Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 133 Petaka


__ADS_3

Acara kunjungan akan berlangsung selama tiga hari. Dalam tiga hari itu, tamu dari negri Swargabhumi akan diajak berkeliling untuk mengenal lebih jauh tata kota Swargadwipa dan juga keluarga besar istana Swargadwipa. Inti dari kunjungan kerajaan semacam itu, pada umumnya adalah pihak yang berkunjung akan menggali banyak ilmu dari kerajaan yang ia kunjungi, sekaligus mempererat hubungan diplomatik antar kerajaan.


Selama acara berkeliling seluruh kota, dan selama pangeran ke enam tersebut ada di Swargadwipa, Mahapatih Siung Macan Kumbang selalu ada di sebelah pangeran itu. Sosok patih yang berbadan tinggi besar itu tak mau ada kejadian yang tak diinginkan yang akan memicu masalah besar di kemudian hari. Sayangnya, usaha sang mahapatih itu tak sepenuhnya sesuai dengan kehendaknya.


Pada hari terakhir dalam rangkaian acara kunjungan tersebut, tepatnya ketika perjamuan makan malam, kerajaan Swargadwipa digegerkan oleh suatu hal yang tak pernah terduga dan tak pernah diharapkan sebelumnya. Pengawal pribadi tertua pangeran ke enam Swargabhumi, yang bernama Jalapana, tiba-tiba melontarkan jarum beracun yang langsung menembus ke jantung pangeran ke enam hingga pangeran itu meninggal seketika.


Selebihnya, Jalapana juga melakukan hal yang sama kepada ketiga rekan pengawal pribadi pangeran ke enam. Tak lama kemudian, ia bunuh diri. Kejadian itu sungguh menggemparkan sehingga membuat raja Srengenge Ireng dan seluruh orang istana tak bisa tidur nyenyak setelahnya.


Jalapana terpaksa melakukan hal itu, yakni membunuh rekannya dan dirinya sendiri, sebab ia tak memiliki kesempatan lain selain daripada hari itu. Jalapana telah bersumpah kepada junjungannya, Raja Segara Biru, bahwa ia sendirilah yang akan membunuh pangeran keenam di istana Swargadwipa.


Maharaja Segara Biru memang sudah menduga jika pengawalan pangeran keenam akan diperketat, sehingga tak mungkin bagi Harimau Merah untuk berhasil melakukan tugasnya. Oleh karenanya, raja Segara Biru menyusun rencana yang lebih indah, yakni membuat puteranya yang ke enam itu mati di dalam istana Swargadwipa. Sehingga, serangan Harimau Merah hanya difungsikan sebagai serangan pengalihan dan Harimau Merah tak pernah tahu akan hal itu.


Maka, dengan segala muslihatnya, Jalapana berhasil mengelabuhi semua pihak dengan membantu pengawal rombongan menumpas para gerombolan pendekar hitam yang menyerang rombongan tersebut dalam perjalanan.


Mula-mula, Jalapana ingin membunuh pangeran ke enam di wisma tamu kerajaan Swargadwipa dengan muslihatnya sehingga kematian pangeran akan tampak seperti pembunuhan yang dilakukan pihak Swargadwipa. Dengan demikian, Jalapana tak perlu membunuh ketiga rekannya, sekaligus membunuh dirinya sendiri.


Namun pemindahan pangeran ke enam ke ruang dalam istana membuat rencananya sedikit berantakan. Ia juga tak punya celah untuk membunuh pangeran ke enam karena Mahapatih Siung Macan Kumbang beserta para pendekar sakti lainnya selalu memperketat pengawalan. Beruntung pada malam terakhir itu, Jalapana beserta ketiga rekannya duduk di depan pangeran ke enam. Tak ada yang curiga dan tak ada yang menyangka bahwa Jalapana akan berbuat nekad hingga mengorbankan nyawanya sendiri.


Kematian pangeran ke enam Swargabhumi itu sungguh merupakan suatu musibah besar bagi Swargadwipa dan kerajaan-kerajaan sekutunya. Tentu saja, Swargadwipa tak bisa mengelak dari tuduhan pembunuhan karena semua saksi mata adalah kalangan pihak Swargadwipa.


Terlebih lagi, raja Segara Biru membuat drama tambahan. Ketika rombongan Swargadwipa mengantarkan kabar duka sekaligus membawa jenazah pangeran ke enam dan keempat pengawalnya, Raja Swargabhumi memenggal kepala seluruh orang-orang Swargadwipa yang ditugaskan untuk mengantar jenazah tersebut. Kemudian, raja Segara Biru mengirimkan kembali kepala-kepala tersebut ke kerajaan Swargadwipa sebagai ungkapan tidak terima dari pihak Swargabhumi.

__ADS_1


Dengan kata lain, kerajaan Swargabhumi akan menyatakan perang terhadap kerajaan Swargadwipa, dengan atau tanpa sekutu.


Berita kematian tersebut dengan cepat telah menyebar ke seluruh kerajaan di Mahabhumi. Selama tiga bulan kedepan, baik pihak Swargadwipa dan Swargabhumi akan mempersiapkan segala sesuatu untuk berperang, termasuk mengajak berunding dan membuat kesepakatan dengan kerajaan sekutu masing-masing untuk terlibat dalam peperangan yang sudah di depan mata itu.


Tak ada jalan lain selain perang karena memang itulah yang diinginkan oleh pihak Swargabhumi, sehingga usaha diplomatik seperti apapun tak akan berhasil meredam bencana yang akan segera terjadi itu.


Sejak hari itu, kerajaan Swargadwipa semakin sibuk dan gencar untuk merekrut dan melatih prajurit baru. Semua perguruan beladiri pendukung kerajaan diwajibkan mengirimkan tiga perempat dari anggota mereka untuk memperkuat bala tentara Swargadwipa.


Kota Mutiara Biru menjadi kota yang sangat sibuk, karena di kota itulah peperangan akan pecah untuk pertama kalinya. Kota itu merupakan pintu masuk pertama bagi kerajaan-kerajaan barat untuk masuk ke wilayah timur.


Setidaknya, dari surat yang dikirim oleh Srengenge Ireng kepada raja-raja sekutunya, dua kerajaan sekutu sudah bersedia memberikan bantuan penuh berupa bala tentara dan juga bantuan materiil. Dua kerajaan itu adalah Swargaloka dan Madyabhumi. Sementara, kerajaan yang beradai di ujung timur, yakni kerajaan Mahatmabhumi, belum memberikan jawaban.


Di sebelah barat, kerajaan Swargabhumi mendapatkan dukungan penuh dari keempat kerajaan sekutunya, yakni kerajaan Swargaranu, Swargawana, Catrawana, dan Catrabhumi. Keempat kerajaan sekutu Swrgabhumi itu memang sudah lama berniat menguasai wilayah timur, sehingga konflik yang sengaja diciptakan oleh raja Segara Biru itu merupakan kesempatan emas.


Pada sebuah pagi, beberapa hari setelah kerajaan swargabhumi menyatakan perang dengan mengirimkan kepala para utusan Swargadwipa, Raja Srengenge Ireng keluar kerajaan untuk untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun ia tak pernah keluar dari wilayah kota Swargadwipa.


Tanpa diketahui oleh siapapun, ia melesat ke langit, dan terbang membelah angkasa untuk datang menemui seseorang. Raja Srengenge Ireng menapakkan kakinya di padepokan Cemara Seribu yang saat itu hanya ada Ki Gading Putih seorang yang sedang berada di sana, sendiri dalam kesunyian alam dan gemericik air terjun Hati Suci.


Tak ada yang tahu bahwa ayah Srengenge Ireng merupakan adik angkat Ki Gading Putih, sehingga setelah meninggalnya ayah dari raja Srengenge Ireng, maka Ki Gading Putih adalah satu-satunya orang yang di temui sang raja dalam situasi yang sangat genting, atau situasi lain yang membuat pikirannya carut marut.


Ki Gading Putih selalu tahu jika akan ada tamu yang datang. Maka di hari itu, ia telah mempersiapkan sambutan sederhana di pendoponya.

__ADS_1


“Ada berita genting apakah yang membuat paduka harus datang sendiri kemari?” tanya Ki Gading Putih.


“Dalam waktu dekat, kerajaan-kerajaan barat akan menyerang, paman.” Kata raja Srengenge Ireng. Ia kemudian menceritakan segalanya kepada seseorang yang ia anggap sebagai lebih dari paman kandungnya sendiri itu.


“Hmm…sudah kuduga hal ini akan terjadi. Segara Biru, adik seperguruanmu itu, rupanya masih menaruh dendam kepadamu karena kau merebut hati kekasihnya yang sekarang menjadi permaisurimu itu.” kata Ki Gading Putih.


“Tapi kurasa ada hal lain yang membuatnya bersikeras untuk menyatakan perang, paman.” Kata Srengenge Ireng.


“Hal lain seperti apakah itu?” tanya Ki Gading Putih.


Beberapa tahun belakangan ini, yang saya dengar, Swargabhumi sedang mengalami kesulitan keuangan sehingga mungkin saja kerajaan itu memiliki hutang dengan kerajaan-kerajaan sekutunya. Sementara, kerajaan-kerajaan barat memang sudah lama ingin menguasai wilayah timur. Oleh karenanya, saya yakin beberapa sekutu Swargabhumi mendesak Segara Biru untuk menyalakan api perang, apapun caranya, bahkan dengan mengorbankan puteranya sendiri.” Kata Srengenge Ireng.


“Apa yang bisa kubantu, anakku?” kata Ki Gading Putih.


“Apakah paman bisa mengabarkan berita genting ini kepada para sesepuh Swargadwipa? Saya benar-benar butuh dukungan.” Kata Srengenge Ireng.


“Apakah murid-muridku masih ada di kerajaan?” tanya Ki Gading Putih.


“Masih, paman, aku memberikan banyak tugas penting kepada mereka.” Jawab Srengenge Ireng.


“Dalam situasi genting seperti ini, aku dan para sesepuh lainnya memang harus ikut turun tangan. Jangan khawatir. Setelah ini aku akan menghimpun bala bantuan.” Kata Ki Gading Putih.

__ADS_1


“Terimakasih banyak, paman.” Kata Srengenge Ireng.


__ADS_2