Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 37 Kitab Langit dan Legenda Pendekar Tapak Petir


__ADS_3

Setelah beristirahat sejenak di kamar tamu kediaman Ki Elang Langit, Batari Mahadewi ingin berjalan-jalan mengenali desa itu lebih jauh. Ia sedang tak ingin mengenali desa itu dengan cara aneh yang ia miliki, seperti misalnya membaca guratan tanda pada bebatuan atau menemukan aksara-aksara alam yang merekam jejak sejarah. Hal itu membuat kepalanya selalu pening.


Setiap orang yang berpapasan di jalan selalu tersenyum ramah padanya seolah mereka semua sudah tahu jika Batari Mahadewi adalah tamu Ki Elang Langit. ‘Betul sekali kata penjaga gerbang itu. Di sini tak ada penginapan dan tak ada kedai. Lalu bagaimana mereka mengatur perekonomian di sini?’ apakah mereka hanya mengandalkan hasil bumi saja? Di atas sini tidak ada ladang dan semua tanaman di sini merupakan tanaman aneh yang baru kali ini aku lihat.’ Batari Mahadewi pensarasan dengan cara hidup masyarakat desa Atas Awan.


Batari Mahadewi memandangi sekelompok orang yang sedang bekerja di kebun memanen beberapa jenis buah-buahan aneh. Mereka berpenampilan seperti petani. Namun sebenarnya mereka semua adalah para pendekar sakti. Batari Mahadewi sangat kagum dengan hal yang ia lihat itu. Salah seorang dari mereka datang mendekat ke arah Batari Mahadewi. Ia tampak seperti perempuan paru baya, namun seluruh rambutnya telah memutih.


“Nona adalah tamu tetua desa?” tanya perempuan itu dengan ramah.


“Betul bibi, saya ingin berjalan-jalan melihat-lihat kehidupan di sini. Saya sangat kagum karena di sini sangat jauh berbeda dengan kehidupan di desa bawah.” Jawab Batari Mahadewi.


“Ya, beginilah kami hidup. Ini, ambilah buah dari kebun kami. Ini adalah buah tomat langit. Tapi rasanya sangat berbeda dengan buah tomat yang nona kenali di bawah sana.” Kata perempuan itu. Hampir setiap hari kami semua makan buah-buahan dari kebun kami. Sangat jarang kami turun ke bawah untuk mencari bahan makanan lain. Itupun kami mencarinya hanya untuk suguhan para tamu.”


Batari Mahadewi menerima buah itu dan mulai memakannya. Daging buah itu lebih kasar dari yang ia kira, warna dan bentuknya seperti tomat, namun setelah ia gigit, daging buah di dalamnya berwarna keemasan. Buah itu terasa pahit dengan sedikit rasa manis. Anehnya, setelah ia menghabiskan satu buah aneh itu, tubuhnya terasa segar dan pikirannya terasa jernih.


“Bagaimana rasaya, nona?” tanya perempuan itu.


“Buah ini tidak seperti buah tomat, bibi, hahaha…sekarang saya tahu kenapa warga desa ini tak membutuhkan makanan seperti warga desa bawah.” Jawab Batari Mahadewi. “Awalnya saya tidak percaya, bibi, karena di sini tidak ada pasar, penginapan, kedai, sawah…lalu bagaimana orang-orang memenuhi kebutuhan hidupnya…ternyata ini jawabannya.”


“Nona benar sekali. Kami hanyalah pendekar dan hidup kami sepenuhnya untuk berlatih. Semua yang kami bangun di sini adalah hasil alam. Kami membangunnya bersama-sama. Tak ada uang di sini. Kalaupun kami memiliki uang, itu adalah hadiah jika beberapa dari kami telah selesai menjalankan misi tertentu dari kerajaan. Kami menggunakannya untuk membeli bahan makanan untuk para tamu, atau bahan pakaian yang tak bisa kami peroleh dengan hasil alam di sini. Hanya tanaman tertentu yang bisa tumbuh di atas awan ini.” Perempun itu menjelaskan.


“Jadi semua bangunan yang ada di sini adalah hasil jerih payah semua warga yang bergotong royong?” tanya Batari Mahadewi.


“Betul. Hanya karena kami semua adalah pendekar, jadi membuat bangunan serumit ini bukanlah hal yang sulit.” Jawab perempuan itu. “Baiklah nona, selamat menikmati suasana di desa ini. Saya harus meneruskan pekerjaan saya.”


“Terimakasih banyak bibi atas buah tomat ini dan cerita dari bibi.” Kata Batari Mahadewi.


“Sama-sama. Oh iya, barangkali nona mau mengunjungi bukit puncak itu…mungkin di sana nona bisa menemukan hal yang menarik” balas perempuan itu sambil tersenyum ramah. Perempuan itu kembali lagi menuju tengah kebun bersama sekelompok orang yang sedang bekerja di sana.


Batari Mahadewi menatap bukit kecil yang merupakan puncak tertinggi di desa atas awan itu. Ia merasakan pancaran energi alam yang sangat besar di sana. Iapun penasaran dan berjalan menuju ke bukit itu.


Di atas bukit terdapat sebuah bangunan suci yang bertuliskan Altar Langit. Bangunan itu hanya berupa lantai batu dengan pilar-pilar raksasa menjulang ke langit yang seolah memberikan kesan bahwa tempat itu merupakan tempat untuk menyambut para dewa yang turun dari khayangan.


Tak ada siapapun di sana. Batari Mahadewi duduk di tengah-tengah altar sambil menikmati rasa damai yang dihadirkan dari ruang itu. Dalam hening dan suara desir angin, Batari Mahadewi mulai menangkap aksara rahasia yang bermunculan di pilar-pilar raksasa itu. Tanpa sengaja ia membacanya, dan mempelajarinya dari awal hingga akhir.

__ADS_1


Dari aksara-aksara itu, akhirnya ia tahu bahwa orang pertama yang membangun sesuatu di puncak gunung ini bukanlah Ki Elang Langit, tapi pendekar Tapak Petir yang hidup 8 abad yang lalu. Ia membangun altar itu untuk menunggu sosok yang ia cintai, yaitu sang dewi khayangan ia harap akan turun ke bumi. Namun yang ia tunggu tak pernah turun ke bumi hingga ia memutuskan untuk moksa, melebur menjadi aksara rahasia pada pilar-pilar altar itu.


Pendekar Tapak Petir tak mau menjadi dewa sekalipun ia memiliki kesempatan itu. Ia memilih abadi sebagai pilar-pilar raksasa itu dan kelak akan menitipkan ilmunya pada orang-orang tertentu yang sanggup menerimanya.


Ki Elang Langit adalah orang berikutnya yang tinggal di atas gunung itu. Pertama-tama, ia menemukan altar langit itu dan mempelajari sebagian dari aksara rahasia yang tersembunyi di sana. Dengan itu, ia bisa menguasai seperempat bagian dari Kitab Langit yang merupakan perwujudan dari pendekar Tapak Petir setelah ia melakukan moksa.


‘Aksara ini adalah aksara rahasia Kitab Langit yang berisi tahap-tahap jurus untuk menuju jurus akhir, yaitu jurus Tapak Petir.’ Batin Batari Mahadewi. Dasar dari ilmu Kitab Langit itu adalah mengelola energi untuk mengendalikan angin dan yang kedua adalah mengelola energi untuk menciptakan listrik dengan capaian tertinggi adalah menciptakan petir dari lontaran energi untuk diarahkan kepada lawannya.


Hanya orang dengan energi dewa saja yang bisa menguasai ilmu Kitab Langit dan harus telah mengaktifkan 10 indera pada tubuhnya. Begitu Batari Mahadewi selesai mempelajari ilmu Kitab Langit, sekali lagi tubuh Batari Mahadewi bereaksi. Ada energi kuat yang memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Pilar-pilar itu seolah memberikan seluruh kekuatannya pada Batari Mahadewi.


Setelahnya, tubuh Batari Mahadewi seperti dililit oleh angin ****** beliung dan aliran listrik berwarna putih kebiru-biruan. Rasanya menyakitkan namun hal itu tak terjadi lama. Pusaran angin kecil dan aliran listrik itu merasuki jari-jari dan telapak tangan Batari Mahadewi melalui kuku logamnya yang berwarna emas itu. Lalu hal aneh mulai terjadi.


Jemari dan kedua telapak tangan Batari Mahadewi telah berubah menjadi seperti kuku-kukunya, yakni logam berwarna keemasan. Hal itu membuatnya cemas. ‘Apa ini…seharusnya manusia tak bisa merubah tubuhnya menjadi logam…lalu siapakah aku ini…’ batin Batari Mahadewi. Ia memiliki firasat bahwa mungkin saja suatu saat tubuhnya akan berubah total dan ia tak bisa lagi mengendalikan dirinya. Ia takut jika ia akan menjadi ancaman bagi dunia.


‘Semoga saja aku tak kehilangan akal sehatku…semoga aku tak kehilangan nuraniku sebagai manusia…’ Batari Mahadewi menenangkan dirinya. Pada situasi seperti itu, ia selalu merasa sedih. Bahkan sejak kecil, sejak segel pertamanya terbuka, ia tak lagi bisa sepenuhnya merasa bahagia. Ia kehilangan masa kecilnya yang semestinya menyenangkan, bisa bermain dengan teman-temannya dan hidup layaknya anak normal. Sebaliknya, ia merasakan kesunyian. Salah satu kebahagian yang tersisa hanyalah kasih sayang ibunya yang tak pernah putus mengalir padanya.


Ilmu Kitab Langit bisa dikuasai Batari Mahadewi dengan mudah, namun ada rasa bimbang melanda dirinya…’Apakah paman Elang Langit akan marah jika tahu aku telah menguasai ilmu ini…ah…aku tak sengaja bisa mempelajarinya…beliau pasti tahu meski aku menyembunyikan kemampuan ini…tapi bukankah beliau juga mempelajari ilmu ini secara tidak sengaja…’ Batin Batari Mahadewi.


Hari hampir petang. Setelah Batari Mahadewi benar-benar mampu menguasai dirinya, menguasai energinya dan menyembunyikannya dengan sempurna, ia kembali ke kediaman Ki Elang Langit. Jalu dan Niken cemas menunggunya. Mereka berdua berusaha mencarinya sejak ia pergi namun tak menemukannya. Tak seorangpun di gunung itu menangkap pancaran energi sewaktu Batari Mahadewi mempelajari dan menyerap ilmu Kitab Langit. Pilar-pilar altar langit menghalau pancaran energi dari Batari Mahadewi sehingga pancaran energi itu tak bisa keluar dari altar itu.


“Aku baru saja latihan di puncak bukit itu.” Kata Batari Mahadewi dengan polosnya.


#####


Bersambung di next chapter ya guys....thanks udah mau baca sampai sejauh ini. Di bawah ini cuma obrolan dalam hati antara....


BM: Thor..author….woy…aku di sini…


D: Ya…kenapa B? Aku mau istirahat nih..


BM: Apakah kamu tidak terlalu berlebihan…Kamu terlalu cepat menambah kesaktianku?


D: Memangnya kenapa?

__ADS_1


BM: Ini akan membuat ceritaku tidak menarik. Aku terlalu kuat saat ini…lalu siapa yang bisa menjadi lawanku.


D: Lihat saja nanti…


BM: Kau jangan ngawur!


D: Kau jangan protes terus…aku yang menciptakanmu….aku yang membuat cerita…aku yang menentukan….kau tahu, ini baru permulaan. Lawan-lawanmu di episode selanjutnya bukan lawan-lawan lemah seperti yang kau hadapi sebelumnya. Jadi terima saja keadaanmu sekarang ini…!


BM: Kau tega sekali. Aku menderita. Kau buat aku sebagai tokoh yang pemurung….kau kira aku bisa keren kalau punya kesaktian tinggi semacam itu dalam waktu singkat! Aku baru 7 tahun….


D: Justru karena kamu masih anak-anak. Sudahlah….percayakan saja cerita ini padaku….aku sudah mengantuk ini…dan mau tidur!


BM: Mau tidur!!!! PRmu masih banyak…itu lihat itu…episode sebelumnya masih kacau penulisannya…salah ketik, salah nama, spasi kadang ilang, format tulisan ancur! Parah!


D: Kau pikir aku diam saja? Aku sudah berusaha mengedit berulang kali tapi hasilnya tetap begitu. Aku sudah posting dengan beberapa cara, tapi ya nggak banyak yang berubah…


BM: Kau tidak mau tanya seseorang?


D: Siapa?


BM: Author lain…jangan malu-malu…kau ini pemula, jadi harus banyak tanya!


D: Bukannya aku malu…tapi bagaimana caranya? Aku takut mengganggu waktu mereka…dan…ya…kau benar, mungkin aku…


BM: bagaimana jika tanya editor?


D: how..how…how…? jika saja ada yang memberi saran di komentar…tapi akan kucoba lagi…posting dengan cara lain.


BM: Posting di HP?


D: Aku nulis di laptop…


BM: Kan bisa saja…

__ADS_1


D: Iya tapi…oke-oke-oke….besok akan aku usahakan…tidak tidak…setelah ini…dan lihat hasilnya…apakah sama saja…


__ADS_2