
Meskipun Batari Mahadewi dan kedua makhluk iblis itu lebih sering bertarung di udara, namun kondisi di bawah sungguh berantakan. Pohon-pohon tumbang dan banyak lubang besar di tanah yang kelak akan menjadi semacam danau kecil yang akan terisi air hingga ke permukaan jika musim hujan. Tak akan ada yang sudi untuk menutup lubang-lubang itu dengan tanah sebab lubang-lubang besar itu tidaklah dangkal.
Dua makhluk iblis itu tampak kelelahan setelah bertarung dengan Batari Mahadewi dalam waktu yang cukup lama. Gadis jelmaan pusaka dewa itu juga tak bisa dengan mudah menumbangkan kedua lawannya. Mereka berdua seolah sudah terlatih untuk menciptakan formasi pertarungan dua lawan satu. Entah kapan mereka latihan, sebab sebelumnya mereka tak pernah bertemu hingga sang ratu membebaskan mereka berdua dan menugaskan mereka untuk mencari Batari Makahdewi ke pulau Siwarkatantra.
Menggabungkan tubuh untuk menjadi makhluk yang lebih kuat lagi bukanlah hal yang disukai oleh kedua makhluk iblis itu. Alasannya sederhana saja. Diam-diam Bara jijik dengan Canu begitupun sebaliknya. Keduanya sama-sama tak rela bergabung dengan makhluk yang menjijikkan. Ya, mereka berdua itu!
Maka satu-satunya cara untuk melawan gadis jelmaan pusaka dewa itu adalah salah satu dari mereka akan berkorban untuk sementara waktu.
Bara akan mencari celah untuk menangkap dan mengunci gadis jelmaan pusaka dewa itu. Itulah rencananya. Usahanya berhasil setelah Canu mati-matian untuk berusaha mengalihkan perhatian Batari Mahadewi agar tak memperhatikan gerak-gerik Bara.
Setelah Bara berhasil menangkap tubuh gadis jelmaan pusaka dewa itu dari belakang dan menguncinya sekuat tenaga hingga matanya hampir copot dan lendir di mulutnya tersembur-sembur (hal ini sungguh membuat Batari Mahadewi ingin muntah dan berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman Bara—lebih tepatnya pelukan Bara), Canu segera menunaikan tugasnya. Ia melesat cepat dan menelan tubuh Batari Mahadewi dan Bara. Betapa sungguh! Dipeluk Bara dan ditelan Canu merupakan pengalaman paling menjijikkan yang pernah dialami oleh Batari Mahadewi sejauh ini. Itu lebih buruk daripada masuk di sebuah ruangan yang penuh dengan kotoran onta.
Setelah monster berkepala ikan lampu bawah laut itu berhasil menelan Batari mahadewi dan Bara, maka dengan cepat ia berusaha mencerna kedua sosok yang telah bersarang di dalam perutnya itu. Canu cukup nekat dan tak memikirkan dampak buruk menelan tubuh gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Seketika, organ pencernaan makhluk busuk itu berhenti bekerja. Canu meronta sekuat tenaga menahan sakit. Perutnya yang lentur seperti balon itu tiba-tiba membesar dan terus membesar. Wujudnya sungguh seperti balon udara yang bergoyang-goyang di angkasa. Menyeramkan sekaligus terlihat lucu.
__ADS_1
Namun benda lucu di angkasa itu tak bertahan lama setelah meledak di langit. Ledakan yang sungguh serius. Tubuh Bara dan Canu hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang perlahan jatuh dari langit.
Satu-satunya cara untuk lepas dari perut monster itu sekaligus mensterilkan tubuhnya dari milyaran bakteri dan virus yang menempel di tubuhnya adalah dengan berubah menjadi manusia api.
Setelah itu cukup hanya dengn mengerahkan seluruh kekuatannya saja untuk membuat Bara dan Canu bertemu kembali dengan raja neraka, mendiskusikan dengan sungguh-sungguh jumlah investasi amal dan dosa untuk menentukan nasib mereka selanjutnya.
Meski sudah bisa dipastikan bahwa di tubuh Batari Mahadewi sudah steril dari bakteri dan virus jahat setelah ia berubah wujud menjadi manusia api, tetapi gadis jelmaan pusaka dewa itu masih merasa jijik.
Secepat kilat ia terbang untuk mencari sungai atau danau, lalu meluncur dan menceburkan diri ke dalamnya. Beruntung gadis jelmaan pusaka dewa itu menemukan sebuah air terjun yang sangat jernih. Ia basuh tubuhnya hingga ia puas dan bebas dari perasaan tercemar.
Maka, tak ada hal lain yang dipikirkan gadis jelmaan pusaka dewa itu selain segera pulang ke Swargadwipa. Selain untuk melepas rindu, ada hal penting yang ingin ia bahas dengan lelaki yang membuatnya jatuh hati itu. Jelas bukan membahas rencana pernikahan. Bukan! Batari Mahadewi ingin memastikan kebenaran omongan Canu soal Jain dan Silu yang sebenarnya sudah menjadi abu.
Selain itu, gadis jelmaan pusaka dewa itu merasa bahwa ratu Ogha telah beberapa langkah lebih maju. Jika hari ini ia bertarung dengan tiga makhluk iblis, mungkin nasibnya tak seberuntung sekarang yang masih bisa mandi dan sejenak merasakan perasaan melankolis gara-gara gemuruh rindu yang tiba-tiba saja meledak di jemari hatinya.
Cinta memang pelik. Ia tak habis pikir, sebelum-sebelumnya ia tak pernah merasa jatuh cinta sebagaimana cinta yang ia pahami itu seperti melihat Jalu dan Niken yang mabuk asmara di kala itu. Dan ia masih tak habis pikir, kenapa hanya Nala yang membuatnya merasa demikian. Padahal, lelaki ganteng lainnya juga banyak. Jika ia mau, tinggal datang saja ke istana entah dimana, pasti semua pangeran istana berebut untuk meminangnya.
__ADS_1
Tapi lelaki itu adalah Nala. Sang pendekar hitam. Bahkan, sang pangeran kegelapan. Jelas-jelas Batari Mahadewi menyadari hal itu, bahwa di dalam tubuh Nala masih tersimpan jiwa sang pangeran kegelapan.
Andai saja gadis jelmaan pusaka dewa itu tahu bahwa di masa lalu, ratu Ogha adalah pasangan dari pangeran kegelapan, sudah pasti ia merasa was-was dan melarang keras Nala bertemu ratu itu. Begitulah, cinta kadang-kadang membuat orang kehilangan nalar sehatnya. Jadian saja belum, cemburu sudah meletup-letup. Utungnya, Batari Mahadewi belum tahu hal itu. Jadi, ia belum cemburu.
Di air terjun nan sepi dan damai itu, Batari Mahadewi duduk bersila untuk memulihkan tenaganya. Di sekitar air terjun itu ia melihat banyak sekali pohon buah. Setelah selesai memulihkan diri, ia melesat mengambil banyak sekali buah-buahan untuk memanjakan lidah dan perutnya. Jika ada Nala, ia tak perlu repot-repot mencari buah-buahan itu. Lelaki itu pasti sudah bergerak tanpa disuruh.
Tapi diam-diam gadis cantik itu menyembunyikan rasa galau, ‘Apakah Nala merasakan hal serupa yang kurasakan padanya? Lelaki bodoh, kau sungguh berhasil membuatku rindu. Tunggulah, jika kita bertemu nanti, akan kutonjok perutmu sekeras mungkin,’ batin Batari Mahadewi sambil tersenyum-senyum seperti gadis sinting.
Sesekali gadis jelmaan pusaka dewa itu membiarkan dirinya larut dalam perasaan-perasaannya sendiri. Meski yang ia rasakan adalah pengalaman jatuh cinta untuk pertama kalinya, tetapi apakah ia bisa berpasangan layaknya orang normal? Ia adalah pusaka dewa dan Nala adalah kebalikannya. Keduanya adalah langit dan bumi.
Satu hal yang kadang terbersit dalam kepalanya sebagai harapan; suatu hari, hanya ia dan Nala saja. Tinggal di sebuah hutan sunyi. Membangun sebuah kerajaan mungil dari ranting pohon dan rerumputan. Membesarkan satu atau dua anak dan mendidiknya menjadi petarung yang jauh lebih tangguh lagi. Ah, tetapi apakah itu mungkin?
Langit dan bumi tak pernah bertemu, meski jarak di antaranya bernama rindu. Langit mengirimkan surat cinta dan pesan rindu dalam rintik-rintik hujan. Membuahi bumi untuk melahirkan kehidupan. Keduanya mungkin tak benar-benar bertemu, meski tak sepenuhnya berpisah.
Batari Mahadewi meneteskan air mata. Hatinya kering dan sunyi. Ia tak peduli, selagi perasaan adalah hal jujur yang terlanjur ada di hatinya, ia akan memperjuangkannya. Gadis jelmaan pusaka dewa itu melesat menembus langit dengan kecepatan cahaya untuk kembali ke Mahabhumi.
__ADS_1