
Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya meninggalkan desa yang sedang berkabung itu. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran Batari Mahadewi. Jika yang melakukan hal itu adalah komplotan Harimau Merah, seharusnya satu perguruan itu sudah habis. Tapi hanya sang guru yang mati dalam pertarungan terhormat. Siapa pendekar aliran hitam yang melakukan hal ini? Ini sungguh lain dari yang aku ketahui. Batin Batari Mahadewi.
Jalu dan Niken memiliki pemikiran yang sama dengan yang dirasakan oleh Batari Mahadewi. Ketiganya terus melaju dengan kecepatan tinggi menembus hutan yang sudah tampak gelap. Perjalanan dalam kegelapan lebih sukar dilakukan. Ketiganya harus menggunakan indera ke tujuh agar bisa merasakan segala sesuatu yang ada di sekitar mereka. Sehingga, terus melaju dengan kecepatan tinggi tanpa cahaya matahari terasa lebih melelahkan. Namun ketiganya tak mau beristirahat di dalam hutan.
Sesampainya di sebuah padang rumput, ketiganya berhenti. Cahaya bulan yang tipis membuat padang rumput itu tak terlalu gelap. Setidaknya, tempat itu jauh lebih baik untuk beristirhat daripada harus berada di dalam hutan yang setiap saat kehadiran mereka bisa memancing perhatian siluman lapar.
“Apakah adik berniat untuk mengejar pendekar yang membunuh guru dari perguruan Bulan Sabit?” tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.
“Aku tak berniat mengejarnya. Hanya berharap akan bertemu saja, kak Jalu. Lagipula, kita tak punya urusan apapun dengan pendekar itu. Kurasa ia bukan anggota komplotan Harimau Merah.” Jawab Batari Mahadewi.
“Ya, aku pikir juga demikian. Jika tidak, kenapa yang terbunuh hanya sang guru saja?! Sementara, serangan dari Harimau Merah bertujuan untuk menghabisi seluruh perguruan aliran putih.” Kata Niken.
“Apa yang membuat adik tertarik untuk bertemu pedekar itu?” tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.
“Entahlah, mungkin karena pendekar itu berbeda. Sekilas, dari yang aku bisa baca dari sisa-sisa pertarungan di peguruan itu, pendekar itu sedikit banyak memiliki kesamaan dengan pendekar Syair Kematian. Ia tak punya tujuan tertentu kecuali untuk bertarung dan mati alam pertarungan dengan pendekar yang jauh lebih hebat ilmunya. Tapi mungkin aku tak sepenuhnya benar.” Jawab Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Kita akan lanjutkan perjalanan besok pagi?” tanya Niken.
“Ya, sebaiknya begitu. Kita istirahat saja di sini.” Jawab Jalu.
Batari Mahadewi duduk bersila. Cara terbaik untuk beristirahat di alam terbuka adalah dengan menyerap energi bumi sebanyak mungkin. Sehingga, setelah matahari terbit, tubuhnya telah penuh terisi energi dan ia bisa melanjutkan perjalanan dengan stamina penuh.
Jalu melakukan hal yang sama. Hanya saja, Niken berbaring di rumput dan menyandarkan kepalanya di paha Jalu. Gadis bertubuh dingin itu merasakan kehangatan yang damai ketika dekat dengan Jalu. Selebihnya, Jalu sukar berkonsentrasi. Ia tak mau banyak bergerak dan membangunkan kekasih hatinya yang sedang terlelap dalam mimpi indahnya. Hal itu terasa seperti siksaan sekaligus kebahagiaan yang datang dalam waktu yang sama.
Sementara itu, di kota Swargadwipa, Anjani, Cendana, dan Buyung menginap di salah satu penginapan kecil yang ada di sana. Dalam hal tidur, mereka tak mau menghamburkan uang untuk mendapatkan penginapan mahal.
“Tentu tuan. Silahkan mengikuti pelayan kami itu.” Pemilik penginapan itu memanggil pelayannya. Seorang remaja perempuan dengan penampilan sederhana namun menarik.
“Mari tuan.” Kata pelayan itu. Anjani, Cendana dan Buyung mengikutinya. “Itu kamarnya tuan. Jika tuan dan nona membutuhkan sesuatu, silahkan memanggil saya.
__ADS_1
Belum sempat ketiganya memasuki ruangan kamar mereka, tiba-tiba di luar terdengar suara hiruk pikuk. “Kebakaran!!!! Kebakaran!!!!” Suara teriakan dan jeritan saling menyahut. Anjani, Cendana dan Buyung langsung bergegas keluar. Rumah makan di depan penginapan mereka telah terbakar. Api sudah tampak membesar dan merembet ke deretan toko dan juga rumah-rumah di sekitarnya.
Deretan bangunan yang rapat itu membuat api sukar di padamkan. Beberapa prajurit kota datang untuk membantu para warga memadamkan api itu. Ditengah suasana hiruk pikuk itu, Anjani langsung tanggap. Ia mengerahkan seluruh energinya untuk menggerakkan air yang berceceran di jalanan sisa orang-orang yang mencoba untuk memadamkan api itu.
Air itu terkumpul menjadi bola air raksasa yang membuat semua orang yang awalnya mau memadamkan api malah lari ketakutan karena mereka mengira ada siluman yang muncul di sana. Anjani mengarahkan bola air raksasa itu ke lidah api yang menyala dan menyambar apapun di dekatnya, menahan bola air raksasa itu tetap pada bentuknya dan bertahan di sana hingga api yang dihinggapi bola air itu padam. Anjani memindah-mindahkan bola air itu hingga semua api padam.
Tak banyak yang menyadari bahwa bola air raksasa itu diciptakan dan dikendalikan oleh Anjani. Ketika Anjani menciptakan bola air raksasa, tentu ia mengerahkan seluruh energinya. Pancaran energi itu memancing semua pendekar yang ada di kota Swargadwipa datang dan melihat apa yang terjadi di sana. Hanya orang-orang dengan kemampuan tinggi yang bisa tahu bahwa anjanilah yang menyelamatkan sudut kota itu dari kobaran api yang sulit dipadamkan.
Selebihnya, orang-orang kota itu hanya tahu dan menganggap jika dewa air telah datang dan menyelamatkan mereka. Mata Anjani berkunang-kunang setelah ia selesai memadamkan api itu. butuh banyak tenaga untuk bisa mengendalikan bola air dengan ukuran raksasa. Namun ia tak punya pilihan cara lainnya untuk bisa memadamkan api dengan cepat. Ia tak peduli jika bola air itu menjadi bahan obrolan, atau malah diketahui orang bahwa ia yang menciptakannya.
Buyung dan Cendana langsung membantu Anjani untuk masuk ke dalam penginapan mereka. Dengan segera, Buyung dan Cendana menyalurkan energi untuk memulihkan Anjani secepatnya. Begitu kondisi Anjani mulai sedikit membaik, Buyung mengelurkan sebuah mustika alam berwarna kuning sebesar biji jagung. Anjani segera menggunakannya untuk memulihkan energi secepatnya. Mereka tahu bahwa sebentar lagi mereka akan kedatangan tamu. Entah hal itu akan menjadi hal baik atau sebaliknya.
__ADS_1
Sebelum lanjut, mohon uluran jempolnya ya teman-teman. Rerimakasih banyak dan selamat membaca lagi.