
Para tetua pendekar Mahabhumi sebagian besar telah kembali ke kediaman masing-masing setelah beberapa waktu melakukan perjalanan ke pulau-pulau lain untuk mencari tahu keadaan di sana.
Setidaknya, mereka semua membawa oleh-oleh berita yang serupa dari berbagai pulau itu, yakni kenyataan bahwa kekuasaan Tirayamani semakin meluas yang ditandai dengan takluknya kerajaan-kerajaan di pulau-pulau lain.
Berita yang tak kalah menghebohkan adalah bangkitnya para makhluk iblis yang perlahan mengubah kehidupan menjadi semakin tak seimbang. Andaikan di kemudian hari beberapa makhluk iblis itu datang ke Mahabhumi, tak terbayangkan kekacauan yang akan terjadi. Itu yang sedang dipikirkan oleh para tetua pendekar Mahabhumi.
Beberapa kerajaan yang takluk tanpa perlawanan oleh kekuatan Tirayamani sebenarnya masih bisa dikatakan bernasib baik. Mereka tidak dibantai sebagaimana kerajaan-kerajaan lain yang berusaha melawan. Namun, menyerah berarti bersiap untuk diinjak-injak dalam artian mereka harus bersedia melayani apapun yang diminta oleh pihak Tirayamani.
Tentu saja, ratu Ogha tak ingin manusia sepenuhnya punah. Kelak jika ia benar-benar menjadi penguasa dunia, ia membutuhkan yang namanya rakyat yang bersedia tunduk dan memujanya. Oleh karenanya, sang ratu benar-benar berpesan kepada para pasukannya yang brutal itu untuk tak sembarangan membantai orang meski pada kenyataannya hal itu tak mudah di jalankan.
Bagaimanapun juga, sang ratu tak bisa memantau seluruh wilayah yang telah ia kuasai, dan ia juga tak bisa memantau seluruh pasukannya dan mengawasi apa saja yang telah mereka lakukan.
Saat ini, sang ratu telah membebaskan lebih dari seratus makhluk iblis. Sebagian besar tak bisa dikendalikan dan terlepas liar begitu saja, dan sebagian lainnya mau mengikuti perintahnya. Ratu itu tak tahu bahwa yang ia lakukan bisa saja menjadi bencana bagi dirinya sendiri. Tanpa pangeran kegelapan, ratu itu hanya dipandang sebelah mata saja.
Berita terbantainya makhluk iblis di Swargadwipa oleh Nala dan di Maisatantra oleh Batari Mahadewi belum terdengar oleh sang ratu. Remah-remah pendekar Tirayamani yang tersisa itu tak berani menghadap kepada sang ratu. Mereka memilih untuk menghilang begitu saja.
Dengan demikian, keberadaan Nala sebagai sang pangeran kegelapan belum diketahui oleh sang ratu Ogha.
Namun apakah keberadaan makhluk iblis liar itu sampai sejauh ini belum ada yang mengatasinya? Sepuluh siluman putih yang telah berpencar ke segala penjuru bumi pada akhirnya telah bersatu kembali.
Keberadaan para makhluk iblis yang membuat kekacauan itu lebih menarik perhatian mereka dari pada Nala sebab para makhluk iblis itu dinilai lebih gawat saat ini. Apabila sepuluh siluman putih bersatu, maka mereka bisa dengan mudah menaklukkan satu atau dua makhluk iblis yang membuat kekacauan. Masalahnya, seberapa cepatkan mereka bisa memburu para makhluk iblis yang kian hari kian bertambah jumlahnya itu?
__ADS_1
****
Ratu Ogha ditemani dua makhluk iblis Mambacha dan Bail sedang berada di pulau Pasir. Sesuai namanya, pulau itu adalah daratan yang sangat luas dan kering. Tak ada apa-apa di sana kecuali pasir yang panas dan menyengat.
Sejauh ini, sang ratu telah mengetahui pergerakan para siluman putih yang menjadi penghalang baginya. Bisa dibilang, di masa lalu sepuluh siluman putih itu adalah musuh bebuyutanya selain para dewa.
Satu hal lagi yang membuat sang ratu harus bergerak cepat adalah keberadaan bangsa raksasa. Sang ratu tahu bahwa sejak Kalapati berkuasa di dunia khayangan, maka para dewa telah bersembunyi untuk menghimpun kembali kekuatan. Para dewa untuk sementara bukanlah masalah karena mereka kemungkinan besar tak akan muncul dalam waktu yang cukup lama.
Masalah utamanya adalah jika bangsa raksasa kembali ke dunia tengah. Artinya, ia harus bersaing dengan bangsa raksasa yang kembali memperoleh kekuatannya itu. Dengan demikian, sang ratu tidak bisa untuk tidak memperbanyak pasukan iblis.
Dalam benaknya, ia tak harus membebaskan para makhluk iblis besar saja. Namun jika memang masih ada pasukan iblis berkekuatan sedang, maka mereka layak dibangkitkan kembali.
“Sebelum hamba di kurung, hamba terlibat dalam pertempuran di sini, ratu. Lalu hamba berhasil melarikan diri. Kemungkinan besar, di daratan ini tersembunyi kuburan para pasukan iblis. Jika kita bisa menemukannya, mungkin kita bisa membangkitkannya lagi selama jiwa mereka belum hancur,” jawab Mambacha. Dalam hal-hal seperti ini, pengetahuan Mambacha bisa diandalkan.
“Lalu bagaimana kita bisa menemukan mereka semua di daratan yang seluas ini?” tanya sang ratu.
“Hamba akan menyuruh setan kecil. Mereka selalu bisa diandalkan,” kata Mambacha. Setan kecil adalah makhluk piaraan Mambacha. Tubuh mereka sekecil marmut dan mereka cerdas. Meski mereka lemah, namun mereka memiliki kecepatan dan kemampuan menyelinap yang tak diragukan. Setidaknya, merekalah yang dikirim Mambacha untuk mengintip keadaan di dunia Khayangan. Dan oleh karena itu, tahulah sang ratu tentang keberadaan Kalapati, kekuatan, dan perkembangan yang terjadi di sana.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi. Perintahkan mereka untuk mencari,” kata sang ratu.
“Baik, ratuku!” Mambaca megeluarkan asap dari kedua telapak tangannya. Asap itu membentuk lingkaran kecil dan dari lingkaran itu keluarlah puluhan setan kecil yang berbaris rapi siap untuk diperintahkan.
__ADS_1
“Tuan memanggil kami, apa yang harus kami lakukan?” tanya setan kecil itu.
“Temukan kuburan pasukan iblis secepatnya,” perintah Mambacha. Setan-setan kecil itu berpencar dan melesat cepat ke berbagai arah untuk menemukan kuburan para pasukan iblis dari masa lalu.
Bail adalah makhluk iblis yang pendiam. Meski ia sangat kuat dan jauh lebih kuat dari Mambacha, namun dalam hal berdiskusi dan memecahkan masalah, hampir bisa dikatakan ia tidak berkontribusi. Namun dengan adanya Bail sang makhluk iblis kuat itu, sang ratu bisa mengendalikan makhluk-makhluk iblis lainnya yang ia bebaskan.
“Kita harus secepatnya membangun kekuatan, Mambacha. Firasatku mengatakan bahwa sebentar lagi bangsa raksasa itu akan turun ke bumi. Jika mereka turun terlebih dahulu dan kita belum memiliki kekuatan, maka selanjutnya kita akan mendapatkan kesulitan untuk membangkitkan para pasukan iblis,” kata ratu Ogha.
“Ratuku benar. Itu juga yang sedang hamba pikirkan saat ini. Soalnya saat ini kita masih dihantui dengan kemunculan sepuluh siluman putih sialan itu dan juga sosok yang belum kita kenal yang telah berhasil menghabisi pasukan kita dan juga membunuh Buma. Dan kita juga belum mendapatkan kabar dari Jain, Silu, Bara dan Canu,” kata Mambacha.
“Apakah setan kecil di dalam tubuhmu masih ada?” tanya sang ratu.
“Masih ada beberapa, ratuku,” jawab mambacha.
“Perintahkan mereka untuk memantau keadaan Jain, Silu, Bara dan Canu,” kata sang ratu.
“Baik, ratuku,” jawab Mambacha. Ia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Tak lama kemudian, delapan setan kecil telah berbaris siap diperintahkan. Mambacha menyuruh mereka seperti yang telah diminta oleh sang ratu. Segera setelahnya, para setan kecil itu melesat menuju ke Swargadwipa dan Siwarkatantra.
Dua hari kemudian, para setan kecil yang bertugas mencari kuburan pasukan iblis telah kembali. “Kami berhasil menemukannya, tuanku!”
“Bagus, ayo kita ke sana!” perintah sang ratu.
__ADS_1