
Batari Mahadewi dan Nala hanya bisa terdiam dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang-orang pulau Api yang sedang mengepung keduanya itu. Mereka berdua tak mau mencari masalah dengan hal-hal yang belum mereka kenal dengan baik, terlebih kedua pendekar dunia satu rembulan itu tak tahu seperti apa kemampuan orang-orang pulau api. Yang jelas, setiap petarung di pulau itu memiliki jurus-jurus api.
“Kalian berdua dari mana dan apa tujuan kalian kemari?” tanya salah satu dari orang-orang yang mengepung Batari Mahadewi dan Nala. Orang itu memiliki tubuh yang paling tinggi dan besar diantara lainnya.
“Sebelum kami ke sini, kami telah tinggal selama dua tahun di Madapala. Kami ke sini karena ingin pergi ke kuil Api Suci.” Kata batari Mahadewi dengan tenang.
“Ada perlu apa kalian hendak datang ke sana?!” tanya orang itu dengan nada yang tak menyenangkan.
“Kami telah bertemu dengan salah satu penjaga kuil Api Suci. Beliau memberikan ini kepada kami sebelum meninggal karena bertarung dengan pendekar bersayap dan bertubuh perak.” Kata Batari Mahadewi sambil memperlihatkan lencana yang ia bawa. Seketika lencana itu membuat raut muka semua orang yang mengepung kedua pendekar dunia satu rembulan itu berubah dari yang garang menjadi sedih.
“J…jadi…guru Xima telah meninggal?” tanya orang itu terbata-bata. Lalu ia meneteskan air mata. Ia tahu bahwa lencana itu adalah milik guru Xima, salah satu dari sembilan penjaga kuil Api Suci yang sangat ia hormati. Lencana itu tak akan pernah jatuh ke tangan orang lain kecuali ia mati.
“Maafkan kami, kami berdua sungguh tak mengerti duduk persoalannya. Kami datang kemari hanya ingin menuju kuil Api Suci dan bertemu dengan para penjaga lainnya.” Kata Nala.
“Bisakah kalian mampir dahulu ke rumahku. Aku sungguh ingin tahu cerita yang membuat guru Xima meninggal dunia. Aku adalah salah satu muridnya.” Kata orang itu. Ia kemudian membubarkan orang-orang yang mengelilingi Batari mahadewi dan Nala, lalu mempersilahkan keduanya untuk mengikutinya menuju rumahnya yang tak jauh dari kerumunan itu.
“Maafkan kami yang bersikap kasar kepada kalian berdua tadi. Namaku Sion, tetua wilayah ini. Pulau Api sedang tidak aman, jadi kami harus selalu waspada dengan kedatangan orang baru. Terlebih, kalian tampak asing di sini, dan tentu saja bukan manusia Madapala, bukan?” tanya tetua Sion.
“Kami berasal dari dunia satu rembulan. Kami sedang mencari cara untuk kembali ke sana. Ya, sejauh ini kami hanya mengembara di dunia ini, entah sampai kapan kami bisa kembali.” Kata Batari Mahadewi.
Tetua Sion mengernyitkan dahi. Ia hanya pernah mendengar tentang adanya dunia lain selain dunianya itu, yakni dunia tiga rembulan. Namun, baru kali itu ia percaya dan melihat langsung manusia dari dunia satu rembulan.
__ADS_1
“Nama saya Tari, dan teman saya ini Nala.” kata Batari Mahadewi memperkenalkan diri.
“Jika aku tak melihat kalian, mungkin aku masih belum percaya tentang adanya dunia satu rembulan atau dunia lainnya selain dunia kami di sini. Sejujurnya, aku ingin tahu bagaimana guru Xima bisa terbunuh.” Kata tetua Sion.
“Lawan beliau terlalu kuat. Kami bertiga melawannya. Sayang sekali, guru Xima harus terkena tebasan pedang dari manusia perak.” Kata Batari Mahadewi. Gadis jelmaan pusaka dewa itu kemudian menceritakan semuanya kecuali soal kitab suci kepada tetua Sion. Lelaki tinggi dan besar itu mengangguk-angguk lalu menundukkan kepala. Entah apa yang ia sesali.
“Kalau boleh tahu, apa yang sedang terjadi di pulau Api ini, tetua?” tanya Nala.
“Belakangan ini kami diserang oleh sekelompok orang asing. Kami tak tahu mereka berasal dari mana. Yang jelas, orang-orang asing itu bukan berasal dari sini. Mereka mengincar kuil suci. Aku memang mendengar bahwa guru Xima mengejar salah satu dari orang-orang itu dan yang lain bisa diatasi oleh para penjaga kuil Api Suci. Namun aku tak menyangka guru Xima harus gugur.” Kata Tetua Sion.
“Apakah kuil Api Suci masih jauh dari sini?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, masih jauh sekali. Kalian harus ke pusat kota. Di bagian timur kalian akan menemukan istana Pulau Api dan di bagian barat kalian bisa menjumpai Kuil Api Suci.” Jawab tetua Sion.
“Ya, sudah pasti akan demikian. Tapi dengan lencana milik guru Xima, tentu kalian tidak akan dipersulit. Jika kalian mau, kalian bisa menginap di rumahku. Sebaiknya kalian tak melanjutkan pejalanan di malam hari untuk menghindari kecurigaan. Saat ini, banyak mata-mata kerajaan dikerahkan untuk mengawasi siapapun yang datang di pulau ini.” Kata tetua Sion.
“Terimakasih tetua. Sebenarnya, kami memang ingin menemukan penginapan sehingga kami sengaja melewati desa ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Kalian boleh beristirahat di sini sebelum melanjutkan perjalanan besok pagi.” Kata tetua Sion.
####
__ADS_1
Malam itu, di salah satu kamar tamu tetua Sion yang ditempati oleh Batari Mahadewi, gadis jelmaan pusaka dewa itu baru bisa memejamkan mata setelah ia lelah merenungkan semua perjalanannya. Dalam mimpinya, gadis itu melihat kembali dua buah pedang perak milik manusia setengah elang yang telah ia kalahkan. Pedang itu melesat cepat dan menembus tubuhnya. Seketika Batari Mahadewi terbangun dari tidurnya. Dadanya terasa sakit dan ia meneteskan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Mimpi itu seolah nyata baginya sehingga membuatnya sulit untuk tidur lagi. Ia memutuskan untuk duduk bersila, mengumpulkan kembali semua energinya hingga matahari pagi perlahan menyibak selimut malam.
Batari Mahadewi keluar dari ruangannya. Nala telah duduk di kursi batu di halaman rumah tetua Sion. Lelaki itu sedang menatap ikan-ikan yang berenang-renang di kolam. Ikan-ikan yang jauh berbeda dengan ikan di dunia satu rembulan.
Nala menoleh dan tersenyum ke arah Batari Mahadewi. Sebuah hal yang sangat jarang terjadi. Lalu gadis jelmaan pusaka dewa itu berjalan mendekat dan duduk di sebelah Nala. Tak ada percakapan. Keduanya hanyut dalam kecipak ikan yang sedang berkejaran di kolam. Batari Mahadewi tak menceritakan mimpi yang ia alami kepada Nala. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, namun ia tak mau berfikir yang buruk, atau berfikir bahwa mimpi yang ia alami adalah hal yang nyata.
Tak lama kemudian, tetua Sion menampakkan diri. Ia memanggil Nala dan Batari Mahadewi untuk makan. Keduanya masuk ke ruang makan. Di sana sudah tersedia sarapan yang dimasak oleh istri tetua Sion. Masakan itu terliat unik dan memiliki aroma kuat yang membuat perut Nala dan Batari Mahadewi semakin lapar.
Namun ketika Batari Mahadewi dan Nala menikmati sarapan pagi itu bersama keluarga tetua Sion, tiba-tiba ada tiga orang tamu yang datang menyampaikan kabar buruk dengan nada yang tergesa-gesa.
“Tetua Sion…gawat… desa sebelah telah habis di serang makhluk asing tadi malam. Beberapa yang selamat telah melarikan diri ke wilayah kita."
“Di mana mereka saat ini?” tanya tetua Sion.
“Di pintu masuk desa kita, tetua.”
“Suruh mereka semua datang kemari.” Kata tetua Sion.
“Baik tetua.”
Tetua Sion tampak cemas. Ia tahu, kejadian beberapa hari yang lalu pasti akan ada kelanjutannya. Batari Mahadewi menangkap perubahan raut wajah tetua itu, lalu ia bertanya, “Apakah ada suatu hal buruk yang belum kami ketahui, tetua?”
__ADS_1
“Benar, nona. Sebelumnya, desa lain juga habis di serang oleh makhluk asing yang tak kami ketahui wujudnya. Seharusnya, orang-orang desa sebelah yang berhasil selamat telah melihat wujudnya dan berapa jumlahnya.” Kata tetua Sion. Dalam pikirannya, ia teringat tentang ramalan kakeknya bahwa suatu hari akan ada makhluk asing yang membawa bencana di pulau Api.