Niken. Maka ia mengerahkan salah satu jurus andalanya, yakni Seribu Kelelawar Penabut Nyawa. Dengan tenaga dalam miliknya, ia menghasilkan suara gelombang tinggi untuk mengumpulkan seluruh kelelawar di kota Kaki Langit.
Dalam waktu singkat, ribuan kelelawar itu mulai datang dan seolah mengerti perintah Pendekar Kelelawar Hitam, ribuan kelelawar itu mulai menyerang Niken dan prajurit yang ia pimpin. Hal ini sungguh merepotkan Niken.
Meski ia melontarkan serangan-serangan kristal es dengan kecepatan tinggi, masih banyak kelelawar yang lolos dari serangan itu.
Ribuan kelelawar itu tak begitu berbahaya mengingat mereka semua hanyalah binatang lemah. Namun jumlah kelelawar yang banyak itu bisa mengalihkan perhatian Niken dan pasukannya. Kesempatan itu tak disia-siakan
oleh Pendekar Kelelawar Hitam. Dengan cepat ia melontarkan jarum-jarum beracun
ke arah Niken.
‘Kurang ajar. Dia bisa membaca seranganku.’ Batin Pendekar Kelelawar Hitam. Lalu ia mulai melesat dengan kecepatan tinggi menghindari jarum-jarum racun miliknya dan menyerang Niken dari jarak dekat dengan pukulan bertenaga dalam tinggi. Niken tak mau kelihangan fokus, sedari awal ia memusatkan perhatiannya pada gerak-gerik Kelelawar Hitam. Niken menyambut pukulan itu dengan ilmu Tapak Es.
Kedua pukulan bertenaga dalam tinggi itu menciptakan energi kejut yang luar biasa. Imbasnya, ribuan kelelawar yang di datangkan oleh Pendekar Kelelawar Hitam akhirnya pergi menjauh. Sisanya adalah pasukan Kelelawar Hitam yang bertempur dengan pasukan Niken. Sejenak kedua kubu itu kaget dengan dentuman energi di sebelah mereka, namun kemudian mereka melanjutkan pertarungan mereka lagi.
Energi Niken mulai terkuras karena sejak tadi ia mengerahkan banyak energi untuk menciptakan serangan es. Nafasnya mulai tak teratur. Kelelawar membaca situasi itu dan timbul harapan baginya untuk menang meski ia menahan sakit karena tangan kanannya saat ini membeku dan tak bisa digerakkan, setidaknya ia masih bisa melakukan satu serangan mematikan lagi yang barangkali tak bisa ditahan oleh Niken.
Mata Niken berkunang-kunang setelah mengeluarkan energi yang sangat
besar untuk menghasilkan pukulan Tapak Es. Darah segar mulai mengalir dari bibirnya. Ia menghisap energi sebanyak yang ia mampu dari sekelilingnya dan bersiap untuk menghadapi serangan Kelelawar Hitam berikutnya. Ia tak bisa sepenuhnya pulih dari situasinya. ‘Apabila seranganku kali ini gagal, maka aku tak bisa menang. Masih ada harapan. Semoga Kelelawar Hitam tak menduga serangan yang aku berikan…tapi sebaiknya aku menunggu Kelelawar Hitam menyerang lebih dahulu.’ Batin Niken.
Pendekar Kelelawar Hitam kembali menyerang Niken dengan salah satu jurus
andalannya, Pukulan Racun Kelelawar. Ia melesat dan mengayunkan tangan kirinya
__ADS_1
ke arah Niken. Tangan kanan Pendekar Kelelawar Hitam yang membeku itu
membuatnya tak bisa berbuat banyak. Ia harus menyerang dengan tangan kirinya
sembari menahan sakit yang teramat sangat di tangan kanannnya.
Niken tak bergerak ketika Kelelawar Hitam menyerangnya. Kelelawar Hitam
mengira Niken sudah tak mampu lagi bergerak untuk menangkal serangannya. Ia
salah besar karena terlalu percaya diri dan kewaspadaanya menurun. Ketika
pukulannya sudah sangat dekat dengan tubuh Niken, dengan cepat niken
menggunakan tenaga terakhirnya untuk melontarkan sebuah kristal es kecil yang
berisi tenaga dalam besar.
Kristal es itu menembus kepala Kelelawar Hitam sebelum tangan kirinya mengenai Niken yang jaraknya hanya sejengkal itu. Kelelawar Hitam mati seketika dan ambruk di sebelah kaki Niken. Kini Niken benar-benar kehabisan tenaga. Ia bahkan tak yakin bisa menghadapi sisa anak buah Kelelawar Hitam.
Sungguh suatu keberuntungan, nyali anggota Kelelawar Hitam mendadak ciut ketika mereka tahu pemimpinnya telah mati. Tanpa aba-aba, mereka kabur secepat yang mereka bisa. Niken duduk di tanah. Badannya masih gemetar. Ia tak percaya bisa memenangkan pertarungan itu dan mengirim Kelelawar Hitam ke neraka. Ia berusaha memulihkan energinya secepat yang ia bisa. Ia menangkap pancaran energi dari Jalu dan Batarai Mahadewi yang masih sibuk bertempur.
Niken ingin sekali segera beranjak ke sana. Namun kondisi tubuhnya memaksanya untuk duduk diam menyerap energi bumi sebanyak-banyaknya. ‘kak Jalu, Adik Batari…tunggulah….aku akan segera ke sana….’
#######
Halo teman-teman, kali ini aku ingin menyapa di episode ke 30. Sungguh senang teman-teman sudah mengikuti episode demi episode sejauh ini. Rencananya, jika tak banyak halangan, aku akan setiap hari up date.
Tentu ada yang harus dikorbankan ketika menyisihkan waktu untuk menulis cerita ini, jadi sebagai penyemangat, mohon dukungan teman-teman untuk nge-like cerita ini per episode, komen, dan kalau boleh, bagi vote dong.
Semoga teman-teman pembaca sekalian selalu dikaruniai sehat, keslamatan, rejeki, dan kebahagiaan. aminnn.
__ADS_1