Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 308 Ternyata Hanya Pulau Dalam Dongeng


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Nala telah melewati tiga pulau besar dan di pulau ke tiga itu, mereka harus berhenti sebab mereka melihat makhluk iblis berkekuatan tinggi sedang membantai manusia yang tinggal di salah satu wilayah di pulau itu.


Makhluk itu adalah iblis Bumbaka, salah satu makhluk iblis setara Bail yang rencananya akan di cari oleh Mambacha setelah mereka bertemu Moro.


Iblis itu sedang memporak-porandakan sebuah kuil tempat tinggal para pertapa suci di wilayah itu. Pertapa-pertapa itu adalah hidangan lezat bagi Bumbaka, sebab mereka bukanlah manusia biasa, melainkan para manusia sakti.


Hanya saja, kesaktian puluhan pertapa yang ada di sana tetap tak mampu menandingi Bumbaka. Mereka telah melakukan perlawanan penghabisan. Segala kekuatan telah dikerahkan dan tempat itu dikelilingi asap dari ledakan-ledakan pertarungan.


Batari Mahadewi dan Nala turun dan langsung menghadang makhluk yang kulitnya mirip sisik trenggiling berwarna hijau itu.


“Hati-hati, Tari, makhluk ini sangat kuat!” Nala memperingatkan


“Gunakan golokmu, Nala, sekaligus untuk menguji senjata pusaka itu!” kata Batari Mahadewi. Nala mengambil golok tanpa sarung yang ada di punggungnya itu. Ia lalu mengalirkan tenaganya ke golok dalam genggaman tangannya sehingga golok itu memancarkan lima warna.


Melihat pancaran kekuatan dari Nala dan Batari Mahadewi, seketika para pertapa yang tersisa tahu bahwa kemungkinan besar mereka akan selamat. Yang pasti, tanpa di suruh, mereka segera pergi menyelamatkan diri dan melihat pertarungan dua penyelamat yang baru datang itu melawan iblis bersisik hijau dari jarak yang jauh.


Sama seperti reaksi para iblis ketika melihat Nala, Bumbaka langsung berlutut memberi hormat sekalipun ia merasa kesal karena makan siangnya terganggu. Nala tak mau berbasa-basi dan tak mau berpura-pura menjadi pangeran kegelapan. Melihat kesempatan itu, ia melesat dan mengayunkan pedangnya ke punggung makhluk iblis yang sedang berlutut itu. Seketika terdengar bunyi ledakan yang menggelegar di sertai debu yang berhamburan ke angkasa.


Nala salah memilih sasaran. Ia tak menyangka sisik hijau itu berhasil menahan gempuran senjata ciptaannya yang telah ia aliri tenaganya sendiri. Ia sungguh kesal, bahwa ternyata senjata semacam itu masih belum sanggup menebas punggung makhluk bersisik hijau itu.


“Sepertinya pangeran hilang ingatan ya! Kulitku terbuat dari berlian iblis yang tak akan bisa ditembus oleh pedang para dewa sekalipun! Maaf, pangeran. Sepertinya aku harus melawanmu. Aku tak mau lagi kehilangan nyawa untuk kedua kalinya.” Makhluk itu melesat dengan kecepatan tak terduga dan langsung menghantam Nala sehingga tubuh lelaki itu melayang jauh menabrak sebuah bukit batu di belakang kuil.


Hantaman keras itu membuat tubuh Nala melesak ke dalam bukit batu yang disertai dengan suara berdentum keras.


“Jadi sisikmu memang keras ya? Bagaimana jika kau mencoba merasakan kukuku ini. Aku tidak tahu, apakah kuku ini bisa menembusnya!”Batari Mahadewi memancarkan kekuatan tinggi. Tubuhnya di selubungi cahaya emas dengan pijaran listrik yang keluar dari tubuhnya.


“Coba saja!” Makhluk itu menekuk tubuhnya hingga menjadi seperti bola raksasa, lalu melesat untuk menghantam Batari Mahadewi.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu menyambut sambaran bola hijau dengan cengkeraman tangannya. Kuku-kuku panjangnya menembus kulit hijau itu. Kemudian, gadis kekasih Nala itu berputar-putar dan membanting Bumbaka ke tanah hingga tubuhnya melesak dalam sekali. Suara makhluk itu terdengar sangat jelas bahwa ia menjerit kesakitan.

__ADS_1


Makhluk itu segera keluar dari dalam tanah lalu mengucap sumpah serapah.


“Bagaimana? Kukuku cukup tajam untuk melukai kulit hijau yang kau banggakan itu kan?!” ledek Batari mahadewi.


“Sialan! Aku akan membalasmu!” belum sempat Bumbaka bergerak untuk membalas perlakuan Batari Mahadewi, Nala muncul secara tiba-tiba dan langsung mengayunkan sekali lagi golok pusakanya yang telah ia aliri dengan kekuatan es. Senjata itu memang tak bisa menembus kulit iblis itu, namun cukup tangguh untuk membuat Bumbaka membeku. Efek beku itu bekerja dua kali lipat jika dibandingkan dengan kekuatan Nala tanpa senjata pusaka.


“Tak usah berlama-lama, Tari. Sekarang giliranmu untuk membelah makhluk itu dan menemukan mustikanya!” teriak Nala.


Batari Mahadewi langsung saja mengayunkan kuku jemari tangannya, mencabik-cabik tubuh beku makhluk itu hingga koyak. Gadis jelmaan pusaka dewa itu merogoh jantung Bumba dan mengambil mustika yang bersemayam di dalamnya.


Sisanya, Nala membakar makhluk itu hingga menjadi abu. Sebongkah mustika iblis yang memancarkan cahaya hijau berkilauan telah berada di genggaman Batari Mahadewi. “Ini mustika iblis yang sangat bagus, Nala!”


“Benar sekali. Apa yang akan kita lakukan dengan mustika itu?” tanya Nala.


“Kau tak ingin menggunakannya? Tanam saja ke dalam tubuhmu biar kekebalanmu semakin meningkat!” kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, buat apa?! Kita simpan saja dulu. Nanti akan aku satukan dengan golok ini. Aku jadi sedikit menyukai pusaka ini,” kata Nala.


“Hanya sedikit?” ujar Nala kesal.


“Daripada tidak sama sekali!” Batari Mahadewi tertawa geli.


Para pertapa itu bergerak dengan perasaan setengah khawatir untuk menemui Nala dan Batari Mahadewi. Siapapun kedua orang itu, yang jelas para pertapa yang masih selamat itu ingin mengucapkan terimakasih.


“Kami beruntung tuan dan nona kebetulan sedang berada di sini dan menyelamatkan kami. Terimakasih banyak. Dengan apa kami bisa membalas kebaikan tuan dan nona?” salah seorang pertapa itu memberi hormat dalam-dalam.


“Tak perlu sungkan, kakek. Kami memang sedang memburu para iblis itu. Keberadaan mereka membawa bencana,” kata Batari Mahadewi.


“Sudah satu bulan lebih makhluk ini terus menerus mengganggu orang-orang di berbagai wilayah di pulau ini. Sebelum ke sini, ia sudah menghancurkan beberapa perguruan beladiri di wilayah sebelah. Kami tak mengira makhluk itu ternyata juga datang kemari dan menyerang kami semua,” kata pertapa itu.

__ADS_1


“Di pulau-pulau lainnya, banyak iblis yang juga berbuat demikian, kakek. Oh iya, apakah kakek tahu di mana letak pulau Saramantha?” tanya Batari Mahadewi.


“Pulau Saramantha? Apakah nona tidak salah? Pulau itu hanyalah pulau dalam dongeng. Tidak ada yang namanya pulau Saramantha!” jawab pertapa tua itu.


Batari Mahadewi dan Nala saling berpandangan.


“Mainan daunmu salah besar, Tari!” kata Nala.


“Sandiwarmu juga telah terbongkar sebelum kau menyadarinya!” balas Batari Mahadewi.


“Hahaha, apa yang sedang kalian bicarakan? Apakah ada seseorang yang membohongi kalian dan membuat kalian mencari pulau itu?” tanya sang kakek.


“Benar kakek, hahaha, kami merasa sangat bodoh sekarang!” kata Nala. Ia tak ingin menceritakan soal makhluk-makhluk iblis yang berhasil menipu mereka berdua itu.


“Baiklah, kakek. Sepertinya kami harus kembali lagi dan memberikan hukuman kepada teman kami yang sudah berbohong itu. Maafkan, kami tidak bisa berlama-lama di sini,” kata Batari Mahadewi.


“Baiklah tuan dan nona. Sekali lagi, terimakasih banyak.”


Batari Mahadewi dan Nala pergi mencari tempat untuk berbicara. Mereka singgah di sebuah hutan lebat di pulau itu.


“Sudah kuduga. Makhluk iblis itu sangat cerdik. Jika mereka menyuruh kita pergi ke sini, artinya mereka sedang ingin melindungi ratu kegelapan.”


“Dan Tirayamani tak jauh dari tempat kita bertemu dengan makhluk-makhluk iblis itu, bukan?”


“Sepertinya begitu, Tari. Jadi apa yang akan kita lakukan? Jika kita ke sana, tentu mereka sudah menyiapkan banyak hal untuk menyambut kedatangan kita!”


“Andai kekuatanku sudah terbuka semua, hal ini mungkin tak akan sulit, Nala. Tetapi kita tak punya pilihan lain. Menunda sama artinya memberi kesempatan ratu kegelapan mengumpulkan kekuatan. Aku tanya padamu, andaikan di kerajaan itu telah ada lima puluh makhluk iblis sekuat iblis hijau tadi, apakah kita sanggup melawan dengan seluruh kekuatan yang kita miliki?” tanya Batari Mahadewi dengan wajah serius.


“Jika kita tak main-main, dan bekerja sama dengan baik, aku yakin kita bisa menghabisi mereka semua!”

__ADS_1


“Kalau begitu, ayo kita segera ke pulau hitam!” Batari Mahadewi bangkit berdiri. Ia yakin pertarungan yang akan ia hadapi kali ini akan sangat membahayakan dirinya dan Nala, namun ia lebih yakin bahwa ia dan nala sanggup melewatinya jika bertarung dengan kekuatan puncak yang belum pernah mereka gunakan sama sekali sejak mereka mendapatkannya di pulau Emas dunia tiga rembulan.


__ADS_2