Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 43 Legenda Baru


__ADS_3

Kedua pendekar beda usia itu saling memberi hormat. Tak ada keraguan dalam diri Batari Mahadewi. Sementara Ki Elang Langit masih berusaha untuk menerka batas kekuatan gadis kecil yang ada di hadapannya itu. Satu hal yang ada di benaknya adalah gadis itu merupakan lawan yang tak mudah dikalahkan meski dalam hal ini Ki Elang Langit memiliki pengalaman yang sangat jauh lebih banyak dalam bertarung daripada Batari Mahadewi.


“Kau siap nak Batari?” Tanya Ki Elang Langit.


“Siap paman guru.” Jawab Batari Mahadewi.


“Jangan ragu, jangan sungkan, kerahkan semua kemampuanmu dan ajarkan pada paman tuamu ini.” Kata Ki Elang Langit.


Batari Mahadewi dan Ki Elang Langit memancarkan energinya. Kedua pancaran energi dewa itu bertemu. Tubuh Batari Mahadewi diselimuti oleh cahaya keemasan, dan tubuh Ki Elang Langit berselubung cahaya perak yang menyilaukan. Melihat pancaran energi berwarna emas itu, kini para penonton percaya bahwa yang dilakukan oleh tetua mereka bukan main-main. Gadis itu menyembunyikan kekuatan dewa yang sangat besar.


Tak sampai di sana, baik Batari Mahadewi dan Ki Elang Langit menambahkan pancaran energi mereka untuk saling menekan. Keduanya diam di satu posisi kuda-kuda, namun energinya bebenturan dan menghasilkan ledakan besar. Lantai bebatuan di sekitar kedua pendekar dewa itu berhamburan menjadi kerikil dan debu. Asap mengepul di arena. Semua penonton berhasil menghindari pecahan lantai batu itu, namun begitu mereka melihat ke arena, kedua pendekar berkekuatan dewa itu sudah tak ada di sana.


Orang-orang itu terlambat menyadari bahwa Batari Mahadewi dan Ki Elang Langit telah melesat ke angkasa yang jauh, bertukar puluhan jurus berbahaya dan keduanya tampak seperti bola-bola cahaya yang saling berbenturan di langit dan menghiasi langit biru itu dengan percikan-percikan energi berwarna emas dan perak.


Batari Mahadewi dan Ki Elang Langit telah bertukar pukuhan jurus berbahaya dengan kecepatan tinggi. Berkat Kitab Langit, Batari Mahadewi bisa menguasai cara mengendalikan udara sehingga ia bisa bertarung di udara sebaik Ki Elang Langit dan ia masih memiliki berbagai jurus yang menggunakan udara sebagai senjata utama seperti yang dimiliki oleh warga desa Atas Awan.

__ADS_1


Tapi Batari Mahadewi masih belum ingin menggunakan jurus-jurus serangan yang ia pelajari dari Kitab Langit. Ia masih bisa mengimbangi kemampuan Ki Elang langit dengan jurus-jurus dari Ilmu Matahari. Beberapa kali cahaya berkilauan terlihat di atas. Penonton tak bisa melihat dengan jelas bagaimana mereka berdua bertarung, namun penonton bisa merasakan benturan-benturan energi yang membuat mereka merinding dan bersikap siaga.


Ki Elang Langit tak segan-segan mengeluarkan jurus-jurusnya. Selama lebih dari seratus tahun ia mengkombinasikan jurus-jurus ciptaannya dengan jurus-jurus Kitab Langit sehingga sulit bagi Batari Mahadewi untuk mengenali jurus-jurus tersebut. Ki Elang Langit memanfaatkan awan sebagai senjata dengan mengalirkan energinya, mengubah awan itu menjadi telapak tangan raksasa seukuran arena pertandingan yang dengan gesit mengejar dan menyerang Batari Mahadewi.


Awan langit yang berbentuk telapak tangan itu telah sepenuhnya memadat dan bercahaya perak yang berasal dari pancaran tenaga Ki Elang Langit. Keunggulan dari jurus itu adalah, meski ukurannya besar, awan itu bisa berubah bentuk dengan cepat, memecah dan bergabung lagi, sehingga Batari Mahadewi sangat kerepotan untuk mengandalkan jurus-jurus Ilmu Matahari.


Beberapa kali Batari Mahadewi menghancurkan telapak tangan raksasa itu namun dalam sekejap awan yang hancur itu bergabung kembali dan menyerang Batari Mahadewi dengan ganas. Awan raksasa yang merupakan salah satu variasi dari jurus Cakar Elang itu berhasil berhasil mencengkeram tubuh Batari Mahadewi dan menghempaskannya ke bawah.


Tubuh Batari Mahadewi meluncur deras dan menghantam arena pertandingan. Ledakan besar yang membuat lubang di tengah arena itu sempat membuat jantung Niken dan Jalu hampir copot karena mereka sangat mengkhawatirkan keselamatan Batari Mahadewi. Baru kali ini mereka melihat Batari Mahadewi kewalahan dalam pertarungan.


Namun mereka masih merasa lega sebab pancaran energi Batari Mahadewi tidak berkurang sedikitpun dan justru bertambah besar. Tak ada pilihan lain bagi Batari Mahadewi selain harus menggunakan jurus-jurus Kitab Langit untuk menghadapi Ki Elang Langit.


Ki Elang Langit tak mau menunda terlalu lama untuk melancarkan serangannya lagi, ia menciptakan sebuah Cakar Elang raksasa yang menghujam dari atas menuju ke arah Batari Mahadewi. Gadis sakti yang mencuri perhatian banyak orang itu tak tinggal diam, ia merentangkan kedua tangannya ke atas, lalu tercipta sebuah pusaran angin yang besar dan kuat dan ia juga mengalirkan pijaran listrik pada pusaran angin ciptaannya itu untuk menyongsong jurus Cakar Elang yang datang padanya.


Sekali lagi terjadi dentuman hebat di angkasa. Penonton bubar menyelamatkan diri. Tak ada lagi yang berada di sekitar arena. Mereka mengambil jarak terjauh yang mereka bisa agar tetap bisa menyaksikan pertandingan langka itu dengan selamat.

__ADS_1


Cakar elang raksasa itu hancur seketika. Bersamaan dengan itu, Batari Mahadewi sudah tak tampak lagi, ia telah melesat ke atas dan bertukar serangan dengan Ki Elang Langit. Aliran listrik di sekeliling tubuh Batari Mahadewi sungguh merepotkan Ki Elang Langit. Ia tak bisa menyentuhnya dengan tangan kosong. Maka Ki Elang Langit menciptakan dua buah pedang energi berwarna perak di tangan kiri dan kanannya.


Dengan pedang energi tersebut, Ki Elang Langit masih bisa menjaga jarak dengan Batari Mahadewi. Ia menyerang Batari Mahadewi dengan tarian pedang yang indah. Batari Mahadewi menangkis serangan itu dengan telapak tangannya.


Batari Mahadewi tak memilih untuk menciptakan pedang energi sekalipun ia mampu. Dibandingkan dengan tarian pedang Ki Elang langit, Batari Mahadewi sama sekali tak menguasai jurus-jurus pedang. Ia lebih memilih bertarung dengan tangan kosong, meskipun tak sepenuhnya demikian sebab telapak tangan Batari Mahadewi yang telah berubah itu sanggup menahan atau menangkis berbagai senjata bumi yang paling sakti sekalipun.


Ki Elang Langit tak henti-hentinya terheran-heran melihat kemampuan Batari Mahadewi di usianya yang begitu muda. Ia sudah kehabisan akal untuk membuat gadis kecil itu menyerah. Sebaliknya, Batari Mahadewi semakin menunjukkan serangannya yang semakin meningkat.


Mudah saja bagi Batari Mahadewi untuk menggunakan jurus pamungkas seperti jurus Tapak Petir atau jurus Raga Membelah Bumi, tapi tentu bukan hal itu tujuan dari pertandingan itu. Pertandingan persahabatan itu tak menuntut kematian, namun hanya sebatas uji kemampuan meskipun sangat berbahaya dan nyawa taruhannya.


Memang demikianlah jalan pendekar, setiap pertarungan yang dihadapi bukanlah main-main sekalipun pertarungan itu hanyalah pertarungan yang sebisa mungkin tak membuat cidera. Ki Elang Langit tahu, sekalipun ia menggunakan jurus-jurus mematikan, jurus itu tak akan mencelakai Batari Mahadewi.


Kini Ki Elang Langit ingin segera menyudahi pertandingan melihat kerusakan akibat pertarungan itu tidak sedikit. Setidaknya atap-atap rumah di sekitar arena, termasuk atap rumah Ki Elang Langit ikut beterbangan sewaktu Batari Mahadewi menciptakan pusaran angin yang kuat. Penonton juga semakin heran mengetahui Batari Mahadewi menguasai jurus khas penduduk Atas Awan dengan bentuk yang menakjubkan itu.


Ki Elang Langit mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menciptakan empat buah cakar elang raksasa dari gugusan awan dan keempatnya mengepung Batari Mahadewi dari empat penjuru mata angin. Batari Mahadewi tampak tetap pada posisinya yang diam, dan menanti keempat cakar elang raksasa itu mendarat di tubuhnya.

__ADS_1


####


Ingin kasih crazy up tapi apa daya….tenaga tak ada buat mengetik…jadi ini dulu ya teman-teman pembaca tercinta. Semoga terhibur. Terimakasih atas semua dukungan dan apresiasi yang diberikan untuk semangat saya menuliskan cerita ini. Ketemu lagi besok di episode berikutnya.


__ADS_2