
Panglima Kera Api telah berada di hutan sebelah barat kota kerajaan Swargawana selama tiga hari lamanya. Dari sanalah ia mengirimkan beberapa pendekar penyihir untuk memantau kekuatan lawan secara lebih rinci, dan mencari tahu titik lemahnya.
Para penyihir kiriman panglima Kera Api itu mengubah wujud mereka menjadi burung-burung kecil yang terbang dan masuk ke dalam benteng yang dijaga dengan luar biasa ketat oleh puluhan ribu pendekar dan ratusan ribu prajurit, lengkap dengan persenjataan yang mereka miliki.
Dengan berubah menjadi burung-burung mungil, maka tak ada satupun dari para penjaga itu yang awas dengan kedatangan beberapa penyihir itu, meskipun cara tersebut tak bisa mengelabuhi mata para pendekar senior yang telah menjadi tetua sekaligus legenda di kubu pendekar aliran putih.
Setidaknya, pancaran energi para penyihir yang berubah menjadi burung itu sama sekali tak terasa oleh para penjaga benteng. Setelah seharian burung-burung jelmaan penyihir itu leluasa berkeliling di kota kerajaan Swargawana sekaligus di sekitar istana, akhirnya burung-burung itu kembali menuju pemimpinnya dan berubah wujud seperti sediakala.
“Apa yang kalian lihat?” tanya panglima Kera Api.
“Ada banyak sekali prajurit dan pendekar yang berjaga di luar benteng, di sekitar benteng dan di dalam benteng, panglima. Apakah kita yakin bisa memenangkan peperangan ini? Kita bisa saja melewati kerajaan ini dan mencari jalan lain untuk menuju ke kerajaan berikutnya yang tentu saja sudah tak dijaga oleh para pendekar dan prajurit. Mereka semua berkumpul di sini.” Kata salah satu dari penyihir itu.
“Percuma saja, mereka akan tetap menangkap pergerakan kita dan menyusun siasat baru. Ketahuilah, jika kita tak mengikis kerajaan-kerajaan di pulau ini satu per satu, maka justru kita akan hancur. Jika kita berada diantara dua kekuatan yang mengepung, dari barat dan timur, maka habislah kita.” Kata panglima Kera Api.
“Apakah tidak sebaiknya kita menunggu sang ratu saja, panglima?” tanya salah satu kaki tangan panglima Kera Api.
__ADS_1
“Aku ingin semua beres sebelum sang ratu datang. Kita tak perlu takut pada jumlah prajurit yang melimpah itu. namun yang kita tidak tahu, seberapa banyakkah para pendekar sakti yang ada di sana karena merekalah lawan kita.” Kata panglima Api.
“Kami tidak tahu, panglima.” Jawab salah satu dari penyihir utusan panglima itu.
“Bodoh! Aku menyuruh kalian ke sana untuk mencari tahu tentang hal itu!” bentak panglima Api yang tak sabar dengan kebodohan utusannya. Meski para pendekar hitam itu memiliki kekuatan dan ilmu tinggi, mereka memang tidak cerdas. Dan tidak sedikit dari para pasukan itu yang kecerdasannya setingkat sapi. Pendekar-pendekar seperti itu memiliki kesetiaan luar biasa dan sangat bisa diandalkan untuk menghancurkan kerumunan pasukan musuh, namun tak bisa diandalkan sama sekali untuk diajak berfikir.
Dari sedikit yang cerdas di antara para pendekar kerajaan hitam itu sudah pasti akan memiliki jabatan untuk memimpin kelompok-kelompok prajurit dalam misi-misi tertentu dari sang ratu.
“Tapi sungguh, panglima, kami tak bisa melihat kehadiran pendekar-pendekar berilmu tinggi di sana. Yang kami lihat hanya para pendekar biasa dengan kemampuan sedang.” Kata salah satu penyihir yang berusaha membela diri atas ketidaktahuan mereka. Tentu saja, sebab para pendekar sakti tak pernah menampakkan kemampuan yang mereka miliki. Mereka bahkan terlihat seperti orang yang tak bisa berkelahi jika tidak diperhatikan dengan seksama.
Panglima Kera Api tak ingin menyuruh lagi para pasukan penyihirnya untuk kembali lagi sebab hasilnya sudah pasti akan mirip dari sebelumnya. Maka ia ingin mencoba cara lain, yakni menguji kemampuan musuh dengan mengirimkan sepuluh ribu pasukan bodoh yang nalarnya secerdas kodok untuk menyerang para pendekar dan pasukan yang berada di luar benteng Swargawana.
Bisa saja panglima itu berubah menjadi seekor lalat dan mencari tahu sendiri keadaan di dalam benteng. Namun resikonya tidak kecil, jika ia meninggalkan bala pasukannya, ia takut jika ada pendekar sakti yang bisa dengan mudahnya memancing pergerakan pasukan kerajaan hitam itu. Bagaimanapun juga, para pendekar hitam setengah siluman itu sangat mudah marah dan gampang terpancing. Sehingga, panglima Kera Api harus menahan kesabarannya untuk tetap berada di sana dan memastikan bahwa tak akan ada pergerakan kecuali ia memberikan perintah langsung.
Sepuluh ribu pasukan yang baru saja mendapatkan perintah itu langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Mereka sangat bersemangat karena membunuh adalah hal yang paling mereka senangi. Dalam waktu singkat, mereka telah sampai di pemukiman di luar benteng yang dihuni oleh para pendekar dan prajurit dari empat kerajaan di wilayah barat. Semua rakyat telah mengungsi ke wilayah timur Swargawana hingga ke Swargabhumi. Jika pertahanan di Swargabhumi gagal, maka habislah mereka semua.
__ADS_1
Sepuluh ribu pasukan kerajaan hitam itu langsung menyebar ke berbagai penjuru untuk membantai mangsa mereka. Setidaknya, satu prajurit kerajaan hitam masih bisa melawan lima puluh hingga seratus prajurit dan pendekar yang ada di sana. Selain karena jurus-jurus beracun yang mereka miliki, mereka juga berubah menjadi monster yang mengerikan.
Dalam waktu singkat, pemukiman di luar benteng kota kerajaan Swargawana menjadi riuh. Dentuman-dentuman energi yang saling bertumbukan memporak-porandakan bangunan-bangunan yang ada di sana. Hal itu tak luput dari perhatian Ki Prapanca, Nyi Prada, Ki Samba dan Ki Samaja yang merupakan para tetua pendekar aliran putih di wilayah Mahabhumi bagian barat.
“Apakah kita harus keluar dan membantu saudara-saudara kita di luar benteng?” tanya Ki Samba.
“Kurasa serangan itu memang sengaja untuk memancing kita. Aku yakin mereka tak mengetahui seberapa besar kekuatan di dalam benteng. Sebaiknya kita tak keluar agar mereka tetap ragu-ragu dan tak benar-benar tahu situasi di dalam.” Kata Ki Prapanca.
“Tapi kekuatan yang kita rasakan saat ini sungguh besar. Aku khawatir saudara-saudara kita akan habis dilibas kekuatan para pendekar hitam itu.” kata Ki Samba.
“Kita jangan keluar dulu. Kita memang harus siap mati ketika kita semua memutuskan untuk berada di sini. Jika para prajurit dan saudara-saudara kita telah gugur di luar sana, maka para pendekar hitam yang tersisa itu sudah pasti akan masuk ke dalam benteng. Saat itulah kita bersama dengan para pendekar lainnya akan membalas mereka semua.” Kata Ki Samaja.
Di luar benteng, aroma busuk dari racun para pendekar hitam menyeruak. Dengan cara itulah mereka berhasil membantai para pasukan dan pendekar yang berjaga di luar benteng. Tak lebih dari setengah hari, para pasukan kerajaan hitam itu berhasil menyelesaikan misi mereka. Jumlah pendekar setengah siluman yang menyerang itu tinggal seribu orang saja. dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki, mereka melompati benteng yang tinggi itu lalu berusaha membantai orang-orang yang ada di sana.
Panglima Kera Api cukup puas dengan apa yang ia saksikan. Setidaknya ia bisa menaksir kekuatan dan kemampuan lawan. Ia mengerahkan semua pasukannya untuk ikut menyusul para pasukan gelombang pertama yang telah berhasil melewati benteng kota kerajaan Swargawana.
__ADS_1