Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 229 Naga Hitam Penunggu Danau


__ADS_3

Hampir dua puluh hari Nala dan Vidhyana melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah hutan di bagian barat Swargaloka, dan sebentar lagi mereka akan sampai di Swargadwipa. Vidyana tak habis pikir, kenapa Nala sangat bersemangat untuk kembali ke Swargadwipa.


Dalam hutan yang luas itu, terbentang sebuah danau yang sunyi. Adik dan kakak itu tak pernah singgah di penginapan atau rumah makan. Mereka lebih merasa nyaman beristirahat di dalam hutan, terlebih jika mereka menemukan danau. Meskipun sunyi dan terkesan angker, namun danau semacam itu memberikan banyak energi dan kesegaran bagi mereka berdua.


Ada banyak hal yang belum Nala ceritakan, terutama tentang kekuatan sihir yang ia miliki, dan juga kenyataan bahwa ia adalah pangeran kegelapan. Nala malah lebih sering bercerita tentang gadis yang bersamanya ketika di dunia tiga rembulan.


“Rasa-rasanya aneh. Jika dipikir-pikir, saat ini kita seusia. Dulu kita terpaut jarak sekitar sepuluh tahun. Dan kau terbuang ke dunia asing selama hampir sepuluh tahun. Sebuah kebetulan yang aneh,” kata Vidyana.


“Kau tetap kakakku. Tenang saja,” kata Nala.


“Bukan itu maksudku,” kata Vidyana.


“Lalu?” sahut Nala.


“Kau sudah dewasa. Bahkan kau belajar lebih banyak hal daripada aku. Aku hanya heran, kenapa kau begitu bersemangat mengajakku kembali ke Swargadwipa. Apa yang ingin kau lakukan di sana?” tanya Vidyana. Ia bisa menduga jawabannya, namun ia ingin Nala mengatakannya secara langsung.


“Aku ingin memperkenalkanmu dengan Tari.” Jawab Nala.


“Hanya itu?” tanya Vidyana.


“Ya.”


“Kurasa tidak hanya itu,” balas Vidyana.


“Bagaimana kau tahu?” tanya Nala.


“Kau pikir aku tertarik untuk sekedar berkenalan dengannya? Apa untungnya?” kata Vidyana.


“Aku juga ingin berbicara dengannya, lalu menentukan apa yang akan dilakukan,” jawab Nala.

__ADS_1


“Lucu sekali! Kenapa harus bertemu perempuan itu kalau hanya untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Ayolah, kau sudah dewasa. Mungkin kau sudah mengalami sesuatu,” kata Vidyana.


“Ada hal yang perlu kakak tahu dan aku belum bercerita. Aku dan Tari harus bekerjasama untuk menyelesaikan sesuatu,” kata Nala.


“Harus berdua dengan dia?” tanya Vidyana. Bidadari pencabut nyawa itu sebenarnya merasa geli dengan sikap adiknya yang mencurigakan. Oleh karenanya, ia berpura-pura enggan untuk bertemu dengan Batari Mahadewi meski ia sebenarnya penasaran dengan sosok yang setiap hari Nala ceritakan itu.


“Ya. Kakak mendengar yan diceritakan para pendekar aliran putih yang kita tolong tempo hari itu kan? Ratu mereka adalah sosok yang memiliki kemampuan tinggi dan bisa membangkitkan makhluk iblis dari masa lalu. Aku bisa memperkirakan sekuat apa tiap-tiap makhluk itu. Jika aku sendirian saja, atau Tari sendirian saja, akan sulit untuk menangani satu makhluk iblis dari masa lalu. Jika ratu itu tak dihentikan, dampak buruknya terlalu besar bagi semua orang. Maka itulah alasanku memintamu untuk mengikuti jalan pikiranku,” kata Nala.


“Serius sekali kau menjawabnya, hahaha, aku hanya ingin bertanya, apakah kau jatuh cinta dengan gadis itu?” balas Vidyana sambil terkekeh. Nala terbatuk-batuk karena tersedak ludahnya sendiri setelah mendengar ucapan kakaknya barusan. Wajahnya merah padam karena malu.


“Ayo, katakan saja. Aku tak masalah kau jatuh cinta atau tidak!” lanjut Vidyana. Ia merasa puas karena berhasil membuat adiknya salah tingkah. Baru kali ini ia melihat Nala dalam bentuk dan sifat yang jauh berbeda dari sebelumnya. Dulu, Nala adalah anak yang pendiam dan jarang bicara. Sekarang, ia jauh lebih cerewet dan suka menasehati. Kadang Vidyana merasa kesal jika adiknya mulai ceramah tentang kebaikan dan kebenaran, hitam dan putih, baik dan jahat.


“Ah, sudahlah. Aku tak mau menjawab pertanyaan seperti itu!” gerutu Nala sekaligus telah memberikan jawaban secara tak langsung.


“Ya…ya…ya…aku paham. Baiklah! Hahaha, maaf aku tak bisa berhenti tertawa,” Vidyana masih tertawa terbahak-bahak.


“Hu’um. Baiklah, lalu apa rencanamu selanjutnya? Jika kau ingin pergi, tentu kau tak mau mengajakku, kan? Lalu kenapa aku harus ke Swargadwipa?” tanya Vidyana.


“Aku ingin kakak selamat. Aku ingin kau tinggal di Swargadwipa untuk sementara waktu agar aku bisa dengan mudah mencarimu. Tari mengatakan kepadaku untuk pergi ke kota Dhyana, lalu bertemu dengan pertapa suci di sana. Kakak bisa tinggal di sana sementara aku pergi,” kata Nala.


“Aku bisa menjaga diriku sendiri dimanapun aku berada!” kata Vidyana.


“Jangan membantah. Hanya kakak satu-satunya keluargaku. Aku tak mau kau celaka seperti yang terjadi di Mahatmabhumi.” Kata Nala.


“Jangan lupa, kita adalah pendekar hitam. Belum tentu kita bisa di terima di kota yang kau maksud itu,” kata Vidyana.


“Selama kita tak membuat masalah, tentu kita diterima. Ikuti saja kata-kataku,” kata Nala.


“Ya, aku ikuti. Lagipula, selama ini yang kulakukan hanya demi kebaikanmu, Nala! Aku berjanji kepada mendiang ibu untuk selalu menjagamu,” kata Vidyana. Ia ingat betul saat-saat terakhir memandang wajah ibunya yang sedang sekarat dan meminta Vidyana untuk sebisa mungkin menjaga adiknya karena sang ibu tahu, anak lelakinya itu adalah anak yang istimewa.

__ADS_1


“Kita sudah sama-sama dewasa , kakak. Tak perlu mengkhawatirkanku lagi. Justru aku yang mengkhawatirkan kakak. Tidakkah kakak berfikir untuk…” Nala tak melanjutkan kata-katanya.


“Untuk apa?” Vidyana penasaran.


“Mencari pasangan,” jawab Nala. Pemuda itu garuk-garuk kepala. Ia sadar ia salah memilih waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu. Vidyana bukanlah orang yang mudah tertarik dengan laki-laki. Entah kenapa. Seolah-olah, bidadari pencabut nyawa itu hanya tertarik dengan pertarungan dan kematian.


Tapi pada saat-saat santai seperti itu, adakalanya Vidyana menampakkan sifat yang lain, misalnya bergurau. Itu adalah hal yang langka, sebab sepanjang hidupnya, ia seolah tak pernah lepas dari ketegangan.


“Kau! Mentang-mentang sudah punya…” Vidyana tak melanjutkan kata-katanya. Ia kembali tertawa terbahak-bahak.


“Ah, sudahlah! Lupakan!” kata Nala.


Namun ketenangan di tepi danau itu ternyata tak berlangsung lama. Air danau tiba-tiba berpusar dan gelembung-gelembung besar muncul di permukaan air. Hawa siluman yang pekat tiba-tiba terasa dekat.


“Bersiaplah, kakak. Makhluk ini sepertinya berbahaya,” kata Nala. Ia dan kakaknya melompat sekian langkah ke belakang, menjauh dari tepi danau.


Seekor naga hitam penunggu danau muncul perlahan di permukaan. Setelah seluruh tubuh naga itu terlihat, kemudian naga itu berubah menjadi sosok lelaki tua dengan aura yang sangat jahat. Lelaki jelmaan naga hitam itu berjalan di atas permukaan air menuju ke tepi danau. Sorot matanya memandang lekat ke arah Nala.


“Sudah lama sekali kita tak bertemu. Rupanya kita berjodoh, Andhakara!” ucap jelmaan naga penunggu danau itu.


“Kurasa kita tak saling mengenal, kakek. Maaf, kami hanya singgah di danau ini, dan tak berniat mencari masalah,” balas Nala.


“Kau lupa padaku? Hahahaha, apa perlu kita berkenalan sekali lagi?” ucap sosok jelmaan naga hitam itu.


“Kurasa tidak perlu, kakek. Kami akan pergi sekarang juga. Maaf mengganggu,” kata Nala. Namun sebelum ia dan Vidyana beranjak pergi, sosok kakek itu dengan cepat menghadang keduanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2