
Rombongan warga itu kembali melanjutkan perjalanan setelah mereka selesai mengisi perut. Tak ada waktu lagi untuk sekedar tidur barang sejenak. Rasa kantuk mereka telah hilang dikalahkan oleh rasa takut yang mereka alami.
Bukan hanya raksasa saja yang menjadi ancaman dalam perjalanan menembus hutan itu. Binatang-binatang kecil seperti kelabang, ular atau kalajengking merupakan musuh dalam selimut. Sewaktu-waktu mereka bisa menggigit atau menyengat jika ada manusia yang tak sengaja menginjakkan kaki di wilayah kekuasaan mereka.
Rombongan itu membentuk barisan panjang. Jalu dan Niken berjaga di barisan paling belakang, sementara tiga pendekar lainnya berada paling depan untuk membuka jalan, menyibak semak-semak tinggi dengan ayunan pedang mereka.
Menjelang sore hari, barulah mereka sampai di kaki bukit. Rombongan itu tampak lelah dan haus. Jalu menyuruh mereka untuk bertahan, sebab di balik bukit itu tedapat sumber air kecil yang bisa membasahi tenggorokan dan bibir mereka yang kering.
Buyung yang mencemaskan kedua adiknya itu telah berada di puncak bukit. Ia cukup cemas sebab Jalu dan Niken telah pergi sejak pagi. Ia hendak mencari mereka berdua sebenarnya, dan barulah ia lega ketika melihat kedua adiknya itu telah berada di rombongan warga yang mengungsi itu.
Setelah sampai puncak, barulah para pengungsi itu bisa beristirahat sejenak. Kaki mereka terasa nyeri dan penuh luka gores.
“Dari mana saja kalian mendapati rombongan ini?” tanya Buyung kepada Jalu dan Niken.
“Panjang ceritanya, kakak. Kami pergi sampai desa yang ada di sana itu. Rombongan ini sebelumnya telah menjadi tawanan para raksasa.” Jalu bercerita.
“Kalian bertemu dengan raksasa kuat?” tanya Buyung.
“Ya, ada tiga raksasa yang lumayan kuat dan berhasil kami lumpuhkan,” kata Jalu.
__ADS_1
“Kita harus menahan diri, adik. Bisa saja sebenarnya kita bergerilya dan membantai para raksasa itu satu persatu. Tetapi akibatnya jauh lebih buruk apabila kerajaan raksasa itu mengetahui pergerakan kita. Ketegangan ini akan berlangsung lama. Kita hanya akan membunuh para raksasa yang mencoba melewati batas yang kita ciptakan,” kata Buyung.
“Selanjutnya, bagaimana dengan nasib mereka, kakak?” tanya Niken kepada Buyung.
“Mereka akan bermalam di hutan. Besok pagi, kalian bisa kembali mengawalnya bersama tiga pendekar itu sampai keluar dari hutan ini. Selanjutnya, mereka bisa melanjutkan perjalanan sendiri menuju ke pangkalan utama. Di sana seharusnya selalu ada kereta untuk melanjutkan perjalanan ke barat. Mungkin mereka akan bertemu dengan rombongan lainnya,” kata Buyung.
Rombongan itu tak mau berlama-lama di atas bukit. Mereka sangat haus dan ingin segera sampai ke mata air yang terletak di kaki bukit berbatu itu. Menuruni bukit lebih mudah daripada mendaki. Mereka tak memerlukan banyak tenaga, namun harus berhati-hati agar tak tergelincir dan jatuh.
Sesampainya di bawah, mereka benar-benar minum seperti orang yang telah berhari-hari tak pernah mendapatkan asupan air. Wajah mereka tampak lebih cerah dari sebelumnya. Mungkin karena ada perasaan aman setelah mereka berhasil melewati bukit itu, meski sebenarnya bahaya bisa saja datang kapanpun itu.
Buyung melesat mendahului rombongan itu. ia ingin menyuruh adik-adiknya untuk membantu mempersiapkan tempat dan makanan untuk mereka semua.
Tempat yang dipersiapkan hanyalah tanah yang telah dibersihkan dari ranting dan dedaunan pohon yang kadang-kadang dibaliknya terdapat serangga beracun. Bukan hal sulit bagi pendekar berilmu tinggi untuk acara beres-beres hutan. Tak perlu sapu atau parang. Cukup menghentakkan kekuatan saja untuk membuat tempat itu bersih dari segala tumpukan daun dan ranting.
Ketika rombongan itu datang, api unggun sudah siap dengan daging binatang hutan yang sedang terpanggang di atasnya. Entah apa yang mereka rasakan, namun rombongan itu bersujud syukur ketika telah sampai di tempat itu. Padahal, itu hanya pemberhentian sementara. Setidaknya mereka merasa aman, sebab dijaga oleh beberapa pendekar hebat.
Sembari makan makanan seadanya, mereka saling bertukar cerita. Banyak hal menarik yang diceritakan para warga yang selamat itu, terkait dengan kedatangan para raksasa di desa mereka.
Buyung mengajak Jalu berbicara empat mata ketika para rombongan itu mulai terlelap, tidur dengan alas tanah dan berpayungkan langit malam yang agak mendung. Untungnya udara tidak terlalu dingin justru ketika langit sedang mendung.
__ADS_1
“Menurut cerita mereka, masih ada beberapa desa setelah desa itu yang belum ditinggalkan oleh warganya, menurut kak Buyung, apakah sebaiknya kita juga menolong mereka?” tanya Jalu.
“Tidak, Jalu. Sekalipun mereka mungkin masih hidup, tetapi jika kita bertindak berlebihan, para raksasa itu akan menyadari bahwa ada yang tidak beres. Lagipula, aku yakin malam ini akan ada raksasa lagi yang menyeberang ke wilayah barat. Mungkin mereka akan melewati bukit itu, atau mungkin melewati pos lainnya. Jika dugaanku benar, pembantaian yang kalian lakukan akan tetap mengundang kecurigaan mereka sekalipun kalian telah membereskan jejaknya dengan sangat rapi,” kata Buyung.
“Jadi kita harus bagaimana, kak?” tanya Jalu.
“Malam ini, kalian berjaga di sini. Aku akan kembali ke atas bukit itu untuk berjaga. Jika raksasa itu menyerang pos lain, belum tentu mereka bisa selamat. Bagaimanapun juga, perbekalan yang kita miliki jauh lebih unggul daripada yang dimiliki oleh pos lainnya,” kata Buyung.
“Aku akan menemani kakak di sana!” kata Jalu.
“Tak perlu, aku bisa menjaga diriku sendiri. justru kau yang harus menjaga rombongan di sini,” perintah Buyung.
“Baik, kakak,” sahut Jalu.
“Kalau begitu, aku akan ke bukit itu sekarang!” Buyung melesat meniggalkan rombongan itu.
Di atas bukit, ia duduk sendirian, menajamkan inderanya untuk menangkap pergerakan para raksasa. Dugaannya benar. Ada beberapa kelompok raksasa yang bergerak ke barat. Mereka menghindari bukit, sehingga mereka akan sampai di pos-pos lainnya.
Sejenak, Buyung ragu apakan ia akan membantu pos di sisi selatan bukit atau di sisi utara. Ia kemudian mengingat-ingat, kelompok mana yang paling lemah. Akhirnya ia memilih untuk membantu pos di sisi utara. Bukan karena para pendekar yang berjaga di sana lemah, namun karena bangsa raksasa yang datang ke sana jumlahnya lebih besar dari yang datang di sisi selatan.
__ADS_1
Meski pada malam hari dan suasana sangat gelap, namun untuk mendeteksi pergerakan raksasa itu tidak terlalu sulit. Jika mereka bergerak dalam jumlah besar, pepohonan yang mereka lewati selalu bergerak-gerak. Semakin banyak pohon yang bergerak, maka semakin banyak raksasa yang sedang lewat di sana.
Buyung segera melesat ke area pos utara yang dijaga para pendekar dari wilayah Swargaloka. Jumlah pendekar yang ada di sana cukup banyak. Lebih dari tiga puluh orang. Namun mereka adalah pendekar-pendekar tingkat tengah dan tak satupun dari mereka yang memiliki senjata sakti seperti yang dimiliki oleh Buyung, golok sakti buatan Nala dan baju perang buatan Batari Mahadewi.