
Batari Mahadewi, Jalu dan Niken datang lebih cepat dari para pendekar Swargadwipa yang bertugas untuk mencari berita tentang kekacauan yang terjadi di wilayah barat. Dengan kemampuan berpindah dalam satu kedipan mata, waktu bukan lagi masalah untuk menempuh perjalanan jauh.
Jalu dan Niken hanya garuk-garuk kepala karena sulit bagi mereka untuk mempercayai kemampuan Batari Mahadewi. Para tetua pendekar yang biasanya melakukan perjalanan roh pun juga tak akan bisa secepat itu.
Bedanya dengan ilmu berpindah dalam satu kedipan mata, perjalanan roh merupakan perjalanan yang mengantarkan roh dan kesadaran pemilik roh, bukan tubuh. Sehingga bisa dikatakan, perjalanan roh hanya berguna untuk menyampaikan pesan atau berita saja.
Para tetua masih berada di perguruan lentera langit. Mereka belum memutuskan apapun sebelum mendapatkan kabar tentang apa yang terjadi di wilayah barat.
“Apakah adik tak ingin bertemu dengan para tetua terlebih dahulu?” tanya Jalu.
“Tadinya aku ingin bertemu. Tapi aku rasa kedatanganku justru akan membuat suasana tidak terasa nyaman untuk saat ini. Percayalah. Jadi, cukup kak Jalu dan kak Niken saja yang menyampaikan berita ini kepada mereka, serta kepada utusan kerajaan yang akan menyampaikan berita ini ke paduka raja,” kata Batari Mahadewi.
“Lalu apa yang akan adik lakukan sekarang ini?” tanya Niken.
“Aku akan menemui kakek Agrapana. Setelah itu mungkin aku akan menemui ibuku jika situasinya memungkinkan. Jika tidak, barangkali aku akan membuntuti para pasukan kerajaan hitam tirayamani. Aku ingin tahu semua yang mereka rencanakan,” kata Batari Mahadewi.
“Adik, kau bahkan belum sempat beristirahat. Ku pikir kau akan di sini selama beberapa hari sebelum ke kota Dhyana,” kata Jalu.
“Aku mendapatkan firasat buruk,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu tak bisa menyembunyikan raut muka yang tak baik-baik saja.
“Apa yang telah adik ketahui?” tanya Niken penasaran.
“Jika aku membuka seluruh indera tubuhku, maka aku bisa merasakan pancaran energi tertentu. Semakin pancaran itu, maka semakin aku bisa merasakannya. Aku merasakan ada hal buruk yang sedang terjadi di pulau lain. Entah di mana itu. Tapi pancaran energi yang kutangkap adalah pancaran energi jahat,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Bukankah jika adik mau, maka adik bisa langsung menuju ke sana dan melihat apa yang terjadi dengan kemampuanmu itu? tanya Jalu.
“Tidak semudah itu, kak Jalu. Lagi pula, pancaran energi yang ku tangkap itu kadang muncul dan kadang menghilang. Aku tak benar-benar tahu di mana letaknya, jadi satu-satunya cara untuk memastikan hal itu, maka aku harus bepergian dan mengikuti jejak mereka,” kata Batari Mahadewi.
“Ya, aku mengerti adik. Tapi setelah kau pergi nantinya, apa yang harus kami lakukan?” tanya Niken.
“Sampaikan saja berita ini dan sampaikan ceritaku kepada para tetua. Aku sendiri tak tahu apa yang sebaiknya dilakukan di sini. Tapi tentunya, para tetua akan memiliki pandangan sendiri mengenai hal ini. Aku hanya berpesan satu hal saja, kalian harus selamat apapun yang terjadi. Sekiranya tak ada lagi hal yang bisa kakak kerjakan di sini, pergilah ke kuil suci kota Dhyana. Di sana kak Jalu dan Kak Niken akan aman sementara aku tak ada di sini,” kata Batari Mahadewi.
“Baiklah. Kami akan menyampaikan pesanmu. Salam untuk kakek Agrapana. Kami akan segera ke sana setelah urusan ini selesai,” kata Jalu.
“Sampai jumpa, kakak-kakaku. Ingatlah, jangan memaksakan diri. Kalian harus selamat jika hal buruk terjadi di sini,” kata Batari Mahadewi.
“Iya, pasti, adik.”
“Tentu nak Jalu dan nak Niken tidak sedang bergurau, kan?” tanya Ki Ranuwangi, pendekar seruling sakti dari Swargaloka.
“Saya pun yang ada di sana juga tak percaya dengan kemampuan adik Tari yang bisa menaklukkan seluruh pasukan kerajaan hitam itu dengan mudah. Tapi kami menyampaikan berita yang sesungguhnya. Sudah pasti, beberapa hari ke depan berita yang akan disampaikan oleh rekan pendekar lainnya pastilah sama dengan yang kami katakan,” kata Jalu.
“Bukannya kami tidak percaya, tapi hal ini memang mengejutkan sekali,” kata Raja Naga Timur.
“Hanya jika ia adalah dewa, maka ia mungkin melakukannya,” kata Raja Naga Selatan.
Mendengar kata itu, hampir saja Jalu dan Niken melupakan pesan Batari Mahadewi untuk tak menceritakan bahwa adik mereka itu adalah pusaka dewa. Keduanya hanya diam saja dan membiarkan para tetua menebak-nebak soal siapa sebenarnya Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Satu hal lagi yang adik ingin sampaikan sebelum ia pergi menemui kakek Agrapana, bahwa situasi saat ini tidak aman. Ratu Ogha telah membebaskan beberapa makhluk iblis di pulau lain. Setelah urusannya dengan kakek Agrapana selesai, ia akan pergi mencari para makhluk itu sebelum mereka semua membunuh banyak orang,” kata Niken.
“Jadi memang benar, ratu itu memang berniat membebaskan makhluk-makhluk iblis. Mahabhumi adalah pusat makhluk iblis itu di penjarakan oleh para dewa,” kata Ki Suro.
“Jika begitu, sebenarnya tak ada gunanya kita berlama-lama di sini. Kita harus segera menyusul gadis itu di tempat guru Agrapana,” kata Ki Elang Langit.
“Tapi mungkin Tari sudah pergi ketika kita tiba di sana,” kata Jalu mengingatkan kemampuan adiknya yang bisa kemana saja dalam waktu singkat.
“Tak masalah, setidaknya kita bisa mendapatkan petunjuk atas apa yang harus kita lakukan dari guru Agrapana,” kata Ki Elang Langit.
“Ya, aku setuju.” Para tetua langit memikirkan hal yang sama dengan yang baru saja dikatakan Ki Elang Langit.
Para tetua itu langsung melesat ke kota Dhyana. Hanya Ki Cakra Jagad yang menemani Jalu dan Niken untuk menyampaikan berita kepada seluruh pendekar di kota Mutiara Biru, dan memberikan arahan sebagai tugas yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Sebagian besar dari para pendekar itu kembali ke perguruan mereka masing-masing untuk menyampaikan berita kemenangan itu, sekaligus menyampaikan ancaman yang akan datang berikutnya. Demikian juga dengan para utusan kerajaan, mereka bergegas secepatnya menuju ke kerajaan untuk menyampaikan berita tersebut.
Berita yang seharusnya menyenangkan itu sama sekali tak terasa menyenangkan oleh semua pihak. Bagaimanapun juga, wilayah timur merasa iba atas yang telah terjadi di wilayah barat. Sebagian penduduk dan prajurit di wilayah barat telah menjadi korban para prajurit kerajaan hitam Tirayamani. Terlebih, kabar bahwa ratu Ogha sedang menghimpun kekuatan iblis benar-benar menjadi berita yang menakutkan.
Lalu apa yang terjadi dengan wilayah barat setelah Batari Mahadewi berhasil mengusir para prajurit kerajaan hitam? Sama halnya dengan wilayah timur, para pendekar dan prajurit akhirnya kembali menuju kerajaan mereka masing-masing. Kekosongan di Catrabhumi sempat menjadi bahan perdebatan. Namun tak ada satupun keturuan raja Catrabhumi yang hidup. Semua telah dibantai. Sehingga kelak dalam beberapa puluh tahun ke depan, wilayah itu akan menjadi wilayah yang sepi dan meninggalkan kesan suram.
__ADS_1