
Malam hari di balai kota Mutiara Biru terlihat terang benderang. Serangan api yang dilontarkan Jalu menjadi kejutan yang sangat tak diharapkan. Sekitar Seratus pendekar pendukung Swargabhumi yang kekuatannya masih jauh di bawah Jalu melesat ke angkasa, dan sebagian lainnya melindungi patih Hamapadayana yang terlihat geram karena kekacauan yang sedang terjadi.
Tak banyak dari seratus pendekar Swargabhumi yang bisa bertahan lama melayang di angkasa dan bertarung di udara, sehingga sebagian besar gerombolan pendekar yang menyerang Jalu pada akhirnya memilih untuk mundur dan menunggu kesempatan. Yang tersisa tinggal sepuluh orang yang secara bersama-sama menyerang Jalu. Sayang sekali, kekuatan sepuluh pendekar itu masih belum memadai untuk sekedar membuat pendekar api itu turun ke bumi.
Dengan serangan-serangan api, tak lama kemudian ke sepuluh pendekar Swargabhumi yang mengeroyok Jalu berjatuhan satu persatu dalam keadaan terbakar.
Para prajurit pemanah telah berkumpul ketika Jalu berhadapan dengan sepuluh pendekar Swargabhumi. Begitu melihat Jalu masih bertahan di angkasa, para pasukan pemanah yang berjumlah ribuan itu segera menghujani Jalu dengan anak panah dari bawah. Entah siapa yang menyuruh para prajurit bodoh itu untuk ikut menyerang Jalu dengan anak panah, namun oleh karena kebodohan itu, para pasukan pemanah yang serentak melepaskan anak panahnya pada akhirnya hanya menjadi korban dari keganasan energi api Jalu.
Panah-panah yang meluncur ke atas tak akan pernah mampu menembus perisai api yang melindungi seluruh tubuh Jalu. Sebagai gantinya, Jalu hanya memberikan hujan api ringan yang berdampak besar bagi para prajurit yang tak bisa menghindarinya.
Jalu akhirnya turun dari angkasa. Tubuhnya masih mengobarkan api yang mengerikan. Semua orang yang ada di sana hanya diam mengepung Jalu, tanpa ada yang berani untuk memulai serangan, meski semua orang itu tak tahu bahwa energi Jalu sudah banyak terkuras.
“Apa yang kau inginkan, pendekar api?” tanya Hamapadayana.
“Aku tak menginginkan apa-apa. Aku hanya kecewa melihat perubahan di kota ini. Maka sekalian saja aku ingin membakarnya.” Kata Jalu.
“Apakah kau salah satu pendekar dalam pasukan Swargadwipa?” tanya Hamapadayana.
“Apakah penting untuk mengetahui dari mana aku berasal dan kepada siapa aku berpihak?” jawab Jalu dingin.
__ADS_1
Hamapadayana ragu. Ia mencoba mengukur kekuatan Jalu dan membandingkan dengan kekuatan yang ia miliki dan kekuatan seluruh pasukannya. Mahapatih itu berfikir, mungkin jika ia menantang pendekar api itu, maka anak buahnya juga akan ikut membantunya. Dengan jumlah pasukan yang sangat besar, tentu bukan hal sulit untuk melumpuhkan pendekar api itu. Yang sulit adalah menebak kemauan Jalu. Sewaktu-waktu Jalu bisa pergi tanpa ada yang berani menghalanginya.
“Apakah kau pikir kau bisa seorang diri mengalahkan kami semua?” pancing Hamapadayana.
“Apakah kau pikir aku ingin mengalahkan kalian semua?” balas Jalu.
“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Hamapadayana sekali lagi. Ia merasa kesal dengan permainan kata-kata Jalu.
“Keluarkan semua pendekar terbaikmu. Jika mau, mereka boleh menyerangku bersama-sama.” Tantang Jalu.
Hamapadayana tersenyum senang. Setidaknya itulah yang ia harapkan, yakni mengerahkan semua pendekar yang ia miliki untuk meringkus pemuda sombong bertubuh api itu tanpa ia harus terlibat dan kehilangan muka.
“Baiklah, bukan perkara sulit jika kau menginginkan hal itu.” Hamapadayana akhirnya memanggil semua pendekar yang ada bersamanya. Semua merupakan pendekar muda yang seumuran dengan Jalu dan sebagian berusia beberapa tahun lebih tua dari Jalu. Setidaknya ada tiga ratus pendekar yang telah berkumpul di sana. Tentu saja, Jalu tak akan mungkin menang dan lelaki api itu sangat menyadari situasinya. Ia hanya berharap, Niken bisa memberikan serangan kejutan tepat pada waktunya tanpa harus ada aba-aba dari Jalu.
Pendekar yang memiliki kemampuan seperti Jalu sangatlah langka, sehingga bagaimanapun juga, penampilannya sudah membuat mental lawan-lawannya luntur sebelum mereka bertukar jurus. Melawan Jalu ibarat melawan pendekar setengah siluman. Hanya pendekar berilmu tinggi saja yang bisa bertahan lama untuk bertukar serangan dengan Jalu.
Ketika energi Jalu telah banyak terkuras, lelaki api itu melesat cepat dan terlihat seperti melarikan diri. Para pendekar yang belum kebagian luka bakar atau mencicipi panasnya api dari tubuh Jalu langsung menangkap kesempatan itu dan mengejar Jalu beramai-ramai. Jalu sudah tak lagi menjadi manusia api untuk membagi energinya. Ketika ratusan pendekar itu berada di belakang Jalu, Niken menghujani para pendekar itu dengan kristal es yang keras dan tajam.
Para pendekar itu tak menyadari kehadiran Niken karena riuhnya suasana dan semua perhatian memang terpusat pada Jalu. Serangan Niken banyak menelan korban. Dan korban-korban itu merupakan para pendekar yang satu nyawa setara dengan lima puluh hingga seratus prajurit biasa. Beberapa pendekar yang selamat dari serangan Niken memilih untuk melompat mundur. Mereka sangat kaget, karena pada malam itu, mereka di serang dua pendekar berkemampuan langka.
__ADS_1
Jalu dan Niken melesat cepat meninggalkan kota Mutiara Biru dengan ratusan atau bahkan ribuan korban yang teronggok tak bernyawa. Kedatangan Jalu dan Niken tak hanya membuat mahapatih Hamapadayana geram, namun sekaligus sadar bahwa Swargadwipa memiliki banyak misteri dan kejutan. Bagi para prajurit biasa, kehadiran Jalu dan Niken sudah pasti membuat mental mereka semua ciut.
####
Belum terlalu jauh sepasang pendekar muda itu meninggalkan kota Mutiara Biru, tiga orang pendekar sakti Swargabhumi mengikuti mereka. Tiga orang pendekar itu memiliki kemampuan yang tinggi, hanya saja pada saat Jalu dan Niken sedang beraksi, ketiga pendekar itu masih dalam perjalanan dan belum sampai di kota.
Beberapa saat setelah Jalu dan Niken pergi dengan meninggalkan pengalaman buruk, tiga orang pendekar bergelar dari Swargabhumi itu tiba. Tanpa sempat beristirahat, ketiganya lantas ditugaskan untuk mengejar Jalu dan Niken yang belum lama pergi.
Tiga sosok yang mengejar Jalu dan Niken itu adalah pendekar Tiga Naga Kembar yang meski usianya masih muda, ketiganya telah dikenal sebagai pendekar tangguh dari Swargabhumi. Ketiganya tak ikut serta dalam peperangan yang terjadi sebelumnya. Atas undangan dan permintaan pribadi Maharaja Segara Biru, dan tentunya dengan imbalan yang menggiurkan, pendekar Tiga Naga Kembar itu berangkat ke Mutiara Biru untuk bergabung di bawah perintah mahapatih Hamapadayana.
Jalu dan Niken merasakan pancaran energi ketiga pendekar yang mengejar mereka. Jalu dan Niken tak tahu seberapa kuat musuh membuntutinya itu. Namun siapapun yang berani mengejar Jalu dan Niken, sudah bisa dipastikan bahwa mereka adalah pendekar yang berilmu tinggi. Jalu dan Niken berhenti di sebuah padang rumput yang luas, di bawah naungan bulan purnama yang sedang menyembunyikan separuh wajahnya di balik awan kelabu.
“Ada yang mengikuti kita, dan mungkin sebentar lagi akan sampai di sini.” Kata Jalu.
“Kita pulihkan energi secepat yang kita bisa. Jika mereka adalah pendekar kuat, maka kita dalam situasi yang kurang bagus.” Kata Niken sembari mengeluarkan dua biji mustika alam berwarna hijau.
Tanpa buang waktu, keduanya segera memulihkan diri. Namun ketika keduanya belum menyerap semua energi dari mustika itu, Tiga Naga Kembar telah sampai di tempat itu.
“Apakah kalian tak keberatan jika menunggu sebentar lagi? Kalian juga berhak memulihkan tenaga, dengan demikian kita bisa melangsungkan pertarungan yang menarik.” Kata Jalu mencoba mengulur waktu, setidaknya bagi Niken untuk menyelesaikan proses penyerapan energi yang sedang ia lakukan.
__ADS_1
Ketiga pendekar itu hanya saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka yang berjubah merah angkat bicara, “Baiklah, kami akan menunggu kalian. Kami memang menginginkan pertarungan yang menarik. Jadi jangan kecewakan kami.” Ketiga pendekar itu lantas duduk bersila. Masing-masing mencoba untuk mengembalikan tenaga mereka setelah menempuh perjalanan jauh.
Malam bergerak terasa lambat. Angin dingin bertiup lirih, membawa celoteh jangkrik dan serangga malam yang terdengar sayup-sayup. Ketika kelima pendekar itu bersiap untuk melakukan pertarungan, mendadak angin berhenti bertiup, dan serangga malam berhanti bernyanyi.