Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 66 Nasehat Agrapana


__ADS_3

Sejak Batari Mahadewi masih berada dalam altar suci kota Dhyana, Jalu bertemu dengan sepasang pendekar yang membuntutinya dari belakang. Jalu menyadari bahwa ada dua sosok yang mengikutinya. Di tikungan jalan yang sepi, Jalu menghentikan langkahnya.


“Siapapun kalian, silahkan menampakkan diri.” Kata Jalu.


Sepasang pendekar itu keluar dari balik dinding bangunan. “Maafkan kami karena lancang membuntuti tuan pendekar.” Kata pendekar lelaki muda yang berparas tampan itu.


“Bukankah tuan dan nona pendekar yang tadi makan di kedai?” tanya Jalu.


“Benar tuan.” Kata lelaki itu.


“Hal apakah gerangan yang membuat tuan dan nona pendekar mengikuti saya?” tanya Jalu.


“Maaf, tuan pendekar. Kami tak bertujuan untuk membuat masalah. Kami mengikuti tuan pendekar hanya untuk memastikan bahwa tuan adalah pendekar. Dugaan kami benar, tuan bisa dengan mudah mengetahui kehadiran kami.” Kata lelaki itu.


“Nama saya Jalu, saya murid Ki Gading Putih dari Padepokan Cemara Seribu. Apakah kiranya yang bisa saya bantu, tuan dan nona?” kata Jalu.


“Sekali lagi maafkan kami. Kami adalah sepasang pendekar Angsa Putih dari lereng gunung Tusaradwipa. Saat ini kami sedang menyampaikan undangan kepada semua pendekar aliran putih yang kami temui untuk datang pada malam purnama bulan ini di danau Rembulan Merah. Kira-kira 15 hari lagi. Tentu tuan pendekar sudah mendengar kabar serangan-serangan yang dilakukan oleh para pendekar aliran hitam, bukan?” Kata lelaki itu.


“Benar tuan, para pendekar aliran hitam memang sedang menghimpun kekuatan untuk menghancurkan kekuatan dari berbagai perguruan aliran putih.” Kata Jalu.


“Sebetulnya, undangan ini bukan dari kami. Beberapa hari yang lalu kami mendapatkan undangan dan kami diminta untuk membantu meneruskan undangan itu kepada pendekar aliran putih manapun yang kami temui. Salah satu tujuan dari pertemuan itu adalah untuk menentukan langkah menyikapi serangan dari aliran hitam.” Kata lelaki itu.


“Apakah tuan pendekar tahu, siapa yang pertama kali membuat undangan ini?” tanya Jalu.


“Kami kurang tahu, pendekar, karena kami mendapatkan kabar dengan cara yang sama seperti ini. Apakah tuan akan datang? Kalau boleh tahu, ke mana tuan akan pergi setelah dari kota ini?” tanya lelaki itu.

__ADS_1


“Saya dan adik seperguruan saya akan pergi ke perguruan Lentera Langit.” Kata Jalu.


“Oh, jika begitu seharusnya jalan menuju ke sana searah dengan jalan menuju danau Rembulan Merah. Jika tuan berkenan, mungkin kita bisa pergi bersama-sama.” Kata lelaki itu menawarkan diri.


“Sayang sekali saya masih harus di sini untuk beberapa hari. Saya juga harus membicarakan hal ini dengan adik seperguruanku. Saya tidak tahu pasti akan berapa lama saya menunggu adik seperguruan saya di sini. Kalau kami bisa dan belum terlambat, pasti kami akan ke sana.” Kata Jalu.


“Oh, baiklah kalau begitu, kami akan berangkat lebih dahulu. Mungkin butuh 10 hari perjalanan untuk bisa sampai di tempat itu. Jika tidak keberatan, tuan pendekar bisa menyampaikan undangan ini kepada pendekar aliran putih yang tuan temui.” Kata lelaki itu.


“Baiklah, dengan senang hati akan saya bantu menyebarkan undangan ini.” Kata Jalu. Sepasang pendekar itu kemudian pergi meninggalkan Jalu. Dalam hati, Jalu merasa ada yang janggal dari undangan itu. Namun ia tak tahu apa itu.


####


Sementara itu di altar suci kota Dhyana, Batari Mahadewi dan Agrapana hanya bisa terdiam lama setelah mengetahui ramalan masa depan yang telah dilihat Batari Mahadewi dari dalam kolam suci. Keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Agrapana memandang ke langit, ada apa dengan negri khayangan? katanya dalam hati.


“Apakah kakek Agrapana sedang memikirkan sesuatu?” tanya Batari Mahadewi.


“Bagaimana caranya, kakek?” tanya Batari Mahadewi.


“Itu yang aku belum tahu. Tapi mungkin kau bisa membuka semua segelmu jika kau berada di Altar Samudra. Di sana merupakan pintu untuk masuk ke dimensi dunia lain yang menyediakan banyak energi untuk kau serap. Hanya saja, aku tidak tahu dimana Altar Samudra itu berada. Tapi aku yakin kau akan menemukannya sendiri, jika ini adalah takdirmu.” Jawab Agrapana.


“Lalu, saat ini, apa yang harus aku lakukan, kakek?” tanya Batari Mahadewi.


“Lanjutkan saja perjalananmu, kurasa takdir akan menuntun jalanmu. Jika kau nanti melanjutkan perjalanan, serahkan ini pada kakak seperguruanmu.” Agrapana menyerahkan sebuah mustika alam berwarna merah darah sebesar tomat kepada Batari Mahadewi. “Kakakmu akan menjadi pendekar hebat kelak dan batu ini akan membantunya untuk meningkatkan kemampuannya. Mungkin kau juga bisa mengajarkan jurus-jurus dari Ilmu Matahari kepadanya setelah energinya meningkat.”


Batari Mahadewi tahu, batu berharga yang diberikan oleh Agrapana adalah salah satu dari sekian jenis mustika alam yang sangat langka. Setidaknya, mustika itu setara dengan seratus mustika alam berwarna merah yang pernah diberikan oleh pendekar Mata Satu.

__ADS_1


“Terimakasih banyak, kakek. Kami berdua sangat beruntung bisa mendapatkan pelajaran berharga dari kakek.” Kata Batari Mahadewi.


“Kakakmu masih menunggumu di sekitar kota ini.” Kata Agrapana. Ia lalu berjalan keluar altar, lalu menghilang.


Batari Mahadewi melangkahkan kakinya keluar dari area altar suci, berjalan mengelilingi kota untuk mencari Jalu, kakak seperguruannya.


Tak sulit untuk menemukan Jalu, meskipun Jalu menyembunyikan energinya, indera Batari Mahadewi bisa menangkapnya. Jalu duduk di bawah pohon di pinggir kolam kota yang di tengah-tengah kolam itu terdapat sebuah menara kuno berhiaskan aksara-aksara masa lalu.


Jalu menoleh ke arah Batari Mahadewi dan tersenyum senang. “Adik, berhasil melakukannya? Ah, apakah aku salah lihat? Sepertinya kau tumbuh lebih besar dalam waktu singkat!”


“Ya kakak.” Jawab Batari Mahadewi sambil menyunggingkan senyum yang menandakan kegelisahan.


“Ada sesuatu yang tidak beres?” tanya Jalu.


“Iya, kakak. Dalam waktu dekat, bangsa raksasa akan menyerang dunia manusia. Aku melihatnya di kolam suci. Peradaban manusia akan hancur lebur.” Kata Batari Mahadewi. Jalu terdiam. Ia masih mencerna yang baru saja dikatakan oleh Batari Mahadewi. Ia juga masih bingung dengan perubahan fisik Batari Mahadewi yang tiba-tiba.


“Jika benar demikian, itu berarti gejolak diantara aliran hitam dan putih saat ini tidak ada artinya sama sekali. Beberapa waktu yang lalu, sepasang pendekar mengundang kita untuk datang ke danau Rembulan Merah dalam rangka pertemuan para pendekar aliran putih. Tapi yang baru saja adik katakan padaku sungguh mengejutkan. Lalu bagaimana dengan perubahan tubuhmu itu? Sungguh, kau tampak lebih besar. Pakaianmu yang sebelumnya tampak kebesaran kini jadi pas!” kata Jalu.


“Aku juga tak menyangka tentang hasil ramalan dari kolam suci. Kakek Agrapana juga tak punya solusi. Hanya saja, ia menyuruhku untuk menemukan altar samudera dan menyerap energi di sana untuk membuka segel energi dalam tubuhku.” Kata Batari mahadewi.


“Segel? Apa yang adik bicarakan?” tanya Jalu.


Batari Mahadewi menunjukkan kedua tangannya yang telah menjadi logam. Lalu ia menceritakan semua perubahan yang ia alami sejak mereka bertiga berada di kota Kaki Langit.


“Ini tak bisa kupercaya. Jadi adik sekarang baru bisa membuka segel ke 5? Berarti masih ada 7 segel lagi yang harus kau buka?” Tanya Jalu.

__ADS_1


“Benar, kak. Sejujurnya, hal itu membuatku takut. Tiap segel yang terbuka, pasti akan membuatku berubah. Jika aku tampak seperti logam, seluruh tubuhku, siapa yang akan memandangku sebagai manusia?” Batari Mahadewi meneteskan air matanya.


Jalu kebingungan harus bagaimana menyikapi perasaan adiknya itu. Ia lebih memilih untuk diam dan tak mengatakan apapun, menunggu adiknya menyelesaikan sendiri perasaannya. Ia tak yakin, dan baru kali itu melihat Batari Mahadewi menangis. Ia merasa sangat bodoh jika harus berhadapan dengan seseorang yang menangis.


__ADS_2