Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 192 Awas Matamu, Nala!


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Nala merasakan pancaran energi besar datang mendekat dari segala penjuru arah. Dengan menggunakan dua puluh inderanya yang sedari tadi telah ia nyalakan, Batari Mahadewi bisa melihat puluhan sosok yang berenang-renang di dalam lautan dan mendekat ke arah pulau.


“Nala, apakah sebaiknya kita tidak pergi saja dari sini selagi kita masih sempat?” tanya Batari Mahadewi.


“Apa yang perlu kita khawatirkan? Kita memiliki kekuatan yang besar untuk menghadapi makhluk-makhluk itu jika mereka menyerang kita.” Jawab Nala.


“Tapi sebenarnya aku menghindari pertarungan yang tak perlu. Mereka semua adalah ikan setengah manusia.” Kata Batari Mahadewi.


“Memangnya kenapa kalau mereka adalah ikan?” kata Nala.


“Hmm…mereka…tidak apa-apa.” Jawab Batari Mahadewi tak ingin mengatakan sejelas-jelasnya tentang makhluk yang ia lihat kepada Nala.


Sosok makhluk yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai juga. Kepala mereka menyembul ke permukaan air; wajah perempuan-perempuan muda berwajah sangat cantik. Inilah yang membuat Batari Mahadewi ingin mengajak Nala pergi karena ia tak mau Nala melihat yang lebih dari itu.


Para ikan setengah perempuan itu tertawa cekikikan, seolah menggoda dua pendekar dari dunia satu rembulan yang tengah berdiri tak jauh dari laut yang tenang itu, terutama kepada Nala yang telah menjadi seorang lelaki bertubuh gagah dan tentu saja membuat banyak wanita akan tergila-gila padanya.


Batari Mahadewi dan Nala masih bersikap waspada. Mereka tak mau jika tiba-tiba wajah-wajah cantik yang menawarkan kebahagiaan itu akan menjadi malapetaka. Terlebih, para bidadari laut itu tak tampak seperti makhluk yang bersahabat.


“Bergabunglah dengan kami.” Kata salah satu dari makhluk itu dengan suara yang lembut, namun suara itu terdengar sangat jelas karena diucapkan dengan energi tinggi. Orang biasa sudah pasti akan tergoda untuk langsung masuk ke dalam laut dan berenang bersama para bidadari itu.

__ADS_1


Batari Mahadewi dan Nala masih diam tak mempedulikan ucapan itu. Namun kemudian para makhluk cantik itu menyenandungkan lagu indah dan merdu bersama-sama layaknya paduan suara yang sangat tertata dan terlatih dengan baik sehingga nyanyian itu tak hanya berpijak pada satu suara, namun lima suara yang terpadu dengan indah.


Hanya saja, nyanyian indah itu adalah sihir yang dilantunkan dengan energi tinggi sehingga gelombang suaranya bisa menghilangkan kesadaran siapapun yang mendengarnya. Batari Mahadewi dan Nala yang bisa merasakan gelombang energi jahat itu segera membentengi diri mereka dengan perisai energi.


Gelombang suara itu semakin kuat dipancarkan dan membuat Batari Mahadewi dan Nala mau tak mau harus segera menghentikannya. Kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu berubah wujud menjadi manusia api dan dengan segera menghujamkan pukulan-pukulan api ke arah para bidadari laut itu.


Seketika, para ikan setengah manusia itu menyembunyikan kepala mereka ke dalam laut dan nyanyian mereka semua tak terdengar lagi.


Batari Mahadewi dan Nala menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka tak ingin mendidihkan air laut dengan kekuatan api yang mereka miliki.


Beberapa saat kemudian. Air laut mulai bergerak. Satu titik di permukaan laut itu tiba-tiba berpusar dan menyemburkan sulur-sulur air yang bergerak seperti puluhan ular besar ke atas dan menciptakan pusaran air di udara.


Makhluk itu semakin naik dan mengambang di udara yang dikelilingi oleh pusaran air yang ia ciptakan. Ia benar-benar seorang manusia setengah ikan. Separuh tubuh bagian atas adalah tubuh manusia sebagaimana perempuan dari dunia satu rembulan, sementara bagian pusar ke bawah adalah ikan dengan sisik yang berwarna indah. Tentu saja, ia tak berpakaian layaknya manusia. Inilah yang membuat Batari Mahadewi tak ingin Nala melihat para makhluk yang telah ia lihat ketika mereka berada di dalam air.


Nala seperti tersihir dan tak bisa memalingkan mata dari makhluk indah itu. Batari Mahadewi menjitak kepalanya dengan keras.


“Dasar laki-laki! Bersiaplah, dia berbahaya!” kata Batari Mahadewi.


“Aduh!” Jerit Nala kesakitan, “Kenapa kau memukulku?!” sambungnya kesal.

__ADS_1


Beberapa makhluk lain yang semula bersembunyi di dalam air mulai bermunculan, mengikuti ratu mereka yang mendekat ke bibir pantai. Ketika ekor mereka menyentuh pasir, seketika tubuh mereka seutuhnya menjadi tubuh perempuan.


Ratu itu hanya memandang ke arah Nala, seolah ia menginginkan pemuda gagah itu. Sementara anak buahnya berjalan pelan ke arah Batari Mahadewi, seolah mengerti apa yang harus mereka lakukan tanpa diperintah oleh sang ratu.


Batari Mahadewi sangat jengkel dan risih dengan lawan yang akan ia hadapi kali ini. Dengan tubuh apinya, gadis jelmaan pusaka dewa itu mengibaskan serangan api ke arah para perempuan yang mendekat ke arahnya itu.


Seketika para bidadari laut itu melesat menghindari serangan api dari Batari Mahadewi dan membalas perempuan jelmaan pusaka dewa itu dengan gelombang bunyi yang mereka lontarkan dari mulut mereka. Gelombang bunyi itu tak tampak, namun bisa dirasakan oleh para pendekar sakti. Batari mahadewi tak menghindari serangan itu, melainkan memadatkan udara yang tak hanya menghentikan laju gelombang bunyi itu tapi juga menjerat lawan-lawannya hingga tak bisa bergerak sama sekali.


Tak butuh waktu lama bagi Batari Mahadewi untuk melumpuhkan lawan-lawannya itu. Ketika ia melihat ke arah Nala, sekali lagi ia sangat kesal karena Nala sama sekali tak melakukan serangan, melainkan hanya terpaku melihat ratu ikan itu berjalan mendekat ke arahnya.


Setidaknya, ratu itu jauh lebih tangguh dari para pengikutnya yang telah roboh dalam satu serangan. Ratu itu mampu menguasai kesadaran semua orang hanya dengan penampilannya saja yang sebenanya bukan semata-mata karena ia luar biasa cantik, namun kecantikan itu memancarkan energi yang membius lawan-lawannya, terutama para lelaki yang sering kali menjadi lawan yang sangat mudah ditaklukkan dengan cara seperti itu.


“Nala! apa yang kamu lakukan?! Dasar bodoh!” Batari Mahadewi berteriak ketika ratu ikan itu sudah semakin dekat. Batari Mahadewi memadatkan udara di sekitar ratu itu, namun dengan gesit ratu itu bisa menghindar, seolah ia tahu apa yang akan terjadi padanya jika ia tak segera menyingkir dari Nala.


Batari Mahadewi dalam satu kedipan mata telah ada di depan Nala, lalu membuat lelaki itu tersadar dengan cara memberikan pukulan keras di perut Nala.


“Jangan gunakan matamu. Ratu itu bisa menyerap energimu ketika kau menatap tubuhnya.” Kata Batari Mahadewi. Nala merasa bodoh dan malu sekali. Kemudian ia melebur menjadi pasir api dan melesat ke angkasa menyerang sang ratu ikan yang baru saja menghindari serangan Batari Mahadewi.


Ratu itu menghindari Nala dan dengan cepat meluncur masuk ke dalam laut. Nala yang masih dalam bentuk abstrak dan memancarkan api masih melayang-layang di atas permukaan laut. Batari Mahadewi tak mau tinggal diam. Ia tahu apa yang sedang dilakukan oleh ratu ikan itu di dalam air. Benar dugaannya, ratu ikan itu menciptakan gelombang air yang melesat ke atas, menyerang Nala dan Batari Mahadewi dengan kekuatan tinggi.

__ADS_1


Batari Mahadewi dan Nala melesat menghindari serangan itu. “Aku tahu caranya menghentikan ratu itu, Nala.” kata Batari Mahadewi.


__ADS_2