
Ketika hari menjelang pagi, para ksatria raksasa itu semakin mendesak para tetua pendekar Mahabhumi. KiGading Putih masih bertarung melawan dua raksasa yang menjadi jatahnya. Jika kakek tua itu tak menggunakan baju perang buatan Batari Mahadewi, mungkin ia sudah mati sejak bertarung melawan raksasa-raksasa sebelumnya.
Baju itu benar-benar melindungi tubuhnya dari pukulan-pukulan para raksasa yang tak sempat ia hindari. Ia memang tak terluka, namun sebagai gantinya, tenaganya lebih banyak terserap. Dua raksasa itu menyerang sang kakek Gading dari dua arah berlawanan. Ia hanya terus menerus menghindar tanpa sempat memberikan serangan balasan.
Tak hanya ia saja yang bernasib demikian, para tetua pendekar Mahabhumi lainnya tak ada yang tak kelelahan. Pendekar-pendekar lainnya yang berjaga di benteng mulai gelisah. Mereka tak tahan untuk menunggu dan juga tak bisa membiarkan guru-guru mereka terbunuh oleh para raksasa. Akhirnya, mereka tak tahan lagi. Mereka melesat untuk memberikan bantuan, tak terkecuali murid-murid Ki Gading Putih. Mereka masing-masing melesat memilih lawan yang paling dekat.
Buyung adalah satu-satunya murid padepokan Cemara Seribu yang paling dekat posisinya dengan sang kakek guru. Ketika jangkauannya sudah dekat, dengan segera ia menyabotase kesadaran dua raksasa yang melawan gurunya itu.
Kedua raksasa itu tampak linglung sejenak, dan pada kesempatan itulah, sang kakek guru menebaskan pedang pusakanya yang memancarkan cahaya putih tepat ke arah leher masing-masing raksasa itu. Setelahnya, tubuh raksasa itu langsung meluncur deras menghujam bumi.
“Guru, sebaiknya guru segera memulihkan tenaga. Biar kami yang muda-muda ini bergantian posisi,” kata Buyung.
“Berhati-hatilah. Aku akan segera kembali setelah tenagaku pulih,” kata sang kakek guru.
Ki Gading Putih segera melesat ke arah benteng. Ia mengeluarkan dua buah mustika berwarna kuning, lalu dengan segera menyerap energi mustika itu untuk memulihkan tenaganya.
Buyung melesat mencari raksasa yang paling dekat dengannya. Pertarungan itu berbeda dengan perang manusia melawan manusia, dimana mereka semua berkumpul dan saling membunuh di satu tempat. Tiap-tiap pendekar yang bertarung dengan ksatria raksasa itu berjauhan satu dengan lainnya, sebab tiap-tiap pertarungan itu memang membutuhkan ruang yang cukup luas. Jika ceroboh, serangan tenaga dalam yang dilontarkan ke arah musuh bisa jadi malah mengenai teman sendiri.
Sementara itu, jauh dari posisi Buyung berada, Jalu tengah menggunakan kekuatan tubuh apinya untuk menghajar satu raksasa yang menjadi lawannya. Pemuda bertubuh api itu barangkali satu-satunya pendekar yang paling menarik perhatian, sebab manusia yang seperti itu tetaplah tak wajar.
Lidah api yang terpancar dari pedang pusakanya bisa menjangkau raksasa dari jarak yang cukup jauh. Terkadang, lidah api itu memberikan sabetan yang mematikan, dan apabila lawannya cukup tahan dengan sabetan itu, maka lidah api itu bisa membelit dan menghasilkan panas yang lebih besar lagi.
__ADS_1
Hingga menjelang siang, barulah perang ronde pertama itu berakhir. Bangsa raksasa dan para pendekar Mahabhumi sama-sama kelelahan. Para raksasa itu menarik diri lebih dahulu, lalu melesat ke arah timur.
Para pendekar Mahabhumi tak mengejar mereka, sebab di timur sudah pasti ada raksasa lain yang menanti. Mereka tak maju menyerang sebab harus menunggu perintah dari jendral perang bangsa raksasa yang belum menampakkan diri dalam pertempuran itu. Sementara, jendral itu memang menunggu pasukan pertamanya yang menyerang kembali dan menyampaikan gambaran situasi yang terjadi di sana.
Korban yang jatuh dari kedua belah pihak tidaklah sedikit. Mahabhumi kehilangan banyak pendekar tangguh. Bahkan beberapa pendekar yang dituakan di sana telah gugur, termasuk Ki Rangga Bumi dan Ki Cakra Jagad. Kejadian itu benar-benar membuat hati Ki Gading Putih merasa sedih. Tetapi memang demikianlah jalan pendekar, entah kapan dan dengan siapa, suatu saat ia akan mati dalam pertarungan.
Buyung melesat mencari gurunya yang tengah mengantar jasad kedua sahabatnya itu ditandu para prajurit dan beberapa murid mereka untuk meninggalkan benteng.
“Guru, bagaimana keadaanmu?” tanya Buyung.
“Aku masih baik-baik saja, Buyung. Apakah kau tahu kabar saudara-saudaramu?” Ki Gading Putih balas bertanya.
“Sejauh ini mereka terlihat baik-baik saja,” jawab Buyung.
“Aku juga berpikir demikian, guru. Memang tak mungkin jika mereka mengerahkan seluruh kekuatan untuk serangan pertama ini. Bahkan, aku yakin gelombang kedua akan segera tiba sebelum kita benar-benar bisa memulihkan diri dengan baik,” kata Buyung.
“Inilah takdir. Jika kita harus mati, ya sudahlah. Setidaknya kita sudah berusaha sejauh ini. Jangan menyerah, jangan bertarung dengan sikap kalah. Kembalilah ke posmu, dan segera pulihkan kekuatanmu!” perintah Ki gading Putih.
Buyung mengangguk, lalu ia kembali ke posnya. Para prajurit memang belum ada yang mati. Namun tentunya, mereka tak bisa diandalkan sama sekali untuk melawan ksatria raksasa meski jumlahnya melimpah.
Menjelang sore hari, gelombang serangan bangsa raksasa yang kedua telah datang. Kali ini mereka semua yang datang adalah golongan ksatria. Ratusan raksasa berkemampuan tinggi sedang melayang di angkasa menuju ke arah benteng yang dipimpin langsung oleh jendral perang bangsa raksasa.
__ADS_1
Semua pendekar Mahabhumi, mulai dari yang berilmu sedang hingga yang berilmu tinggi bersiap untuk menyambut mereka semua. Bersiap untuk menyambut kematian yang terhormat.
****
Di gunung es selatan, Batari Mahadewi beranjak dari pelukan Nala di sampingnya itu. Keduanya terlelap sejenak di atas hamparan es setelah melakukan ritual yang paling intim, sebuah peristiwa tubuh yang sama-sama belum pernah mereka alami sebelumnya. Mereka bercinta di sebuah tempat yang tak paling merindukan matahari, di bawah langit dengan sejuta warna berpendaran sejauh mata memandang ke angkasa.
“Nala, kau mau tidur sampai kapan?” bisik Batari Mahadewi di telinga kekasihnya yang belum mau bangkit itu.
“Sudah lama sekali aku tak merasakan tidur,” kata Nala. Sejak ia selalu dalam bayang-bayang pangeran kegelapan, ia memang tak pernah tidur. Kini ia bebas tidur kapanpun ia mau.
“Kita bisa tidur lagi kapan-kapan. Tetapi sepertinya kita harus memeriksa keadaan di Mahabhumi. Aku memiliki firasat bahwa sedang terjadi hal buruk di sana,” ucap perempuan pusaka dewa itu. Ia sudah tak bisa lagi disebut sebagai gadis, sebab ia telah sepenuhnya dewasa.
“Tidur seperti yang tadi kita lakukan? Aku mau!” goda Nala sambil tertawa kecil.
“Ya, apapun yang kau minta. Ayo segera kenakan pakaianmu!”
Keduanya bersiap. Lalu Batari Mahadewi merangkulkan lengannya di pinggang Nala, dan keduanya lenyap dari tempat itu.
Dalam satu kedipan mata, Batari Mahadewi dan Nala telah sampai di kediaman kakek Agrapana.
“Hah, kalian masih hidup?! Kalau begitu, segeralah ke arah timur. Semua pendekar sedang berjuang melawan bangsa raksasa yang mulai menyerang!” kata Agrapana. Semangatnya kembali menyala setelah kedatangan kedua sosok itu.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Batari Mahadewi dan Nala segera menuju ke timur. Di sana, keduanya melihat para pendekar yang mati-matian membela bangsanya dari keganasan para raksasa.