
Ketika hari telah sore, Batari Mahadewi, Jalu dan Niken akhirnya sampai di perguruan Lentera Langit. Perguruan itu merupakan perguruan aliran putih tertua di kota Mutiara Biru sekaligus menjadi perguruan yang terbesar di sana. Ketiga murid ki Gading Putih itu kagum melihat luasnya perguruan itu dengan fasilitas bangunan yang megah. Murid-murid akan menempati blok bangunan sesuai dengan jenis kelamin serta kelasnya masing-masing.
Perguruan itu dibagi menjadi 3 kelas. Kelas yang pertama adalah murid-murid junior yang berusia mulai dari 7 tahun hingga 15 tahun. Kelas kedua merupakan murid-murid yang berusia 16 tahun hingga 25 tahun, dan kelas ketiga merupakan murid-murid yang berusia 26 tahun ke atas. Setidaknya, jumlah keseluruhan murid dari ketiga kelas itu adalah 2500 siswa yang berasal dari berbagai penjuru daerah.
Banyak orang yang berminat untuk belajar di peguruan itu karena satu alasan khusus, yakni setelah selesai belajar di perguruan itu, para murid bisa melamar pekerjaan sebagai prajurit, baik prajurit balai kota ataupun prajurit kerajaan pusat yang akan ditempatkan ke berbagai wilayah kekuasaan Swargadwipa. Kiprah Ki Cakra Jagad dalam dunia persilatan, serta jasa-jasanya bagi kerajaan, membuat murid-muridnya selalu mendapatkan pekerjaan di kerajaan.
Di perguruan itu, terdapat 200 pendekar senior yang menjadi guru untuk mengajar 2500 siswa di sana. Sementara, Ki Cakra Jagad sudah tak pernah mengajar lagi untuk para murid itu. Ki Cakra Jagad hanya mengajarkan ilmunya kepada para guru di perguruan itu.
Sesampainya di gerbang perguruan Lentera Langit, dua pendekar penjaga menyambut kedatangan ketiga murid Ki Gading Putih.
“Selamat datang di perguruan kami, adakah yang bisa kami bantu?” tanya salah seorang penjaga itu dengan ramah.
“Kami dari padepokan Cemara Seribu. Kami diutus oleh guru kami, Ki Gading Putih, untuk bertemu dengan paman Cakra Jagad dan menyampaikan titipan dari guru kami.” Kata Jalu sambil tersenyum ramah.
“Wah, tamu dari jauh. Mari silahkan masuk. Pasti kalian sangat lelah dari perjalanan jauh. Silahkan menunggu di ruang tamu. Kami akan segera menyampaikan kedatangan kalian kepada guru besar kami.” Sambut salah satu dari penjaga itu.
Batari Mahaewi, Jalu dan Niken beristirahat di ruang tamu yang cukup luas itu yang bisa dipergunakan untuk menampung sekitar 50 orang. Terdapat dua meja yang panjang beserta kursinya yang diletakkan di tengah ruangan. Meja itu sekaligus menjadi meja makan saat perguruan Lentera Langit menjamu para tamu. Selagi mereka menunggu, dari luar tampak para murid junior sedang berlatih beladiri.
Selang beberapa saat kemudian, salah satu penjaga yang menyambut Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya itu datang.
__ADS_1
“Mari saudara dan saudariku, guru besar kami menunggu di pondok kediamannya. Akan saya antarkan kalian menuju ke sana.” Kata lelaki itu seraya berjalan menuju ke salah satu bangunan yang terpisah dengan bangunan lainnya di dalam area perguruan itu.
Seorang kakek tua dengan pakaian serba putih yang serasi dengan warna rambut dan jenggotnya telah berdiri menunggu Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya di luar ruangannya. Batari Mahadewi mengenali sosok itu, yakni seseorang yang terbang dengan kecepatan kilat selagi ia dan kakak seperguruannya sedang berjalan menuju perguruan Lentera Langit.
“Selamat datang, sungguh satu kehormatan bagiku kedatangan tamu murid-murid sahabat lamaku, mari masuk ke dalam ruanganku.” Ki Cakra Jagad menyambut ketiga murid ki Gading Putih dengan tak kalah ramah dari para penjaga gerbang. Hal itu meninggalkan kesan bahwa perguruan ini memang sangat ramah kepada siapapun dan keramahan inilah yang justru disegani dan dihormati oleh banyak orang.
“Terimakasih paman, perkenalkan, saya Jalu dan kedua adik perguruan saya ini adalah Batari Mahadewi dan Niken.” Kata Jalu memperkenalkan diri.
“Bagaimana kabar guru kalian? Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya.” Kata Ki Cakra Jagad.
“Semoga guru kami selalu dalam keadaan baik. Sudah hampir empat bulan kami menempuh perjalanan untuk sampai ke sini. Seharusnya kami bisa datang lebih cepat, tapi bayak hal yang kami alami selama perjalanan.” Kata Jalu.
“Ya, paman. Kami berada di sana waktu itu.” jawab Jalu.
“Berarti benar kabar itu. Kalian murid-murid yang hebat. Aku iri dengan gurumu, meski menyepi di hutan dan punya sedikit murid, tapi semua muridnya adalah pendekar hebat. Aku pernah bertemu dengan kakak seperguruan kalian. Mereka berhasil menumpas para pendekar hitam yang membuat kekacauan di wilayah utara.” Kata Ki Cakra Jagad.
“Kami malah sudah lama sekali tak bertemu dengan kakak-kakak seperguruan kami. Adik Batari Mahadewi ini malah belum pernah bertemu sama sekali sejak ia diangkat murid oleh guru.” Kata Jalu.
Ki Cakra Jagad melihat ke arah Batari Mahadewi, “Inikah sosok legendaris baru yang sedang banyak diperbincangkan itu? Ki Elang Langit bercerita padaku tentangmu.” Kata Ki Cakra Jagad kepada Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Paman sudah bertemu Ki Elang Langit?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, beberapa waktu yang lalu. Kami membahas pergerakan pendekar aliran hitam yang mencurigakan. Kabarnya, para pendekar hitam dari pulau Neraka sedang dalam perjalanan menuju ke wilayah Swargadwipa. Ada hal yang tak masuk akal jika mereka sampai terlibat karena urusan balas dendam di masa lalu. Seharusnya, ini hanyalah urusan pendekar aliran hitam dan putih di wilayah Swargadwipa. Aku khawatir persoalan ini lebih dari sekedar urusan balas dendam.” Kata Ki Cakra Jagad.
“Tadi saya sempat melihat pergerakan pendekar aliran hitam di kota ini, paman. Dan ini adalah hal lain yang ingin saya sampaikan kepada paman. Nanti malam, salah satu perguruan aliran putih di kota ini akan diserang.” Kata Batari Mahadewi.
“Berarti itu hanya pancingan. Entah apa tujuannya, tapi kalau hanya menyerang satu perguruan kecil, itu sungguh suatu strategi bodoh. Seharusnya tidak demikian karena mereka pasti menyadari, satu serangan kecil itu tak akan berarti apa-apa dan justru akan membahayakan mereka.” Kata Ki Cakra Jagad.
“Mungkin mereka hanya ingin menebar teror untuk mengalihkan perhatian. Jika demikian, seharusnya serangan itu tak akan terjadi sekali. Mungkin beberapa kali dalam waktu dekat.” Kata Batari Mahadewi.
“Apakah kalian tahu perguruan manakah yang akan diserang?” tanya Ki Cakra Jagad.
“Saya belum tahu perguruan mana yang akan dijadikan sasaran, paman. Tapi seharusnya perguruan itu dekat dengan peguruan Lentera Langit. Pastinya, mereka ingin mencoreng nama baik dari perguruan ini. Jika rencana mereka berhasil, dan mereka berhasil menumpas perguruan itu secara diam-diam, tentu perguruan Lentera Langit akan dianggap lalai.” Kata Batari Mahadewi.
“Kau benar sekali, gadis kecil. Tak kusangka kau juga memiliki pemikiran yang cerdas.” Puji Ki Cakra Jagad.
“Paman, salah satu tujuan utama kami datang ke sini adalah untuk menyerahkan titipan ini.” Kata Jalu sambil menyerahkan buntalan yang berisi sebuah kitab. Ki Cakra Jagad membuka buntalan itu dan memandangi isinya, lalu mulai membuka segel-segel ghaib yang melindungi kitab itu.
“Ini adalah Kitab Obat Dewa!!!” kata Ki Cakra Jagad.
__ADS_1