Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 142 Teror Manusia perak #3


__ADS_3

Malam yang hening itu tiba-tiba pecah dengan suara jerit dan lolongan warga desa yang tiba-tiba diserang oleh para makhluk bertubuh perak. Kira-kira, sekitar dua puluh lima orang manusia perak menghancurkan dan membantai warga yang mereka temui.


Tentunya, beberapa warga desa juga tak mau terbunuh begitu saja. Mereka melakukan perlawanan dengan serangan-serangan api. Namun energi kecil yang mereka miliki hanya membuat serangan mereka terasa seperti percikan api kecil meski jika di dunia satu rembulan, serangan semacam itu sudah cukup mengerikan.


Tetua Sion, Zura, Batari Mahadewi, Nala dan beberapa prajurit kerajaan lainnya langsung tanggap dengan kehadiran manusia perak yang telah ditunggu-tunggu itu. Tentu saja, kedatangan manusia-manusia perak itu tak pernah diharapkan meski pada kenyataannya mereka benar-benar menunggu, tegang dalam penantian dan telah siap dengab segala rencana untuk bertahan, melawan, atau melarikan diri.


Zura dan para prajurit kerajaan pulau api berubah menjadi manusia api. Hanya Zura yang memiliki energi tertinggi diantara para prajurit itu. Mereka terbang untuk menyerang para manusia perak dari angkasa dengan semburan-semburan api panas yang mereka curahkan dari telapak tangan mereka.


Sementara itu, tetua Sion, meski tak bisa berubah sepenuhnya menjadi manusia api, namun ia adalah seseorang yang sangat berani dan memiliki jurus-jurus unik yang ia lakukan dengan sangat cepat. Ia dibantu dengan beberapa warga lainnya yang menjadi kaki tangannya dalam mengurusi keamanan desa.


Serangan pada malam hari itu jauh berbeda dengan serangan di malam sebelumnya. Semua penghuni di desa itu sudah siap untuk di serang, sehingga manusia perak tak bisa dengan mudah membantai semua warga desa.


Batari Mahadewi memancarkan seluruh energinya yang tak hanya membuat para manusia perak langsung memberikan perhatian padanya, namun juga membuat para prajurit kerajaan serta beberapa warga yang ikut bertempur sedikit kaget; mereka tak menyangka gadis cantik dari dunia satu rembulan itu setidaknya memiliki energi terbesar di antara mereka semua.

__ADS_1


Nala dengan seluruh kekuatannya menjerat kaki para manusia perak dengan tanah yang ia kendalikan. Hal itu mempermudah Batari Mahadewi dan lainnya untuk melontarkan serangan-serangan mematikan. Serangan Nala dan Batari Mahadewi merupakan perpaduan yang indah. Nala sanggup untuk menghambat gerakan lawan, sementara Batari Mahadewi memiliki kecepatan dan kekuatan yang luar biasa untuk merobohkan lawan-lawannya.


Hanya saja, para manusia perak sulit untuk dibunuh jika hanya menggunakan energi yang tak cukup besar. Bahkan pukulan petir Batari Mahadewi hanya membuat mereka terpental, lalu bangkit lagi dan membalas serangan.


Dua puluh lima manusia perak itu tak bisa melakukan banyak serangan balasan. Namun mereka semua menciptakan suatu kejutan. Tubuh mereka tiba-tiba meleleh. Sejenak semua orang berhenti menyerang untuk meyaksikan apa yang sedang terjadi. Beberapa mengira bahwa manusia-manusia perak itu telah kalah karena panasnya serangan api membuat mereka meleleh. Sayang sekali perkiraan itu benar-benar salah.


Manusia-manusia perak yang meleleh itu bergabung menjadi satu tubuh. Ukuran mereka tidaklah besar, bahkan hanya seukuran manusia api. Namun energi mereka setara dengan energi dua puluh lima manusia perak dan tubuh mereka lebih keras dua puluh lima kali. Sehingga, serangan-serangan dari pasukan kerajaan dan para warga sama sekali tak mempan ketika membentur tubuh manusia perak itu.


Kini Batari Mahadewi dan Nala menjadi sedikit khawatir. Kekuatan gabungan manusia perak itu setara dengan manusia setengah elang yang telah bertarung dengan guru Xima.


“Kita masih seimbang. Setidaknya, jumlah kita lebih banyak. Aku akan menahan pergerakan manusia perak itu sekuatku, kau carilah celah untuk menghabisinya. Jangan gunakan jurus pamungkasmu jika manusia perak itu belum benar-benar melemah energinya. Aku khawatir makhluk itu tidak mati dengan jurusmu itu.” kata Nala. Belum sempat ia mengatur langkahnya, tiba-tiba makhluk perak itu telah berada di sebelahnya, lalu memukul Batari Mahadewi dengan kekuatan tinggi hingga membuat gadis sakti itu terpental jauh, menabrak dinding rumah sekaligus membuat rumah itu hancur berantakan.


Nala langsung melompat untuk menjauhi makhluk perak itu. Zura melesat cepat dan mengayunkan pedang apinya yang berwarna biru menyala. Serangan Zura yang dahsyat itu hanya membuat ledakan tanpa menimbulkan luka sedikitpun di tubuh manusia perak. Anehnya, manusia perak itu tak membalas serangan Zura. Ia juga tampak tak peduli dengan siapapun yang ada di sana kecuali satu, Batari Mahadewi.

__ADS_1


Manusia perak itu melesat ke tempat Batari Mahadewi terlempar jauh, lalu menghujamkan pukulan energi yang berbentuk sinar perak melalui telapak tangannya. Batari Mahadewi berhasil menghindar sebelum sinar perak itu mengenai tubuhnya. Dengan tiba-tiba, tubuh Batari Mahadewi telah ada di belakang manusia perak, lalu gadis jelmaan pusaka dewa itu mengayunkan cakarnya yang runcing dan panjang itu ke punggung manusia perak.


Lima buah goresan yang cukup dalam itu menghiasi tubuh manusia perak. Namun hanya dalam waktu singkat, luka goresan itu menutup kembali. Batari Mahadewi melompat menjauh sebelum manusia perak itu melakukan serangan balasan.


“Kembalikan pusaka suci kami?!” kata makhluk perak itu.


Akhirnya Batari Mahadewi tahu alasan makhluk itu mengincar dirinya. Batari Mahadewi tak menjawab, gadis berkuku tajam itu kembali menghilang dan tiba-tiba muncul di belakang manusia perak dan langsung menghujamkan cakarnya yang panjang untuk memenggal leher manusia perak itu. Sayang sekali serangan kedua itu gagal.


Manusia perak itu segera menghentakkan pancaran energinya sebelum Batari Mahadewi menebaskan kuku-kukunya yang tajam itu sehingga gadis cantik itu kembali terpental jauh. Manusia perak itu langsung melesat menyusul Batari Mahadewi yang masih belum bisa menguasai tubuhnya yang terlempar karena hentakan energi yang baru saja ia terima. Nala tak mau tinggial diam, ia merubah dirinya menjadi naga pasir yang bergerak cepat untuk melilit tubuh manusia perak.


Nala berhasil mencengkeram tubuh manusia perak itu, lalu ia menguatkan lilitannya sekaligus mencoba untuk menyerap energi dari manusia perak itu. Salah satu kekuatan baru yang belum disadari oleh Batari Mahadewi adalah Nala mampu menyerap energi lawannya ketika ia berubah menjadi bentuk lain, seperti misalnya naga pasir atau gumpalan pasir yang menempel di tubuh lawan-lawannya. Manusia perak itu terlihat tidak nyaman. Berulang kali ia berusaha melepaskan diri dari lilitan pasir di sekujur tubuhnya, namun lilitan itu semakin bertambah kuat seiring Nala menyerap energi lawannya.


Namun Nala juga tak menduga bahwa manusia perak itu memiliki cara untuk melepaskan diri sekaligus memberikan serangan balasan yang mengerikan. Manusia perak itu meledakkan diri dan membuat Nala yang mengubah tubuhnya dalam bentuk naga pasir itu tercerai berai berhamburan di angkasa. Batari Mahadewi yang menyaksikan peristiwa itu tak bisa menahan diri untuk tidak menjerit.

__ADS_1


“NALAAAAA….”


__ADS_2