
Batari Mahadewi sangat yakin kalau kakaknya tak mengenali penyamarannya. Dengan santai dan penuh percaya diri, ia mendekat dan membeli beberapa kue.
“Maaf, saya mau beli kue. Berapa harganya?” tanya Batari Mahadewi. Kedua kakaknya belum menyadari penyamarannya.
“Silahkan, sekeping perak untuk 5 potong roti.” Kata Niken sambil menatapnya dengan tatapan aneh. Ia seolah mengenal dengan baik bidadari kecil dihadapannya itu, tapi entah siapa. Demikian pula dengan Jalu.
“Saya beli lima potong saja” Kata Batari Mahadewi.
“Ini silahkan.” Niken memberikan roti itu kepada Batari Mahadewi.
“Bolehkan saya bertanya?” Kata Batari Mahadewi
“Silahkan nona, barangkali kami bisa membantu.” Kata Niken.
“Saya mencari kedua kakak seperguruan saya dan ingin tahu apakah mereka berdua sudah menemukan petunjuk.” Kata Batari Mahadewi tak kuat menahan geli, tapi ia tak melepaskan tawanya, takut menjadi perhatian orang-orang yang tak ia inginkan.
“Ya ampun, adik…” Kata Niken takjub dan ia juga ingin tertawa lepas, namun ia tahan demi penyamarannya. Niken benar-benar tak percaya dengan yang ia lihat. Penyamaran Batari Mahadewi benar-benar sempurna.
“Kalau nanti ketemu dengan kakak seperguruan saya, tolong sampaikan padanya bahwa adiknya ingin pulang dan menunggu mereka di rumah.” Kata Batari Mahadewi.
Jalu melongo begitu sadar yang ia lihat adalah adik seperguruannya. Batari Mahadewi berlalu sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Astaga…aku tak mengira itu tadi adik kita. Baru kali ini aku melihatnya secantik itu.” Kata Niken kepada Jalu.
“Ku kira ia tadi putri bangsawan bodoh yang tersesat.” Kata Jalu, “Kita kalah telak dalam hal penyamaran.”
“Adik kita selalu melakukan hal-hal yang luar biasa…hal-hal yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya” Kata Niken.
“Kadang aku tak percaya ia berusia 7 tahun…kalau boleh jujur, kecerdasannya melebihi kita.” Kata Jalu.
“Dan ia sangat kuat.” Kata Niken. “Mungkin kita sesekali harus menirunya.”
“Maksudmu?” Tanya Jalu.
“Banyak membaca, mungkin begitu. Dia pendiam sekali dan suka membaca.” Jawab Niken.
__ADS_1
“Hahaha...aku tak yakin dengan itu. Hmm, adik, sebaiknya setelah ini kita berpindah tempat. Kita menuju ke bagian barat kota saja. Di sana tidak seramai sini. Mungkin kita akan menemukan hal menarik.” Usul Jalu.
Mereka hendak melangkah untuk pindah, tiba-tiba ada seseorang menunggang kuda dengan sangat kencang ke arah barat. Niken dan Jalu saling berpandangan.
“Apakah sebaiknya kita mengintai penunggang kuda yang baru saja lewat tadi?” Tanya Niken.
“Kita buntuti saja sampai kita tahu kemana ia akan pergi.” Kata Jalu.
Jalu dan Niken kemudian melesat menggunakan ilmu peringan tubuh mereka, melenting dari satu atap ke atap lain mengimbangi kecepatan penunggang kuda yang ada di depan mereka. Penunggang kuda itu berhenti di sebuah bangunan tua yang dulunya merupakan gudang penyimpanan barang dagangan sebelum dipasarkan di kota itu.
Sosok itu turun dari kuda, lalu bersuit kecil dan seseorang dari dalam membukakan pintu sambil sesekali melengok ke arah jalan, memastikan suasana sepi dan tak ada yang mengikuti penunggang kuda itu tadi.
Niken dan Jalu bersembunyi di atap rumah yang tak jauh dari gedung tua itu. “Kurasa ada hal yang mencurigakan.” Kata Jalu
“Menurutku juga begitu.” Balas Niken.
“Tentu mereka merahasiakan keberadaan mereka di gedung itu. Kau lihat tadi kan bagaimana sikap orang yang membukakan pintu? Ia tampak sangat waspada.” Kata Jalu.
“Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Niken.
“Bagaimana kalau kita mendekat, kita intai dari atap bangunan di sebelah gedung itu.” Usul Jalu.
“Kita tak bisa mendekat ke bangunan itu. Terlalu banyak penjaga. Apakah menurutmu kita akan tetap menunggu di sini?’ tanya Jalu.
“Setidaknya kita sudah memiliki petunjuk kecil ini. Kita bisa melakukan pengintaian besok. Jadi sebaiknya kita pulang dulu. Siapa tahu Batari Mahadewi punya informasi menarik yang bisa dibagikan.
Setelah bertemu dengan kedua kakaknya yang menyamar menjadi penjual roti, Batari Mahadewi memutuskan untuk kembali ke Balai Kota. Tak ada hal menarik terkait dengan kelompok Kelelawar Hitam sejauh ia mendengar pembicaraan orang-orang disekitarnya.
Batari Mahadewi melewati depan perpustakaan kota. Perpustakaan itu belum tutup. ‘Kenapa masih buka? Kemarin perpustakaan ini buka sampai malam hanya karena aku masih ada di sana. Apakah masih ada orang yang di dalam? Sebaiknya aku mampir sebentar.’ Batin Batari Mahadewi. Iapun memasuki perpustakaan itu. Bapak penjaga perpustakaan menyambut ramah.
“Selamat malam nona, senang nona mau mampir ke sini lagi.” Kata bapak itu sambil tersenyum. ‘Apakah orang ini mengenaliku? Mengenali penyamaranku?’ Batari Mahadewi bingung.
“Paman belum menutup perpustakaan? Apakah masih ada yang membaca di dalam?” tanya Batari Mahadewi penasaran.
“Paman menunggu nona. Paman ingin menyerahkan naskah ini kepada nona. Bawalah pulang dan bacalah bila sudah sampai di tempat nona menginap.” Kata bapak penjaga toko itu.
__ADS_1
“Sebelumnya saya minta maaf, tapi apakah paman mengenali saya?” tanya Batari Mahadewi.
“Hanya nona yang memiliki aura seperti ini di kota ini, jadi aku yakin nona yang kulihat sekarang adalah nona yang kutunggu selesai membaca Kitab Ilmu Matahari kemarin malam.” Kata bapak itu dengan tenang.
Batari Mahadewi lebih kaget lagi sekarang karena bapak penjaga perpustakaan itu tahu bahwa ia bisa membaca aksara rahasia pada naskah yang ia baca kemarin.
“Bagaimana paman bisa tahu? Siapakah paman sebenarnya?” tanya Batari Mahadewi ragu.
“Apabila seseorang mempelajari Ilmu Matahari, maka akan ada perubahan aura pada tubuhnya. Aku melihat perubahan itu dan tentu saja sekarang aku bisa mengenali nona. Aku adalah pewaris ilmu matahari yang ke 5. Namaku Sura, pendekar matahari yang ke 5. Akulah yang menuliskan aksara rahasia ke dalam naskah itu dan semestinya akulah yang kaget, kenapa nona bisa membaca aksara itu? Tanya Ki Sura, penjaga perpustakaan itu.
“Saya tidak menyangka akan bertemu pendekar legendaris di kota ini. Nama saya Batari Mahadewi, saya murid ke 6 Ki Gading Putih dari Padepokan Cemara Seribu.” Kata Batari Mahadewi memperkenalkan diri, “Sama halnya dengan paman, sampai sekarang saya tak mengerti kenapa saya bisa dengan mudah membaca aksara rahasia yang disembunyikan dimanapun. Yang saya ingat, saya memiliki kemampuan ini pertama kali di usia 2 tahun.”
“Suatu hari nona pasti akan menjadi pendekar hebat dan aku yakin saat inipun akan sulit menemukan pendekar yang bisa menandingi nona. Dengan menyamar seperti ini, tentu nona sedang menjalankan tugas penting dari Adipati?” Tanya Ki Sura
“Saya dan kedua kakak seperguruan saya hanya menawarkan bantuan untuk mencari informasi tentang keberadaan Kelompok Kelelawar Hitam di sini, paman, dan hari ini saya sendiri belum mendapatkan informasi itu.”
“Cepat atau lambat kelompok itu akan menampakkan diri. Jadi sebetulnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Setidaknya jika murid-murid Ki Gading Putih ada di sini. Lain soalnya kalau kalian tak ada di sini, mungkin kedatangan kelompok itu akan menjadi hal yang berbahaya.” Kata Ki Sura.
“Tapi tak ada salahnya bila nona mencari tahu keberadaan mereka. Sekedar mengasah diri untuk latihan.” Lanjut Ki Sura.
“Sungguh beruntung saya bisa bercakap-cakap dengan paman malam ini. Terimakasih banyak atas nasehatnya. Dalam waktu dekat, saya ingin berbincang dengan paman lagi.” Kata Batari Mahadewi.
“Mampirlah kemari kalau sempat. Jangan sungkan. Bacalah naskah yang aku berikan untukmu tadi, barangkali berguna.” Kata Ki Sura.
“Saya pamit dulu, bapak.” Kata Batari Mahadewi. Ia kembali ke Balai Kota dengan perasaan yang berbeda. Ia tak menyangka akan bertemu dengan orang-orang yang misterius dalam perjalanannya seperti pendeta Liong dan Ki Sura, pendekar-pendekar sakti yang menyembunyikan diri melalui keramahan dan kesederhanaan.
Sebelum memasuki Balai Kota, Batari Mahadewi telah mengganti pakaiannya dan penampilannya seperti semula.
Prajurit penjaga yang mengenalinya mempersilahkan masuk. Lalu Batari Mahadewi bergegas menuju wisma tamu, dan masuk ke dalam kamar. Ia merasa lelah hari ini, dan berjumpa dengan hal-hal yang tak terduga.
Niken dan Jalu belum kembali. ‘Semoga mereka baik-baik saja.’ Batin Batari Mahadewi. Ia kemudian membuka naskah pemberian Ki Sura dan berharap akan menemukan aksara rahasia yang menarik. Setelah membuka naskah itu, Batari Mahadewi sedikit kecewa karena ia tak menjumpai aksara rahasia. Ia hanya memandangi tulisan yang ditulis dalam bentuk syair. ‘Tak ada salahnya dibaca, barangkali berguna.’ Batin Batari Mahadewi.
Setelah selesai membaca syair dalam naskah kulit yang hanya beberapa halaman itu, Batari Mahadewi tertidur lelap setelah sekian lama ia tak pernah merasakan tidur seperti itu. Ia bahkan tak menyadari kedatangan Niken dan Jalu.
Dalam tidurnya, Batari Mahadewi bermimpi berada dalam sebuah ruang kosong. Ia melantunkan naskah yang diberikan oleh Ki Sura, setelah itu tiba-tiba munculah Merak Emas yang ia lihat di taman belakang. Merak itu berubah menjadi cahaya dan memaksa masuk ke dalam tubuh Batari Mahadewi. Ia merasa kesakitan yang teramat sangat.
__ADS_1
Di dalam tidurnya itulah segel ke 4 dalam tubuh Batari Mahadewi telah terbuka. Berbeda dengan sebelumnya, ia mengalami rasa sakit yang luar biasa di tulang-tulangnya hingga terbangun dari tidurnya. Setelah rasa sakitnya mereda, ia menyadari ada hal yang berubah pada tubuhnya. Ia memperhatikan kuku tangan dan kakinya yang kini
telah berubah bentuk dan warnanya.