
Puluhan pengungsi yang selamat dan melarikan diri dari serangan makhluk asing yang memporak-porandakan desa mereka itu datang di rumah tetua Sion. Beberapa diantaranya mengalami luka yang cukup serius seperti kehilangan salah satu lengan, luka bakar, dan goresan-goresan benda tajam di sekujur tubuh mereka.
Tetua Sion, istrinya, Batari Mahadewi dan Nala segera membantu. Begitu juga dengan beberapa warga di desa tetua Sion.
“Seperti apakah makhluk yang menyerang desa kalian? Apakah tetua Laca selamat?” tanya tetua Sion kepada salah satu pengungsi yang masih sehat.
“Ada puluhan manusia perak yang mula-mula menyerang rumah tetua Laca. Kami tak bisa tinggal diam dan akhirnya membantu tetua Laca. Sayang sekali mereka semua terlalu kuat dan selebihnya, mereka membantai kami semua dan membakar rumah-rumah kami.” Cerita orang itu. Wajahnya masih menyisakan rasa takut dari serangan semalam.
“Aku tak mengerti, apa tujuan mereka menyerang desa-desa kecil.” Kata tetua Sion lirih.
“Sepertinya kelompok itu ingin menciptakan ketakutan terlebih dahulu sebelum mereka melakukan satu hal yang lebih mengerikan lagi. Sepertinya, kelompok manusia perak itu masih sedang menghimpun kekuatan yang lebih besar lagi.” Kata Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi dan Nala memiliki pikiran yang sama yang belum mereka utarakan; manusia perak bersayap yang mereka kalahkan di pulau kecil berwarna-warni itu tidak sendiri dan ia adalah salah satu dari yang berbahaya, atau bisa jadi merupakan pemimpin dari manusia perak yang menyerang pulau Api.
“Tetapi bukankah beberapa waktu yang lalu, sekelompok manusia perak itu telah menyerang kuil Api Suci dan serangan mereka berhasil dipadamkan?” tanya salah satu warga yang sepertinya merupakan orang kepercayaan tetua Sion.
“Kau benar. Artinya, manusia perak ini berjumlah banyak dan sebagian kecil telah datang di pulau ini tanpa kita ketahui di mana keberadaan mereka semua.” Kata tetua Sion.
__ADS_1
“Apakah tetua tahu dari mana para manusia perak ini berasal?” tanya Batari Mahadewi.
“Aku tidak tahu. Tetapi dahulu kala, menurut cerita kakekku, pulau Api dan pulau-pulau lain pernah diserang makhluk-makhluk yang tak berasal dari dunia tiga rembulan. Mereka datang karena ingin mengambil sumber energi yang menyokong seluruh kekuatan di dunia tiga rembulan. Namun akhirnya mereka bisa dikalahkan dan dipenjarakan dalam sebuah buku dongeng yang di simpan di kuil Emas Suci di pulau Emas.” Kata tetua Sion.
“Apakah pulau emas yang tetua maksud adalah ini?” tanya Batari Mahadewi sambil menunjukkan peta dunia tiga rembulan yang diberikan oleh guru Rapapu.
“Ya, ini dia. Tapi pulau itu tidak terlihat. Konon katanya pulau itu memang terletak di ujung dunia tiga rembulan, seperti di gambar itu. Tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menemukannya dan menginjakkan kaki di pulau itu. Akupun seumur hidup belum pernah ke sana, bahkan ke pulau Es dan pulau Halilintar.” Kata tetua Sion.
“Jika benar manusia perak ini adalah makhluk yang sama di masa lalu, dan tujuan mereka adalah ingin mengambil sumber energi di dunia tiga rembulan, seharusnya mereka juga menyerang pulau-pulau lainnya.” Kata Nala.
“Sepertinya kami harus menunda keberangkatan kami, tetua. Saya khawatir makhluk ini akan menyerang desa tetua dalam waktu dekat ini. Saya yakin, makhluk-makhluk itu tidak sekuat dengan manusia perak yang telah membunuh guru Xima.” Kata Batari Mahadewi.
“Terimakasih, nona. Sudah pasti kekuatan kami sendiri tak mampu melawan kekuatan makhluk itu mengingat mereka bisa menghancurkan desa tetua Laca dengan mudah. Terlebih, bantuan dari kerajaan Api tak akan secepat itu datang ke sini. Pastinya, pihak kerajaan juga membagi bantuan untuk desa-desa lainnya.” Kata Tetua Sion.
“Baik, tetua, kami akan tinggal lebih lama lagi di sini sampai kondisinya jauh lebih baik.” Kata Nala.
Warga desa yang dipimpin oleh tetua Sion itu bersama-sama membantu membuatkan tempat tinggal sementara bagi para pengungsi. Batari Mahadewi dan Nala memohon izin untuk pergi sebentar. Keduanya pergi menuju desa yang telah dihancurkan oleh makhluk-makhluk asing itu.
__ADS_1
Hanya butuh waktu sebentar untuk terbang melesat dengan kecepatan tinggi agar sampai di desa yang telah porak-poranda itu.
“Kekuatan mereka semua cukup besar, Tari.” Kata Nala ketika ia melihat puing-puing bangunan yang berserakan serta mayat-mayat yang bergelimpangan dengan kondisi yang mengenaskan.
“Jika jumlah mereka tak terlalu banyak, aku yakin kita berdua bisa menanganinya. Tapi ingat, Nala, jangan gunakan kekuatan api. Aku tak mau rahasia kita diketahui oleh warga pulau Api sebelum kita berhasil sampai di kuil suci.” Kata Batari Mahadewi.
“Tentu, Tari. Aku juga berfikir hal yang sama. Aku khawatir kita dicurigai. Sebenarnya ini kesempatan yang baik bagi kita. Jika kita membantu pulau Api, tentu kita akan disambut baik di kuil suci.” Kata Nala.
“K..kau ben….ugh…Nala…dadaku terasa sakit…” Batari Mahadewi merasakan nyeri yang sangat hebat di dalam tubuhnya. Ia teringat mimpinya semalam. Dengan cepat, Nala membantu gadis jelmaan pusaka dewa itu untuk duduk bersila, lalu Nala memancarkan energinya untuk meredakan rasa sakit yang dikeluhkan oleh Batari Mahadewi.
“Ada apa denganmu, Tari?” tanya Nala keheranan. Belum pernah ia melihat gadis itu mengeluh sakit, bahkan dalam pertarungan mengerikan yang membuat tubuhnya babak belur.
“Entahlah, tapi semalam aku bermimpi dan aku belum menceritakannya padamu.” Kata Batari Mahadewi, keringat dingin bercucuran di tubuhnya.
“Mimpi?” tanya Nala.
“Mimpi tapi serasa nyata. Sepasang pedang manusia perak setengah elang itu masuk menembus tubuhku.” Kata Batari Mahadewi. Ia kembali mengerang kesakitan, lalu ia pingsan.
__ADS_1