
Ya, manusia setengah siluman rubah itu sebenarnya lemah. Hanya karena ia memiliki kekuatan unik, Batari Mahadewi harus berfikir lebih dari biasanya untuk menaklukkan makhkuk itu.
Berbeda dengan raja Siwandawala yang juga memiliki kemampuan menyerap energi, kemampuan manusia setengah siluman itu bisa dibilang lebih halus. Ia tak hanya menyerap energi dari pukulan-pukulan tenaga dalam, namun juga dari pancaran energi atau bahkan pukulan biasa.
Energi yang ia serap tak akan menambah kemampuannya. Namun hanya menambah kekuatannya yang bisa digunakan sebagai serangan balik.
‘Seberapa besar kekuatan yang sanggup ia tampung? Aku sangat yakin, ia tak akan bisa menyerap seluruh tenagaku jika aku menyerangnya dengan kekuatan yang besar. Namun jika aku melakukannya, mustika siluman yang ada dalam tubuhnya juga aka hancur. Jika aku mendapatkan mustika itu utuh, maka mustika tu akan menjadi sebuah pusaka yang seharusnya sangat berguna,’ batin Batari Mahadewi.
Siluman itu melesat cepat ke arah Batari Mahadewi, lalu menghujamkan serangkaian serangan dari kuku-kuku tangannya yang seperti belati tajam. Gadis jelmaan pusaka dewa itu bisa menghindari serangan yang ia rasa sangat lambat itu dengan mudah. Namun benar dugaannya, berada di dekat makhluk itu, ia merasa energinya terambil secara halus.
Batari Mahadewi membalas serangan makhluk itu menggunakan kuku-kuku jemari tangannya beberapa kali dengan kecepatan yang tak mungkin dihindari.
Serangan gadis jelmaan pusaka dewa itu berhasil kenciptakan sayatan panjang di sekujur tubun pendekar Rubah Iblis itu. Luka sayatan di tubuh makhluk itu tertutup dengan cepat, seiring dengan energi yang diambil pada saat kuku Batari Mahadewi merobek tubuhnya yang berbulu kasar itu.
“Kemampuanmu mencuri tenagaku cukup menarik. Bahkan kau masih melakukannya saat ini!” kata Batari Mahadewi.
“Hahaha, kau menyadarinya! Baguslah, hanya kau satu-satunya lawanku yang mengetahui hal ini,” balas pendekar setengah siluman itu.
“Jangan senang dulu, kau memiliki batasan. Jika aku berikan semua tenagaku, tubuhmu akan hancur,” kata Batari Mahadewi.
“Jangan harap kau bisa menakut-nakutiku dengan cara murahan seperti itu. Kurasa saat ini kau sedang ketakutan!” kata pendekar setengah siluman itu.
__ADS_1
“Kita lihat saja. Apakah kau juga bisa menyerap energi yang seperti ini?!” Batari Mahadewi
Batari Mahadewi menghujamkan pukulan api dan pukulan petir secara bersamaan. Seharusnya monster lemah itu meledak. Namun ia hanya terpental jauh, lalu bangkit lagi seolah tak terjadi apa-apa.
“Bagus, kau masih bisa menyerap dua jenis kekuatan berbeda secara bersamaan. Bagaimana kalau ini!” Batari Mahadewi memadatkan udara di sekeliling makhluk itu.
Pendekar setengah siluman itu memang tak bisa bergerak, namun ia tidak takluk. Ia masih bisa menyerap energi Batari Mahadewi dalam situasi seperti itu.
Untuk memadatkan udara, Batari Mahadewi harus menyalurkan energinya melalui medium udara, lalu mengubah partikel udara menjadi padat layaknya es. Bedanya dengan menciptakan udara dingin dan beku, menggunakan jurus memadatakan udara ini tak butuh energi sebanyak membekukan udara.
Sia-sia saja mencoba menaklukkan makhluk itu dengan memadatkan udara. Serangan itu tak melumpuhkan pendekar Rubah Iblis, namun hanya membuatnya kaku dan tak bisa bergerak.
“Hahaha, bagaimana nona manis, sepertinya kau kehabisan cara untuk melawanku, bukan?!” kata pendekar Rubah Iblis. Dia sebenarnya kagum dengan Batari Mahadewi, sebab gadis itu memiliki jurus-jurus aneh yang belum pernah ia temui.
Batari Mahadewi melompat menjauhi makhluk buas itu. ‘Mungkin ini akan berhasil. Aku belum pernah menggunakan kemampuanku ini setelah selesai menyerap kekuatan di pulau Emas,’ pikir gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Batari Mahadewi membuka tabir kekuatan yang ia tutupi. Selain inderanya yang bertambah tajam, sebenarnya tubuhnya juga berubah drastis. Jika ia tak mengunci kekuatan itu, maka tubuhnya akan semakin terlihat seperti siluman.
Selubung keemasan seperti kepompong raksasa membungkus tubuh Batari Mahadewi ketika ia melepaskan kekuatan yang ia sembunyikan itu. Kuku-kuku tangannya menjadi lebih panjang lagi, berwarna emas dan perak. Elemen berwarna perak itu ia dapatkan dari sepasang pedang pusaka milik Varak yang entah kenapa kini melebur ke dalam tulang-tulangnya.
Yang dilakukan oleh Batari Mahadewi itu tak hanya membuat tercengang orang-orang yang ada di sana, namun juga membuat sang monster diam sejenak menjadi penonton, seolah perubahan wujud Batari Mahadewi itu adalah fenomena langka, bahkan lebih langka dari perubahan bentuk siluman pada umumnya. Padahal ya sama saja. Mungkin gara-gara Batari Mahadewi memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan, maka gadis jelmaan pusaka dewa itu menjadi sesuatu yang menarik untuk dilihat.
__ADS_1
Dengan mengubah dan menggunakan kuku-kuku runcing dan panjang miliknya itu adalah cara yang dipikirkan oleh Batari Mahadewi. Sebelumnya, dengan cakarnya, gadis jelmaan pusaka dewa itu bisa melukai tubuh pendekar Rubah Iblis. Hanya karena pendek saja, maka kuku nona cantik itu tak bisa membelah tubuh lawannya.
Dengan perubahan wujudnya yang membuat Batari Mahdewi benar-benar tampak seperti dewi perang pencabut nyawa itu, gadis jelmaan pusaka dewa itu melesat dengan cepat dan menghujamkan kuku-kukunya di tubuh lawannya, lalu merobek tubuh itu menjadi beberapa bagian.
Selebihnya, Batari Mahadewi dengan cepat mengambil mustika siluman yang bersemayam dalam jantung makhluk siluman itu. Dengan ketiadaan mustika siluman itu, pendekar Rubah Iblis tak lagi memiliki kemampuan untuk menyerap energi dan menyembuhkan lukanya.
Nasib pendekar aliran hitam itu berakhir dengan tubuh terkoyak menjadi beberapa bagian. Selebihnya, Batari Mahadewi mengunci kembali kekuatannya dan mengembalikan wujdunya seperti semula. Dia lalu menjinakkan mustika siluman berwarna putih dan jingga itu, lalu menyimpannya bersama dengan mustika lain yang telah ia dapatkan sebelumnya.
Masih ada beberapa pendekar yang terluka karena serangan racun. Tanpa kata-kata, gadis itu melesat cepat dan mengobati orang-orang itu.
“Terimakasih banyak atas bantuannya, nona.” Pendekar Tongkat Dewa dan Pedang Emas menghampiri Batari Mahadewi.
“Sama-sama, guru besar sekalian. Mohon maaf, saya telah lancang ikut campur dalam masalah ini,” kata Batari Mahadewi.
“Justru tanpa bantuan nona, entah apa nasib yang akan menimpa kami semua. Siapakah nona ini dan dari mana nona berasal?” tanya pendekar Pedang Emas.
“Nama saya Tari, guru besar. Saya datang jauh-jauh dari Mahabhumi menuju ke tempat ini untuk mencari guru Udhata dari perguruan Tongkat Langit,” Jawab Batari Mahadewi.
“Perguruan itu jauh dari sini, nona. Guru Udhata dalah guru saya. Tongkat pusaka ini adalah pemberian beliau. Sebuah kebetulan. Jika nona bekenan, mampirlah ke perguruan saya,” kata pendekar Tongkat Dewa. Ia berusaha mendahului pendekar Pedang Emas untuk menawarkan tempat menginap.
Kedua pendekar itu memang sejatinya adalah kawan lama, namun mereka tak henti-hentinya terus bersaing. Tentunya merupakan sebuah kehormatan untuk mengajak pendekar langka seperti Batari Mahadewi datang berkunjung. Hal itu bisa meningkatkan pamor perguruan.
__ADS_1
Semua orang di arena itu kembali ke kediaman masing-masing sambil membawa ingatan tentang persitiwa buruk sekaligus menakjubkan di hari itu. Sementara, Batari Mahadewi setuju untuk bermalam di perguruan Tongkat Dewa. Di sana, gadis jelmaan pusaka dewa itu di sambut dengan penuh hormat. Entah apa pamrih di balik hal itu.