Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 292 Pemberian Siluman Naga Laut


__ADS_3

Dugaan Nala benar, siluman itu mengenali identitasnya di masa lalu. Siluman naga laut yang semula sangat marah itu mulai terlihat jinak.


Nala dan Batari Mahadewi masih diam menunggu siluman naga itu bereaksi atas kedatangan mereka berdua. Perlahan, tubuhnya yang besar itu menyusut hingga akhirnya ia berubah bentuk menjadi seorang kakek-kakek dengan kepala menyerupai naga, lengkap dengan dua tanduk di kepalanya.


“Pangeran Andhakara…kau sudah bangun dari kematian! Kenapa tidak langsung saja datang ke istanaku, aku hampir saja mencelakaimu tadi,” siluman naga itu memberi hormat.


“Aku belum pulih sepenuhnya, dan aku belum bisa mengingat masa laluku,” kata Nala jujur. Raut wajah siluman naga laut itu berubah. Ia tampak memikirkan sesuatu. Dan ia sebenarnya masih memasang sikap waspada.


“Siapa nona ini?” tanya siluman Naga.


Nala dengan cepat membalasnya sebelum Batari Mahadewi memperkenalkan diri, “Dia adalah orang yang membangkitkanku, dan akan terus bersamaku selamanya,” kata Nala.


“Apakah pangeran tidak tahu, perempuan ini memiliki kekuatan dewa!” kata siluman naga laut. Kata-katanya mengandung peringatan untuk Nala.


“Ada banyak hal yang mungkin akan berubah. Jika aku sudah tak seperti dulu, apakah kau masih mau menjadi pengikutku?” tanya Nala dengan penuh percaya diri. Hanya dengan itu ia berharap akan mendapatkan kepercayaan.


“Pangeran, tidakkah lebih baik kita berbicara di istanaku?” siluman naga itu merasa bahwa ada banyak hal yang harus dibicarakan. Dan sebaiknya pembicaraan itu dilakukan di istananya.


“Baiklah kalau begitu,” kata Nala.


Siluman naga laut itu menyibak air laut hingga gunung di bawah air laut itu menjadi terlihat jelas. Ia bergerak turun ke bawah, Nala dan Batari Mahadewi mengikutinya. Sesampainya di sana, siluman naga laut itu membuka pintu istananya yang berada di salah satu sudut dinding gunung api itu. Di balik pintu itu terlihat sebuah dunia yang berbeda, tak seperti dasar laut. Setelah Nala dan Batari Mahadewi memasukinya, siluman itu kembali menutup pintu dan air laut kembali menutupi seluruh gunung api itu.


Nala dan Batari Mahadewi cukup takjub berada di dunia ciptaan siluman naga laut itu. Di sana terdapat banyak sekali siluman naga laut lainnya yang selalu menaruh hormat ketika raja mereka datang beserta dua tamunya itu.


Bangunan istana milik siluman naga laut itu juga cukup besar, tinggi dan megah. Besarnya kira-kira setara dengan seluruh luas wilayah kota kerajaan Swargadwipa. Tentu harus sebesar itu, betapa tidak, jika semua penghuninya berubah wujud menjadi naga yang besar, maka tak mungkin mereka bisa berkumpul di istana yang sempit.


“Apakah pangeran ingin masuk ke dalam istanaku?” siluman itu menawarkan.

__ADS_1


“Eh, sepertinya tidak. Kita cari tempat di luar istana saja untuk berbicara dengan leluasa,” kata Nala. Ia tak terlalu heran dengan dunia semacam itu, sebab sebelumnya ia telah mengunjungi kerajaan siluman ular merah. Sementara, Batari mahadewi masih belum bisa berhenti merasa heran dan takjub melihat segala sesuatu yang sangat jauh berbeda dengan dunia daratan.


“Kalau begitu kita bisa berbicara di sini, pangeran.” Hanya dengan menudingkan telunjuknya ke satu arah, maka siluman itu dengan mudah menciptakan sebuah tempat yang nyaman untuk berbicara. Seperti sihir. Tempat itu lengkap dengan meja dan kursi serta berbagai hidangan yang menggugah selera.


“Jadi, sejauh mana ingatan pangeran telah kembali?” tanya siluman naga laut.


“Aku tidak tahu, tetapi bisakah kamu menceritakan kepadaku, kenapa waktu itu kau mau menjadi pengikutku?” tanya Nala.


“Hmm, pangeran benar-benar tak ingat. Kalau begitu, aku akan menceritakannya kembali. Bangsaku sebenarnya tak ada sangkut pautnya dengan peperangan di masa lalu. Pangeran bersama seluruh bangsa iblis telah memaksa kami semua untuk tunduk dan ikut bergabung memerangi para dewa dan raksasa. Waktu itu pangeran bersikeras untuk menciptakan dunia kegelapan dibawah kekuasaan bangsa iblis dan membuat segala bangsa tunduk pada kekuatan pangeran. Itulah sebabnya, tadi aku mempertanyakan gadis ini. Tentu aku tak salah bukan jika menyebut nona berasal dari bangsa dewa,” ujar siluman naga laut.


“Bisa dikatakan begitu,” kata Batari Mahadewi. Ia lebih memilih untuk tak banyak berkata apa-apa dalam situasi itu.


“Jadi, apapun keputusan pangeran, aku hanya bisa mendukungmu. Selama bangsaku tidak terancam, maka aku dan seluruh pasukanku tidak akan melakukan perlawanan penghabisan kepada pangeran,” kata siluman naga itu.


“Bahkan jika saat ini aku mendukung para dewa, apakah kau juga akan mendukungku?” Nala mencoba untuk menguji siluman itu.


“Kau tidak bertanya kepadaku, kenapa aku mencarimu?” tanya Nala.


“Itu yang hendak aku tanyakan, pangeran. Bantuan apa yang bisa kuberikan untuk pangeran?” Siluman itu langsung ke pokok masalah. Ia sudah tahu benar, sejak dulu siapapun yang datang padanya, pasti menginginkan sesuatu.


“Sedikit rambut naga dan beberapa mustika sakti jika kau ada,” kata Nala.


“Hanya itu saja?” tanya siluman naga itu keheranan. Dulu, pangeran kegelapan selalu minta banyak hal yang sulit untuk dikabulkan.


“Ya, hanya itu saja,” kata Nala.


“Tunggu sebentar di sini, pangeran, aku akan mengambil beberapa benda yang mungkin pangeran sukai,” kata siluman itu. Ia kemudian lenyap. Tak lama kemudian, ia muncul kembali dengan sebuah kotak lumayan besar yang didalamnya terdapat beberapa gulung rambut naga laut, mustika dan bebatuan sakti berkualitas tinggi.

__ADS_1


“Ini adalah rambut naga kakek buyut kami, jauh lebih bagus daripada rambutku sendiri,” kata sang siluman naga. Ia tak mau bertanya untuk apa barang-barang itu nantinya. Ia memang cenderung untuk memilih tak mau ikut campur dan sebisa mungkin untuk tak membuat dirinya diajak terlibat jauh dalam urusan pangeran kegelapan.


“Terimakasih banyak. Ini sangat berharga bagi kami,” kata Nala.


“Dengan senang hati pangeran,” kata siluman naga itu.


“Baiklah, aku tak mau terlalu lama mengganggumu, bisakah kau mengantarkan kami ke dunia atas?” tanya Nala.


“Tentu saja,” kata siluman itu. Ia mengantarkan Nala dan Batari Mahadewi hingga ke permukaan laut, dan ia kembali lagi ke istananya setelah kedua tamunya itu tak terlihat lagi.


Batari Mahadewi dan Nala terbang mencari sebuah pulau kecil tanpa penghuni untuk singgah sebentar dan membuat selendang pusaka untuk Nyi Lohita.


“Kau berhasil, Nala. Bagaimana rasanya menjadi pangeran?” goda Batari Mahadewi.


“Tidak enak. Kecuali kau menjadi ratuku,” Nala balas menggoda Batari Mahadewi.


“Bukankah sekarang aku ratumu!” Batari Mahadewi menyunggingkan senyum manja yang sangat langka terjadi.


“Jangan menggodaku seperti itu. Kita hanya berdua saja di pulau ini,” kata Nala.


“Ya…ya…haha…kapan ini semua akan berlalu…dan apakah kita bisa melaluinya dengan selamat…” kata Batari Mahadewi. Ia membaringkan tubuhnya ke tanah, matanya memandang ke langit.


“Kita pasti bisa melalui ini semua. Aku berjanji padamu. Sekarang, apa yang harus aku lakukan dengan rambut naga ini?” tanya Nala.


“Apakah kau bisa memintalnya menjadi sehelai selendang?” kata Batari Mahadewi.


“Akan kucoba,” kata Nala. Lelaki jelmaan pangeran kegelapan itu kemudian mencoba sihirnya untuk membuat beberapa gulung rambut naga itu seolah hidup dan bergerak sendiri. Helai-helai rambut naga itu terurai, beberapa membentuk barisan lurus memanjang, dan bagian lainnya bergantian menelusup diantara barisan rambut panjang itu. Posisi dan gerakan rambut naga itu sama seperti pintalan benang menjadi kain.

__ADS_1


__ADS_2