Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 203 Percakapan Mungil


__ADS_3

Bulan purnama tampak benderang di langit. Hanya ada satu rembulan saja yang terlihat dan di kelilingi oleh gugusan rasi bintang. Sesekali tampak bintang berekor melintas di angkasa. Langit terasa begitu dekat ketika kedua pendekar muda itu berada di hamparan rumput yang luas dan sunyi. Nyanyian serangga, suara burung malam dan lolongan serigala di kejauhan adalah hal yang sudah terasa lama tak mereka dengarkan.


“Kita telah sampai di rumah, Nala.” kata Batari Mahadewi membuka suara setelah mereka bangkit dari tanah. Entah berapa lama keduanya tergeletak pingsan di sana.


“Semoga saja, Tari. Tapi sepertinya ini memang dunia kita. Energi alam yang tersedia jauh lebih tipis dari yang bisa kita serap dengan mudah di dunia tiga rembulan untuk memulihkan tenaga.” Kata Nala.


“Kita tak membawa oleh-oleh apapun kecuali pakaian pemberian guru Rapapu yang kita kenakan selama di dunia tiga rembulan. Pakaian ini akan terlihat aneh di dunia kita. Kita butuh pakaian pelapis baru. Hahaha, dan kita tak punya apapun untuk membelinya ketika nanti kita berjumpa dengan desa atau kota.” Kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, bilang saja kau mau membeli makanan. Iya, kau benar. Jika saja kita membawa segenggam pasir emas dari kakek dewa sebelum kita pulang, maka…” Sebelum Nala menyelesaikan kalimatnya, Batari mahadewi telah lebih dahulu menyahutnya.


“Maka kita akan kehilangan emas itu ketika kita sampai di sini. Apa yang kau pikirkan, Nala, hahaha.” Kedua pendekar muda itu merasa lega dan bahagia. Setidaknya untuk sementara waktu. Keduanya sedang tidak mengetahui apa yang tengah terjadi di Mahabumi dan pulau-pulau sekitarnya.


“Tari, setelah ini apa yang akan kau lakukan?” tanya Nala.


“Tentu saja kita akan kembali ke Swargadwipa. Tapi saat ini kita tak tahu sedang berada di mana. Mungkin besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan. Di malam hari seperti ini, jikalau kita bisa menemukan desa, tentu penampilan kita akan membuat orang-orang takut. Terutama jika mereka melihatku.” Kata Batari Mahadewi sembari melihat ke permukaan kulitnya.

__ADS_1


“Mereka akan mengira kau adalah siluman yang cantik, Tari.” Kata Nala setengah menggoda gadis yang benar-benar terlihat cantik itu meski bentuknya sangat lain dengan manusia pada umumnya.


“Hahaha, siluman cantik!” Batari Mahadewi tertawa getir. Kali ini benar-benar getir sebab ia tahu ia bukan manusia yang sesungguhnya meski ia memiliki perasaan manusia yang sesungguhnya, tak terkecuali perasaan-perasaan cinta, atau entah apalah itu namanya; perasaan yang membuat jantungnya sesekali berdegub kencang, yang membuatnya salah tingkah, yang membuatnya marah tanpa sebab yang jelas, dan yang membuatnya tak ingin jauh apalagi kehilangan.


“Jangan berkecil hati, Tari. Lihatlah aku. Meski aku terlihat sebagaimana manusia pada umumnya, bukankah penampilanku saat ini adalah palsu. Aku bahkan tak memiliki bentuk tertentu ketika aku bertarung.” Kata Nala menghibur perempuan istimewa yang ada di sebelahnya itu.


“Nala, setelah ini, apa yang akan kau lakukan?” tanya Batari Mahadewi. Gadis itu berharap Nala akan menemaninya.


“Aku ingin tahu kabar kakakku, mungkin setelah ini kita akan berpisah, Tari. Aku akan mencari kakakku dan kau akan kembali menemui saudara-saudarimu di Swargadwipa. Kau memiliki keluarga di sana, sementara aku hanya memiliki kakakku sebagai keluarga.” Jawab Nala.


“Begitu aku menemukan kakakku, aku akan mencarimu, Tari. Tunggulah aku. Aku akan menemanimu mencari altar samudera dan aku akan membantumu mengalahkan Kalapati. Saat ini aku hanya ingin memastikan bahwa kakakku selamat. Semoga saja. Aku tak yakin, sebab yang selalu ia cari adalah kematian dalam pertarungan. Ia percaya itulah kehormatannya.” Kata Nala. Ia merasa harus menemani perempuan istimewa di sebelahnya itu, bukan semata-mata karena Batari Mahadewi telah memiliki andil banyak yang membuatnya kini memiliki kekuatan dahsyat, namun karena ada hal lain dalam perasaannya, yang entah bagaimana ia bisa menerjemahkan dalam bahasa.


“Ya, kau harus mencari kakakmu, Nala. Aku masih ingat, ia adalah pendekar perempuan yang luar biasa kuat dengan kemampuan sungguh mengagumkan. Setidaknya ketika aku melihatnya bertarung, baru kali itu aku melihat ada pendekar yang memiliki kemampuan menghidupkan benda-benda. Aku yakin ia masih hidup saat ini. Dengan kemampuan yang ia miliki, ia adalah perempuan yang sulit ditandingi bahkan oleh pendekar-pendekar sakti di Swargadwipa. Jadi, kau harus mencarinya.” Kata Batari Mahadewi. Semangatnya kembali pulih setelah Nala berkata akan mencarinya setelah bertemu dengan kakaknya.


“Tari, bukankah setelah kau mendapatkan energi dari pulau Emas, maka kemampuanmu menjadi bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya? Semestinya kita bisa ke Swargadwipa saat ini juga dengan kemampuanmu berpindah dalam satu kedipan mata. Saat ini, apakah kau bisa merasakan gelombang energi dari orang-orang yang kau kenal di Swargadwipa?” tanya Nala.

__ADS_1


“Akan aku coba!” Batari Mahadewi membuka semua indera tubuhnya, lalu memusatkan pikirannya, menangkap energi-energi yang ia kenali. “Terlalu jauh Nala. Dan tak semudah itu melakukan jurus ini.” Kata Batari Mahadewi berbohong untuk pertama kalinya. Ia ingin menikmati sedikit waktunya sebelum ia berpisah dengan Nala. “Tenanglah, tak butuh waktu sehari bagi kita mengelilingi dunia ini. Apakah kau tak merasakan bahwa tubuh kita terasa ringan di dunia kita ini?!” kata Batari Mahadewi. Ia melenting ke angkasa dengan anggun hingga tubuhnya tak terlihat mata, dan dalam satu kedipan mata ia telah berada di belakang Nala, dan memberikan tepukan kecil dipunggungnya.


Nala selalu takjub jika perempuan istimewa itu melakukan hal-hal seperti itu. Ia pun melakukan hal yang sama, melompat jauh ke angkasa, lalu menciptakan pendaran berwarna emas di langit ketika ia merubah tubuhnya menjadi butiran-butiran emas yang bercahaya terang. Lalu ia menghilang. Meski Batari Mahadewi masih bisa merasakan energi Nala berada di sekelilingnya, namun perempuan sakti itu sama sekali tak bisa melihat Nala dan tak bisa memastikan keberadaannya.


Nala menghilang ketika ia merubah wujudnya menjadi partikel-partikel energi yang tak terlihat. Ketika hawa dingin terasa di tengkuk Batari Mahadewi, tahulah perempuan itu bahwa Nala telah ada di belakangnya. Kali ini giliran Batari Mahadewi yang terkagum-kagum dengan kemampuan baru lelaki tampan dan gagah yang telah sepuluh tahun ini menemaninya siang dan malam.


“Bagaimana kau melakukannya, Nala? Jika kau menyerangku, sungguh aku tak bisa menghindarinya.” Kata batari Mahadewi.


“Aku bisa merubah wujudku tanpa wujud setelah menyerap energi dari pulau emas itu” kata Nala.


“Seharusnya kau bisa merubah bebatuan ini menjadi butiran emas, bukan?!” tanya Batari Mahadewi. Nala mencoba apa yang baru saja dikatakan oleh perempuan istimewa itu. Dan benar, ia merubah beberapa kerikil menjadi emas. Namun bukan dari energinya, melainkan kekuatan sihir yang telah terbuka. Nala masih belum menyadari bahwa yang baru saja ia lakukan adalah kemampuan sihir sang pangeran kegelapan yang secara otomatis ada pada dirinya ketika ia memiliki energi puncak dari seluruh kemampuannya.


“Tari, besok pagi kita akan makan makanan enak. Semoga kita menemukan rumah makan yang istimewa setelah mala mini.” Kata Nala masih heran dengan beberapa butir emas yang ia ciptakan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2