
Pendekar Harimau Merah telah membagi tugas pada masing-masing kelompok kecil dalam aliansi itu. Masing-masing kelompok pergi menjalankan misinya, membantai perguruan putih di seluruh wilayah kerajaan Swargadwipa.
Di kota Giring Angin itu sendiri terdapat sebuah perguruan aliran putih yang bernama perguruan Pedang Suci. Perguruan itu didirikan oleh seorang pendekar dengan gelar pendekar Pedang Suci.
Pendekar Harimau Hitam, adik seperguruan Harimau Merah, akan menyerang perguruan Pedang Suci. Harimau Hitam ditemani oleh dua kelompok aliran hitam, yakni kelompok yang dipimpin oleh pendekar Golok Neraka dan kelompok yang dipimpin oleh pendekar Clurit Kembar. Gabungan tiga kelompok ini memiliki 200 anak buah yang siap mati menemani pimpinan mereka menyerang perguruan Pedang Suci.
Saat itu, perguruan Pedang Suci hanya memiliki murid sebanyak 80 orang saja. 10 orang diantaranya merupakan petinggi perguruan yang membantu pendekar Pedang Suci dalam mengurus segala seluk beluk perguruan.
Perguruan Pedang Suci dikatakan sebagai perguruan yang lemah karena belum pernah melahirkan pendekar legendaris. Meskipun demikian, kemampuan pendekar Pedang Suci setara dengan Harimau Merah.
Harimau Hitam, meski tak sekuat kakaknya, ia ditugaskan untuk menghabisi perguruan Pedang Suci. Apabila hanya ia dan anak buahnya saja, maka hal itu tak mungkin terwujud. Namun saat itu ia dalam satu tim dengan pendekar Golok Neraka dan Clurit Kembar yang memiliki kesaktian tinggi. Sehingga, membantai perguruan Pedang Suci bukanlah perkara sulit.
Sementara itu, jauh di sebelah barat kota Giring Angin, di sebuah bukit yang sunyi, Niken berusaha keras berlatih tanaga dalam untuk menguasai Ilmu Syair Kematian. Pendekar Syair Kematian tak menunjukkan wajah yang menyeramkan sebagaimana jika ia membantai ratusan pendekar di sepanjang hidupnya. Sebaliknya, pendekar Syair Kematian adalah guru yang telaten dan sabar membimbing Niken menemukan cara termudah untuk mempelajari dasar-dasar ilmu Syair Kematian.
Niken tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk berlama-lama latihan di bukit itu. Ia ingin segera bertemu dengan Jalu dan Batari Mahadewi. Berkat kemampuannya mengelola energi untuk mengubah udara menjadi es, Niken tak terlalu sukar mempelajari ilmu mengerikan yang bisa membunuh puluhan pendekar dalam sekali serangan itu.
Diam-diam, ia menemukan sedikit kesamaan antara ilmu Tapak Es yang ia kuasai dengan ilmu Syair Kematian. Jika ilmu Tapak Es yang ia miliki memungkinkan ia mengubah udara menjadi es, maka ilmu Syair Kematian mengubah udara menjadi gelombang suara yang mengganggu syaraf kesadaran. Jika keduanya digabungkan, maka akan menghasilkan kombinasi serangan yang mematikan.
Sayangnya, butuh energi yang sangat besar untuk menggunakan ilmu Syair Kematian. tenaga yang dimiliki oleh Niken hanya bisa digunakan untuk membunuh 5 orang dalam sekali serangan. Semakin banyak musuh yang dihadapi, maka semakin besar energi yang dikeluarkan untuk dibagikan sesuai dengan jumlah musuh yang dihadapi.
Pada batasnya, jika ilmu itu dipaksakan untuk menyerang orang banyak, namun tidak diimbangi dengan energi tinggi, hasilnya hanya akan membuat gendang telinga lawan-lawannya terasa sakit dan belum bisa merusak sistem syarafnya atau bahkan menguasai kesadaran lawan-lawannya.
“Sudah kukatakan bukan, tak butuh waktu lama bagimu untuk bisa menguasai dasar-dasarnya. Sekarang aku akan mengajarkan padamu cara mudah untuk meningkatkan energimu, sehingga dalam beberapa tahun kedepan, kau bisa menandingi energiku.” Kata pendekar Syair Kematian.
__ADS_1
Batari Mahadewi dan Jalu menunggu pesanan mereka di sebuah kedai makan di kota itu. Tak jauh dari kedai itu, berdiri sebuah bangunan tua bertembok tinggi yang merupakan perguruan beladiri Pedang Suci. Sedari tadi Batari Mahadewi gelisah karena ia menangkap pergerakan energi yang mencurigakan, tapi ia tak ingin menambah suasana hati kakaknya bertambah buruk. Maka ia belum bercerita apapun tentang yang ia ketahui kepada Jalu.
“Ada apa adik, kau menangkap sesuatu?” tanya Jalu.
“Hmm…” Batari Mahadewi ragu untuk menjawab.
“Tak apa, katakan saja padaku.” Kata Jalu.
“Tidakkah kakak menangkap adanya pergerakan energi yang cukup besar sedang mengarah ke sekitar sini?” tanya Batari Mahadewi.
“Dari tadi aku memikirkan adik Niken sampai-sampai kehilangan kepekaan untuk menangkap pancaran energi ini.” Kata Jalu.
“Sebentar lagi mereka ke sini. Jika pendekar Pedang Suci menangkap energi ini, seharusnya ia dan murid-muridnya telah bersiap di balik tembok itu saat ini.” Kata Batari Mahadewi. “Apakah kita perlu ikut campur?” tanya Batari Mahadewi.
"Hahaha...kemampuanku jauh lebih baik dari yang dulu, kakak." Jawab Batari Mahadewi
“Dalam keadaan apapun, selagi kita bisa, maka kita wajib membela kelompok pendekar aliran putih apabila kelompok aliran hitam datang menyerang.” Jawab Jalu.
“Gelombang energi dari kelompok aliran hitam yang terasa sekarang ini terlalu besar. Aku ragu jika perguruan Pedang Suci mampu menghadapi serangan ini. Jika dibiarkan, maka nasibnya akan sama dengan perguruan Bunga Cempaka.” Kata Batari Mahadewi.
“Kita akan bantu, kita tunggu saja sambil makan.” Kata Jalu santai. Ia ingin melampiaskan kekesalannya kepada kelompok hitam yang sebentar lagi menyerang peruruan Pedang Suci yang tak jauh dari kedai itu.
__ADS_1
Pendekar Pedang Suci memanggil seluruh murid-muridnya untuk bersiaga. Ia menangkap getaran energi dari golongan hitam mengarah ke perguruan miliknya.
“Kita sambut mereka. Persiapkan diri kalian sebaik-baiknya. Inilah saat yang tepat untuk menguji kemampuan kita semua. Berhati-hatilah, lawan kita sungguh berat.” Kata Pendekar Pedang Suci.
“Baik guru!” Sahut murid-muridnya.
Beberapa saat kemudian, gerombolan kelompok aliran hitam yang dipimpin oleh pendekar Harimau Hitam telah tiba di halaman peguruan Pedang Suci. Halaman yang biasanya dipakai untuk latihan itu cukup luas untuk pertarungan dari kedua kubu itu.
“Selamat datang, pendekar Harimau Hitam, pendekar Golok Neraka, dan pendekar Clurit Kembar. Aku sudah mendengar kehebatan kalian di dunia persilatan dan baru hari ini bisa bertemu dengan kalian.” Kata pendekar Pedang Suci sambil tersenyum, menyembunyikan kekhawatirannya. Ia tak takut mati, namun ia mencemaskan keselamatan murid-muridnya yang sebagian besar hanyalah pendekar pemula.
“Hahahaha….tak diragukan lagi, kau memang pendekar sakti, Pedang Suci. Kau telah bersiap menyambut kedatangan kami yang mendadak ini.” Jawab Harimau Hitam dengan nada bengis.
“Pertarungan yang seperti apakah yang kalian kehendaki?” tanya pendekar Pedang Suci. Ia masih berharap jika tiga pendekar golongan hitam itu saja yang akan menantangnya bertanding. Setidaknya ia masih memiliki sedikit peluang untuk menang jika bertanding satu lawan satu.
“Kami datang untuk mengakhiri perguruan ini.” Jawab Harimau Hitam singkat dan jawaban itu sudah cukup untuk menggertak pendekar Pedang Suci.
“Jika begitu, kami akan mengerahkan kemampuan terbaik kami. Bersiaplah.” Jawab pendekar Pedang Suci. Ia memancarkan energinya, lalu menyalurkan energinya pada dua bilah pedang pusaka miliknya. Pedang itu terlihat memancarkan cahaya kebiruan yang siap mencabut nyawa.
Jalu dan Batari Mahadewi telah selesai dengan makanannya, mereka menangkap pancaran energi yang semakin kuat dari aliran hitam dan putih.
“Pertarungan akan segera berlangsung.” Kata Batari Mahadewi.
“Kita ke sana.” Kata Jalu. Ia sangat bersemangat untuk membasmi sebanyak mungkin pendekar aliran hitam yang ada di sana. Kali ini, ia tak akan memberi ampun.
__ADS_1
Sampai di sini dulu teman-teman pembaca tercinta. Semoga dua episode pada malam ini cukup menghibur. Jumpa lagi besok malam. Terimakasih banyak atas segala dukungannya. Semoga sehat selalu.