
Pradipa dan dua rekannya telah sampai di kota Mutiara Biru. Sementara, sisanya masih tersebar dan bersembunyi di sepanjang jalur menuju kota itu. Setidaknya, mereka telah membunuh lima pasukan pengirim pesan Swargabhumi yang dikirimkan Mahapatih Hamapadayana menuju Mutiara Biru dan selanjutnya akan pergi ke kota kerajaan Swargabhumi.
Pesan yang dibawa oleh para prajurit khusus itu merupakan pesan dengan stempel resmi Swargabhumi, sehingga tak mungkin bagi Pradipa dan rekan-rekannya untuk memalsukan pesan tersebut. Cara terbaik yang mereka pilih adalah membuat pesan itu tak pernah sampai dengan cara membunuh para kurirnya. Seperti dugaan Pradipa, para kurir atau pasukan mata-mata Swargabhumi itu merupakan pendekar yang cukup mumpuni, sehingga untuk menaklukkan mereka bukan pekerjaan yang semudah membalik telapak tangan.
Kota Mutiara Biru bagaikan kota mati dalam artian belum ada lagi aktivitas perekonomian yang berjalan di sana. Semua orang yang menghuni kota itu adalah orang-orang militer Swargabhumi. Kota itu kini menjadi pos pengiriman segala kebutuhan perang dari Swargabhumi. Semua kiriman berbagai kebutuhan yang mencangkup kebutuhan pangan, senjata, dan obat–obatan akan ditempatkan di kota itu sebelum nantinya akan dikirim secara bertahap kepada rombongan pasukan Hamapadayana.
Pradipa tak bisa masuk ke kota itu meski mereka menyamar sebagai warga sipil atau sekedar pengelana. Semua jalur telah ditutup dan dijaga dengan ketat. Setidaknya ada seratus ribu prajurit dan lima ratus pendekar sakti Swargabhumi yang bertugas di kota itu dibawah kepemimpinan senopati Girimaya, sepupu Mahapatih Hamapadayana. Dalam banyak hal, sebenarnya senopati Girimaya lebih unggul jika dibandingkan dengan Mahapatih Hamapadayana.
Setelah keberangkatan rombongan pasukan Swargabhumi menuju Swargadwipa, Girimaya sebagai pemimpin sementara di kota itu melakukan banyak perombakan, mulai dari membenahi kota serta mendisiplinkan para prajurit yang ada di sana untuk bertugas dengan sungguh-sungguh.
“Bagaimana menurut paman? Kita sama sekali tidak bisa memasuki kota itu!” tanya Pradipa kepada salah Ranggaweksi, satu rekannya yang telah berumur setengah abad, jauh lebih tua dari usia Pradipa. Ia adalah pendekar senior dari perguruan Cakar Besi.
“Kita mungkin bisa menyusup pada malam hari. Ini sulit sebenarnya. Di malam hari kita tak banyak mendapatkan informasi berharga, kecuali jika kita berhasil mendekat ke area balai kota tanpa ketahuan.” Kata Ranggaweksi.
__ADS_1
“Kita juga akan kesulitan meski bisa saja kita curi seragam prajurit mereka, lalu kita bisa berjalan-jalan menyusuri sudut-sudut kota. Kendalanya hanya satu saja, kakang Pradipa terlalu mencolok untuk menjadi prajurit. Kakang tak bisa menyembunyikan raut wajah kakang dengan penyamaran apapun.” Kata Anggidya, pendekar muda yang usianya kurang lebih dua tahun di bawah Pradipa. Ia adalah pendekar dari desa Atas Awan dengan kekuatan angin yang tak bisa diremehkan.
Pradipa paham dengan maksud Anggidya. Ketampanan yang ia miliki akan menjadi kelemahan pada situasi seperti ini. “Baiklah, tak ada salahnya kita coba usul dari paman Ranggaweksi. Kita akan menyusup di malam hari. Itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
Pradipa dan kedua rekannya itu akhirnya memilih untuk menunggu malam tiba. Dari suatu tempat yang cukup tersembunyi, mereka bisa menyaksikan aktivitas para prajurit Swargabhumi yang menghuni kota Mutiara Biru itu. Diam-diam Pradipa berfikir, membobol rombongan prajurit yang dipimpin oleh Hamapadayana Jauh lebih mudah dari pada menyusup di kota itu. Bahkan jika mereka menyusup di malam hari. Para pendekar yang berjaga di kota itu berada di berbagai penjuru. Cukup mudah bagi Pradipa dan kedua rekannya untuk mengenali mana saja yang merupakan pendekar berilmu tinggi dan mana yang prajurit biasa. Sekalinya Pradipa dan kedua rekannya itu mencoba menyusup dengan ilmu meringankan tubuh, maka pancaran energi mereka kemungkinan besar tertangkap oleh para pendekar yang berjaga di sana.
Ketika malam tiba, Pradipa belum juga memutuskan untuk menyusup. Ia dan kedua rekannya memilih untuk mengamati dahulu situasi malam di kota itu dari persembunyian mereka.
Pradipa tak tahu bahwa dari arah yang berbeda, Jalu dan Niken mengalami permasalahan yang sama. Sepasang pendekar itu sampai di luar kota itu pada hari yang sama dengan kedatangan Pradipa dan kedua rekannya.
Ketika Pradipa dan dua rekannya masih menunggu kesempatan yang baik untuk mendekat atau menyusup ke dalam kota, ia dan dua rekannya itu tiba-tiba merasakan pancaran energi beberapa pendekar yang sedang bertarung di kota itu. Kobaran api telah membakar beberapa bangunan yang ada di kota itu. Semua pendekar Swargabhumi melesat ke arah sumber pertarungan. “Ini kesempatan yang bagus.” Kata Pradipa kepada dua rekannya.
Jalu dan Niken terpergok oleh beberapa pendekar ketika keduanya mencoba untuk menyusup kota Mutiara Biru. Lalu keduanya membuat kekacauan dan menantang para pendekar yang ada di sana. Tentu saja, keduanya tak akan bisa menghadapi semua pendekar Swargabhumi yang rata-rata merupakan pendekar pilihan untuk menjamin keamanan dan menjaga semua aset yang ada di sana. Meski Jalu dan Niken memiliki kemampuan yang jauh lebih unggul dari semua pendekar yang ada di sana, namun tenaga mereka terbatas untuk melayani semua pertarungan.
__ADS_1
“Bukankah kalian yang waktu itu membuat kekacauan di sini?! Apa lagi yang kalian inginkan sekarang?” tanya senopati Girimaya yang segera datang ke sumber kekacauan.
“Kami menginginkan semua emas dan perak yang kalian miliki di sini.” Jawab Jalu.
“Hahaha, apa kalian tidak salah alamat? Kalian merampok di salah tempat, ki sanak. Kami adalah prajurit swargabhumi.” Kata Girimaya.
“Tentu saja kami tahu. Dan pastinya kalian membawa banyak uang dari kerajaan kalian, bukan?!” kata Jalu.
“Kau yakin bisa menghadapi seratus ribu pasukan dan lima ratus pendekar sakti yang kini telah mengepung kalian semua?” ledek Girimaya.
“Aku yakin kalian tak punya nyali menghadapiku satu-persatu. Apapun hasilnya, bisa kita coba. Kita bertarung jika kalian menolak memberikan emas dan perak yang aku minta.” Kata Jalu.
Girimaya yang tak mengetahui identitas Jalu dan Niken itu masih mengira bahwa kedua pendekar itu adalah perampok. Satu-satunya orang yang mengenali bahwa Jalu dan Niken adalah pemimpin pasukan Swargadwipa yang berada di kota Dhyana adalah sang pengirim pesan yang kebetulan pada malam hari itu tak ada di sana.
__ADS_1
Girimaya masih ingat aksi Jalu waktu itu, yang seorang diri berani membakar dan mengacaukan kota Mutiara Biru. Jika hal itu terjadi, maka Girimaya akan kehilangan banyak prajurit serta akan mengalami banyak kerugian apabila banyak bangunan yang terbakar. Ia memikirkan hal lain sebagai solusi yang mungkin adalah yang terbaik di saat rawan seperti itu.
“Jika aku memberikan emas dan perak yang kau minta, apakah benar kau akan pergi dari sini?” kata Girimaya. Ucapan senopati itu justru malah membuat para prajurit dan pendekar Swargabhumi yang ada di sana sangat terkejut. Mereka merasa diremehkan. Mereka juga menganggap Girimaya adalah seorang pengecut yang tak berani menghadapi sepasang pendekar misterius itu.